Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Aku Pecandu


__ADS_3

...Hai... Readers sebelum membaca boleh tidak Author berpesan.


...


...Melihat ada yang like di bab baru itu sungguh membahagiakan. Apalagi kalau kalian menyempatkan komen di akhir cerita perbabnya.


...


...Author akan lebih bersemangat buat up bab selanjutny. Jadi jang lupa like dan komen ya 😘😘😘...


Di seberang jalan, Aku melihat Farrel duduk di atas motor sport-nya. Ia melambaikan tangan kepadaku saat aku dan Dina berjalan keluar gedung mewah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


Aku pun membalas lambaian tangannya.


Dina menatapku tajam seakan meminta penjelasan.


“Farrel akan mengungkapkan semuanya sekarang dan gue mau dia ambil keputusan, Din!” tanpa Dina bertanya aku sudah membertahunya lebih dulu.


“Lu yakin sama keputusan lu buat terus maju sama dia?” Dina menegaskan ucapannya padaku.


Aku hanya bisa mengangguk pelan. Semoga keputusanku sidah tepat, untuk selalu berada di samping Farrel apapun yang terjadi.


Dina menghela napas berat akan keputusanku.


“Gue gak bisa ngelarang lu, lu yang punya andil besar buat nentuin kehidupan lu sendiri. Gue Cuma bisa do’ain aja, semoga Farrel benar menjadi harapan yang membawa lu pada kebahgiaan,” ucap Dina ketika kami berjalan bersama kelaur dari gedung mewah pusat perbelanjaan itu.


“Thank’s banget, Din! Sekarang gue pergi dulu, ya. Sebelum maghrib gue pulang kok!” ucapku pada Dina dan berjalan beriringan dengannya.


“Sama dia?” Dina menunjuk dengan dagunya.


Aku pun mengangguk. “Iya Din."


“Huh” Dina menghela nafas. Kemudian kembali berkat, “Terserah, Ra itu pilihan lu. Hanya gue ingetin sama lu, hati-hati dan tetap jaga diri lu! Gue bukan siapa-siapa yang bisa ngelarang lu. Tapi perasaan gue engga enak ya, Ra” ungkapnya padaku membuatku merasa takut.


“Perasaan lu aja kali, Dina! Ya udah gue pamit ya, enggak akan malem ko pulangnya, gue janji!” Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku.


“Ya sudah, sana! Kasian pangeran lu, keriting tuh nungguin lu” usirnya padaku.


Aku hanya bisa tersenyum membalasnya.


“Gue pergi ya, Din!” pamitku padanya.


“Hati-hati, Ra!” Aku membalas dengan anggukan pelan.


Aku pun melangkahkan kaki ini hendak menyeberang jalan. Kulihat Farrel turun dari motornya, dia pun hendak menyambutku.


Setelah sampai di seberang jalan aku melambaikan tangan pada Dina yang masih berdiri di tempat tadi kami berpisah.


Dia membalas lambaikan tanganku. Memberi isyarat pdaku kalau dia juga pamit pulang.


Aku hanya bisa mengangguk membalasnya.


Akhirnya Dina berjalan sendiri ke tempat kontrakannya. Sedangkan aku pergi bersama kekasihku ke suatu tempat. Menggantikan acara Minggu lalu yang gagal karena Farrel.

__ADS_1


***


Jalan raya pada sore hari di ibukota sedikit membuat kesabaran teruji. Sebab macet terjadi di mana-mana apalagi jam sibuk seperti sekarang ini. Banyak para karyawan kantoran pulang bekerja.


“Kita mau kemana, Rel?” bisikku di telinganya. Beruntung aku sudah mengganti pakaianku dengan bawahan celana kalau tidak, susah naik motor sport kalau menggunakan rok span.


“Ke tempat biasa!” balasnya dengan suara samar karena terhalang oleh helm yang dipakainya.


Aku mengangguk paham. Aku eratkan peganganku di pinggangnya. Bersiap menuju Lenggang Jakarta tempat yang aku suka di kota besar ini. Karena di sana tersedia berbagai kuliner yang menggiurkan lidah.


Aku dan Farrel sering ke tempat itu berkali-kali. Salah satu tetapi favorit kami saat menghabiskan waktu bersama.


Saat berada di pertigaan lampu merah.


Entah mengapa aku merasa Farrel tiba-tiba salah mengambil jalan. Seharusnya tempat tujuan kami berbelok ke kanan, tapi Farrel membelokkan motornya ke arah kiri. Entah ke mana aku pun tak tahu.


“Ay, pegangan!” ucap Farrel dan aku menurut saja. Mungkin ada jalan lain agar lebih cepat sampai menuju tempat tujuan kami.


