Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Mamih Rosa Terancam


__ADS_3

"Papa, tunggu!" cetus Putri seraya berdiri dari duduknya. "Lura tidak bersalah! Aku menangis karena sedih mendengar dia bercerita tentang kehidupannya."


Pak Irawan melepas kasar tangan Lura. Lura mengelus tangannya yang terasa sakit.


"Untuk apa kamu menangis kehidupan orang lain? Apa kamu tidak sadar hidupmu sendiri. Kamu harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya dari kecil. Setiap waktu harus melakukan pengobatan rutin. melewati pengobatan yang begitu panjang. Jangan terlalu memikirkan kehidupan orang lain, Sayang!" ucap Pak Irawan membuat Putri kembali tertunduk. "Pikirkanlah kehidupanmu kedepannya, apa kamu tidak kasihan kepada Papa dan Mama yang selalu merasakan kecemasan dan kekhawatiran tentang dirimu," ujar Pak Irawan lemah.


Ucapannya membuat Mariana menangis tersedu. Hati mana yang tidak terluka selalu dihadapi dengan kesehatan Putri yang semakin mengkhawatirkan. Kondisi tubuhnya senakin lemah jika dalam beberapa bulan ini ia masih tidak mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang untuknya.


"Aku lelah memikirkan hidupku, Pa! Aku sudah pasrah dengan keadaan. Aku ingin menghentikan semuanya, Pah! Setidaknya dengan merasakan dan mendengar kehidupan orang lain aku bisa merasakan kehidupan yang mereka jalani. Aku ingin hidup normal. Aku juga ingin merasakan kisah cinta layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai!" Putri berucap sedih sambil menunduk, tidak terasa air matanya kembali mencuat dari sudut matanya.


Lura masih tidak mengerti apa yang terjadi karena memang dia belum tahu sama sekali kehidupan Putri. Tapi mendengar ucapan dari Pak Irawan dan Putri, Lura bisa mencerna arti perkataan mereka berdua. bahwasanya Putri mengalami penyakit menahun yang serius.


Lura yang berada di samping Putri lekas meraih tubuh wanita itu kemudian memeluknya. "Maaf aku tidak tahu apa yang kamu alami saat ini, apa yang aku rasakan tidak seperih perjuanganmu melawan rasa sakit."


Putri membalas pelukan Lura. "Terima kasih, Lura!" Putri melepaskan pelukan mereka.


"Saat ini aku hanya ingin menikmati hidup di satu terakhirku. Aku pasrah dengan hidupku! Aku hanya ingin melewati sisa hidup ini dengan kebebasan." Putri melirik Papa dan Mama Mariana yang terlihat menangis sambil tertunduk di sisi tempat tidur.


Wanita yang melahirkan Putri tidak kuasa menahan sedih, mendengar kepasrahan dari sang putri tercintanya.


"Aku ingin kamu tinggal bersamaku di sini! Bukankah kamu tidak ada tempat tinggal di Jakarta?" tanya Putri yang mulai tenang dengan perasaannya. Ia dengan cepat menepis kesedihan soal kehidupannya beberapa bukan kedepan. Ia tidak mau mengingat kalau hidupnya hanya tinggal sebentar.


Putri hanya minta kebebasan di saa-saar terakhirnya. Meskipun dokter mengatakan masih ada keajaiban jika pendonor didapatkan dengan cepat saat ini. Putri bisa sembuh. Sayangnya sampai sebesar ini. Tidak ada pendonor yang cocok dengannya. Berbagai pengobatan 'lah yang bisa membantunya bertahan hidup selama ini.


"Aku ...," Lura melirik ke arah Pak Irawan. ia merasa beliau tidak suka dengan keberadaan yang saat ini.


Putri paham dengan arti tatapan Lura. "Pah, bolehkan Lura tinggal bersamaku!" Pinta Putri dengan penuh harap.


Tak ada yang bisa dilakukan oleh Pak Irawan jika keinginan Putri sudah terucap. Anak perempuan kesayangannya itu selalu mendapat apapun keinginannya dari dulu. Pak Irawan tidak mau membuat Putri bersedih.


"Apapun yang kamu inginkan, lakukanlah! Papa hanya mengingatkan kamu agar berhati-hati dengan orang yang kamu kenal. Kita tidak tahu bagaimana sikap asli mereka. Jangan sampai kamu tertipu dengan wajah polos dan lugu dari orang yang kamu tolong!" ucap Pak Irawan sambil menatap tidak suka pada Lura. Entah apa sebabnya. Lura sampai menundukkan kepala mendapat tatapan itu.


"Putri yakin, Lura orang baik, Pah! Papa bisa pegang ucapan Putri." Wajah putri langsung sumringah karena keinginan yang disetujui oleh Pak Irawan meski ada kata-kata yang tidak menyenangkan dari Papanya.

__ADS_1


Putri berjalan cepat sambil merentangkan tangannya ke arah Pak Irawan. Ia lekas memeluk tubuh kekar yang selama ini selalu ada dalam menjaganya.


