Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Sah


__ADS_3

"Aku senang sekali kamu akan menikah, Put! Akhirnya apa yang kamu harapkan bisa terwujud!" Ucap Lura setelah mereka melepaskan pelukan.


Mama Mariana tersenyum melihat interaksi keduanya. Hatinya merasa lega saat ini. Putri telah menemukan kebahagiaannya. Ia memilih pergi dari kamar itu. Memberi ruang untuk mereka berdua saling mencurahkan apa yang sedang dirasakan saat ini. Ibarat kata lain, curhat. Dalam bahasa gaulnya.


"Ngomong-ngomong, aku belum bertemu dengan Farrel. Calon suamimu!" Ucap Lura.


"Nanti kamu juga akan bertemu sama dia, Ra!"


"Pasti, aku harus bertemu dengannya. Aku ingin mengancam dia, agar tidak berani macam-macam padamu!" Lura berbicara sambil menunjukkan wajah sangar, seakan berpura-pura tengah mengintimidasi seseorang.


Putri terkekeh melihatnya. "Wah bodyguard cantik ini ternyata galak, ya?" Celetuknya.


Putri dan Lura terkekeh bersama.


Pak Antoni yang baru saja datang ikut tersenyum dengan keceriaan mereka berdua. "Kenapa jika diperhatikan kedua anak itu ada kemiripan, ya?" Pikir Pak Antoni sambil menelisik lebih jauh kedua wajah anaknya.


Kedatangan dokter Renaldi menghentikan tawa mereka berdua.


"Wah sepertinya kedua saudara ini akrab sekali?" Tanya Dokter Renaldi.


"Saudara?" Putri merasa heran mendengarnya.


"Ya, kalian sesorang bersaudara. Papa dan Mama sudah bersepakat untuk mengangkat Lura sebagai anak kami.


"Benarkah?" Putri seakan tidak percaya.


"Benar sekali," jawab Pak Antoni.


"Mama mu kemana?" Tanya Pak Antoni pada kedua gadis itu.


"Bukannya mama keluar, ya! Belum lama," Balas Putri. "Memangnya ada apa, Pagi?" Putri balik bertanya.


"Papa hanya mau memberitahu, kalau ijin menikah bisa dilaksanakan malam ini."


"Hah, malam ini, Pah? Apa tidak terlalu cepat?" Putri tampak terkejut.


"Ini Farrel yang meminta," ujar Pak Antoni.


"Cie... Cie... Yang mau jadi manten," ledek Lura.


"Makanya saya harus periksa keadaan kamu sekarang. Karena malam nanti calon pengantin ini harus lebih segar. Tapi ingat, belum boleh melakukan apapun. Kamu baru saja selesai menjalani operasi. Kondisi tubuh belum pulih betul" Dokter Renaldi mengingatkan.


Putri dan Lura saling oanadang kemudian tersenyum menanggapinya.


Lura kembali ke kamar perawatannya. Tentu saja diantar oleh Pak Antoni. Jaraknya kedua ruangan itu memang agak jauh. Pak Antoni sedang mengurusi penyatuan kamar. Tapi Lura menolaknya. Ia menginginkan kamar yang terpisah saja. Apalalgi malam nanti Putri akan melangsungkan akad nikah. Sudah pasti suaminya nanti akan menemani dia.

__ADS_1


Lura menyendiri di kamar perawatannya saat ini. Mendengar sendiri berita pernikahan Putri. Lura teringat akan janji seseorng kepadanya. Orang yang sudah membuat hidupnya berantakan seperti ini. Farrel, pria yang tega menukarkan dirinya dengan hutang. Sampai kapan pun Lura akan mengingat itu. Sebab, semenjak saat itu, hidup Lura berputar drastis. Lura akan selalu ingat kenyataan pahit itu.


Semua kejadian yang ia alami menjadikan Lura semakin dewasa. Banyak oengakamn hidup yang dialaminya. Termasuk bertemu dengan Catra, pria pemilik kehormatannya. Pria yang juga berjanji pada Lura akan bertanggung jawab padanya. Bahkan perlahan jati dirinya mulai terkuak.


Lura mulai mengetahui siapa mama kandungnya. Hatinya masih berperang antara terus menghindar dan memaafkan.


Terlalu banyak pikiran membuat Lura merasa pusing dan mual. Gejala usai operasi kembali dirasakan. Pak Antoni yang berada di sana dengan setia membantunya. Pak Antoni dan Mama Mariana saling berbagi tugas untuk saat ini.


"Bagaimana sudah merasa baikkan?" Tanya Pak Antoni pada Lura.


"Lebih baik, Pah!" jawab Lura.


Pak Antoni merasa senang sebab Lura sudah mulai terbiasa merubah panggilan nama padanya.


"Tapi rasanya ngantuk sekali, ya?" Beberapa kali Lura menguap. Dirinya sudah mulai dikuasai obat yang baru saja ia minum.


