
Dengan sisa uang yang ada Lura pergi ke rumah Farrel menggunakan ojek yang ada di ujung gang tak jauh dari rumah kontrakannya dulu.
Hanya sekitar setengah jam perjalanan Lura sampai di rumah Farrel. Dulu, Lura pernah ke rumah itu. Ketika mengantar Farel mengambil sesuatu di sana.
Sesampainya di rumah mewah itu Lura harus merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Sebab menurut satpam yang berjaga saat ini semua pemilik rumah ini sudah mengosongkan rumah mewah itu sejak lama.
Satpam itu baru menjaga rumah mewah itu sekitar satu bulan ini. Pemilik rumah itu mengganti semua penjaga dan pembantu yang bekerja di sana.
“Bapak benar tidak tahu ke mana perginya mereka?” Lura kembali bertanya. Ia masih penasaran dengan keberadaan Farrel dan keluarganya.
“Beneran, Neng! Bapak tidak tahu apapun soal pemilik rumah ini. Bapak hanya menggantikan satpam yang lama saja,” ujarnya kemudian dengan cepat menutup pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.
Lura mendesah berat, ia tidak tahu harus ke mana lagi saat ini. Dengan langkah berat Lura meninggalkan rumah mewah itu.
“Bagaimana, Pak, sudah pergi belum dia?” tanya seorang wanita berumur yang berjalan pelan sambil mengendap dari halaman rumah.
“Sudah, Bik! Memangnya kenapa harus bohong sama gadis itu, Bik?” tanya satpam baru itu.
“Ini perintah Tuan Antoni, kita hanya bawahan jadi harus manut apa kata beliau.”
Satpam baru itu hanya mengangguk paham.
“Ingat siapa pun yang datang menanyakan keberadaan Tuan Antoni dan Den Farrel, bilang saja tidak tahu,” Bik Mimin wanti-wanti satpam baru itu.
“Siap, Bik!” hormat satpam itu.
Bik Mimin pun kembali masuk ke dalam rumah. Kembali dengan aktivitasnya. Saat ini tidak ada yang tahu keberadaan Farrel. Keberhasilan Pak Antoni menjadi orang nomer satu di kota besar itu pun makin sulit di temui sebab banyak kegiatan yang dijalaninya saat ini.
__ADS_1
Pak Antoni menutup rapat kasus yang menimpa putranya.
Tak ada lagi harapan rasanya tidak berguna Lura hidup saat ini. Hidupnya hancur, semangat untuk hidup pun tidak ada.
Lura berjalan tanpa tujuan. Kakinya terus melangkah tapi pikirannya tidak fokus ke jalanan.
Di persimpangan jalan Lura terus berjalan. Ia rida5 sadar kalau jalan yang ia tapaki saat ini adalah persimpangan.
Beberapa kendaraan bermotor memperingati Lura dengan membunyikan klakson. Tapi gadis itu tidak menyadarinya.
“Woii, jalan jangan sambil bengong, dong!” teriak salah sari pengguna jalan yang sedang mengendarai motornya.
Lura hanya melirik kemudian acuh.
Tepat saat Lura melanjutkan langkahnya mobil sedan berwarna putih keluaran terbaru melaju dari arah berlawanan. Padahal laju kendaraan itu tak begitu kencang karena pengendara mobil itu harus dengan extra hati-hati membawa nona muda yang ada di dalam mobil mewah itu.
Seorang gadis cantik dengan kulit putih pucat di dalam mobil itu begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Mobilnya menyerempet seseorang.
“Pak Warto kenapa tidak hati-hati?” omel Putri. Gadis itu lekas turun dari mobil kemudian mendekati Lura yang duduk di pinggir jalan sambil terdiam.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Putri kepada Lura, tidak ada tanggapan dari wanita yang sedang terdiam itu.
Kaki dan tangannya lecet dan mengeluarkan darah karena gesekan kulit dengan aspal. Tapi Luea sama sekali tidak merasakan perih saat itu.
‘Kenapa aku tidak mati saja? Aku ingin Mati, tidak ada gunanya aku hidup di dunia ini.’
Batin Lura sambil menoleh ke arah Putri yang sedang menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
“Kenapa gadis ini malah ingin mati?” pikir Putri.
“Non!” Supir yang membawa mobilnya itu berlari kecil menghampiri Putri dan Lura.
“Nona seharusnya tidak usah turun dari mobil, biar saya saja. Nanti Tuan Irawan bisa marah jka Non Putri kenapa-napa!” Ucap Pak Warto supir pribadi Putri.
“Papa tidak akan marah, Pak! Tenang saja. Lagian aku turun juga karena Pak Warto menyerempet seseorang,” balas Putri dengan nada kesal. Ia sudah lelah dengan peraturan yang papanya buat.
Lura hanya melirik sekilas ke arah dia orang yang sedang beradu argumentasi itu. Kemudian perlahan ia tersadar saat rasa perih di pergelangan tangan dan kakinya terasa olehnya.
“Aww,” desis Kura sambik menyentuh lukanya sendiri.
Penyakit bawaan dari kecil yang ia derita membuat gadis itu selalu di kekang oleh papanya. Tidak boleh terlalu lelah, hari banyak istirahat dan harus bolak balik ke rumah sakit untuk kontrol dan pemeriksaan. Hal yang sangat membuatnya jenuh dan bosan.
“Jangan di sentuh pakai tangan, itu kotor!” cegah Putri kemudian meminta Pak Warto untuk mengambilkan kotak P3K di mobilnya.
Tak lama Pak Warto kembali dengan kotak obat di tangannya.
“Biar aku obati lukamu!” Putri meraih tangan Lura kemudian membantu gadis itu membersihkan lukanya lebih dulu.
Perlahan dan penuh kehati-hatian, Putri mengobatinya.
“Selesai.”
Merasa puas sudah membatu orang lain. Putri mengembangkan senyum bahagianya.
Bersambung
__ADS_1