
Setelah melewati berbagai pemeriksaan dokter menyatakan Lura siap untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakangnya pada Putri.
Lura yakin dengan keputusannya saat ini. Meskipun ada sedikit keraguan saat mengingat keberadaan mama nya saat ini.
'Ma, maafkan Lura jika keputusan ini aku putuskan sendiri. Lura yakin jika mama tahu, mama pasti mengijinkan. Sebab yang Lura tahu dari Catra, mama adalah seorang wanita yang baik dan lembut. Lura bangga memiliki mama sepertimu.'
Batin Lura saat ia akan masuk ke dalam ruang operasi.
Pak Antoni juga memberi semangat pada Lura sebelumnya.
Lampu merah di atas pintu ruangan operasi sudah menyala, menandakan bahwa kegiatan operasi di dalam ruangan sedang berlangsung.
Mama Mariana dan Pak Antoni menunggu di depan ruangan dengan cemas.
"Lura sudah menemukan ibu kandungnya, Mah!" Ucap Pak Antoni pada Mama Mariana saat mereka berdua sedang menunggu berdua di depan ruangan itu.
"Siapa, Pah?"
Pak Antoni mengangkat bahunya pelan. "Papa juga tidak tahu, Lura tidak mau mengungkapkannya. Kita harus berterima kasih padanya nanti."
Mama Mariana mengangguk pelan.
Pak Antoni dan Mama Mariana harus menunggu proses pencangkokan sumsum tulang belakang selama beberapa jam ke depan.
----
Di rumah sakit tempat Catra dirawat, terjadi sedikit kegaduhan karena Catra terus meminta untuk keluar dari rumah sakit itu.
"Sabarr, Bro! Kalau lu udah sembuh, kita susul nyokap sama bokap lu ke Singapura," Ucap Pacho sambil bertingkah serba salah karena sudah memberitahukan kepada Catra kalau dia baru saja pulang dari rumah Pak Antoni bersama Mama Liona dan Papa Wira.
"Lu gak bilang sama gue, kalau nyokap minta anter ke rumah tempat tinggal Lura!" Bentak Catra pada Pacho.
"Sorry bro! Nyokap lu maksa, awalnya gue belum paham. Tapi mendengar penjelasan dari Mama Lion gue baru sadar. Lu dan Lura bersaudara." Pacho mengangkat sebelah alisnya. "Berarti kalian gak bisa menikah." celetuk Pacho dan langsung mendapat sikutan dari Catra.
"Sakit njirrr, " keluh Pacho saat Catra menyikut perutnya.
"Gue sama Lura gak ada ikatan darah, kami hanya bersaudara karena kedua orang tua kami suami istri. Bukan berarti gue sama Lura gak bisa nikah!" Catra terlihat emosi menanggapi ucapan Pacho.
"Iya, terserah lu deh!" Pacho mengelus perutnya yang terasa nyeri. "Sakit gak sakit, lu masih aja jahanam sama gue!"
"Jangan banyak cingcong, Lu. Sekarang gimana caranya gue nyusul mereka." Catra akhirnya duduk karena kepalanya merasa pusing setelah tak bisa diam memberontak. Kondisi tubuhnya memasang belum stabil.
"Gue gak nyangka, wanita yang kehormatannya gue ambil paksa ternyata orang yang dicari selama ini sama nyokap." Catra terdiam. Ia begitu tidak menyangka dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
Catra sudah tidak sabar ingin segera menyusul Lura setelah tahu dari Pacho jika wanita yang ia cintai sedang berada di luar negeri bersama keluarga Pak Antoni. Keluarga yang mengizinkan Lura tinggal bersama mereka beberapa bulan ini.
Di dalam pesawat dengan pelayanan business class, Mama Liona dan Papa Wira berada. Pria itu sungguh menginginkan kenyamanan untuk istrinya yang sedang merasakan kegelisahan setelah mengetahui bahwa anaknya yang selama ini dianggap sudah meninggal, ternyata masih hidup. Bahkan sempat berpelukan dan berbincang dengannya.
"Apa Sang Pencipta sedang memberiku karma, Pah?" Ucap Mama Liona saat dirinya dan Papa Wira sedang berada di dalam pesawat menuju Singapore.
"Kenapa kamu berbicara sepert itu, Mah?" tanya Papa Wira sambil menggenggam erat jemari Mama Liona.
"Aku yang memisahkan Lura dengan papa-nya, sekarang Lura malah kembali sendiri pada Antoni."
"Memangnya Lura sudah tahu kalau Antoni adalah papanya?"
Mama Liona menggelengkan kepalanya.
"Mungkin saja mereka juga belum tahu, Mah! Kamu siap untuk mengungkapkan semuanya sesampainya di sana?" Papa Wira kembali bertanya. Ia harus meyakinkan istrinya dengan semua resikonya.
