
"Akhirnya aku menemukanmu, Ra!" ucap Farrel di sela pelukannya.
"Lepaskan, aku!" teriak Lura sambil berusaha melepaskan diri dari Farrel.
"Tidak... Aku tidak akan melepaskanmu lagi! Aku akan mempertahankanmu kali ini," ucap Farrel.
"Pecundang, lepaskan aku!" Lura terus berusaha melepaskan diri.
"Terserah kamu mau menyebut aku apa, Ay! Aku terima. sekarang aku sangat senang bisa melihatmu baik-baik saja."
"Lepaskan aku!" Ucap Lura dengan suara pelan kali ini. Lura juga sudah memberontak seperti tadi.
Lura merasakan hangatnya deru napas dari pria yang pernah mengisi hatinya dulu.
"Maafkan aku, Ay! Aku sungguh-sungguh meminta maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Aku tahu kamu sangat kecewa dan marah padaku. Tapi itu semua diluar kehendakku."
mendengar penjelasan Farrel hati Lura sakit, perih, ia teringat dengan kejadian dulu. Ketakutan hebat yang ia rasakan saat pertama kali berasa di rumah bordil milik Mamih Rosa.
Perlahan Farrel melepaskan pelukannya. Lura bisa melihat mata Farrel memerah. Pria yang ada di hadapannya itu sedang menahan tangis.
"Aku tidak kuasa saat itu, Ay! Aku akan menjelaskan semuanya padamu!" Ucap Farrel dan mendapat gelengan kepala dari Lura.
"Tidak, kamu tega padaku. Kamu mengorbankan aku demi nama baik keluargamu," balas Lura masih dengan tatapan benci pada Farrel.
"Aku terpaksa, Ay!"
"Jangan pernah sebut aku dengan panggilan itu lagi! Aku tidak mau mendengarnya. Kamu orang asing bagiku. Kamu milik orang lain saat ini." Lura menegaskan status yang sudah berbeda dari Farrel.
"Aku menikahi Putri juga karena permintaan ibu, Ay!"
"Aku bilang jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi!" bentak Lura kemudian mendorong tubuh Farrel agar menjauh darinya.
"Ok... Ok, aku tidak akan memanggil mu dengan sebutan itu lagi, tapi tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan ini semua padamu, Ra!"
"Heh, Kesempatan katamu? Tidak akan ada kesempatan bagi orang yang begitu tega pada mementingkan dirinya sendiri dan mengorbankan orang lain. Apa kamu pernah tahu bagaimana ketakutanku saat itu? Apa kamu tahu kehidupanku setelah kamu menjebloskanku pada dunia malam?" Pekik Lura kesal. Ia berusaha menghindari Farrel.
__ADS_1
Merasa risih berada di kursi roda, Lura berusaha bangkit untuk berdiri. Meskipun belum begitu kuat.
"Ra, kamu masih belum pulih benar. Biar aku yang antarkan ke kamar." Farrel berusaha meraih tubuh Lura dan berniat membantunya.
"Jangan pernah kamu menyentuh tubuhku!" Lura melotot ke arah Farrel.
"Kamu benar-benar membenciku, Ra!" celetuk Farrel.
"Bukan hanya benci, aku tidak mau kamu muncul di hadapanku lagi! Kamu dengar itu," balas Lura.
"Ra, aku mohon beri aku kesempatan!" Farrel memohon sambil berlekuk lutut di hadapan Lura sambil menundukkan kepala. Membuat mereka jadi pusat perhatian beberapa orang yang melewatinya.
"Farrel, bangun. Jangan seperti ini!"
"Aku tidak akan beranjak sebelum kamu kau memberiku kesempatan dan memaafkanku," ucap Farrel. Pria itu bersikeras dengan sikapnya. Farrel yakin sebenci apapun Lura padanya. wanita di hadapannya itu tidak akan pernah tega membuat Farrel malu di hadapan banyak orang.
"Bangun, aku akan mempertimbangkannya," ujar Lura berhasil membuat Farrel mendongak menatapnya. "Bangunlah," titah Lura, Farrel pun mengikutinya.
