Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Takut Kehilangan


__ADS_3

"CATRA AWAS!" Teriak Lura saat ia melihat sebilah pisau mengarah pada tubuh Catra.


Srett...


Sabetan tajam mengenai punggung Catra meninggalkan luka di sana. Dengan gerakan cepat Catra bisa menghindar hingga tubuhnya terjatuh.


"Cepat habisi dia!" titah salah seorang pria bertubuh kekar yang tak jauh dari mereka. "Dan tangkap wanita itu," tunjuknya pada Lura.


Lura menggelengkan kepala mendengar ucapan pria itu. Wanita itu terlihat ketakutan.


"Catra...."


Catra segera berjalan menghampiri Lura. padahal dirinya belum menyelesaikan ucapannya. Saat akan mengakui kalau dirinyalah yang sudah merenggut kehormatan Yara. Kedatangan para preman yang tiba-tiba itu membuat Catra tidak bisa bersiap melawannya.


"Kembali ke mobilku!" titah Catra sambil berusaha menghadang para preman bertubuh kekar itu.


"Kamu terluka? Lalu siapa mereka, kenapa tiba-tiba melukaimu?" Laura terlihat panik saat melihat darah segar merembes di baju Catra. Lura mengulurkan tangannya, hendak menyentuh luka di bahu Catra.


"Aku juga tidak tahu, sekarang cepat pergi!" sahur Catra.


Keduanya melangkah mundur perlahan sebab para preman itu terus maju mendekati mereka berdua.


"Tapi kamu---,"


"Aku akan selamat. Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita yang begitu kucintai! aku akan menyusulmu, setelah melawan mereka." Catra membalikkan badan ke arah Lura, menatap wajah wanita yang amat ia cinta.


Lura terlihat begitu ketakutan. Ia menggelengkan kepala kepada Catra. "Aku takut kamu kenapa-napa," lirih Lura sambil memeluk tubuh kekar Catra dengan cepat. Tak terasa air mata menentes begitu saja di pipinya. "Aku tidak mau kehilangan kamu!"


Catra tersenyum melihat reaksi yang Lura berikan untuknya. Dengan begitu ia tahu seberapa besar perasaan Lura untuknya.


"Kamu mencintaiku?" bisik Catra


Lura mengangguk pelan. Seketika Lura kembali berteriak. "Awas...."


Catra langsung membalikkan badannya. "Peluk erat tubuhku. Kita akan bermain sebentar dengan mereka. Jangan takut aku tidak akan membiarkan kamu terluka sedikitpun."


Catra menghindar dengan cepat. Ia meraih pistol di saku celananya. Benda tersebut memang selalu ia bawa. Catra sudah mengantisipasi keadaan ini sebelumnya. Ia pikir dengan tertangkapnya Brigjen A, disusul Mamih Rosa. Sudah dipastikan mereka akan mencari tahu siapa yang sudah membocorkan rahasianya.


Catra juga sudah memberitahu Pacho agar selalu berhati-hati.

__ADS_1


Dor... Dor... Dor...


Peluru berhasil ditembakkan oleh ke arah tiga orang yang menyerang mereka. Hanya hanya satu yang berhasil dibekuk.


"Cepat habisi pria itu, Mamih Rosa meminta kita untuk menghabisi dia. Sekalian saja dengan wanita yang bersama dia!" Teriak satu orang preman yang memimpin mereka.


Catra berhasil mengantarkan Lura ke mobil.


"Kamu tunggu di sini!"


Lura hanya Bisa mengangguk pelan.


"Hati-hati."


"Iya, Sayang!"


Mendengar ucapan Catra yang memanggilnya sayang seulas senyum terbesit di wajah Lura. Ketakutan itu bercampur bahagia. Dalam hatinya ia berdoa, meminta kepada Sanga Pencipta agar Catra bisa selamat melawan para preman suruhan Mamih Rosa.


Selama masa persembunyiannya ternyata mucikari sekaligus bandar narkoba besar itu tidak diam. Mamih Rosa mencari tahu siapa yang sudah membongkar dan terlibat dalam masalah yang sedang ia alami saat itu.


Sebelum tertangkap pihak berwajib Mamih Rosa sudah memerintahkan anak buahnya menghabisi Catra dan beberapa orang yang telah membantu pria itu.


