Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Penderitaan Lura Selama Ini


__ADS_3

Isak tangis masih terdengar dari dalam ruangan. Mama Liona dan Pak Antoni dengan pasangannya masing-masing masih setia menunggu di luar.


Mereka saling diam meratapi penyesalan yang sudah terjadi sekian lama.


Mama Mariana mendekati Nama Liona sebagi seorang ibu yang sama-sama memiliki anak gadis itu berusaha meminta maaf atas kejadian beberapa puluh tahun silam.


"Liona," panggil Mama Mariana dengan sedih. "Maafkan ucapanku yang telah membuatku mengambil keputusan salah itu. Dulu, aku memang mengharapkan kehadiran bayi yang kamu kandung sebagai alat untuk menyembuhkan Putri. Aku sadar kalau itu salah, maafkan aku!" pinta Mama Mariana dengan sungguh-sungguh pada Mama Liona. "Aku sudah menganggap Lura sebagai anakku sendiri sebelum dia menjadi pendonor untuk Putri. Kami sama sekali tidak memaksa dia, sungguh!" Mama Mariana menjelaskan dengan pelan agar Mama Liona dapat menerimanya.


Berbagai ucapan dan kata maaf jika terucap dari Pak Antoni. Perjalanan kehidupan yang sudah memberi mereka pelajaran berharga membuat kedua pasangan itu menyadari kesalahan mereka. Dan di saat rasa penyesalan itu muncul, Sang Pencipta menghadirkan Lura di tengah kepasrahan yang sedang Pak Antoni dan Mama Mariana hadapi. Keajaiban masih terus mereka dapatkan saat Lura bersedia menjadi pendonor bagi Putri. Pak Antoni mana tahu saat itu jika Lura adalah putrinya yang lain.


"Tapi aku begitu tersiksa telah berpisah dengannya puluhan tahun. Kalian bisa melihat melihat saat putri kalian sakit, bisa menjaganya memeluknya, dan memanjakannya. Sedangkan aku ... Apa kalian tahu betapa tersiksanya diri ini? Saat aku ingin memeluk tubuh kecilnya. Saat asi ini terbuang sia-sia. Dan paling pahit aku rasakan. Rahimku harus diangkat karena memperjuangkan dia saat lahir. Aku harus berusaha menyembunyikan dia dari kalian. Kalian yang hanya akan memanfaatkannya saja!" Mama Liona bergetar saat berbicara. Wanita itu menutup mulutnya sendiri agar Isak tangis tidak begitu menggema di sana.


Tanpa disadari dua gadis tengah mendengarkan semua percakapan mereka. Lura berdiri di balik pintu kamar perawatan. Ia mendengar jelas semuanya. Tangisnya makin teriak dalam. Lura berdiri dan melangkah mendekati jendela kamar.


Perasaan yang tidak menentu. Lua tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan setelah ini. Semuanya sudah terungkap. Perasaan sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mengetahui mama kandungnya adalah Mama tiri dari si pemilik kehormatannya, harus menerima kenyataan bahwa pria yang sudah menjerumuskannya ke dunia malam menikah dengan Putri, wanita yang sudah Lura anggap saudara sendiri. Dan pada kenyataannya memang seperti itu. Mereka adalah saudara.


Ditambah Lura harus mengetahui ayah kandungnya adalah pria yang belum lama mengangkatnya sebagai anak. Ternyata dia dianggap anak oleh papa kandungnya sendiri.


Lura tertawa miris pada dirinya sendiri.


'Kenapa takdir begitu tega padaku. kenapa Engkau begitu tega mempermainkan kehidupanku. Dirimu tidak adil. Aku memang selalu bersimpuh dan memohon kepada-Mu agar memberitahuku, siapa orang tuaku tapi mengapa harus seperti ini. Semua begitu pahit dan menyakitkan. Kenapa aku tidak mati saja waktu itu... Kenapa hidupku begitu menyedihkan. Tidak adakah sedikit kebahagiaan untukku. Ya Rabb...'


Buliran bening kembali menetes di pipinya. Lura nepuk dadanya sendiri yang terasa sesak. Kemudian menengadah sambil menutup mata, perlahan mengatur napasnya agar udara sedikit demi sedikit memenuhi rongga pernapasannya. Tapi mengapa napasnya semakin tidak beraturan, semakin sesak. Lura memilih duduk di sofa sambil menekuk kedua kakinya.


Kepalanya ia sandaran di kepala sofa. perlahan Lura kembali mengatur napas. Berhasil, deru napas berangsur membaik. Mata Lura menatap kosong ke luar jendela yang memperlihatkan keindahan malam di luar sana. Ingin melihat lebih jauh tapi tubuhnya lemas.


Hembusan angin malam menyelinap masuk dari jendela menerpa wajahnya sampai membuat bulu mata lentik itu mengerjap pelan. Tak terasa Lura terlelap saat itu juga.


