
Lura menghela napas berat. Sudah terlanjur juga ada di tempat ini.
"Selamat datang di gubuk tuaku, Tuan Putri," ucap Catra dengan gayanya seperti menyambut tuan putri yang baru turun dari mobil mewahnya.
Lura terkekeh mendengarnya. Ia menurut saja dengan perlakuan Catra terhadap dirinya. Semakin lama dekat dengan Catra, Lura mulai mengerti jika pria yang saat ini berada di sampingnya itu mempunyai sikap humoris dan banyak bicara.
Catra mengajak Lura masuk ke dalam rumah mewahnya. Pandangan lura mengedar ke sekeliling bangunan rumah itu. Mewah dengan gaya modern, matanya tak berhenti mengagumi keindahan rumah tersebut. Matanya makin berbinar saat melihat tanaman bung lily tumbuh subur di di samping rumah itu.
"Itu taman bunga milik mama, dia sama sepertimu. Pecinta bunga lily!" Bisik Catra kemudian mendapat anggukan dan senyum kecil dari Lura.
langkah mereka terus berlanjut ke dalam rumah. Catra belum menyadari jika ada beberapa foto dirinya saat berambut panjang terpanjang di beberapa tempat.
"****... gue lupa nurunin foto sebelum ajak dia ke sini!" Catra panik sendiri. Pria itu takut kalau Lura menyadari itu.
"Lura pasti sadar kalau lihat foto itu. Dan pasti akan sangat kecewa saat tahu kalau gue adalah orang yang sudah merenggut kehormatannya. Ini belum saatnya dia tahu siapa gue sebenernya. Gue bakal jujur kalau dia udah benar-benar membalas perasaan gue," ucap Catra sambil melawan lirik ke sekelilingnya. Berharap ada pelayan di dekatnya, sehingga ia bisa menurunkan beberapa figura foto dirinya.
Dan di saat yang bersamaan seekor kucing lucu dan menggemaskan menghampiri Lura. Kucing kecil lucu yang pernah dibawa Catra ke toko bunga.
"Hai, Muezza," panggil Lura kemudian berjongkok untuk meraih kucing lucu uang menghampirinya.
Melihat Lura sedang asik dengan Muezza, Catra bergerak cepat menurunkan figua foto yang ada gambar dirinya yang berambut panjang di dalamnya.
Bergerak lincah berpindah dari satu dinding ke dinding yang lain. Catra terus mencopot semua foto itu.
"Catra, apa yang kamu lakukan? Kenapa di copot figuranya?" Tanya Mama Laiona membuat Catra terkejut.
"Mama... Ngagetin aja!" Seru Catra.
"Kamu yang ngagetin! Baru datang, malah sibuk sendiri sama figura! Kenapa memangnya dengan foto itu?" Tanya Mama Liona penasaran.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan. Jangan banyak ngomong soal rambut panjangku, ya, Mam! " Bisik Catra membuat Mama Liona memicingkan mata kemudian melirik wanita yang sedang di tatap putranya.
'Apa itu wanita yang di bilang Pacho padaku.'
Pikir Mama Liona tanpa banyak bicara wanita berumur yang cantik dan anggun meskipun usianya tidak muda lagi itu, berjalan pelan mendekati Lura.
Refleks Catra meletakkan figura itu di sisi tembok. Hendak menyusul mamanya. Di saat bersamaan ada pelayan yang datang.
"Bi, tolong simpan ini dulu! Ingat di simpan. jangan dikeluarkan," titah Catra tegas dan penuh penekanan.
"Baik, Den!" pelayan itu menuruti saja perintah majikan mereka.
"Muezza." Mama Liona memanggil kucing yang ada dalam pegangan Lura.
Kucing lucu dan penurut itu lekas meronta turun dari pangkuan Lura. Hewan itu langsung berlari ke arah si pemiliknya.
"Sore, Tante," sapa Lura sambil mengulurkan tangan untuk menyalami Mama Liona.
"Maaf, Tante saya lancang memegang kucing kesayangan Tante. Habisnya kucingnya lucu," ucap Lura membuat suasana sedikit mencair.
"Tidak pa-pa, Muezza memang suka dengan orang baru."
"Kenalkan dia Lura, Mah!" Sambung Catra memperkenalkan Lura pada Mama Liona.
Lura mengangguk pelan kemudian kembali berjabat tangan dengan Mama Liona.
"Lura," ucap Lura sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
'Berarti memang benar dia gadis yang Pacho bilang.'
Mama Liona menelisik wajah Lura. Seakan pernah melihat wajah itu. Lura seakan dibuat salah tingkah.
__ADS_1
Lura berpikir kalau mamanya Catra tidak suka padanya. Ia memperhatikan penampilannya sendiri takut kalau mama dari Catra tidak suka padanya.
Mama Liona beranjak dari hadapan Catra dan Lura. Ada sesuatu yang akan ia kerjakan.
"Tante tinggal sebentar, tidak mudah canggung berasa di sini!" Ucap Mama Liona kemudian beranjak dari sana.
"Ayo," ajak Catra sambil meraih rangan Lira kemudoan menggenggamnya.
"Kemana?"
"Ikut saja."
Lagi-lagi Lura hanya bisa mengikuti Catra. Alangkah terkejutnya saat Lura melihat pemandangan di depan matanya. Indah sungguh indah. Beberapa tanaman bunga lily tumbuh subur dengan bunga yang baru mekar.
"Cantik 'kan? Catra berbisik di telinga Lura. " Tapi lebih cantik Kamu?"
.
.
.
.Bersambung
Promosi karya selanjutnya..
Jangan bosen ya lihat Author promosi terus.
Mampir ya ke karya ini. seru loh ceritanya.
__ADS_1
Mampir ya!......