"Aku siap, Pah! Aku hanya ingin Lura tahu, kalau selama berpuluh tahun ini, aku selalu merindukannya, aku selalu ingin memeluknya." Mama Liona berucap dengan sedih, buliaran air mata kembali menetes di sudut matanya.
Di pesawat yang sama dengan Mama Liona dan Papa Wira. Berada di dalam class bisnis yang sama.
Farrel dan Bu Prita duduk berdampingan. "Terima kasih sudah kau mengikuti keinginan ibu, Rel!" Ucap Bu Prita pada Farrel. Ternyata Bu Prita memang meminta Farrel untuk melamar Putri tapi beliau tidak tahu kalau putranya itu sudah melakukan apa yang ia minta.
"Aku melakukan itu karena memang Putri gadis yang baik. Aku nyaman saat bersama dia. Tapi bukan berarti aku bisa melupakan Lura, Bu!" sahut Farrel sontak membuat Bu Prita langsung menoleh kepadanya.
"Bu, aku harus bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan padanya!" balas Farrel tidak mau kalah.
"Sekarang berbeda, Rel. Dia adalah wanita malam. Pasti sudah banyak pria yang menyentuhnya."
"Aku yang menjerumuskan dia ke tempat itu, Bu! Ah, sudahlah. Aku tidak ingin kembali membahas ini. Aku sudah menuruti apa keinginan ibu, aku harap kedepannya ibu tidak ikut campur dengan segala keputusan yang aku buat." Farrel mengakhiri perdebatannya. Kursi yang sedang ia duduki ditekuk hingga menjadi tempat tidur. Farrel memilih berbaring dan memejamkan mata. Ia tidak mau berdebat lagi dengan ibunya.
"Tapi ibu harap kamu tidak menyakiti Putri, dia gadis baik."
"Lura juga gadis baik, kita yang sudah membuat dia jadi tidak baik!" Ucapan yang lolos dari mulut Farrel berhasil membuat Bu Prita diam.
'Aku akan terus mencarimu, Ra! Meskipun nanti aku bersama Putri, tapi di hati ini selalu ada kamu.'
Batin Farrel sambil memejamkan matanya.
-----
Rasa syukur dan bahagia, terucap dari kedua orang yang sedari tadi menunggu di depan ruang operasi dengan cemas.
Ucapan dari Dokter Renaldi pun makin membuat mereka tenang. "Alhamdulillah, operasi pencangkokan sumsum tukang belakang dari Lura untuk Putri berhasil. Kita tinggal menunggu mereka sadar. Saya hanya ingin mengingatkan baik kepada pendonor atau penerima donor. Mereka berdua harus sama-sama diperhatikan. Mungkin pemulihan untuk penerima donor sumsum tulang belakang akan lebih lama dibanding pendonor tapi usai operasi ini, Lura sebagai pendonor akan mengalami beberapa gejala usai operasi." Dokter Renaldi panjang lebar menjelaskannya.
__ADS_1
"Gejala apa, Dok?" Tanya Pak Antoni, terlihat wajah kekhawatiran dari pria tua itu. "Apa gejala yang akan dialami berat?" lanjutnya.
Dokter Renaldi menggelengkan kepalanya pelan."Tidak begitu berat, Pak. Hanya mual, muntah hingga pusing berputar yang dirasakan beberapa jam hingga berapa hari setelah tindakan tersebut. Nyeri pinggang, kadang nyeri terasa menjalar hingga ke kaki. Dan herniasi otak. namun itu, jarang sekali terjadi. Tidak usah khawatir, semua bisa dijalani dengan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan bergizi." Dokter Renaldi menjelaskan secara detail dan rinci kepada Pak Antoni dan Mama Mariana di dalam ruangannya.
Enam jam telah berlalu, Lura sudah sadar dari pengaruh obat bius yang ia terima.
Untuk bius tulang belakang, pengaruhnya bisa mencapai 2 sampai 6 jam. Sementara, efek obat bius epidural bisa selama 2 sampai 3 hari setelah operasi.
Lura mengedarkan pandangannya saat pertama kali membuka mata. Dan orang pertama yang Lura lihat adalah Pak Antoni. Pria itu sedang tertidur di sisi tempat tidurnya.
"Papa," ucap Lura pelan. Tangannya hendak mengelus pucuk kepala Pak Antoni.
'Andai aku punya papa sepertimu, Om!'
Batinnya.
.
.
.
Readers maaf beberapa hari ini Author tidak up... kesibukan real life benar-benar menyita waktu. Author berharap kalian masih setia dengan cerita ini.
Sambil nunggu cerita ini up. Mampir ke karya otor yang lain yuk!
FAKE LOVE
SATU CINTA DUA KEYAKINAN
PEMILIK KEHORMATANKU
Terima kasih buat kalian semua.
.
.
.
__ADS_1