Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Kesalahan Masa Lalu


__ADS_3

Catra tersenyum kemudian mengangguk pelan. Untuk kali ini Catra harus mengikuti apa yang diinginkan Lura.


"Ya, kamu akan pulang ke panti asuhan tempat kamu dibesarkan. Tapi untuk kali ini tolong jaga kesehatan. Bagaimana bisa cepat pulang kalau makanan sehat ini, kamu abaikan," seru Catra sambil meraih piring berisi makanan yang ada di atas nakas. "Makan dulu, ya!" Tanda banyak berbicara lagi. Catra segera menyendok makanan itu kemudian menyuapkannya pada Lura.


"Buka mulutnya!"


Lura pun mengikuti perintah Catra. Perlahan tapi pasti makanan yang ada di dalam piring pun habis tak tersisa. Catra tersenyum senang.


"Lapar tapi malu," canda Catra lalu mendapatkan senyum kecil dari Lura.


Saat ini Lura dan Catra menikmati pagi itu dengan duduk berdua di taman. Banyak pasien rawat jalan yang menghabiskan waktu di sana. Berbeda dengan yang lain. Lura sudah tidak memakai selang infus di tangannya. Sebab gadis itu tinggal masa pemulihan saja, malam ini Lura sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


"Kamu tahu Mama Liona terlihat tegar di luar tapi wanita itu sangat rapuh hatinya," ucap Catra serius sambil menatap lurus ke depan. Pria itu sedikit bercerita tentang Mama Liona agar Lura mau memaafkan mama kandungnya itu. Mendengar itu Lura lekas menoleh ke arah Catra. Ia penasaran dengan ucapan pria yang ada di sampingnya itu. Kemudian kembali menatap pemandangan di depan matanya. Hanya telinga yang siap mendengar setiap ucapan Catra.


"Kamu tau, Mama Liona selalu menganggap kamu ada. Dia yakin jika putri yang ditinggalkannya di panti asuhan pulang tahun itu masih hidup. Dia selalu menghadirkan kamu saat dirinya mengasuh dan membesarkan kami, aku dan almarhum Citra." Catra sedikit menarik sudut bibirnya. Pria itu kembali melanjutkan ceritanya.


"Mama berkeyakinan, kamu masih hidup. Dan selalu berucap padaku, kalau aku masih punya saudara perempuan lain dari papa dan mama yang berbeda."


"Jadi kamu menganggap ku saudaramu kali ini?" Lura menyela ucapan Catra.


"Itu akan aku jelaskan nanti, sekarang dengarkan ceritaku dulu. Jangan berpikiran negatif dulu, ok!" Catra mengacak pelan rambut Lura. kemudian menatap serius wanita itu. Lura hanya bisa mengangguk pelan menutupi rasa takutnya.


Catra tahu ketakutan yang Lura rasakan. Lura pasti takut Catra tidak jadi bertanggung jawab atas dirinya karena mengetahui mereka adalah saudara. Catra pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Aku tahu dia mencurahkan rasa kasih sayang pada anaknya yang hilang melalui kami, yang memang butuh sentuhan seorang ibu saat itu. Aku sebagai anak yang lebih besar sudah mengerti saat itu, aku sering melihat mama menangis malam hari di pelukan papa. Papa Wira berusaha menenangkan mama setiap kali ia rindu dengan putrinya." Catra terus menceritakan kisahnya semasa kecil saat dirinya dirawat dan dibesarkan oleh Mama Liona.


Lura merasa tersentuh mendengar setiap cerita yang diucapkan Catra. Lura merasa bersalah pada Mama Liona karena telah mendiamkannya selama ini.

__ADS_1


"Kamu tahu, Ra. ada banyak kotak kado yang disimpan mama di dalam sebuah kamar yang khusus dia buat untuk kamu." Catra berucap sambil menatap Lura saat itu.


"Kotak kado?" Tanya Lura penasaran.


Catra mengangguk pelan.


"Seingat aku beliau selalu memberi kado di setiap tanggal 19 februari! Dan menyimpannya dalam kamar itu. Kamar yang dibuatkan Papa Wira untuk Mama Liona. Setiap tahunnya Mama Liona akan berada di dalam kamar itu sampai seharian. Bahkan sampai tidur di sana," Catra terlihat sedih mengingatnya.


"Aku merasakan kasih sayang yang dicurahkan kepada kami sangat tulus karena itulah papa ingin membalas kasih sayang yang diberikan olehnya dengan menyediakan semua yang Mama Liona inginkan. Tapi hanya satu yang wanita itu minta," ucap Catra sambil menatap dalam pada Lura.


"Apa?" Lura kembali bertanya.