"Apa artinya kamu memaafkanku, Ra!" Tanya Farrel dengan wajah memelasnya.
"Kamu masih membenciku?" tanya Farrel pelan. Mereka berdua masih berbincang serius di tempat itu.
"Aku akan berusaha memaafkanmu, Rel. Tapi tolong jangan pernah kamu kecewakan Putri."
Sakit hati, benci dan kecewa memang Lura rasakan saat melihat Farrel pertama kali. Tapi selama perjalanan panjang yang Lura lalui, wanita itu berusaha menerima takdir hidupnya. Lura tidak mau hatinya terus dikuasai rasa dendam atas apa yang menimpa dirinya.
Usai berkata serius pada Farrel Lura berbalik badan kemudian melangkah meninggalkan Farrel yang diam menyesali semuanya.
"Tapi aku masih mencintaimu, Ra!" Farrel berusaha mencegah Lura agar tidak meninggalkannya.
"Itu semua percuma, Rel. Kamu memang menguasai hati dan perasaan ini, dulu. Tapi pemilik kehormatanku telah merebut posisimu dalam hati ini." Tanpa banyak bicara lagi Lura pergi meninggalkan Farrel yang terpaku menatap kepergian wanita yang namanya masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
'Apa ini balasan untukku, Ra. Aku harus kehilanganmu untuk selamanya.'
Batin Farrel menatap sedih Lura. Pintu lift perlahan menutup pasangannya dengan Lura.
__ADS_1
Di dalam lift Lura menumpahkan sedih yang membuat hatinya terasa sesak. Pertemuan dengan Farrel begitu mengejutkan buatnya. Lura tidak menyangka jika selama ini yang diceritakan oleh Putri adalah orang yang sama dengan pria yang sudah membuat hidupnya hancur.
"Kenapa harus dia, Put? Kenapa harus Farrel orang yang kamu cintai dan saat ini menjadi suamimu?" Lura menekan dadanya yang terasa sesak saat bergumam.
Rasa pusing dan mual kembali Lura rasakan. Niatnya menaiki lift ingin pergi ke taman yang letaknya berada di samping rumah sakit ini. Ingin menyendiri dan berusaha menerima takdir yang digariskan untuknya.
Lura berpegangan erat pada besi panjang yang ada dalam lift tersebut. Kepalanya terasa berputar dan ingin sekali mengeluarkan sesuatu yang mulai naik ke tenggorokannya. Mual dan ingin muntah itu yang Lura rasakan.
Ting....
Lift terbuka tepat di lantai satu. Teruskan dari seorang wanita pun membuat Lura memandang wanita itu tapi tidak jelas. Pandangan matanya sudah buram. Tubuhnya tiba-tiba saja lemas dan terjatuh. Beruntung wanita berumur yang selalu terlihat cantik itu menggapai tubuh Lura.
"Alurra... Bangun, Sayang! Ini mama," jerit Mama Liona saat melihat keadaan Lura tidak sadarkan diri. Tapi sayang Lura sama sekali tidak mendengar jeritan Mama Liona. Ia tidak sadarkan diri dalam pelukan wanita itu.
-----
"Seharusnya Lura tidak diperbolehkan banyak bergerak dulu. Dia baru saja menjalani operasi pencangkokan sumsum tukang belakang. Jadi harus banyak beristirahat," ucap Dokter Renaldi yang baru saja memeriksa keadaan Lura.
Deg....
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Mendengar penuturan dari Dokter Renaldi.
"Apa maksud anda, dokter? Pencangkokan sumsum tulang belakang?" tanya Mama Liona seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.
"Ya, benar sekali. Lura dengan rela hati mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Putri. Anak dari Tuan Antoni dan Bu Mariana."
"Tidak mungkin, ibu tidak mungkin terjadi?" Mama Liona menutup mulutnya sendiri setelah mendengar setiap ucapan yang Dokter Renaldi jelaskan padanya.
Derap langkah cepat terdengar menggema hingga ke dalam ruangan. Seakan menjelaskan, jika pemilik langkah tersebut sedang terburu-buru menuju ke suatu tempat.
.
.
.
__ADS_1