
“Sebaiknya kita menunggu di sini saja,” ucap Papa Wira kepada Mama Liona.
Hanya anggukan pelan balasan dari wanita itu.
Pandangan Mama Liona kosong seperti menerawang jauh. “Andai saja waktu itu Citra ikut dengan kita ya, Mas. Dia pasti masih bersama kita saat ini!” Mama Liona menyesal akan kejadian yang sudah berlalu.
Papa Wira meraih tangan Mama Liona kemudian menggenggamnya erat.
“Sudahlah, Mah! Jangan terus menyesali apa yang telah terjadi.” Papa Wira kembali mengingatkannya.
“Aku merasa gagal menjadi seorang ibu, Mas! Rasa bersalah terhadap putriku saja masih terasa. Kehilangannya masih menyisakan luka di hati ini, Mas. Sekarang Citra, hati ini makin terasa sakit apalagi kepergian Citra yang tidak biasa membuat hati ini merasa bersalah. Aku tsamoai tidak mengetahui kalau dia memakai barang jarang tersebut, Mas!”
“Ini bukan kesalahanmu, Sayang! Ini sudah menjadi takdir. Kamu dengar sendiri pengakuan tersangka, Citra belum lama memakai barang haram itu.” Papa Wira meraih dagu Mama Liona agar menatapnya.
“Jangan sesali apa yang sudah terjadi! Itu sudah suratan takdir, Mah! Jika naluri kamu terhadap putri kandungmu masih kuat. Aku akan cari lagi gadis itu!” Papa Wira berusaha menenangkan istrinya.
Mama Liona mengangguk pelan. Lekas menyandarkan kepalanya di bahu suaminya mencurahkan kegundahan hati yang ia rasakan.
"Terima kasih, Mas."
Di luar mobil tepatnya di samping pusara Citra. Catra mengeratkan gigi sambil mengepalkan tangannya.
Dendam di hatinya semakin menjadi. Ia berjanji akan mengusut tuntas masalah ini. Ia yakin pemuda yang menjadi tersangka itu bukanlah satu-satunya bandar narkoba yang sudah menjual barang haram itu kepada adiknya.
“Kakak janji akan menyusut tuntas masalah ini, kakak tidak mau ada gadis lain yang nasibnya sama sepertimu, Cit,” ucap Catra pelan seraya memegangi nisan yang bertuliskan Citra Putrikusuma.
Ia menyesali terlambat pulang. sehingga tidak sempat bertemu langsung dengan Randi, tersangka yang sudah membuat Citra overdosis dan sudah menodainya.
Usai berdoa dan menaburkan bunga di atas pusara adiknya. Catra lekas kembali menuju mobil di mana Papa dan Namanya menunggu.
Di perjalanan Catra menghubungi Pacho sahabatnya yang membantu mengusut kematian adiknya.
Mereka langsung membuat janji saat itu juga. Catra meminta mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah cafe tempat yang dikirimkan Pacho kepadanya.
“Kenapa tidak pulang ke rumah dulu, Nak! Kamu baru sampai di sini. Apa tidak mau istirahat dulu?” tanya Mama Liona saat Catra meminta ijin kepadanya dan Papa Wira.
“Aku sudah janji, Mah! Gak enak lah jika harus dibatalkan!” ujar Catra.
“Biarkan saja, Mah! Dia pasti tahu jalan pulang ke rumah kok!” sambung Papa Wira.
“Tapi Mama sudah nyuruh Bibi buat masak banyak hari ini loh, Mas!”
__ADS_1
“Aku tidak akan lama, Mah! Janji!”
Mama Liona pun mengangguk pelan. “Hati-hati, Sayang! Cepatlah pulang!”
Catra tersenyum hangat pada wanita itu. Wanita yang selama 20 tahun ini merawat dan membesarkannya. Menggantikan posisi ibu kandungnya. Bahkan perlakuan dan kasih sayang beliau sama seperti wanita yang telah melahirkannya.
Catra saat menyayanginya. Ia merasa tidak enak hati mendengar Mama Liona sudah menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangannya karena itulah ia tidak akan berlama-lama untuk bertemu Pacho.
“Ajak temanmu, ke rumah!” lanjut Mama Liona.
Catra mengangguk pelan. Ia keluar dari mobil itu menuju cafe yang tak jauh dari sana.
Di dalam cafe seorang pria tak kalah tampan dari Catra sudah menunggunya.
“Gimana kabar lu. Bro?” sapa Pacho seraya memeluk tubuh sabahat nya singkat.
“Kurang baik!” Catra langusng mendaratkan bikinnya di bangku cafe.
“Sudahlah apa sih yang lu pikirkan. Hidup lu tuh udah enak, segalanya bisa lu genggam. Termasuk wanita!” sindir Pacho sambil menaikkan alisnya.
“Heh, tidak senyaman yang lu,pikir. Tanggung jawab gue besar, bro. Tidak semudah itu mengembangkan bisnis milik almarhum mamih gue! Mumet otak gue harus berada di negara orang sampai 2 tahun terakhir ini.”
