
“Maaf, saya tidak tahu, Bu!”
“Bu ... Bu! Lu pikir gue udah ibu-ibu apa?” sentak Dina dari seberang telepon.
“Oh. Maaf, Mbak!”
“Share lokasi ke gue tempat lu sekarang. Mau gue ambil barang-barang punya temen gue!” seru Dina.
“Oke, Mbak!”
“Pake hape ini share lok nya!” ucap Dina lagi.
“Iya, bawel juga nih orang!” sahut orang itu dari seberang telepon.
Sambungan telepon pun terputus. Dina tergesa ingin segera menuju lokasi di mana Lura meninggalkan barang-barang miliknya.
Kebetulan salah satu penghuni kontrakkan datang. Dina mencegahnya terlebih dulu sebelum pria itu memasukkan kendaraannya ke dalam kontrakkan.
“Beno! Tolong anterin gue sebentar!” pinta Dina dengan suara cempreng nya.
“Kemana, Cinta?”
“Cinta, pala lu!”
“Ya udah males gue nganterinnya juga, gak ada manis-manisnya gitu minta tolong sama gue,” ujar Beno.
“E-eh, tunggu! Iya ... Iya, maaf! Tolong anterin gue nyariin Lura! Barusan gue telepon, orang lain yang angkat dan semua barang milik Lura ditinggal di sana,” ungkap Dina dengan mimik wajah sedih. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada Lura.
“Ok, deh. Kemon!” ajak Beno.
“Sok enggres lu! Tunggu bentar, gue ambil tas sama jaket dulu!”
Tak lama Dina kembali dan bergegas bersama Beno menuju lokasi yang dikirimkan orang tadi.
Kota Oxford, Inggris
“Bagaimana bisa orang itu menghilang begitu saja? Apa yang kalian kerjakan selama ini?” omel Catra dari seberang telepon kepada salah satu anak buahnya. “Kalian tidak bisa saya andalkan!” hardiknya kemudian.
“Arghhh...” Catra menyugar rambut panjangnya yang mulai mengering. Saat ini pria tampan nanti gagah itu tengah asik berada dalam kamar hotel miliknya.
“Kenapa, Honey?” bisik seorang wanita cantik bernama Alice Kyliehutten sambil memeluk tubuh kekar Catra dari belakang. Tangannya bergerak naik, jemarinya bermain di atas perut sampai dada Catra yang berbentuk seperti roti sobek. Tubuh kekar dan berotot yang di penuhi tato di bagian punggung sampai ke dadanya.
“Lepaskan, Alice! Aku sedang tidak ingin mengulangnya,” ucap Catra seragam melepaskan jeratan serta usapan yang penuh gelora itu.
Catra meninggalkan Alice yang berdiri menatap kepergiannya.
__ADS_1
Tak mau ditolak, Alice kembali mendekati Catra.
“Come on, Honey! Kita berada di sini buat senang-senang, bukan memikirkan masalah yang kamu punya,” gerutu Alice terus bermanja menarik tangan Catra kemudian merangkulnya.
Catra menggelengkan kepalanya. Entah mengapa ia merasa lelah dengan Alice. Wanita itu selalu merengek kepadanya soal hubungan mereka. Padahal tidak ada ikrar hubungan di antara mereka.
Catra dan Alice hanya sekedar partner ranjang saja. Jika Catra hanya ingin melampiaskan hasrat sedangkan Alice murni mempunyai perasaan lebih kepada Catra. Tapi itu awalnya, sekarang perasaan itu semakin menuntut. Ketika Alice tahu, Catra adalah orang yang tidak bisa dianggap remeh dalam segi kekayaan dan kekuasaan.
Catra mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya lalu meletakkan di atas meja.
“Pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi!” titah Catra.
Ia merasa pusing dengan masalahnya sendiri. Catra harus secepatnya pulang ke negara asalnya demi mengungkap sebenarnya yang terjadi pada kematian Citra, adiknya.
“Honey ... Kenapa kamu selalu menganggap aku ini wanita bayaran, hah! Setelah kamu puas, kamu bisa usir aku sepuas hatimu!” hardik Alice merasa kesal dengan Catra sebab selalu memandang rendah dirinya. Setiap kali setelah berhubungan badan dengannya, Catra selalu mengusirnya.
“Bukankah memang itu dirimu! Uang dan kemewahan yang kamu inginkan, Alice! Atau yang aku berikan ini kurang?” Catra berbalik lalu menatap tajam Alice. Tatapan yang membuat Alice merasa terintimidasi.
“Aku sungguh mencintaimu, Catra. Apa tidak merasakan ketulusan yang aku berikan?” Alice berusaha menarik tubuh Catra tapi dengan cepat pria itu menghindar.
