
"Nona, ini pakaian ganti buat Anda!" Ucap salah satu anak buah Catra yang membantunya tadi, membuyarkan lamunan Lura.
"Ah, iya. Terima kasih." Lura tergagap menerimanya.
Anak buah Catra masih berdiri di hadapan Lura. Membuat wanita itu terlihat bingung.
"Apalagi?" Tanya Lura heran. Ia merasa tidak nyaman jika ada orang yang tidak ia kenal berada di sisinya.
"Sebaiknya Anda berganti pakaian segera, Nona. Setelah itu ikut saya!" Anak buah Catra mempersilakan Lura agar mengikutinya. Meskipun bingung akan dibawa kemana tapi Lura tetap mengikutinya.
"Tunggu!" Lura menghentikan langkahnya. "Apa kalian sudah memberitahu orang tua Catra?"
"Anda tenang saja! Tuan Wira dan Nyonya Liona sedang menuju ke sini?" Ungkapnya.
Lura merasa lega mendengarnya. Dia pun kembali berjalan mengikuti langkah anak buah Catra.
"Anda bisa membersihkan diri di dalam ruangan ini, Nona!" Anak buah Catra membukakan pintu ruangan tersebut.
Lura mengedarkan matanya. "Kenapa bisa ada ruangan khusus di rumah sakit ini?"
"Saya akan mengirimkan makanan ke sini. Anda bisa menikmatinya setelah membersihkan diri!" Anak buah Catra berlalu dari ruangan itu.
Lura menggelengkan kepala mendengarnya. "Dia kira, aku bisa menikmati makanan di sini. Melihat Catra sedang operasi di sana!" Helaan napas berat Lura berikan. Kemudian menatap dirinya sendiri.
Pantas saja Lura diberi pakaian ganti. Ternyata pakaian yang dipakai saat ini kotor dan banyak becak darahnya.
__ADS_1
Tak lama setelah membersihkan diri, Lura melihat banyak hidangan tersaji di meja.
Lapar memang itu yang Lura rasakan tadi. Entah mengapa rasa laparnya hilang begitu saja saat mengingat Catra.
Lura kembali mengingat ucapan Catra sesaat sebelum peristiwa itu terjadi. Bayangan Catra saat memakai anting hitam di sebelah kiri, kembali terlintas. Perintah Catra yang menyuruh Lura membayangkan jika Catra berambut panjang pun ia lakukan.
Deg...
Benar, sesuai bayangannya. Catra adalah pria yang sudah menggagahinya malam itu. Catra adalah pria pemilik kehormatannya. Rasa sesak menyeruak di hari Lura. Tidak ada rasa benci tapi lebih merasakan kesedihan, takut kehilangan yang saat ini Lura rasakan.
Lura sudah memutuskan tidak akan meninggalkan Catra. Ia akan menunggu janji Catra untuk menjelaskan semua kepadanya.
Lura bergegas kembali ke ruang operasi dimana Catra berada. Lura mengabaikan makan lezat yang sudah disuguhkan untuknya.
'Aku mencintaimu, Catra! Aku memafkan semua yang kamu lakukan padaku! Kamu adalah pemilik kehormatanku. Kamu harus bertanggung jawab atas diriku!'
Sesampainya di sana. Lura melihat orang tua Catra berdiri di depan ruangan itu. saat akan mendekat Lura tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat pintu ruang operasi terbuka. Catra masih dalam pengaruh obat bius. Posisi Catra saat ini tidur tengkurap.
Lura tersenyum melihatnya. Ada perasaan tenang dan lega setelah itu. Tatapan matanya beralih pada tangan suster yang sedang memegangi kalung saat keluar dari ruang operasi.
"Permisi, Nyonya!" sapa suster itu. "Ini milik putra Anda! Kami membukanya saat melakukan tindakan pada putra Anda tadi. Kalung ini menghalangi perban yang kami gunakan untuk membalut luka pada bahunya."
"Kalung itu, milikku!" gumam Lura.
Lura berjalan pelan mendekati Mama Liona. Lagi-lagi dia menghentikan langkahnya. Saat mendegar namanya lengkap Lura disebut oleh mamanya Catra.
__ADS_1
"Ini kalung Allura, Pah!" Ucap Mama Liona pelan tapi bisa didengar oleh Lura.
Papa Wira mendekati Mama Liona. Saat ini mereka saling berhadapan. "Papa, putriku masih hidup. Allura charya masih hidup!" Mama Liona menangis histeris saat itu juga sambil memeluk Papa Wira.
Lura menutup bibirnya sambil menggelengkan kepala saat mendengar ucapan Mama Liona. Hari ini dua kejutan yang sungguh tidak terduga Lura dapatkan.
Mama Liona ternyata mama kandungnya. Catra adalah saudara tirinya. Bagaimana Lura harus menerima kenyataan. Lantas saja saat pertemuan pertamanya dengan Mama Liona ada perasaan hangat yang menyeruak di hari Lura. Saat Mama Liona memeluknya. Ternyata ikatan batin ibu dan anak yang terjadi antara mereka berdua.
"Tidak mungkin!" Lura mundur perlahan. Ia mengurungkan niat untuk bertemu dengan Catra. Kenyataan ini terlalu cepat buat Lura terima.
"Kenapa Mama Liona membuangku? Sedangkan kehidupannya dalam kemewahan? Apa benar aku anak haram yang tidak diinginkan, hingga beliau membuangku ke panti asuhan?" Bayangan hidup sederhana kembali terbayang dalam benak Lura. Bahkan sampai detik ini pun Lura tetap mendambakan kasih sayang dari ibunya.
Lura berjalan tanpa arah keluar dari rumah sakit itu. Pikirannya entah kemana sampai wanita itu hampir saja tertabrak oleh mobil hitam mewah yang melintas di dekatnya. Lura sempat terjatuh kemudian dibantu orang sekitar yang ada di sana.
"Mbak kalau jalan hati-hati dong! Jangan melamun!" Omel pengemudi mobil itu.
Lura menundukkan kepala."Maaf, Pak! Saya salah, silakan anada melanjutkan perjalanan," ujar Lura. Padahal sikut tangannya terluka akibat terjatuh dan mengenai jalan aspal.
"Loh mbak seharusnya dia juga ikut tanggung jawab. Setidaknya uang berobat gitu. Ini kenapa malah disuruh pergi," ucap wanita yang menolong Lura.
"Ada apa, Lura?Apa yang terjadi padamu?" Ucap seorang pria yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Pak Antoni," Ucap Lura.
.
__ADS_1
.
.