Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Tatapan Penuh Kebencian


__ADS_3

Ya Allah ... Ini jam berapa, Pah?" Tanya Mama Liona yang terbangun karena terkejut.


"Jam 8 malam, Mah!" Jawab Papa Wira.


"Kenapa tidak membangunkan mama?" Protes Mama Liona sambil tergesa bangun dari tempat tidurnya. "Mama harus segera menemui Lura!" ungkapnya dengan nada tidak suka karena Mama Liona merasa suaminya seakan menghalangi niatnya.


"Papa tidak tega membangunkan Mama, kamu sudah hampir 3 hari ini kurang beristirahat, Mah!" Balas Papa Wira.


"Tapi kali ini berbeda, Pah. Mama ingin bertemu dengan Lura. Putri kandungku!" pekik Mama Liona tidak mau kalah. "Aku sangat ingin memeluknya," lanjut Mama Liona.


Wanita berumur yang masih cantik itu bergegas masuk ke kamar mandi. Tak lama Mama liona berada di dalam kamar mandi, saking ingin segera bertemu dengan Lura. Mama Liona tak biasanya membersihkan tubuh sesingkat itu.


"Ayo, Pah!" Ajak Mama Liona pada suaminya yang duduk santai di sofa. "PAPA!” Pekik Mama Liona mengagetkan Papa Wira.


“Sekarang?”


“Tahun depan, Pah!” sungut Mama Loina dan mendapat senyuman dari Papa Wira.


Kalau sikap istrinya sudah seperti itu tandanya sudah pulih dari rasa lelah. Ada manfaatnya juga ia memasukkan obat tidur kedalam minuman yang disodorkannya tadi siang pada istrinya itu.


“Siap, Baginda Ratu,” balas Papa Wira dan mendapatkan seulas senyum pula dari Mama Liona.


____


“Santai, Mah! Sebentar lagi kita sampai,” ucap Papa Wira sambil menenangkan istrinya.


“Mama takut, bagaimana kalau Antoni tau jika Lura putrinya. Pasti dia akan meminta Lura agar mau jadi pendonor untuk anaknya.


“Mah, kalau menurut papa. Mendonorkan sumsum tulang belakang di usia yang sudah sebesar ini, tidak jadi masalah. Imun dan daya tahan tubuh juga sudah semakin kuat.”


“Tidak, papa tidak mendengar ucapan Antoni dan istrinya saat mama hamil besar dulu. Usai mereka membayar kehamilan mama, Mariana akan mengusirku dan akan menelantarkan anakku jika yang mereka inginkan sudah tercapai. Sebab itulah mama berbohong pada mereka kalau Lura telah meninggal waktu itu.” Mama Liona menatap jauh ke luar jendela mobil, saat ini mereka sedang menuju ke rumah sakit tempat pengobatan Putri, anak dari Antoni berada.


Mama Liona belum mengetahui jika Lura telah jadi pendonor buat Putri anak dari Pria yang sudah membayar rahimnya.


Sesampainya di rumah sakit, Mama Liona mencari keberadaan Lura. Sedangkan Lura sedang bersama Pak Antoni. Lura meminta Pak Antoni mengantarkannya ke ruangan Putri. Lura ingin memberi selamat pada putri atas prnikahannya.


“Benar tidak pa-pa kalau kita kesana sekarang, Pah?”


Pak Antoni menggelengkan kepala. “memangnya kenapa, Ra? Mereka tidak akan berbuat hal bodoh di rumah sakit ‘kan?” ucapan Pak Antoni membuat Lura sedikit mengangat bahu sambil sedikit mengulas senyum.


“Assalamualaikum,’ Ucap Lura saat dirinya masuk ke dalam ruangan Putri.


“Waalaikumsalam,” jawab Putri dengan wajah yang berbinar bahagia. “Lura,” panggil Putri yang merasa terkejut dengan kedatangan Lura.

__ADS_1


“Loh, suamimu, mana?" Tanya Luar saat dirinya masuk je dalam ruangan Putri.


"Farrel lagi ke luar, Ra! Sebentar lagi juga balik," ungkap Putri.


"Kalian tidak pa-pa 'kan papa tinggal. Papa ada keperluan sebentar. Mama kalian sudah nunggu dari tadi di lobi." Pak Antoni menimpali.


