Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Kedatangan Catra


__ADS_3

Hakim ketua persidangan memutuskan hukuman mati kepada Randi. Sebab pemuda itu menjadi tersangka dalam kasus meninggalkannya seorang wanita muda, pengedar narkoba dan penjualan wanita kepada seorang mucikari.


Pemuda yang mengaku sebagai bandar narkoba itu masih terus mendapat desakan dari pihak kepolisian untuk mengaku darimana barang haram itu ia dapatkan.


Mamih Rosa yang datang ke persidangan itu duduk bersama ibu dan adik perempuan dari Randi.


Wanita itu merasa gelisah ketika salah satu bisnis prostitusi online dan rumah bordil nya tercium kepolisian.


Bisnis yang menjanjikan untuk ya itu harus segera ia selamatkan. Randi tidak boleh membuka suara tentang itu.


Persidangan pun selesai. Randi meminta ijin kepada petugas yang membawanya agar bisa menemui ibu dan adiknya meski hanya sebentar.


“Bu ...,” Panggil Randi ketika ibunya menghampiri.


“Anakku! Kenapa bisa seperti ini?” tanya Ibu dari Randi sedih.


“Kakak!” Sapa Adik perempuan Randi yang masih duduk di kelas 2 SMA.


Tatapan kedua wanita itu begitu sedih. Randi yang mereka tahu adalah anak bai, dia juga tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dunia.


“Bu, Ren, Maafkan kesalahanku! Jangan khawatir kehidupan kalian kedepannya tidak akan kekurangan. Ibu ingat ATM yang aku berikan padamu, di sana ada uangku yang bisa kalian gunakan untuk menyambung hidup.” Setelah berbicara Randi lekas menatap Mamih Rosa yang berada di samping orang tuanya. “Kalian bisa meminta bantuan dia jika terjadi sesuatu!” Randi langsung berbalik badan kemudian berjalan meninggalkan ibu dan Reni, adiknya yang menatap sedih kepergiannya saat melewati Mamih Rosa wanita itu menyelipkan sesuatu di tangan Randi.


Randi begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Mamih Rosa. Ia tahu apa itu, tandanya Randi harus melakukan sesuatu sebelum sidang selanjutnya berlanjut.


Randi menoleh sekilas ke arah Mamih Rosa dan wanita itu hanya membalas dengan tatapan tajam.


“Lakukan segera!” ucap Mamih Rosa tanpa bersuara hanya gerakan bibir yang ia berikan.


Randi lekas tertunduk pilu ternyata waktunya tidak akan lama lagi sebelum ia tidak sanggup menutupi yang sebenarnya sebab beberapa hari ini, penyidik benar-benar menyelidiki dan menginterogasi dirinya.


Keesokan harinya kabar meninggalnya tahanan atas nama Randi sampai juga ke telinga Mamih Rosa.


Wanita itu tersenyum lega. Kali ini tidak ada yang ditakutkannya lagi. Setelah ini, suami simpanannya pasti kan menutup kasus ini.


Berita meninggalnya Randi membuat Cakra geram. Pemuda yang baru saja bersiap untuk terbang ke negara kelahirannya merasa kesal.


Niat pulang ke Indonesia untuk melihat dan menghabisi sendiri pria yang sudah membuat adiknya meninggal malah terlambat.


Bugh....


Bugh....

__ADS_1


Catra memukul dinding beberapa kali. Kesal akan berita yang ia dengar dari sahabatnya, Pacho. Ia tidak peduli dengan kesakitan dirasakannya.


“Shitt ... Kenapa dia harus mati, bahkan aku belum sempat memberi pelajaran kepadanya. Arghh ...,” Catra mengacak rambutnya. “Aku merasa tidak berguna untuk adikku! Bahkan aku tidak sempat melihat pemakamannya,” lirih Catra sambil memejamkan mata. Setetes air mata mengalir di pipinya.


Tepat pukul 7 pagi Catra berada di Bandara Soekarno-Hatta. Penampilan dan gaya pria berumur 28 tahun itu membuat para wanita terkesima melihatnya. Tubuh tinggi, gagah dan berkarisma begitu sedap di pandang mata.


“Oh, My God! Tampan sekali, pria itu!” celetuk salah seorang wanita yang berpapasan dengan Catra.


Wanita itu sedang berjalan berdua dengan temannya sepertinya mereka akan segera memasuki areanya boarding pass.


“Eh, tuh mata gak bisa dikondisikan ada laki lu tuh di depan. Malah jelalatan!” sela wanita yang ada di sebelahnya


“Tapi dia benar-benar tampan, gue udah ngebayangin gimana gagahnya dia berpacu di atas tubuh gue!”


“Parah lu! Bayangin sama laki lu aja, nanti! Ayo cepetan ketinggalan pesawat kita!” titah teman wanita itu sambil menarik tangan temannya yang masih membayangkan gagahnya Catra.


