Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Melihat Sendiri Farrel Sakau


__ADS_3

“Ini tas punya temannya, Mba!” Seru pelayan pria yang menyimpan tas Lura kepada Dina.


Dina pun menerimanya. Ia lekas memeriksa isi dalam tas tersebut kemudian melirik ke arah si pelayan itu.


“Masih utuh, Mba! Gak gue apa-apain ko isinya,” si pelayan merasa di curigai dengan lirikan Dina.


“Lu tau siapa orang yang bawa temen gue?” tanya Dina.


Si pelayan pria itu mengangkat bahu tanda ia tidak tahu. Tapi pelayan itu menceritakan secara singkat kejadian yang ia lihat tadi.


“Sudah ya, gue mau angkatan bangku-bangku dulu. Restoran sudah tutup! Gue disini cuman nungguin lu doang!” Pamitnya kemudian kembali meneruskan beres-beresnya. Mengangkat bangku ke atas meja.


Dina lemas mendengar penjelasan pelayan pria itu.


“Gue udah ngingetin lu, Ra! Jauhi Farrel tapi lu ngeyel! Sekarang lu ada di mana? Sama siapa?” ucap Dina sedih. Ia duduk di bangku yang masih belum di bereskan.


“Lah gue bilang mau di beresin malah duduk di situ, heh!” keluh si pelayan pria itu. Tapi ia tidak tega mengusirnya melihat wajah Dina yang sedang bersedih.


“Makasih, Mas!” ucap Dina lesu. Ia berjalan keluar restoran dengan langkah gontai.


“Kasian banget tuh cewek, ada hubungan apa dia sama cewek tadi ya? Apa mereka bersaudara?” pikir si pelayan itu. “Bodo ah, bukan urusan gue!” pelayan itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Gimana? Ada info tentang Lura?” tanya Beno yang menunggu Dina di depan restoran.


Dina menggelengkan kepalanya. “Gue harus nyari si Farrel, cowok yang udah ngajak temen gue pergi tadi sore. Kata pelayan itu, bukan Farrel yang membawa Lura. Tapi seorang wanita dan dua orang bodyguard. Gue yakin Lura gak akan punya masalah kalau bukan karena cowok brengsek kayak si Farrel itu!” ucap Dina kesal mengingat Farrel.


“Besok gue anterin nyeri Lura, deh! Gue libur kok!” usul Beno.


“Beneran lu mau bantu gue, Ben?”


Beno mengangguk pelan dan menyodorkan kembali helm kepada Dina agar dipakainya.


“Udah malem, kita pulang!” ajak Beno.


Dina pun mengangguk. “Ok. Makasih ya Ben, udah bantu, gue!” ucap Dina seraya naik ke atas motor vcx milik Beno.


“Santai aja kali!”


Dina tersenyum menanggapinya. Esok hari ia harus mencari keberadaan Farrel.


Beruntung ia tahu ke idaman kekasih Lura itu, sebab Lura pernah bercerita kepadanya dia pernah mengantar Farrel mengambil sesuatu di rumahnya. Tapi Farrel tidak mengajaknya masuk. Lura hanya menunggu di luar gerbang.


***


Keesokan harinya

__ADS_1


Dina rela tidak masuk kerja demi mencari Lura. Di temani Beno ia mencari Farrel.


Ia berkali-kali berkeliling komplek perumahan elite tapi tidak tahu yang mana rumah milik Farrel.


“Bener gak alamatnya di perumahan ini?” tanya Beno yang terlihat lelah berkeliling.


“Gue yakin, Ben! Lura bilang perumahan elite tak jauh dari tempat gue kerja. Selain Cluster pondok Damai, ya perumahan elite ini yang ada di dekat tempat kerja gue!” ujar Dina.


Merasa lelah telah berkeliling mencari keberadaan Farrel. Dina dan Beno akhirnya menyudahi pencariannya. Seharian mereka bersama membuat mereka semakin dekat.


Selama ini Beno mengenal pribadi Dina yang cuek dan galak. Bicara pun tak ada manis dan sopan kepadanya. Padahal Beno sering berbicara manis dan merayu, justru itu yang tidak disukai Dina.


“Temen gue gimana keadaannya ya, Ben? Gue khawatir banget sama dia!” Dia tidur di mana? Orang yang bawa dia jahat apa tidak? Gue takut teman gue kenapa-napa!” ucap Dina khawatir tanpa sadar ia memeluk Beno dari belakang. Seakan melepaskan perasaan risaunya.


Beno merasakan sesuatu yang kenyal menempel di punggungnya, kemudian ia melirik tangan Dina yang melingkar di pinggangnya.


