Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Kupu-Kupu Malam


__ADS_3

...Happy reading... Mohon bijak dalam membaca, beri rating bintang pada karya ini 🌟🌟🌟🌟🌟...


Lura diam mematung. Ia mengernyitkan dahi tak mengenali wanita yang masuk ke dalam kamar itu. Sebab ini adalah pertemuannya pertama kali dengan Mamih Rosa.


“Sudar sadar ternyata? Kamu pasti terkejut berada di sini! Tapi Mamih mengerti kok, Beberapa hari ini, Mamih ijinkan kamu beradaptasi dengan lingkungan di sini dahulu,” ucap Mamih Rosa seraya membuka kipas lipat di tanganya.


Srekk...


Kipas yang terbuka itu langsung di gerakan mengantuk ke wajah Mamih Rosa.


Lura semakin menekuk dahinya, tak mengerti apa yang Mamih Rosa bicarakan barusan.


“Maksud Anda apa, Nyonya? Siapa Anda? Lalu kenapa Aku ada di sini, mana Farrel,” cecar Lura pada Mamih Rosa.


Mamih Rosa terus mengibaskan kipas lipat di tangannya seraya tertawa renyah.


“Hahaha ... Kamu masih menanyakan orang yang sudah menukarmu dengan hutang-hutangnya. Panggil saya Mamih Rosa, kamu menjadi kupu-kupu ku sekarang. Nilai jual dirimu akan sangat tinggi, sudah ada yang membooking dirimu untuk unboxing perawanmu!” ucap Mamih Rosa dengan senyum smirknya.


“Apa maksud perkataan Anda, Nyonya? Siapa yang menukarkanku?” Lura ingat Farrel memiliki hutang kepada seseorang tapi yang ia tahu nama teman chat Farrel adalah Randi. “Tidak ... Tidak mungkin Farrel melakukan ini padaku? Anda pasti berbohong,” balas Lura tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan.


“Panggil saya Mamih Rosa!Kamu dengar itu!” bentak Mamih Rosa.


“Jangan mencoba untuk pergi dari tempat ini! Kamu sudah menjadi milikku. Saat kekasihmu menukarkan dirimu sebagai penebus hutang. Dia berhutang banyak padaku. Obat-obat yang terlarang yang dia habisakan tak bisa di bayarnya. Dia lebih memilih menukarkan dirimu demi menyelamatkan nama baik orang tuanya.” Mamih Rosa menekankan ucapannya kepada Lura.


Lura memundurkan langkahnya seraya menggelengkan kepala. “Tidak mungkin, Farrel tidak akan melakukan itu padaku!” sentak Lura masih tak percaya dengan perkataan Mamih Rosa. Tubuhnya lekas bersimpuh di lantai menyesalkan apa yang terjadi padanya.


“Masa bodo buat Mamih, kamu mau percaya atau tidak yang pasti kamu sekarang terikat dengan Mamih. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini! Kemana pun kamu pergi, kamu tak kan bisa lepas dari Mamih Rosa,” ucap Mamih Rosa dengan nada mengancamnya lalu meninggalkan Lura yang bersimpuh di lantai dengan tangisan yang terus membasahi pipinya.


Melihat Mamih Rosa hendak kelaur kamar, Lura lekas berdiri hendak menyusulnya memintanya agar di bebaskan dari tempat itu, tapi terlambat pintu kamar sudah tertutup dan terkunci.


“Buka pintunya ... Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini! Kenapa harus Aku, Anda tidak bisa berbuat ini pada saya, Nyonya! BUKA PINTUNYA ...!” teriak Lura.


Dugh ... Dugh ... Dugh....


“BUKA PINTUNYA!” Lura berteriak seraya memukul pintu kamar. Ia tidak Terima dengan apa yang dialaminya.


“Farrel kamu di mana? Kamu harus tanggung jawab, Keluarkan aku dari sini! FARREL ...!”Lura kembali berteriak kencang sambil menggedor-gedor pintu.


Teriakkan dan gedoran pintu terdengar sampai ujung koridor Rumah Bordil.


Ada beberapa anak asuh Mamih Rosa yang saling berbisik, penasaran dengan apa yang terjadi di kamar sebelah.

__ADS_1


Mamih Rosa yang masih berdiri tak jauh dari kamar itu memerintahkan beberapa bodyguard untuk berjaga.


“Jangan biarkan dia keluar dari kamar ini! Kalian jaga dia, acuhkan semua teriakannya, lama-lama dia lelah sendiri dan menerima apa yang terjadi pada dirinya,” perintah Mamih Rosa kepada para dua lelaki bertubuh tegap berwajah sangar di depannya.


“Siap, Mih!” jawab mereka kompak.


Mamih Rosa pergi meninggalkan kamar yang di tempati Lura. Masih terdengar samar suara isak tangis dari dalam kamar tersebut. Beberapa wanita yang berdiri di depan beberapa kamar mencoba bertanya saat Mamih Rosa yang lewat di hadapan mereka.


“Anak baru, Mih?” tanya Misca, wanita berbaju merah tanpa lengan dengan panjang rok satu jengkal dari atas lutut menunjukkan kaki jenjang yang putih mulus miliknya.


“Ya, dia perlu adaptasi dengan keadaan. Kalian cepatlah turun, banyak pelanggan yang datang malam ini!” ucapnya sambil berlalu menuju Club’ malam. Letaknya di lantai bawah Rumah Bordil.


Lantai atas terdiri dari kamar bookingan yang biasa di sewa pengunjung club' untuk tempat beradu kenikmatan dengan para kupu-kupu bayaran.