"Iya, tidak pa-pa ko, Pah!" Putri dan Lura menjawab bersamaan.


Keduanya lekas tertawa bersama akan kejadian itu. Begitu juga dengan Pak Antoni.


Seperginya Pak Antoni Lura dan Putri saling bercerita. Sebelumnya Lura meminta maaf tidak bisa menghadiri acara pernikahan Putri, tadi. Putri pun memahami itu.


"Wah, sudah jadi nyonya nih sekarang. Pasti makin semangat deh buat sembuh," ledek Lura. "Tapi, kasihan banget pengantin baru harus ada di rumah sakit. Gak bisa nganu-nganu." Lura terkekeh kecil. Ia terus saja menggoda Putri.


"Apaan sih, Ra! Nganu apa coba?" Wajah Putri Merona dibuatnya.


ceklek...


Pintu ruangan terbuka. Farrel datang sambil membawa tiga bungkus makanan yang untuk disantap bersama di ruangan itu.


Lura tidak mme perhatikan siapa yang masuk, sebab posisinya membelakangi pintu.


"Itu dia Farrel, kalian belum saling kenal 'kan?" Ucao Putri sambil menunjuk Farrel dengan dagunya.


Deg....


'Lura.'


Batin Farrel sontak pandangannya langsung beralih pada seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda. Posisinya begitu dekat dengan Putri.


Lura juga langsung menoleh pada Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Deg....


'Farrel.'


Ucap Lura dalam hati.


'Jadi suami kamu adalah Farrel. Pria yang sudah membuat awak hidupku berantakan. Kenapa harus kamu, Rel. Kenapa kita harus bertemu di saat yang tidak tepat seperti ini. Aku ingin meminta penjelasanku tentang semuanya. Tapi tidak di hadapan Putri aku masih bisa menahan diri soal rasa benci yang ingin sekali, aku balaskan untukmu.'


Lura menatap Farrel dengan tatapan penuh kebencian.


Berbeda dengan Farrel. Ia sempat menjatuhkan barang bawaanya. Tapi dengan cepat Farrel mengambilnya kembali.

__ADS_1


Rasanya ingin menangis dan menjerit saat itu juga ketika berhadapan dengan Farrel.


Lura memejamkan mata sebentar, ia berusaha menahan rasa tangis agar bisa ditahannya.


Perlahan Farrel berjalan mendekati Lura dan Putri.


"Kenapa? Kalian kayaknya sama-sama tampak terkejut. Kalian saling kenal?" Tanya Putri sambil menelisik ekspresi wajah dari Luta dan Farrel.


"Tidak aku tidak mengenal suamimu!" ketus Lura kemudian berpaling dari tatapan Farrel. "Eum, Put. Sepertinya aku harus kembali ke kamar, sudah malam!" elak Lura. Padahal ia berusaha menghindar dari Farrel. Lura tidak mau Putri tahu dulu soal suaminya.


"Kenapa buru-buru. Farrel sudah beli makanan buat kita, loh!" Lura tersenyum kecil menanggapi Putri.


"Lain kali saja, ya?" Lura meyakinkan.


"Ok. Deh kalau begitu. Kamu diantar Farrel ya sampai ruangan?" tawar Putri


"Ah, tidak perlu aku bisa sendiri. aku keluar ya!" Tanpa banyak basa basi Lura langsung keluar dari ruangan itu.


"Put, sebaiknya aku antar Lura temanmu itu. Aku takut dia kenapa-napa. Tidak masalah 'kan? Hanya sebentar, kok!"


Putri mengangguk pelan. "Ya, tolong antar dia sebentar!" Putri merasakan ada sesuatu yang aneh antara Lura dan suaminya.


Farrel melihat Lura sudah sampai di ujung ruangan. Pria itu bergegas mendekatinya.


"Ra, tunggu aku!" Farel mencegah Lura.


"Menjauh dariku, pria jahat!" ketus Lura dengan tatapan benci pada Farrel.


Tanpa basa basi, Farrel berjongkok dan langsung memeluk Lura.


"Akhirnya aku menemukanmu, Ra!"


.


.


.


Bagaimana dengan sikap Lura. Luluhkah oleh perkataan Farrel?


Atau terus membenci karena kejahatan Farrel padanya?


.

__ADS_1


__ADS_2