
____
Keputusan dari Dokter Renaldi yang sudah mengijinkan Lura pulang hari ini sampai juga pada Pak Antoni. Pria itu melangkah cepat menuju kamar perawatan Lura. Ia tidak ingin kehilangan moment bersama putrinya itu. Semenjak mengetahui kalau Lura adalah darah dagingnya dari Mama Liona, Pak Antoni tak jauh beda dengan Mama Liona, berulang kali mendatangi Lura untuk meminta maaf pada gadis itu. Bahwa apa yang ia pikirkan tentang Pak Antoni yang hanya akan memanfaatkan Lura itu tidaklah benar.
Hari demi hari, Lura juga merasakan ketulusan dari Pak antoni, papa kandungnya.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka. Semua yang ada di dalam ruangan menatap ke arah pintu yang terbuka itu.
“Maaf ... Aku menggangu kalian! Aku dengar Lura akan pulang hari ini, apa benar?” Tanya Pak Antoni.
“Benar sekali, hari ini kami akan kembali ke Indonesia!” balas Mama Liona. “Bagaimana dengan Putri, kapan dia diijinkan pulang?” Mama Liona balik bertanya.
“Putri harus tinggal sekitar satu minggu lagi di sini. Ia harus melewati pemeriksaan lebih lanjut. Apakah sumsum tulang yang didonorkan itu berhasil atau tidak,” ujar Pak Antoni kemudian pria itu berjalan pelan mendekati Lura yang sedang menatap.
“Apa aku boleh berbicara dengan Lura sebentar sebelum kalian keluar dari rumah sakit ini?” Tanya Pak Antoni. Matanya mengarah pada wanita muda yang sedang duduk di tepi brankar. Tapi ucapannya tertuju pada Mama Liona selaku ibu kandung dari Lura.
“Kamu tidak perlu meminta ijinku karena kamu adalah papa-nya. Aku akan keluar jika kamu akan berbicara serius dengan Lura,” Ucap Mama Liona. Kemudian hendak keluar dengan Catra dan Papa Wira, suaminya.
“Kalian tidak perlu keluar, tetaplah di sini,” sahut Pak Antoni.
Perlahan Pak Antoni berjalan menghampiri Lura. Saat jarak mereka sudah begitu dekat, keduanya terdiam. Kedua manik mata itu saling bersitatap. Jelas terlihat pancaran kasih sayang dari Pak Antoni untuk Lura. Pria dari luar terlihat diam dan tegas tidak menunjukan sikap itu saat ini.
“Papa,” ucap Lura pelan dengan suara yang bergetar.
“Lura,” Putriku.
Lura lekas berdiri dan mengambur dalam pelukan Pak Antoni. Keduanya menangis sambil berpeluakan. Pemandangan yang mengharukan itu kembali terjadi. Lura begitu bahagia. Ternyata dengan mengikhkaskan takdir yang telah ia lewati. Lura mendapatkan kebahagiaannya. Bertemu dengan kedua orang tuanya. Meskipun mereka tidak bisa bersama.
Mama Mariana dan Putri menyusul ke ruangan Lura. Mereka berkumpul di sana bersama.
“Meskipun papa dan mama mu tidak bersama tapi kami berjanji untuk sama-sama menjagamu. Sekarang ini saatnya kamu bahagia,” ucap Pak Antoni membuat semuanya terharu.
Lura menatap Mama Liona. Anggukan pelan ia dapat dari mama-nya itu.
Lura kembali memeluk Pak Antoni, ia tidak tahu harus berucap apa kali ini. Lura sangat bahagia. Apa yang ia harapakan terkabul. Bisa berkumpul dan bertemu dengan kedua orang tuanya, Meskipun harus melewati penderitaan terlebih dulu.
Papa Wira merangkul Mama Liona, ketika melihat anak yang selama ini dicari oleh istrinya itu terlihat bahagia.
__ADS_1
Begitu juga dengan Mama Mariana dan Putri. Mereka saling menatap dan tersenyum bahagia melihat Lura. Farrel yang ada di belakang Putri ikut bahagia juga.
Setelah tangis bahagia Lura mereda. Di saat yang bersamaan Catra melancarkan aksinya.
“Ekhmm ...” deheman itu membuat semua orang yang ada dalam ruangan menoleh ke sumber suara.
“Mumpung semuanya berkumpul di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu,” ucap Catra kemudian mengeluarkan kotak merah dari saku celananya.
Catra berjalan mendekati Lura. Pak Antoni sedikit bergeser.