Tapi aku mendengar mobil yang ada di belakang kami terus membunyikan klaksonnya.


“Rel, sepertinya mobil itu nyuruh kita berhenti!” ucapku tapi tak dihiraukan oleh Farrel.


Farrel mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaanku. Ya sudahlah, aku tidak mau ambil pusing juga. Toh ini jalan raya bisa saja itu bukan dimaksudkan untuk kami.


Aku baru merasa jalan yang kami lalui bukanlah jalan menuju lokasi Lenggang Jakarta berada.


Perlahan motor yang aku tumpangi berhenti di sebuah tempat nongkrong anak muda. Untuk tempatnya sih lumayan asik menurutku, tapi kenapa harus berpindah haluan begini.


“Ayo, Ay!” ajak Farrel sambil meraih tanganku.


“Di sini lebih nyaman untuk kita.”


“Nyaman atau aman?” desakku. “Ada yang mau kamu ucapkan?” aku mencoba memancing Farrel sebab aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


Farrel mengedarkan pandangannya aku memperhatikan itu. Seakan memperhatikan keadaan sekitar.


“Ikut aku dulu ke dalam, nanti ku jelaskan!” Farrel meraih tangan ini lalu mengajakku memasuki tempat nongkrong yang mulai ramai oleh pengunjung.


Di lantai dua dengan dua kursi yang berada di pojok ruangan menghadap ke arah jalanan ibu kota, aku dan Farrel duduk saat ini.


Tidak ada satu kata pun yang Farrel ucapkan.


“Apa permintaanku menjadi beban untukmu?” ucapku memecah keheningan diantar kami.


“Kenapa kamu bilang seperti itu, Ay?”


“Karena aku merasa seperti itu!”


“Sama sekali tidak! Hanya... Aku... Takut jika apa yang akan aku ungkapkan kepadamu menjadi perpisahan untuk kita!”


Aku tersenyum miris. Menyayangkan pemikirannya.


“Kalalu begitu kamu ragu dengan ucapanku?”

__ADS_1


“Aku hanya takut, Ay!”


“Ketakutanmu tak beralasan!” ucapku memekik.


Aku mulai merasa jengah.


“Untuk apa hubungan ini berlanjut jika tidak ada kejujuran dan keterbukaan di dalamnya.” Nada bicaraku sedikit tinggi.


Rasanya kesal Farrel masih tidak bisa berterus terang.


Hening...


Sesaat obrolan kami terhenti. Aku pasrah, jika memang Farrel tidak mau jujur, aku rela melepasnya.


“Aku pecandu narkoba!” tiga kata yang kudengar dari mulut Farrel akhirnya terucap.


Tidak begitu mengejutkan bagiku karena memang aku sudah tahu sebelumnya. Aku hanya menunggu saat kejujuran ia ungkapkan padaku. Karena sebuah hubungan tidak akan kuat jika tak ada dasar kejujuran dan keterbukaan.


“Akun sudah mengetahuinya!” balasku.


Farrel mendongak menatapku. “Sejak kapan kamu tahu, Ay!”


“Baru-baru ini!”


Hening kembali


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Sampai detik ke enam akhirnya aku kembali bersuara.


“Aku ingin kamu meninggalkan kebiasaan burukmu, Rel!” ucapku.


“Aku pun ingin, Ay! Tapi sulit!” lirihnya.


“Kenapa? Jika ini berlanjut kamu akan semakin tersiksa! Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan ini semua, orang tuamu pasti akan tahu. Seharusnya kamu berpikir lebih jauh saat mendekati barang haram itu, Rel!” aku mencoba menyadarkannya.


Kulihat wajah penyesalan dalam diri Farrel.


“Apa impian kita sudah tak ada dalam benakmu, Rel? Mana sosok pria yang begitu bersemangat dengan banyak impiannya, membuat orang tuamu bangga, menjadi pebisnis sukses dan segera menjadikan aku ratu dalam istanamu? Apa semua sudah terkubur dalam kenikmatan sesaat yang kamu rasakan sekarang?” tanyaku dengan isak tangis yang tak dapat ku tahan lagi.


Sesak dada ini, rasanya seperti terhantam batu besar yang langsung menghentikan napasku.


Farrel menggelengkan kepalanya. “Tolong jangan berbicara seperti itu, Ay! Impian itu masih menjadi pokok utama tujuanku, terutama dirimu!”


Aku tersenyum miris mendengarnya.


...Bersambung...


Peringatan lagi jangan bosan ya. author hanya ingin moodboster kok biar tambah semangat nulisnya.

__ADS_1


tunjukan kehadiran kalian di sini.


like+komen+hadiahnya


__ADS_2