
Farrel memilih untuk terus melanjutkan hubungannya denganku. Tapi memintaku untuk bersabar sebentar lagi. Aku pun berjanji untuk terus bersamanya dalam keadaan apapun.
“Aku mohon jangan tinggalkan aku, Ay! Tunggu aku, aku akan menyelesaikan ini semua. Sulit untuk lepas dari jerat rasa candu ini. Aku bingung!” Farrel tertunduk lesu saat mengungkapkan kegundahan hatinya.
Pecandu yang hidupnya sudah tergantung ke pada barang haram itu sulit untuk dihentikan. Butuh dorongan dan motivasi untuk memberikan semangat ke pada mereka agar bisa sembuh.
“Seberat inikah beban orang tuamu? Apa kamu pernah mencoba mengungkapkan keinginan hatimu tanpa perintah dan tekanan mereka?” tanyaku dan mendapat gelengan kepala darinya.
Kasihan, itu empatiku untuknya. Mungkin jika aku berada pada posisinya tidak akan sanggup harus menjalaninya sendiri.
Banyak yang Farrel ungkapkan sore itu kepadaku. Keinginan orang tuanya yang mengharuskan dirinya menjadi yang terbaik. Memang sanggup buat Farrel menjalankannya tapi kemampuan seseorang ada batasnya.
Ayahnya Farrel mempunyai sikap mengekang dan tidak mau dibantah. kadang kerap memberi hukuman jika Farel tidak membuatnya bangga.
Sedari kecil Farrel harus berprestasi, harus membanggakan nama orang tua.
Dan itu bisa Farrel dapatkan meski batinnya terbebani.
“Kamu pasti bisa, Rel! Kamu pasti bisa lepas dari jeratan kenistaan ini. Aku selalu bersamamu, kita cari cara untuk semua ini. Resiko terbesarnya orang tua mu harus tau masalah ini,” ucapku sembari menggenggam erat tangan Farrel.
Sempat kulihat keraguan di sana. Tapi Farrel mengangguk pelan untuk kepersekian detik selanjutnya.
Aku dan Farrel sejenak melupakan masalah kami, sayang sekali berada di tempat ini hanya untuk menyesali apa yang sudah terjadi. Lebih baik menghibur diri dengan menyaksikan. Pertunjukan musik di sini.
Farel tak hentinya melepas genggaman tanganku.
Aku tahu sebenarnya Farrel adalah pria baik hanya saja ia salah memilih jalan. Jika aku meninggalkannya saat ini sama saja aku mendorongnya untuk masuk ke lembah hitam itu semakin dalam.
Dia hanya butuh teman berbagi, teman berkeluh kesah, teman yang mampu mendengarkan semua isi hatinya. Dan harapannya begitu besar padaku.
Aku pun sama, Aku butuh bermanja dan sayang dari seseorng dan selama aku berpacaran dengan Farrel semua ku dapatkan darinya.
Hampir tiga jam aku bersama dengan Farrel di tempat itu. Sungguh pertunjukkan musik yang menyenangkan bagiku.
“Kamu kenapa?” tanyaku ketika kulihat gelagat aneh sudah terlihat pada diri Farrel.
“Ay, bantu aku pulang ke kos an! Tolong aku tidak mau ada yang melihat aku seperti ini!” pintanya padaku.
Tubuhnya dingin, tangannya sedikit gemetar. Raut wajah Farrel sudah berubah. Aku tidak tega melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Kekasihku itu terlihat sedang menahan rasa sakit akibat ketergantungan obat terlarang.
Aku mengangguk pelan. Beruntung aku bisa mengendarai motor sport milik Farrel, kekasihku itu beberapa kali mengajariku.
“Kamu masih bisa tahan, Rel?”
Farrel mengangguk pelan.
Akhirnya aku bergegas membawa Farrel yang tengah mengigil itu pergi dari tempat itu.
“Kenapa tidak ke rumahmu?” tanyaku saat membantu Farrel masuk ke dalam kamar kos nya.
“Ada orang tuaku, di jalan tadi yang membuktikan klakson itu, mobil ayahku!" jawabnya dengan suara gemetar.
Aku diam tak menjawab, aku lebih fokus pada jalanan. Lumayan berat juga mengendarai motor sport itu.
Kami masuk ke dalam kamar itu, Farrel mengunci pintu itu kemudian menarik kunci lalu mengantonginya. Mungkin dia takut aku kabur dari sini.
Aku merasa takut saat Farrel melakukan itu, takut kalau dia akan berbuat di luar batas kepadaku.
__ADS_1
“Aku tidak akan melukaimu, Ay!” Ucap Farrel yang paham dengan apa yang kupikirkan.
Aku tidak berani mendekati Farrel takut ucapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi kumelihat kekasihku itu berjalan ke sisi pojok kamar kos-nya kemudian duduk duduk di sana seraya memeluk kedua lutut yang di tekuknya.
Badannya bergetar hebat, Farrel menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.
Tidak ada kata yang kudengar darinya. Seperti ‘kah reaksi pecandu jika tidak langsung memakai barang haram itu.
‘Apa orang tuamu tidak pernah melihat perubahan ini, Rel. Atau kamu belum bertemu dengan mereka.’
Batinku yang masih diam seraya memperhatikan Farrel.
Banyak sekali perubahan yang kulihat secara nyata terutama perubahan fisik Farrel, tubuhnya semakin kurus. Kadang kekasihku itu terlihat sering tidak fokus dengan kebersamaan kami.
Pola makannya pun kurasakan berubah. Tak seperti biasanya mungkin semua akibat dari mengonsumsi barang haram tersebut.