“Dihadapan semua orang, ada orang tuaku, orang tuamu juga. Aku Beryl Catradipta Kusuma dengan segenap hati ingin melamar kamu. Duhai pujaan hatiku, Allura Charya,” ucap Catra dengan tegas lantang tanpa celah.
Lura menutup mulutnya sendiri. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Catra.
“Kalian bersaudara mana bisa menikah?” sela Pak Antoni.
“Bisa, Catra dan Lura tidak ada ikatan darah. Mereka hanya terikat oleh pernikahan kami saja. Aku sudah menanyakan ini pada orang yang lebih paham tentang agama.” Papa Wira menimpali.
Ternyata Catra dan Papa Wira sepikiran. Mereka sama-sama bertanya pada orang yang tepat. Catra tidak mau melanggar hal yang dilarang agama. Meskipun Catra sadar kalau dia belum menjadi orang yang benar.
Pak Antoni hanya mengangguk pelan mendengar penuturan Papa Wira.”
Lura terdiam kemudian menatap Catra yang sudah bersimpuh di hadapannya.
Perlahan Lura mengangguk pelan sebagai jawaban untuk Catra. Tanpa banyak bicara Catra meraih satu cincin dalam kotak itu dan melingkarkannya di jari manis Lura.
“Ini hanya sebagi simbol, setelah kembali ke Jakarta, kita menikah!” ucap Catra yang langsung ingin memeluk tubuh Lura. Tapi berhasil dicegah oleh Pak Antoni.
“Kamu belum sah!” ucapnya.
“Tapi aku pemilik kehormatannya, Om!” sahut Catra.
“Apa maksudmu?” Pak Antoni menatap curiga pada Catra.
Catra tidak bisa berkutik dengan ucapannya sendiri. “Maaf ... Aku mengakui kesalahanku, karena aku yang telah merenggut kehormatannya untuk pertama kali.” Akhirnya Catra mengungkapkan semuanya.
Bughhh...
Satu pukulan kencang mendarat di wajah Catra dari Pak Antoni.
__ADS_1
Lura menjerit saat Catra tersungkur tak jauh darinya.
“Kurang ajar, kamu!”
“Papa, cukup!” pinta Lura. Gadis itu membantu Catra untuk berdiri.
“Apa maksudmu memukul putraku?” Papa Wira merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan Pak Antoni.
Semua jadi terlihat tegang.
“Cukup, aku menerima Catra karena memang dia satu-satunya pria yang menyentuh tubuhku. Aku bersyukur saat itu, kalau tidak bertemu dengan Catra man mungkin aku bisa kabur dari Mamih Rosa.” Lura kembali menangis melihat bibir Catra berdarah.
Pak Antoni terdiam. Kemudian mendekati Catra. “Kamu saya maafkan kali ini, tapi kamu harus berjanji untuk tidak membuat Lura menangis. Cepat nikahi dia, atau aku akan memukulmu kembali. Tidak perlu saat di Jakarta, aku ingin ijab kabul itu terlaksana sebelum kalian kembali ke Jakarta,”lanjutnya.
“Ya, aku setuju. Sangat setuju,” sahut Catra.
“Huhh ... Itu sih memang mau kamu, Cat!” sindir Papa Wira.
Catra hanya bisa menggaruk ceruk lehernya yang tidak gatal. Suasana kembali ceria karena kelakuan Catra.
Akhirnya kebahgaiaan diraih Lura seutuhnya.
Lura bahagia karena kedua orang tuanya sudah ia ketahui. mereka bahkan rela berdamai untuknya.
Merelakan dan memaafkan Farrel pria yang sudah membuat hidupnya hancur pun terbalaskan dengan datangnya Catra. Pria yang tak lama lagi akan menjadi suaminya. Si pemilik kehormatannya itu melamar Lura secara langsung di hadapan Pak Antoni bahkan mengakui kesalahannya.
Lura tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. ia merasa bahagia sangat bahagia. Saat ini rasa syukur tak bisa ia ungkapkan atas kebahagiaan yang saat ini Lura dapatkan.
berkumpul bersama orang tuanya. Bahkan dia mempunyai 2 papa dan 2 mama. Serta bisa bersatu dengan si pemilik kehormatannya. Lengkap sudah kebahagiaan Lura saat ini.
Semoga kehidupan Lura kedepannya selalu diberkati kebahagiaan dan melahirkan anak yang lucu setelah menikah untuk melanjutkan cerita yang berakhir sampai di sini.
.
.
.
...Tamat...
__ADS_1