Perkelahian pun terjadi antara Catra dan Beberapa preman. Lima lawan satu, Catra masih bisa mengimbangi semuanya. Satu persatu preman itu ia lawan seorang diri.


Bugh...


Bugh...


Dak...


Catra berhasil memukul dan melumpuhkan tiga preman yang datang menyerangnya. Beruntung Catra menguasai ilmu bela diri. Catra berusaha meraih pistol yang sempat terjatuh karena perkelahian sengitnya itu.


Lagi-lagi dia preman yang masih tersisa terus menyerang Catra. Sesaat Catra merasakan sakit di bagian baju yang terkena sabetan pisau tadi. Ternyata lukanya cukup dalam. Pantas saja bwgitu terasa sakit dan perih oleh Catra.


Catra tidak bisa berkutik saat ini. Napasnya sudah terengah-engah. Tenaganya hampir habis karena melawan mereka seorang diri.


"Ternyata pria ini tidak bisa dianggap remeh," sindir salah satu preman sambil meraih pistol milik Catra yang tergeletak tak jauh darinya kemudian memainkan pistol tersebut. "Kamu sudah mengantisipasi kehadiran kami, ternyata."


Keduanya menyeringai licik ke arah Catra. Beberapa luka lebam dan darah segar keluar dari sobekan di bibir Catra. Semua sama sekali tidak mempengaruhi rasa ingin menghabisi para preman itu, karena berani membuatnya terluka dan membuat Lura begitu ketakutan.

__ADS_1


Saru preman kembali mengeluarkan senjata tajamnya. Pisau lipat diarahkan ke depan Catra.


Posisi Catra saat ini sulit. Kedua preman yang akan menyerangnya masing-masing memegang senjata tajam. sedangakan dirinya dengan tangan kosong.


Kedua preman itu berjalan beriringan mengepung Catra.


"Kamu pilih sekarang, mati dengan pisau ini, atau mati dengan pistolmu sendiri?" Ucap salah satu dari preman yang memegang pisau.


Catra masih bisa berdiri tegap meskipun darah di bahunya terus mengalir. "Aku tidak akan mati dari kedua benda itu!" Dengan cepat preman itu melayangkan pisau ke arah Catra. Tak kalah cepar Catra juga memutar tangan preman yang hendak menusuk dirinya. Saat ini posisi berbalik, si preman berhasil dibekuk Catra pisau itu pun salah sasaran Catra mengarahkan pisau itu ke tubuh preman itu.


Teriakan terdengar dari dalam mobil. Lura tak hentinya memanggil Catra. Ia ingin meminta tolong pada seseorang tapi sayang tempat itu begitu sepi. Ingin keluar dari dalam mobil untuk mengambil ponsel yang terjatuh tapi sudah dilarang keras keluar dari mobil oleh Catra. Lura jadi dilema. Tapi dirinya tidak bisa tinggal diam begitu saja.


"Aku harus melakukan sesuatu," pikir Lura.


Perlahan Lura keluar dari mobil. Ia mengedarkan mata mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membantu Catra.


Lura meraih kayu yang ia lihat. Perlahan Lura mendekati pria yang sedang menghubungi temannya melalui sambungan telepon sepertinya ia sedang meminta bantuan preman yang lain untuk datang ke tampat itu.


Tanpa banyak basa basi Lura langsung melayangkan kayu balik itu ke kepala preaman tersebut.


Plakkk....


"Aww...," Jerit pria yang memegangi pistol milik Catra. Tubuhnya sempat terhuyung kjdian terjatuh akibat pukulan keras yang Lura berikan padanya. Lura kira pria itu sudah tewas. Ia berlari ke arah Catra.


Suara jeritan itu membuat Catra menoleh. Catra lekas berjalan ikut menghampiri Lura. Ia meninggalkan preman yang hampir menusuknya tadi. Preman itu sudah terkapar tak bernyawa.


"Lura," panggil Catra.


"Catra," lirih Lura.


Keduanya saling berpelukan. Lura mencurhakan rasa takut akan kehilangan sosok Catra. Lura tidak menyadari pria yang ia pukul bangkit lagi, kemudian tersenyum ke arah mereka.


"Kalian akan mati bersama."


Preman itu mengarahkan pistolnya ke arah Catra dan Lura..


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2