Tempat tinggal para kupu-kupu berbeda gedung. Mereka tinggal di gedung sebelah letaknya tepat di samping gedung club' ini.


“Heh ... Lama-lama juga biasa. Awal aja berontak kalau udah ngerasain duit ngalir, ketagihan dia!” ucap Misca kepada Mely yang baru saja sampai di anak tangga.


“Jangan gitu, lu! Semua orang itu berbeda, kita tidak tahu kenapa dia bisa sampai di tempat ini” Mely membalas ucapan Misca seraya merapikan pakaiannya.


“Alah, liat saja nanti, kalau udah gabung sama kita, bakal liar dia! Lu mau kemana udah dapet mangsa?” tanya Misca sambil melihat ke belakang Mely tapi tidak ada pria yang mengikutinya.


“Belagu lu!” Siska berlalu dengan wajah sinisnya kepada Mely.


"Dih, masalah gitu buat lu?" sindir Mely.


Mely menatap kamar yang baru saja di masuki oleh Mamih Rosa. Satu bodyguard pun berjaga di sana. Ia sempat mendengar teriakan dari dalam sana.


"Diam! Atau saya sobek mulutmu agar tidak banyak berteriak," bentak bodyguard itu memperingati Lura.


Hening ... Tidak ada reaksi lagi dari dalam kamar.


"Mangsa baru, pasti terpaksa! Kalau dia suka rela pasti langsung beraksi tidak akan dikurung dulu, Kasihan!" Mely merasa iba dengan penghuni kamar itu. "Ah ... Emang gue pikirin, beban hidup gue aja masih banyak, masih harus ngumpulin duit buat biaya operasi, Mamak!" ucapnya sambil berlalu menuju balkon di lantai dua gedung tersebut.


Kupu-kupu adalah sebutan untuk para wanita yang bekerja di Rumah Bordil. Jam delapan malam adalah waktu di bukanya Butterfly Club' milik Mamih Rosa. Banyak yang datang ke tempat ini menghibur diri, melepaskan masalah, mencari kepuasan dari para kupu-kupu cantik di sana.


Sebenarnya Rumah Bordil ini tak banyak yang mengetahui nya. Hanya orang-orang yang biasa memakai jasa wanita penghibur sering berkunjung ke tempat ini. Tempat ini sering dipakai untuk melakukan beberapa transaksi perdagangan obat terlarang. Rumah bordil yang berkedok sebagai Cafe dan diskotik itu merasa bebas beroperasi karena ada pihak yang berkuasa yang ikut serta melindungi pengoperasian tempat tersebut.


Mamih Rosa adalah pemilik dari Club’ Butterfly. Klub malam, cafe & restoran. Sebuah tempat hiburan malam yang menyediakan cafe, restoran dan pertunjukan musik dari DJ yang sangat profesional di bidangnya kerap kali tampil di tempat ini. Dia memperkerjakan kupu-kupu sebutan untuk anak asuhnya karena banyak pelanggan kelas kakap yang datang untuk membutuhkan jasa mereka.


Identitas para pelanggan kelas kakap akan dirahasiakan jika mereka berkunjung dan melakukan BO kepada para kupu-kupu cantik di sana.

__ADS_1


Suasana gelap hanya lampu-lampu berwarna yang bersinar menerangi ruangan tempat di mana para pengunjung datang untuk menghibur diri dan melepaskan penat dari kesibukan pekerjaan yang membuat mereka lelah dan utuh penyegaran.


Beberapa dari kupu-kupu sudah berlalu dengan pelanggan yang membooking mereka. Beberapa ada yang memakai kamar yang sudah disediakan ada juga yang membawa para kupu-kupu keluar dari club' itu harus seijin Mamih Rosa, ada bayaran tambahan jika ingin membawa para kupu-kupu itu keluar dari sana.


“Semoga puas dengan pelayanan anak buah, Mamih!” bisiknya kepada salah seorang pelanggan yang akan membawa satu kupu-kupu keluar dari club'


“Saya akan mengembalikannya besok sore,” ucap Pria hidung belang yang sedang memainkan ponselnya. “Done ... Lunas pembayaran untuk dua hari, Saya akan menghabiskan waktu berdua dengannya!” Si pria itu selesai melakukan pembayaran melalui m-bangking kemudian mencium pipi wanita yang ada di sampingnya.


Mamih Rosa membelalakan matanya melihat nominal yang ia lihat di ponselnya.


“Wow ... Mamih akan kasih kamu bonus satu hari bersama Tria!” ucapnya pada pria hidung belang itu. “Sayang, beri kepuasan pada pelanggan royal ini, tenaga saja, Mamih juga akan kasih kamu bonus!” bisik Mamih Rosa kepada Tria yang dibalas dengan acungan jempol oleh anak asuhnya itu.


Kedua pasangan itu berlalu meninggalkan club.


“Ah... andai setiap malam Mamih dapat bayaran dengan nominal sebesar ini, bisa makin cepat kaya!” ucapnya senang kemudian kembali ke ruangan pribadinya.


Sambil berjalan ke arah ruangannya, Mamih Rosa menyapa para pengunjung club'. Suasana hatinya sedang baik malam ini. Mendapat banyak cuan dan barang baru untuk ia jual ke pelanggan tetapnya.


.


.


.


Bersambung


Tinggalkan jejak kehadiran kalian ketika selesai membaca


like 👍


komentar


Favorit 💕


bunga+ gift


tonton iklannya.


Terima kasih.


Salam hangat Author untuk kalian semua. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2