Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Merasa Inscure


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Cara terus menyembur ocehan pada Pacho. sahabatnya itu kena saran kemarahannya Catra.


"Kenapa lu gak pergi aja tadi, hah!" ketus Catra masih merasa kesal. Sebab keadaan mulai menyenangkan tadi Luar makin merasa santai berbicara dengannya.


"Gue mau pergi tapi lu gak ngasih kunci mobil," sahut Pacho.


"Harusnya lu balik lagi, tadi!"


"Males. Ngapain sih lu pusing begitu? Besok 'kan bisa balik lagi!" seru Pacho.


"Tapi tadi gue lagi asik-asiknya njirrr"


"Dih, bucin!"


"Kaya sendirinya gak bucin sama bini sendiri aja!" timpal Catra kesal pada Pacho.


Waktu berlalu begitu cepat. Tiga bulan telah berlalu, dari pertemuan pertamanya dengan Lura. Catra semakin sering berkunjung ke toko bunga itu. Lura semakin dekat dengan Catra.


Catra pintar salam hal mendekati Lura. Membuat wanita itu nyaman berada di dekatnya. Awalnya sulit mendekati Lura, wanita itu terkesan menjauhi pria. Mungkin karena ketakutan Lura sebelumnya. Tapi Catra tidak menyerah. Ia terus berusaha mendekati Lura dengan caranya sendiri.


Catra pernah melihat foto Lura bersama seekor kucing. Kemudian Catra sengaja membawa kucing ke toko bunga itu dengan alasan baru saja membawa kucing itu ke dokter hewan.


Dari situlah sikap Lura tidak lagi menghindari Catra. Lura begitu suka dengan hewan berbulu itu jadi ia langsung aktif bicara pada Catra.


Hari demi hari kedekatan mereka semakin terlihat. Senyuman ceria semakin sering terukir di wajah Lura. Putri pun merasakan perubahan itu.


"Hari ini jadi pergi sama Catra?" tanya Putri saat mereka sedang merangkai bunga bersama di toko.


Lura mengangguk pelan. "Tapi aku takut, Put. Bagaimana jika mama nya Catra tahu latar belakangku? Pasti mereka akan menyuruh Catra menjauhiku!" Ucap Lura seketika menghentikan gerakannya.


"Jangan berpikiran negatif dulu, ketemu juga belum?" ujar Putri.


"Aku takut saja, Put! Aku dan Catra hanya berteman tapi entah mengapa aku takut jika keluarganya tidak suka padaku."


"Kamu suka sama Catra?" tanya Putri.


Lura sontak menoleh ke arah Putri sambil menggelengkan kepala.


"Jangan mengelak, Ra! Aku tahu kamu ada perasaan pada dia."


"Aku tidak berani memulai perasaan, Put!"


"Jangan seperti itu, Ra! Aku lihat Catra orangnya baik, dia juga pintar membuat kamu tersenyum bahkan tertawa lepas jika sedang bercanda dengannya," ucap Putri.


Lura tersenyum membenarkan ucapan Putri. "Entahlah, berada di dekatnya rasanya nyaman dan aman aja. Perasaan itu mengalir begitu saja. Oh, ya, Put. Catra juga mau nganterin aku pulang!" Lura baru ingat dengan janji Catra tempo hari.


Lura bercerita soal desa asalnya. Lura sempat mengungkapkan keinginannya untuk pulang ke sana. Tempat di mana Lura dibesarkan.


"Pulang? Kapan?"

__ADS_1


"Gak tau, tapi dia udah janji. Dia sih bilangnya minggu ini. Entah benar atau tidak! Kalau benar aku ijin tidak bekerja ya? Atau mungkin ... Mengundurkan diri dari sini?"


"Loh kok, jadi malah minta risen. Gak... Gak... Aku gak ijinin kamu pulang kalau kamu akan risen dari sini. Aku sama siapa kalau kamu pulang?"


Lura mencoba mengerjai."Bukannya sduah ada teman? Atau bisa dipanggil calon suami?" ledek Lura berhasil membuat Putri berwajah merah karena malu.


"Kami belum memutuskan untuk menikah, Ra? Aku dan dia memang tahu rencana orang tua kami yang menginginkan kami menikah. Tapi mereka membebaskan kami untuk mengenal lebih dulu baru ke langkah selanjutnya."


"Makanya mulai saat ini, belajar untuk dekat dan berbagi cerita sama calon suami!" ledek Lura.


Putri hanya tersenyum menanggapinya.


Ya, dua bulan lalu. Putri berkenalan dengan Farrel. Pria yang dikenalkan Sahabat mamanya pada dia. Padahal Bi Prita dan Mama Mariana sudah dekat sejak lama. Kali ini pun mereka akan telah membuat janji untuk bertemu. Farrel dan Putri mempunyai hobi yang sama yaitu sebagai kreator digital. Jika Farrel sering membuat konten dari petualangannya sedangkan Putri lebih banyak membuat konten soal bunga yang ada di tokonya.