“Tapi sekarang lu tinggal nikmatin hasilnya. ‘kan?”
“Sduahlah, kita nikmati saja hidup. Sekarang lu sudah jadi pengusaha sukses, lu haris terakhir gue hari
****
Dua minggu telah berlalu. Lura mulai terbiasa dengan kegiatannya saat ini
Sesuai arahan Mely, ia harus terbiasa dengan sentuhan para pelanggan yang mendekatinya. Sebisa mungkin lakukan cara menghindar ketika tangan pelanggan mulai nakal masuk ke dalam rok mini nya. Jangan mau di sentuh jika tidak ada komisi.
Harus pintar bermain kata dan merayu agar si pelanggan tertarik dengan kita. Itulah yang diajarkan Mely. Setelah berhasil mendapat mangsa. Tak lupa Lura segera menghubungi Mely. Melanjutkan kerjasama mereka.
Awalnya Lura tidak tega jika Mely harus terus melakukan itu. Tapi Mely sendiri yang menginginkan jika tidak seperti itu, jangan tidak akan pernah terkumpul. Sambil terus menjalaninya Lura memikirkan bagaimana dia bisa terbebas dari tempat itu.
Ketika ada yang membooking Lura, mereka akan bertukar peran seperti malam pelelangan itu.
Mely akan menggantikan posisi Lura untuk melayani mereka. Dengan syarat bayaran yang di terima 75% untuk Mely. Lura pun menyetujuinya, meski mendapat 25% yang itu cukup untuk kehidupan lura sehari-hari. Berbeda dengan Mely, teman satu kamarnya itu sangat membutuhkan banyak uang bulan ini. Sebab ibunya di kampung harus segera menjalani operasi.
Biaya operasi yang menghabiskan uang sebesar 100 juta belum biaya perawatan bukanlah yang sedikit bagi Mely. Maka dari itu sekarang ini Mely berusaha keras mencari dana untuk biaya operasi ibunya.
__ADS_1
Mely tidak bisa mengandalkan Janji seorang pria yang ingin menjadikannya wanita simpanan. Dan akan memberikan kehidupan layak untuk Mely. Ya, dia adalah Tuan Bagas. Pria yang sudah merasakan layanan luar biasa dari Mely. Dua minggu ini pria itu menghilang tanpa kabar. Terakhir bertemu Mely tiga hari setelah pelelangan malam itu. Beliau berjanji akan membebaskan Mely dari Mamih Rosa nyatanya pria itu tidak hadir sampai saat ini.
Malam ini Lura sudah bersiap dengan pakaian mini dipakainya.
Sesuai rencana malam ini Mely hanya mau melayani untuk minum saja, tidak membooking kamar. Sebab dia akan menggantikan Lura, melayani pelanggan yang baru saja membooking gadis itu.
Suara dentuman musik begitu memekakkan telinga. Lura dan Mely berada di tempat yang berbeda. Kedua wanita itu menyempatkan waktu untuk bertemu di toilet.
“Lama banget sih, Mely?” oceh Lura ketika menunggu kedatangan Mely dengan cemas di toilet.
Gadis itu merasa gelisah sebab seseorang yang telah menyewa nya malam ini menyuruh Lura untuk datang ke hotel xx. Mamih Rosa menyuruh bodyguard nya untuk mengantar Lura sebab bayaran yang di dapatnya lumayan besar sebab orang yang harus di layani malam ini bukanlah orang sembarangan.
Mely datang dengan tergesa. “Sorry gue telat!” ucap Mely saat ia baru saja datang.
“Bagaimana ini, gue harus pergi dari sini! Trus lu gantiin jadinama, Mel?” tanya Lura dengan nada takut.
“Tenang aja, gue ada cara!” Mely tersenyum setelah menemukan ide harus berbuat apa malam ini.
Lura kembali menemui Mamih Rosa setelah melihat Mely mengendap-ngendap masuk dalam bagasi mobil. Kendaraan yang akan di pakai untuk mengantarkan Lura ke hotel.
Lura hendak masuk ke dalam club tapi Mamih Rosa lebih dulu menghadangnya.
“Kamu langsung pergi saja!” ucapnya pada Lura kemudian menoleh ke arah bodyguard botak yang akan mengantarkan Lura. “Kamu awasi dia jangan sampai dia kabur!” ucap Mamih Rosa padanya.
“Siap, Mih!” tanpa banyak bicara pria berperawakan besar itu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman Club'.
Lura merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya. “Cepat ikuti dia!” tegur Mamih Rosa membuat Lura sedikit terkejut.
“I-iya, Mih!” jawab Lura tergagap.
“Awas jangan macam-macam. Ingat jangan mencoba kabur!” Mamih Rosa memberi ultimatum keras pada Lura.
Hanya anggukan pelan yang Lura berikan g
Meskipun ultimatum dari Mamih Rosa ia mengerti tapi keinginan kabur dari rumah bordil terbesit dalam pikirannya kapan lagi ia bisa pergi dari tempat yang sudah membelenggu nya saat ini.
Lura berniat kabur saat Mely menggantikan posisinya.
.
.
__ADS_1
Bersambung