"Mungkin itu pengaruh obat, lebih baik kamu tidur agar nanti malam bisa ikut menyaksikan pernikahan Putri. Kamu mau lihat dia menikah, bukan?"


Lura mengangguk pelan. "Iya, Pah."


"Tidurlah, nanti papa jemput lagi ke sini. Sekarang papa harus bertemu dengan pengelola rumah sakit ini dulu. Harus ada ijin dari sana. Meskipun acara nanti malam habya ada beberapa orang saja yang hadir. Tapi tetap saya kita harus meinta ijin," ucao Pak Antoni pada Lura


"Ya, aku tidak apa di sini sendiri. Kalau ada apa-apa buat nanti aku minta sama suster."


Lura menyeka sudut matanya. Ia menahan buliran air mata yang hampir saja menetes di sana.


"Kenapa menangis?" Pak Antoni melihat tingkah Lura.


"Apa seperti ini rasanya diperhatikan oleh seorang papa? Aku baru merasakannya," ucap Lura sedih.


"Sekarang dan seterusnya kamu akan mendapat perhatian yang sama seperti Putri. Kalian berdua anak perempuanku," tegas Pak Antoni.


"Terima kasih karena sudah baik padaku," sahut Lura.


Pak Antoni mengangguk pelan."Istirahatlah!"


Lura semakin tidak bisa mengusai diri, ia sudah menutup mata karena pengaruh obat. Pak Antoni baru bisa meninggalkannya setelah itu.


"Kenapa melihat dirimu seperti melihat wanita itu. Wanita yang aku sakiti perasaannya. Wanita yang sengaja aku sewa rahimnya untuk melahirkan anakku agar bisa menolong Putri. Pada akhirnya aku telah kehilangan bayi itu. Tapi aku bersyukur kamu hadir dalam hidup kami, Ra. Kamu bagai malaikat yang hadir di saat keputusasaan itu melanda." Pak Antoni menaikkan selimut agar lebih menutupi tubuh Lura.


-----


"Sah...." Kata itu terdengar menggema dalam ruang perawatan Putri.


Hari ini, Putri sah menjadi istri Farrel Abraham. Tidak banyak yang hadir di sana. Hanya kedua orang tua Putri dan Ibu dari Farrel.

__ADS_1


Senyum merekah di wajah Putri saat satu kecupan mendarat di keningnya. Begitu juga di wajah ketiga orang yang menginginkan pernikahan ini terjadi.


"Saat ini dan seterusnya kamu adalah tanggung jawabku," ucap Farrel.


Meskipun menikah dengan Putri adalah keinginan dari ibunya tapi Farrel sadar kalau hatinya perlahan mulai ada untuk Putri. Gadis yang mempunyai sikap baik dan dermawan itu. Sikap Putri mengingatkannya pada Lura.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua," ucap Dokter Renaldi. Beliau yang menjadi saksi dari pihak pria.


"Terima kasih, Dokter. Telah bersedia menjadi saksi dari pihakku," ucap Farrel saat berjabat tangan dengannya.


"Sama-sama," balas Dokter Renaldi pada Farrel kemudian beralih pada Putri.


"Semoga ini adalah awal kebahagiaanmu, Putri. Setelah selama ini, kamu berjuang melawan sakitmu. Dua kebahagiaan yang kamu dapatkan ini akan menjadi keberkahan buat hidupmu kedepannya." Dokter Renaldi menatap Putri sambil tersenyum.


"Aamiiin, Terima kasih dokter."


Tak bisa berlama-lama di sana Dokter Renaldi pamit kepada semuanya. Harusnya ia sudah pusing dari tadi sore. Namun, Pak Antoni meminta agar ia bersedia menjadi saksi pernikahan Putri. Jadi, Dokter Renaldi mau menunggu sampai waktunya tiba.


"Pah, di mana Lura? Kenapa dia tidak hadir di sini?" Tanya Putri. Ia ingin menanyakan itu dari tadi tapi Putri bersabar menunggu acara sakral itu selesai.


"Tadi saat papa akan menjemputnya ke sini. Lura masih tertidur, Papa tidak tega membangunkannya," balas Pak Antoni.


"Lura? Apa dia orang pendonor yang kamu bilang padaku?" Tanya Farrel. Pria itu mulai penasaran dengan Lura.


Ia berpikir ingin bertemu dengan orang itu.


Putri mengangguk pelan. "Iya," jawab Putri.


"Apa kamu ingin bertemu dengannya?"


Putri kembali mengangguk pelan.


"Biar nanti aku antarkan, jika kamu ingin bertemu dengannya. Aku juga ingin berterimakasih kepadanya karena sudah menolongmu!"


.


.


.


Wah detik detik Farrel bertemu dengan Lura. Bagaimana ya reaksi mereka berdua?


.


.

__ADS_1


__ADS_2