"Terima kasih, Pah!" ucap Putri di sela pelukannya.


Anggukan dan pelukan balasan dari Pak Irawan, Putri rasakan. Papanya memang selalu jadi andalan buatnya.


Perlahan pelukan mereka meregang. "Istirahatlah, jangan sampai kamu terlalu lelah, ingat kesehatanmu!"


"Iya, Pah." Putri mengembangkan senyum cerianya.


"Mah, kita keluar!" ajak Pak Irawan dan Mariana lekas mengikutinya.


"Jangan sampai kamu membuat kami kecewa. Berterima kasihlah kepada putriku yang telah berbaik hati menampungmu!" ketus Pak Irawan sambil berlalu meninggalkan kamar Putri.


Lura hanya mengangguk pelan. Merasa takut dengan tatapan Pak Irawan padanya. ia tidak tahu kenapa sikap pria tua itu begitu ketus padanya. Padahal Mereka baru bertemu kali ini.


"Jangan tersinggung dengan sikap Papaku! Sikapnya memang sedikit galak dan ketus, tapi yakin deh. Hati papa sebenarnya baik." Putri merangkul Lura dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Sekarang kamu bisa tinggal bersamaku! Kau bisa tidur di sini atau di kamar sebelah. Kamar kita akan berdekatan," ucap Putri dengan wajah cerianya. Tapi tidak merubah rona pucat di wajahnya. Menandakan bahwa gadis itu memang menderita sakit yang lama.


"Oh, ya. Kamu juga pasti perlu ruang sendiri ya, tapi kita akan selalu bercerita bersama 'kan?" pungkas Putri.


"Pasti!"


Dan mulai saat itu Lura dan Putri semakin dekat. Setiap hari kebersamaan mereka semakin erat. Bahkan Lura membantu Putri di toko bunganya. salah satu kegiatan yang Putri lakukan demi mengisi waktunya.


Dua bulan waktu berlalu. Selama itu Lura tidak sama sekali berani keluar dari toko bunga tau pun dari rumah Putri dia amaih merasa takut jika anak buah Mamih Rosa menangkapnya. Padahal Putri sudah meyakinkan jika dirinya aman.


Perlahan sikap Pak Irawan berubah kepada Lura. Sedikit lembut dan baik. Benar apa kata Putri jika Pak Irawan sebenarnya adalah orang baik hanya terlihat galak dan ketus saat pertama kenal.


Selama itu juga banyak perubahan yang terjadi di tempat lain.


Setelah hilangnya Brigjen A selama dua bukan ini. Mamih Rosa tidak bisa tinggal diam. Keberadaannya mulai tidak tenang. Beberapa bisnis dan usahanya terancam. Wanita itu juga berusaha mencari keberadaan pria itu. Tapi sayang tidak ada hasil. Brigjen A seakan hilang di telan bumi.

__ADS_1


Bahkan istri sah dari Brigjen A juga tidak tahu keberadaan suaminya. Ia juga menyewa detektif untuk mencari suaminya.


Brakk....


Mamih Rosa menggebrak meja yang ada di hadapannya. Satu persatu bisnisnya tercium oknum negara. Tak ada lagi pembocoran kabar kepadanya sehingga ia tidak bisa waspada mengantisipasi penggerebekan dan pemeriksaan dadakan oleh mereka.


"Wardan tertangkap! Beberapa anak buah kita juga disekap. Mereka sedang menginterogasi Wardan!" ucap salah satu orang yang bekerja sama dengan Mamih Rosa. Ia bekerja sebagai pesuruh di tempat penyekapan yang tertangkap oleh oknum negara tersebut.


Brigjen A sengaja memasukan salah satu anak buahnya dari dulu, mengantisipasi ketika ada anak buah Mamih Rosa yang tertangkap sehingga ada tindakan yang harus segera dilakukan.


"Shitt ... Aku belum memberi peringatan pada Wardan! Bisa-bisa ia membocorkan semuanya pada mereka." Mamih Rosa melotot kesal dengan berita yang ia dengar lalu menatap orang suruhan yang datang padanya. "Kamu harus segera menghabisinya, saya tidak mau tahu bagaimana caranya. Yang pasti saya mau tiga jam kedepan, saya sudah mendengar berita kematiannya!" Mamih Rosa menatap nyalang pria itu.


Raut wajah ketakutan terlihat dari orang suruhannya itu. "Siap, Mih!" ucapnya gemetar karena ia merasa takut dengan perintah Mamih Rosa.


Keadaan dan kondisi yang berbeda dengan dulu. Saat Brigjen A masih ada. Orang suruhannya itu takut sebelum melancarkan aksinya, ia sudah tertangkap.


.


.


Bersambung.


.


.


Promosi deui....


Mampir ke karya sesama otor.


Kisah seru dari mereka.


__ADS_1


Mampir ya!!


__ADS_2