Sedangkan Putri tercengang dengan penuturan kedua orang tuanya. Air matanya pun berderai setelahnya. Gadis itu kembali dikejutkan dengan satu kenyataan pahit. Pertama Putri mendengar kejujuran yang diungkapkan suaminya.

__ADS_1


Farrel mengakui semuanya pada Putri yang sempat syok tapi masih bisa menahan diri. Saat ini l, ingin sekali Putri meminta maaf karena ia telah menikah dengan orang yang sudah menyakiti hati Lura.


Dari semua percakapan itu, Putri bisa menyimpulkan sendiri. Bahwa dia dan Lura adalah saudara satu ayah beda ibu. Hati Putri semakin merasa bersalah pada Lura.


"Putri," Mama Mariana terkejut saat melihat Putri sedang terisak di kursi rodanya. Perlahan Mama Liona pun mendekati Putri takut jika terjadi sesuatu pada anaknya itu.


"Apa kamu mendengar semuanya?" Tanya Mama Mariana.


"Jelas, Mah! Bahkan sangat jelas. Kenapa kalian tega? Apa yang harus Putri lakukan saat ini. Lura pasti sakit hati dan kecewa. Dia pasti sedang sedih saat ini?" Putri menutup wajahnya sambil terisak. Ia tidak bisa membayangkan keadaan Lura. Pasti jiwanya begitu terguncang dengan kenyataan ini. "Bagaimana keadaan Putri, Mah?" Tanya Putri khawatir pada Mama Mariana.


"Putri di dalam. Dia ingin sendiri dulu!" ujar Pak Antoni.


"Kita punya banyak salah padanya, Pah? Apa dia juga akan membenciku juga?" lirih Putri, wajahnya terlihat begitu sedih. Ia takut jika Lura tidak mau bertemu dengannya. Ia takut jika Lura membencinya.


"Papa yakin, jika Lura tidak akan bersikap seperti itu padamu. Papa, Mama akan meminta maaf padanya," ujar Pak Antoni sambil membelai pelan rambut Putri.


"Aku pun sama, aku akan meminta maaf pada Lura. Aku orang yang paling membuat hidupnya menderita. Awal penderitaan hidupnya berawal dariku. Aku yang telah menjerumuskannya ke dalam dunia malam." Farel ikut menimpali.


Farrel menatap Mama Liona dan Pak Antoni dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku, tante. Maafkan, aku!" Farrel mendudukkan kepala.


Mama Liona hendak mendekati Farrel, ingin memberi pelajaran pada pria itu.


"Mah ... Jangan, ini rumah sakit! Kita kan membuat perhitungan dengannya, nanti." Papa Wira menahan istinya agar tidak gegabah dalam bertindak. Sebab keamanan di rumah sakit itu begitu ketat. Jika ketahuan membuat kegaduhan. Bisa- bisa dia diusir dari rumah sakit ini dan tidak bisa masuk lagi.


Tanpa diduga Pak Antoni mendekat kemudian menghajar wajah Farrel. Putri yang melihatnya berusaha melerai tapi tidak tergapai.


Bughh...

__ADS_1


Pukulan telak mendarat di rahang Farrel.


"Pah, cukup! Putri mohon. Farrel sudah berbicara jujur padaku sebelum kami ke sini! Karena itulah aku merasa bersalah pada Lura. Aku ingin berbicara dengannya."


Pak Antoni menggelengkan kepala setelah mengetahuinya. "Jadi kamu memilih memaafkan dia?" Pak Antoni menunjuk Farrel.


"Dia sekarang suamiku, Pah! Bukannya papa juga merestui kami?"


"Itu sebelum papa mengetahui dia adalah orang yang membuat sengsara pada Lura."


Dirinya merasa tidak berguna menjadi seorang papa.


"Putri mohon, kita bicarakan ini nanti, Pah!"


Mama Liona semakin terisak. Hatinya begitu sakit mengetahui penderitaan yang selama ini dijalani oleh Lura, putrinya.


Mendengar ada keributan dua orang security menghampiri mereka dan meminta semuanya bubar dari depan ruangan itu.


"Maaf, tuan-tuan dan nyonya -nyonya. Sebaiknya selesaikan masalah kalian di luar ruang sakit. Agar tidak menggangu pasien yang lain!" ujar salah satu security sambil merentangkan satu tangannya mempersilakan mereka keluar dari lingkungan rumah sakit.


Mama Liona menggelengkan kepala. Dirinya tidak mau meninggalkan Lura.


Dan di saat yang bersamaan kita terbuka. Dua orang pria berjalan ke arah mereka. Mama Liona langsung menangkap dengan matanya sendiri, siapa sosok pria yang sedang berjalan ke arahnya.


"Catra," gumam Mama Liona.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2