Ternyata mereka berdua sudah banyak pengikutnya. Jadi Putri dan Farrel akan mencoba remix konten mereka.


Putri dan Farrel juga semakin sering bertemu karena Bu Prita sama Mama Mariana selalu mempertemukan mereka dalam berbagai acara. Awalnya Farrel asing dan dingin pada Putri, tapi sedikit demi sedikit Farrel mengenal Putri sebagai wanita manis, baik dan pintar. Putri sedikit diam tapi dia akan banyak bicara saat dirinya ingin mengetahui sesuatu.


Mereka pun semakin dekat karena hobi mereka yang sama.


***


Dua orang wanita yang sama sama sedang menunggu seseorang terlihat duduk bersama sambil bercengkrama santai. Putri dan Lura bertaruh siapa pria yang mereka tunggu datang lebih dulu.


Jika pria yang ditunggu mereka datang belakangan. Lura dan Putri harus mengungkapkan perasaannya pada pria tersebut. Itulah kesepakatannya.


"Yeay, Catra datang lebih dulu. Ingat sesuai kesepakatan hari ini kamu harus mengungkapkan perasaanmu pada Farrel." Lura mengingatkan.


Putri memangunkan bibirnya. "Iya, Tapi kamu harus tinggi dia dulu. Kalian belum saling kenal. Kenalan dulu sama dia!"


"Apa yang kamu bicarakan sama calon suamimu?"


"Belum pasti, Ra!"


"Doa, Put!"


"Iya, iya. Aamiin." Putri mengaminkan.


Melihat Catra hampir memasuki toko bunga. Lura menolak untuk menunggu Farrel. "Putxey kayaknya lain kali saja kenalannya. Aku gak enak sama Catra," ucap Lura.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya!"


"Ya, dadaah! Aku pergi ya, Assalamu'alaikum," ucap Lura sambil berlalu keluar dari toko bunga itu.


"Waalaikumsalam," jawab Putri tersentum melihat kedekatan dan keakraban Lura bersama Catra.


Gagal lagi untuk kali ini. Berkali-kali Putri ingin mengenalkan Farrel pada Lura. Tapi waktu seakan terus menghalangi. bagaikan jadinya jika Farrel dan Lura. Bagimana dengan perasaan Putri jika dia tahu, Pria yang ia sukai adalah pria yang telah menjerumuskan Lura.


***

__ADS_1


Siang ini Catra berjanji untuk mengajak Lura ke rumahnya. Lura menyetujuinya karena Catra memberitahu kalau ada taman bunga dan anak kucing yang lucu di rumahnya. Kucing yang baru saja melahirkan.


Lura makin penasaran ingin melihat taman dan anak kucing itu. Ia setuju ikut dengan Catra, sekalian mengajak Lura bertemu dengan Mama Liona. Wanita yang selama ini Catra ceritakan pada Lura.


Wanita hebat berhati lembut yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Ayo masuk!" Ajak Catra saat mereka sudah sampai di jalan rumah Catra.


Lura tidak menyangka kediaman Catra begitu mewah. Ia merasa insecure setelah sampai di rumah Catra.


"Apa lebih baik aku pulang saja. Aku bisa lain kali main ke sini?" ucap Lura sambil tertunduk.


Tiba-tiba saja Lura tidak ingin keluar dari mobil dan mengurungkan niatnya.


"Kenapa?"


"Aku hanya orang biasa dan tidak punya apa-apa, Cat! Bahkan orang tuaku saja tidak jelas keberadaannya. Dan lebih parahnya lagi aku sama sekali tidak kenal siapa mereka."


"Lalu apa masalahnya? Kamu hanya berkunjung ke rumahku dan berkenalan dengan mama!" Catra tidak paham dengan maksud Lura.


"Apa orang tuamu tidak akan melarang kedekatan kita? Derajat dan status sosial kita jauh berbeda, Cat!" ucap Lura sedih.


Lura ingat dengan ucapan Bu Prita, ibu dari mantan kekasihnya Farrel ingin putranya menjalkn hubungan dengan wanita yang satu derajat dengannya. Dan itu tidak ada dalam diri Lura.


"Ikut denganku! Kamu akan merasakan kebaikan ibuku yang sangat aku banggakan." Catra segera turun dari mobilnya. Pria itu berlari kecil sambil memutari mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobil untuk Lura. "Ayo, turun!"


Bagaimana reaksi Mama Liona setelah bertemu dengan Lura?


.


.


.


.


Bersambung.


Makin mendekati kebenaran dan asal usul Lura yang mulai mencuat....


like komen dan hadiah jangan lupa kirim ke karya ini.


Promosi lagi say. mampir ya ke karyanya.


jangan lupa baca!



Baca ya!!!

__ADS_1


__ADS_2