Ucapan kedua wanita itu terdengar oleh Catra. Pria itu hanya menggelengkan kepala mendengarnya. Semenjak mengetahui sifat licik Alice wanita yang menjadi tempat pelampiasan napsunya selama di Inggris terlebih rasa kecewa saat Alice hanya memanfaatkannya. Catra tidak pernah percaya lagi kepada wanita. Menurutnya hanya Mama Liona yang tulus kepadanya.


Tidak peduli dengan tatapan para gadis dan pegawai yang begitu mengagumi ketampanannya. Catra terus melangkah sambil menjinjing tas di tangannya, menghampiri seorang wanita yang tengah melambaikan tangan kepadanya.


Seorang wanita berumur sedang merentangkan tangan kepada Catra menyambut kedatangannya.


“Apa kabar, putraku!” sapa Mama Liona ketika Catra langsung memeluk tubuh wanita itu.


Hingga seorang pria yang ada di samping mereka tersenyum melihat kedekatan Mama Liona dan Catra. Tidak pernah berubah meskipun Catra bukanlah anak kandung wanita itu.


Keduanya saling memeluk erat. Melepaskan rasa rindu yang beberapa bulan ini tak saling bertemu. Kesibukan Catra membangun bisnis di luar negeri menyita waktunya untuk berkumpul bersama keluarganya.


Meskipun hubungan mereka hanya sekedar anak dan ibu sambung tapi keduanya begitu dekat.


“Baik, Ma!” balas Catra di sela pelukan mereka. Perlahan ia melepas pelukannya.


Ia melihat Mama Liona menentukan air mata menyambut kedatangannya.


“Kenapa menangis? Apa pria tua di sampingmu sudah berbuat jahat padamu, Ma!” Catra melirik sinis ke arah Papa Wira, papa kandung Catra.


“Apa maksudmu, bocah nakal? Baru datang sudah menuduh Papa yang tidak-tidak,” sungut Papa Wira tidak terima dengan tuduhan putranya.


Catra hanya tersenyum tipis melihat reaksi marah dari papanya. “Lalu kenapa Mamam menangis coba, bukankan dia tersiksa berada di dekat Papa!”


“Anak ini! Harus ku beri pelajaran agar berbicara sopan kepadaku!” balas Papa Wira dan hampir saja menangkap Catra. Dengan cepat putranya itu bersembunyi di belakang tubuh Mama Liona.

__ADS_1


“Sudahlah, kenapa malah bertengkar di sini! Kalian tidak malu di lihat banyak orang? Apa kalian tidak rindu, sudah lama loh kita tidak bertemu?” ucap Mama Liona menghentikan pertengkaran itu.


“Papa sudah tua loh, masa mau saja meladeni Catra!” sambung Mama Liona sambil menatap suaminya.


Kedua pria berbeda usia itu saling diam setelah pawang mereka berbicara.


Papa Wijaya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan Catra tersenyum puas melihat papanya mendapat ceramahan dari Mama Liona.


Catra masih merasa kesal dengan Papa nya sebab karena perintah darinya Catra harus tinggal lama di negara asal ibu kandungnya itu. Meneruskan bisnis yang sedang berkembang pesat di sana.


Sampai kemarin pemuda itu baru bisa kembali ke Indonesia.


“Kita pulang sekarang!” ajak Mama Liona.


“Kalian pulang duluan saja! Aku mau ke makam Citra dulu!” ucap Cakra membuat Mama Liona lekas menatapnya sedih.


“Kita ke sana sama-sama!” balas Mama Liona wajahnya langsung berubah sedih.


Wanita itu ingin ikut lagi ke pemakaman. Padahal sebelum ke bandara mereka menyempatkan singgah walau hanya sebentar ke sana.


Setiap mendengar nama adik dari Cakra. Hati wanita itu berubah sedih. Rasa kehilangan itu kembali ia rasakan.


Kedekatan mereka memang seperti orang tua kandung, tidak akan ada yang mengira jika hubungan mama dan anak itu hanya sebagai Mama sambung saja.


Sepeninggal Citra, Mama Liona sering teringat dengan putrinya, putri kandungnya yang ia tinggalkan di panti asuhan dulu. Meskipun kabar kematian putrinya sudah ia dapatkan sejak lama.


Entah mengapa perasaan Mama Liona mengatakan putrinya masih hidup sehingga ia terus meminta suaminya untuk mencarinya kembali.


Keinginan yang membuat Papa Wira pusing. Ke mana harus mencarinya.


Bersambung


Hai... Terima kasih masih yang masih setia dengan karyaku ini.


jangan lupa


like


komentar


vote jika masih ada (setiap senin ya)

__ADS_1


Salam hangat buat kalian semua.


__ADS_2