Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
DNA Yang Sama


__ADS_3

"Terima kasih, Lura. Kamu adalah malaikat bagi kami." Mama Mariana memeluk erat tubuh Lura, saat dirinya mendengar bahwa Lura bersedia menjadi pendonor sum sum tulang belakang untuk Putri.


Mama Mariana melepaskan pelukannya. sekarang bergantian Pak Antoni yang menatap Lura.


"Aku tidak tahu harus berkata apa sama kamu, Nak! ini sebuah keajaiban bagi kami. Sekian lama kami menunggu saat ini." pak Antoni menangkup kedua bahu Lura kemudian menatap manik matanya. "Kamu yakin akan melakukan ini untuk Putri?" Pak Antoni menegaskan pada Lura.


"Aku yakin, Om! Dokter juga sudah menjelaskan pada saya secara detail soal ini. Maka dari itu saya siap menjadi pendonor untuk Putri.


Tanpa berkata-kata lagi Pak Antoni langsung menarik Lura ke dalam pelukannya.


"Mulai saat ini, panggil aku papa! Seperti Putri. Kamu adalah anak perempuannya juga saat ini," ucap Pak Antoni di sela pelukannya.


Tanpa menunggu lama, Lura langsung menjalani beberapa pemeriksaan. Dari pemeriksaan darah, DNA dan serangkaian pemeriksaan yang di lakukan cepat hari ini.


Usai menjalani berbagai pemeriksaan, Lura di pindahkan ke ruangan lain untuk beristirahat. Sebab jika hasilnya bagus operasi pencangkokan sumsum tulang belakang akan segera dilakukan.


Dokter Renaldi terlihat heran dengan hasil tes DNA yang Lura lakukan.


Hasil pemeriksaan itu menyatakan bahwa gen yang ada dalam darah Lura sama persis dengan gen yang ada dalam tubuh Putri. Bisa di artikan mereka berasal dari gen yang sama.


"Apa mereka saudara? Kenapa hasilnya bisa akurat seperti ini? Akan saya tanyakan pada Pak Antoni nanti," ucap Dokter Renaldi usai memeriksa hasil pemeriksaan pada Lura.


 


"Benarkah? Saya ikut senang mendengarnya. Semoga semuanya cocok dan Putri bisa segera di operasi," ujar Bu Prita yang begitu senang mendengar berita dari Mama Mariana soal Putri dari seberang telepon.


"Bagaimana dengan Farrel, apa dia merubah keputusannya?" Tanya Mama Mariana.


"Keputusan apa?" Bu Prita bingung mendengarnya.


"Kamu tidak tahu? Farrel tidak cerita sama kamu?"


Bu Prita menggelengkan kepala sambil serius mendengarkan ucapan Mama Mariana.


"Farrel melamar Putri tapi masih di gantung oleh anakku," ujar Mama Mariana.


"Benarkah? Ko Farrel tidak cerita." Bu Prita tersenyum mendengarnya. "Kamu tau, Mar. Farrel orang yang setia dia pasti akan menunggu Putri jika memang itu sudah keputusannya."


"Aku harap benar begitu! Putri begitu senang tapi sakitnya----" ucapannya terpotong saat Pak Antoni memanggilnya.


"Mah," panggil Pak Antoni.


Mama Mariana menoleh lalu menunjuk ponselnya tanpa bicara memberi kode kalau dia sedang menelpon.


Pak Antoni mengangguk dan memilih menunggunya.

__ADS_1


"Kita sambung obrolannya nanti, ya!" Ucapnya pada Bu Prita di seberang telepon.


"Oh, ya! Aku akan mengusahakan untuk menjenguk Putri ke sana!" balas Bu Prita dari seberang telepon. "Baiklah, sampai bertemu nanti!" lanjut Bu Prita.


"Ya, sampai nanti." Mama Mariana menutup teleponnya. Kemudian berjalan mendekati suaminya.


"Ada apa, pah?" Tanya Mama Mariana.


"Mah, tolong temani Lura dulu. Papa mau bertemu Dokter Renaldi untuk melihat hasilnya.


"Bagaimana dengan Putri." Mama Mariana melirik ke arah ruangan ICU di mana Putri berada.


"Putri ada suster yang mengawasinya. kondisi nya semakin membaik. Papa sudah sampaikan pada petugas yang menjaga Putri di dalam agar segera memberitahu papa," ujar Pak Antoni dan mendapat anggukan oleh Mama Mariana.


"Semoga hasilnya bagus, ya, Pah!"


"Aamiin."


Pasutri itu pun berpisah, Mama Mariana ke ruangan Lura sedangkan Pak Antoni ken ruangan Dokter Renaldi.


"Bagaimana dokter hasilnya apa bisa dilakukan operasi pencangkokannya," tanya Pak Antoni. Ia sudah tidak sabar melihat hasilnya.