“Rel! ” panggilku.
Pria di hadapanku itu mendongak menatapku. Kelopak mata sayu, tak lama setelah itu ku lihat Farrel menggigit tangannya sendiri.
Aku terkejut melihatnya. Farrel melukai dirinya sendiri. demi menahan rasa sakitnya.
Lekas ku tarik tangannya. Agar Farel tidak lagi menyakiti diri sendiri.
“Jangan seperti ini, Rel!” ucapku.
Tatapan marah kudapat dari Farrel tapi hanya sebentar, detik berikutnya Farrel berdiri dan membelakangi ku menghadap dinding.
Berulang kali Farrel memukul dinding tersebut dengan tangannya. Sampai tangan itu memar di buatnya.
“Cukup! Cukup! Kenapa seperti ini, apa sesakit itu menahan kecanduan itu, Rel!” ucapku seraya kembali menahan tangan Farrel.
Farrel menepis tanganku.
Tubuhnya merosot begitu saja, Farrel kembali memeluk kedua kakinya.
“Rel...,” ku panggilku dengan suara gemetar dan isak tangis yang bersamaan. Begitu sakit melihatnya dalam keadaan sakau seperti ini.
Pria di hadapanku sedang berjuang melawan keinginannya mengonsumsi obat terlarang yang bisa membuat jiwanya tenang.
Sungguh aku bisa melihat perjuangannya saat ini.
Farrel memang menyerahkan semua barang haram yang ia punya di selipan dompetnya kepadaku.
Dia mengaku barang itu, baru saja diambilnya dari seseorang. Aku tidak menanyakan dari siapa mendapatkannya.
Aku tidak peduli, satu hal yang harus aku lakukan saat ini menyelamatkan Farrel dari rasa sakit yang menyiksa dirinya.
Kupeluk tubuh yang tengah meringkuk kedinginan di atas lantai putih.
"kita akn melewati ini sama-sama. kamu pasti bisa, Rel!" ucapku dengan tangisan yang menyertai.
“Aku ada di sini, aku akan membantumu, Rel! Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskanmu dari rasa sakit ini?” ucapku pelan seraya terus memeluk tubuh yang terlihat sedikit kurus itu.
Aku merasa ada gerakan yang Farrel lakukan matanya nyalangnya menatapku, hati ini bergetar hebat. Ada rasa takut yang aku rasakan.
“Kamu mau membantuku?” Farel bangkit berdiri sambil memegang kedua bahuku lalu menarik tubuhku agar ikut berdiri.
Tubuhku didorong ke ranjang dengan kerasnya.
__ADS_1
“Rel, apa yang kamu lakukan? Bukan seperti ini maksudku! Aku akan membantumu dengan cara lain,” ucapku dengan takut. Takut Farrel berbuat sesuatu kepadaku.
“Aku sudah tidak tahan, Ay! Tolong... Berikan barang itu, aku mohon!” Farrel mendekatiku dan menarik tas selempang yang aku pakai tapi aku bisa menahannya.
“Kamu mau pakai barang itu lagi?”
“Kali ini saja, kumohon!” Farrel mengiba kepadaku.
Aku menggelengkan kepala. Ternyata ucapan Farrel tidak sesuai dengan kenyataan. Niatnya tidak sebesar kecanduannya.
Aku menarik tasku kembali. Agar Farrel tidak kembali merebut barang haram itu.
Kulihat raut wajah yang mengeram marah dari Farrel. Tubuhku di tarik paksa olehnya.
“Berikan kepadaku, Ay!” teriaknya padaku dengan nada tinggi.
Aku kembali menggelengkan kepala.
“Kamu sudah berjanji untuk tidak kembali menyentuhnya lagi!” aku tetap bersikeras menahan tas yang jadi incaran Farrel.
Farrel terus melangkah mendekatiku, hingga tubuh ini tidak bisa mundur lagi.
“Rel, sadar! Kamu tidak akan pernah merusak kehidupanku ‘kan?” Aku berusaha menyadarkannya saat wajah kami sudah berada sangat dekat.
Ku rasakan embusan napas hangatnya.
“Kamu tidak merasakan apa yang kurasakan saat ini! Sakit sekali! Kamu tidak tahu itu.” Farrel tersenyum sinis kepadaku.
Tak ada kelembutan pada sikapnya kali ini, Farrel-ku berubah. Ketergantungan barang haram itu sudah merubah semuanya.
Tatapan sedih ku berikan padanya.
“Lebih baik aku mati daripada tidak mengonsumsinya.” Farrel terus mendekatiku.
Sedih rasanya mendengar ucapan Farrel. Ia mengecup telingaku pelan. Derai air mata tak terasa mengalir begitu saja di pipi ini.
Tarik menarik tas sempat aku lakukan. Farrel merampas tas yang aku pegang erat, sampai tali tas ku terputus karena dia menariknya dengan kasar.
Setelah mendapatkan tasku, Farrel mengobrak-abrik isi tasku, mencari sesuatu yang ku simpan di dalam sana.
Setelah mendapatkan barang haram yang niatnya akan aku bakar itu, Farrel berlalu dari hadapanku. Ia berjalan tergesa bahkan sampai menubruk nakas yang ada di depannya. Kamar mandi menjadi tujuannya saat ini.
Aku hanya bisa terdiam sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipi ini. Kecewa dengan sikap Farrel.
.
.
...Bersambung
...
Sepi banget bestie...
Ramaikan kolom komntarku dong!
kalian yang hadir dan kasih like tunjukkan kehadiran mu. 😘😘😘
Like+komen+hadiahnya
__ADS_1