Beno tersenyum mendapat pelukan dari Dina yang membuat tubuhnya menjadi hangat. Ia kembali fokus menatap jalan di depannya.


‘lu baik juga kalau dikenal lebih dekat, Din! Asik dan nyaman saat di ajak cerita.’


Batin Beno.


“Semoga Lura baik-baik aja, Din! Kalau besok masih belum ketemu kita harus lapor polisi, Din!” Perkataan yang berbeda dari biasanya dan Dina merasakan itu biasanya kata lu, gue selalu terucap. Kali ini Dina sampai menajamkan pendengarannya sebab ia mendengar Beno berkata lembut padanya.


“Besok kebetulan a-aku---” Dina menghentikan kalimatnya.


Dina terbawa suasana dengan ucapannya. Biasanya dia langsung ngegas ngomong lu, gue.


“Kenapa?” tanya Beno sambil terus fokus mengendarai motor maticnya.


“Besok a-aku libur, kamu mau anter lagi buat cari Farrel setelah itu anter ke kantor polisi?” tanya Dina ragu. Ia merasa canggung dengan perubahan panggilan yang tiba-tiba itu.


“Boleh, kebetulan besok aku juga sif 2," balas Beno.


Dina tersenyum kembali mendengarnya. "Makasih, Ben!"


"Sama-sama," sahut Beno.


Keduanya kembali menuju kontrakkan mereka. Beno merasa senang karena Dina tidak melepaskan pelukan. Ia langsung tancap gas agar Dina semakin mengeratkan pelukannya. Lumayan kapan lagi di peluk cewek cantik cerewet tapi baik. Nggak cerewet deh, udah jinak.😁


Hari ini mereka gagal menemukan keberadaan Farrel. Esok waktunya kembali mencarinya.


***


“Ibu janji, akan melepaskan Lura dari Mamih Rosa?” tanya Farrel ketika ia tiba di panti rehabilitasi di daerah Bogor.

__ADS_1


“Ibu akan mengusahakannya, Nak! Sekarang ibu minta kamu harus punya tekad untuk sembuh, kamu adalah penerus keluarga ini. Jangan kecewakan ibu dan ayahmu lagi!” sahut Bu Prita yang duduk di samping Farrel.


Ibu dan Anak itu saling berbicara di luar sebuah kamar. Kamar yang akan di tempati Farrel nantinya.


Bu Prita kembali melanjutkan obrolannya yang tertunda semalam soal Lura, kekasih Farrel.


“Maafkan keegoisan ibu, Nak! Ibu tidak bisa melawan ayahmu! Sembuh lah setelah ini kamu bebas melakukan apapun keinginanmu!” ucap Bu Prita dengan wajah penyesalan, tangannya meraih tangan Farrel. Dingin itu yang Bu Prita rasakan.


Bu Prita melihat kondisi putranya yang kacau setelah menjadi pecandu narkoba. Kurus, bermata sayu, dan wajah yang kusam dengan rambut yang tidak terurus membuat ibu yang selalu terlihat anggun itu merasa menyesal tidak bisa melindunginya dari peraturan yang dibuat suaminya.


“Aku hanya minta kalian membebaskan Lura! Hanya dia yang peduli sama aku selama ini, Bu! Dia tidak bersalah. Bahkan dia berani datang kepadamu, meminta ibu agar lebih peduli kepadaku. Aku tidak yakin jika Lura tidak memberitahu ibu. Kalian akan segera menolongku!” lirih Farrel sambil menarik kedua kakinya kemudian menekuknya.


Tangannya sedikit gemetar dengan gigi yang saling beradu hingga terdengar jelas suara aduan gigi tersebut.


Farrel sudah mulai merasakan tubuhnya bereaksi kembali. Obat terlarang itulah yang ia butuhkan saat ini.


Melihat itu Bu Prita memanggil perawat. Perawat yang berjaga lekas mengajak Farrel masuk ke dalam ruangannya.


Kali ini Bu Prita melihat sendiri secara langsung bagaimana reaksi tubuh putranya yang sedang sakau terhadap rasa candu terhadap obat terlarang itu.


Pak Irawan yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya dengan pihak pengurus panti rehabilitasi langsung mendekati istrinya.


“Apa yang terjadi?” tanya Pak Irawan dan langsung melihat ke dalam ruangan dari jendela berlapis besi. ketika ia melihat Farrel dimasukkan ke dalam sana.


.


.


.


Bersambung.


like


komen


favorit


hadiah


Vote... jangan lupa Vote... hari senin loh, ini. waktunya Vote datang....


Jangan lupa ya kirim dukungan kalian di karya ini


hatur nuhun sadayana. 😁😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2