"Sungguh keajaiban dari Sang Pencipta, Pak Antoni. Semua pemeriksaan hasilnya bagus. Mereka bisa segera melakukan operasi. Tapi yang saya herankan kenapa gen mereka sama ya, Pak?"


"Maksud Anda, Apa dokter?" Pak Antoni terlihat bingung dengan ucapan Dokter Renaldi.


"Permisi, dokter!" Tiba-tiba saja pintu ruangan Dokter Renaldi terbuka membuat Sang dokter menggantung ucapannya.


"Ada apa suster?"


"Pasien Nona Putri sudah sadar, Dok!"


apakah Antoni seketika berdiri. Ia merasa terkejut mendengarnya.


"Apa? Putri sudah sadar?" Pekik Pak Antoni dan mendapat anggukan dari suster itu.


"Kita ke sana sekarang, Dok!" Ucap Pak Antoni seraya melirik Dokter Renaldi.


"Ya."


Mereka berusaha berjalan cepat menuju ruangan di mana Putri berada.


Tak beda dengan Pak Antoni, Mama Mariana dan Lura juga ikut datang ke ruangan itu. Mama Mariana sempat melarang Lura untuk ikut. Tapi Lura menolak Ia ingin bertemu dengan Putri.


"Mama," panggil Putri saat Mama Mariana masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Putri." Mama Mariana lekas berjalan cepat menghampiri Putri.


"Lura," panggil Putri pada wanita yang ada di belakang mamanya. Putri menyipitkan matanya melihat plester bekas suntikan yang ada di tangan kiri Lura.


"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Putri.


Lura menggelengkan kepalanya. "Tidak"


"Terus, tanganmu kenapa?" Putri semakin penasaran.


Lura melirik ke arah Pak Antoni dan Mama Mariana seakan meminta ijin untuk memberitahu Putri apa yang terjadi padanya. Mereka berdua mengangguk bersamaan, membalasnya.


"Kamu tahu ada kabar baik untuk dirimu!" Ucap Lura.


Putri tersenyum miris. "Kabar baik? Kamu jangan ngarang, Ra. Lihat saja keadaanku! Baik dari mana? Tambah buruk, iya!" cetus Putri seakan sudah tidak bersemangat dengan hidupnya sendiri.


"Put, kenapa berbicara seperti itu?" sanggah Lura.


"Memang kenyataan, Ra. Aku tidakau berpura-pura baik pada kenyataannya sebaliknya. Sudahlah, aku tidak mau bersedih, aku hanya ingin bahagia di saat-saat terakhirku."


Lura menggenggam erat kemari Putri. "Bagaimana jika ada seseorang yang cocok dan siap jadi donor untuk kamu?"


"Heh, jangan ngadi-ngadi, Ra. Jangan buat aku kembali berharap. Sungguh, aku sudah ikhlas dengan kenyataan yang ada." Putri menumpuk tangannya di atas tangan Lura yang menggenggam tangannya. "Kalian tidak perlu khawatir," ucapnya sambil menatap Lura kemudian bergantian menatap Pak Antoni dan Mama Mariana.


Mama Mariana menutup mulut mendengar ucapan Putri. Pasrah dan menerima keadaan, sikap yang Putri tunjukkan saat ini.


"Put, lihat aku!" Titah Lura. Putri pun mengikutinya.


"Kondisi dan keadaan tubuhku bagus, bahkan dokter menyatakan kalau aku bisa mendonorkan sumsum tulang belakang ku padamu?" Ucap Lura.


Putri tidak langsung percaya begitu saja. "Mana mungkin, Ra. Selama ini Papa mencari pendonor yang cocok denganku, tapi sangat sulit."


"Mungkin Sang Pencipta memang menakdirkan kita bertemu saat itu, agar aku bisa menolongmu!" Lura mengangguk pelan seakan membenarkan ucapannya.


Putri mendongak menatap Pak Antoni dan Mama Mariana. Keduanya pun mengangguk bersamaan.


Putri kembali menatap Lura. Tanpa di duga air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk mata. Putri lekas memeluk Lura. Gadis yang tampak pucat itu menumpahkan tangisnya di pelukan Lura.


"Kamu akan sembuh, Put! Aku pernah bilang kamu pasti sembuh!" Lura menepuk pelan pundak putri berusaha menenangkan nya.


 


Di saat yang bersamaan. Farrel serta Bu Prita sedang berada di Soekarno-Hatta begitu juga dengan Mama Liona dan Papa Wira. Mereka sama sama akan pergi ke rumah sakit yang sama tapi dengan orang yang berbeda.


Farrel dan Bu Prita akan menemui Putri dan Mama Mariana, sedangkan Mama Liona akan menemui Lura.

__ADS_1


Bagaimana jika di sana Farrel bertemu dengan Lura? Apa yang terjadi selanjutnya? apa dia akan membatalkan rencana lamarannya pada Putri dan beralih pada Lura. Apa Lura akan menerima Mama Liona. Semua akan terbongkar nanti.


tunggu bab selanjutnya ya.....


__ADS_2