"Mengijinkan kamar itu tetap ada meskipun keberadaan anaknya belum diketahui sampai saat ini. Ternyata perasaan seorang ibu itu benar. Anak Yang selama ini dianggap hilang ternyata masih hidup sampai sekarang. Bahkan tumbuh dengan cantik dan mampu membuat hatiku jatuh padanya," goda Catra sambil menyentuh dagu Lura.


"Apa semua itu benar?" Lura seakan tidak percaya sambil menatap manik mata Catra.


"Aku dan Mama Liona tidak akan memaksamu. ikuti kata hatimu saja. Aku yakin mama Liona pasti akan menerima keputusanmu dengan baik.


Lura mengangguk pelan. Wanita itu mendekat ke arah Catra kemudian merebahkan kepalanya di bahu kekar pria itu.


Lura masih bimbang untuk mengambil keputusan. Jiwanya masih marah dan kecewa tapi hatinya sudah memaafkan, bahkan ingin segera memeluk raga dari seorang wanita yang sudah melahirkannya dan terus sabar menghadapi dirinya sampai saat ini. Lura sadar, kalau selama ini ia salah. Tapi itu merupakan bentuk untuk meluapkan ada kecewanya selama ini. Dari kecil ia merasakan kesendirian bahkan merindukan belaian dan kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan semasa kecil. Dan pada dasarnya Lura adalah anak baik. Mudah memaafkan dan tidak pernah menyimpan rasa dendam.


Lura memejamkan mata saat bersandar di bahu Catra. Ia merasakan rasa aman dan nyaman saat ini. Dalam hatinya Lura sudah mengambil suatu keputusan untuk kedepannya nanti.


Di ujung taman, seorang pria sedang memperhatikan Lura dan Catra. Ada rasa penyesalan yang mendalam yang dirasakan pria itu. Dia adalah Farrel, pria yang memulai keterpurukan dalam hidup Lura. Mengingat itu rasanya ingin memukuli diri sendiri, atas semua keburukan yang menimpa Lura. Tapi rasanya sedikit lega, saat melihat Lura berada bersama orang yang tepat. Bersama Catra dan keluarga yang selama ini Lura cari sudah terkuak. Meskipun Lura masih belum siap menerima kenyataannya.


'Aku lega, kamu bersama orang yang tepat, Ra. Maafkan aku yang telah berbuat salah padamu. Aku berjanji demi menebus semua kesalahanku, aku akan menjaga Putri dengan baik sesuai keinginan kamu. Aku juga tidak ingin membuat kesalahan yang sama dengan

__ADS_1


mengecewakan hati Putri. Dia gadis baik sepertimu. Aku tidak mau kembali berbuat salah. Meskipun saat ini kamu belum bisa memaafkan kesalahanku sepenuhnya.Tapi aku percaya hati tulus mu tidak akan bersikap seperti itu lebih lama kepadamu. Kamu wanita baik berhati tulus yang pernah aku temui. Aku berharap kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan, Ra.'


Batin Farrel saat memandangi Lura yang tersenyum menatap Catra. Keduanya terlihat bahagia di taman itu.


"Mama salah menilai Lura selama ini. Mama juga merasa bersalah padanya. Mama sadar kalau bukan karena informasi darinya, mama tidak akan mungkin bisa menyelamatkan mu dari kecanduan mu terhadap barang haram itu," cetus Bu Prita yang tiba-tiba datang dan berada di samping Farrel.


Farrel menoleh sekilas kepada ibunya.


"Minta maaf lah kepada Lura, Bu! Aku dan mama memang bersalah dalam kehidupan Lura. Kita sangat berdosa kepadanya," ucap Farrel kemudian berbalik hendak meninggalkan tempat itu.


"Apa Lura mau bertemu dengan ibu? Andai saja ibu menebusnya seperti yang kamu katakan dulu! Mungkin saja kehidupan gadis itu tidak seburuk yang kamu ceritakan pada ibu," sesal Bu Prita mengingat kesalahan masa lalu yang ia buat kepada Lura.


"Tidak ada salahnya untuk meminta maaf padanya, Bu!" Ucap Farrel kemudian meninggalkan Bu Prita sendiri. Wanita itu tampak berpikir dengan ucapan Farrel.


.


.


.


Penyesalan memang datang belakangan. Dan jangan pernah menilai buruk seseorang sebelum kita mengenalnya lebih dekat.


Hai... readers.... seperti biasa, maafkan author yang up bab kadang kidung...


Sambil nunggu karya ini up ... Mampir ke karya otot lain yuk.


Judulnya ikhlas ku melepaskan mu, Mas!....

__ADS_1


__ADS_2