“Pergi atau kita tidak akan pernah bertemu lagi!” titah Catra dengan tegas ia tidak ingin wanita itu semakin melunjak. Hanya karena semua keinginannya selalu Catra penuhi, semua hanya bentuk rasa tanggung jawabnya saja. Sebab dia adalah orang pertama yang mengambil kesucian Alice.
Hal itu di manfaatkan Alice. Tanpa ia tahu kalau Catra sudah tahu semuanya. Kalau Alice sengaja menyerahkan kesuciannya kepada Catra hanya untuk memanfaatkannya saja agar wanita itu bisa menikmati setiap uang dan kemewahan yang Catra miliki.
Alice segera berbenah diri setelah mendapat tatapan tajam dari Catra. Dengan kesal, wanita itu keluar dari kamar hotel itu.
Tak selang berapa lama, sahabat Catra dari negara asalnya berada menghubunginya.
“Halo, Bro gimana kabar lu?” sapa Pacho dari seberang telepon.
“Jangan banyak basa basi! Gimana pencarian lelaki yang bersama adik gue malam itu, apa sudah ketemu?” tanya Catra.
“Sepertinya akan sulit, Bro!” uang Pacho.
Catra tersenyum smirk mendengarnya.
‘Kenapa sulit sekali mengungkapkan siapa dalang di balik semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Cit? Apa mereka memaksamu menggunakan barang haram itu, atau ada hal lain?’
Pikir Catra.
“Gue dan teman gue bakalan nyelidikin tempat yang terakhir adik lu datangin. Sepertinya tempat itu ada kaitannya dengan lelaki yang pergi bersama Citra.Untuk mengungkap semua ini kita harus masuk serta di dalamnua biar jelas. Apalagi lu, Catra! Tampang dan gaya lu pas banget buat pura-pura jadi pelanggan baru di sana!” tutur Pacho.
“Maksud, lu?” tanya Catra tak mengerti.
“Makanya lu pulang ke Indo biar lebih jelas gue ngejelasinnya. Yang kita hadepin adalah orang yang udah lama main di bidang narkoba. Dia juga seorang mucikari, kita bisa mencari tahu kebenaran dari kematian Citra sambil asay asoy di tempat itu!”
__ADS_1
“Pacho ... Gue tonjok bulak balik lu, gue minta tolong lu buat memperjelas semuanya. Bukan ngajak asoy begituan.” Terdengar suara Catra kesal.
“Hahaha ... Jangan munafik lu, Cat! Gue tahu apa yang sering lu lakuin sama cewek bule itu! Lu bisa bandingin, lebih enak mana produk luar negeri apa dalam negeri!”
“Sialan ... Lu!”
Pacho kembali tertawa mendengar umpatan Catra yang ditunjukkan kepadanya.
Butterfly’Club
Begitu sampai di Butterfly’Club, Mamih Rosa melihat ada dua orang berdiri di depan Club' miliknya. Penampilannya jelas terlihat seperti seorang preman. Mereka sedang berbicara serius kepada penjaga yang bertugas di luar Club.
“Bawa gadis itu ke atas! Masukan dia ke kamar kosong itu!” titah Mamih Rosa kepada bodyguard-nya.
“Siap, Mih!”
Kedua bodyguard itu meninggalkan Mamih Rosa sendiri. Dengan langkah pelan dan anggun, wanita yang berpenampilan mencolok dan glamor itu mendekati seseorang yang sedang bertanya kepada pekerjanya.
“Apa ada yang bisa saya bantu Anda tuan?” sapa Mamih Rosa dengan anggun dan menggoda.
Kedua orang tersebut langsung mengalihkan atensinya kepada Mamih Rosa.
“Apa nyonya pernah melihat anak muda ini?” tanya salah satu orang tersebut sambil menyodorkan foto seorang pemuda dan gadis yang tertangkap kamera CCTV di depan sebuah kamar.
Wajahnya masih terlihat jelas meskipun foto tersebut diambil dari bagian atas.
‘Randi'
Batin Mamih Rosa.
Wanita itu berpura-pura memasang wajah penuh selidik ketika melihat foto yang diperlihatkan kepadanya.
“Sepertinya anak muda ini hanya beberapa kali ke tempat ini! Mungkin dia pengunjung baru club kami?" dalih Mamih Rosa, ia berusaha menutupi kebenarannya. Beruntung penjaga yang bekerja kepadanya belum mengatakan apapun tentang Randi. "Kenapa kalian mencarinya ke sini?” tanya Mamih Rosa masih dengan wajah santai dan datar seakan ia memang tidak mengenal Randi.
.
.
Bersambung.
Buat kalian yang baca sempatkan waktu buat tulis komentarnya dong. Biar otoriter semangat buat tulis bab baru.
.
.
__ADS_1