
Mampir juga ke karya author yang lain
"Satu Cinta Dia Keyakinan
"FAKE LOVE.
Kisah mereka juga tak kalah seru.
Selamat membaca like dan kasih rating 🌟🌟🌟🌟🌟. di karya ini.
Pak Irawan yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya dengan pihak pengurus panti rehabilitasi langsung mendekati istrinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Pak Irawan dan langsung melihat ke dalam ruangan dari jendela berlapis besi di mana Farrel di masukkan ke dalam sana.
Tak ada penolakan dari Farrel, ia tahu semuanya pasti akan seperti ini. Tubuh Farrel terlihat meringkuk dengan gigi yang gemeletuk bersentuhan.
“Farrel sakaw lagi, Yah!” jawab Bu Prita cemas dan takut dengan kondisi Farrel. Perawat memasukkan Farrel ke dalam ruangan dan menguncinya dari luar. Agar penghuni di dalam kamar itu tidak bisa keluar dari sana.
Pak Irawan dan Bu Prita pun melihat Farrel dari balik jendela besi itu.
Melihat kedua orang tuanya sedang memperhatikan dirinya. Farrel lekas bangun. Ia mendekati mereka.
“Yah, tolong! Beri aku sedikit saja kokain itu! Aku butuh obat itu. Please...,” pinta Farrel dengan suara memohon.
“Kamu berada di sini untuk sembuh bukan untuk kembali menggunakan barang haram tersebut!” balas Pak Irawan tanpa rasa kasihan.
“Sedikit saja, Yah! Aku mohon! Setelah ini aku janji akan lakukan lagi apapun yang kalian mau. Aku akan menuruti semua perintah kalian,” ucap Farrel.
Brakkk....
Farrel memukul dengan keras pintu yang ada di sampingnya. Ia kembali muncul di jendela besi itu. Ia merasa kesal permintaannya sama sekali tidak didengar.
“Kalian yang sudah membuat ku seperti ini! Kalian yang selalu mengekang! Aku sudah memenuhi semua yang kalian inginkan, bangga akan prestasiku dengan menuruti semua kehendak kalian! Sekarang aku minta obat itu!” teriak Farrel. Ia langsung berubah kasar dan beringas karena permintaannya tidak dipenuhi.
Sangat berbeda saat bersama Lura. Meskipun dalam keadaan sakau dan tidak berdaya tapi akal pikirannya terhadap Lura masih bisa ia kendalikan.
Bu Prita dan Pak Irawan mundur beberapa langkah. Ketika perawat datang kemudian menutup jendela besi itu. Sekarang keadaan ruangan itu tertutup rapat. Hanya ada ventilasi udara untuk sirkulasi udara yang masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
“Kenapa semua ditutup?” tanya Bu Prita kepada Perawat itu.
“Pasien yang sedang dalam kondisi sakaw seperti ini akan sangat berbahaya jika permintaan mereka di tolak. Mereka pasti akan terus meminta agar diberikan obat terlarang itu, Bu! Bahkan bisa melukai orang yang ada di sekitarnya bisa pada diri sendiri juga! Jadi lebih baik kita tutup dulu, sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa dan merasa lelah setelah itu baru kita akan mengobatinya,” Perawat itu menjelaskan.
Bu Prita menggelengkan kepala mendengarnya. Ia lekas merangkul Pak Antoni sambil menutup mulut dengan satu tangannya. Begitu parahkah kondisi putranya.
“Yah!” panggil Bu Prita seraya mendongak menatap suaminya dengan wajah sedih dan berlinang air mata.
Sakit dan sesedih itu melihat buah hati yang ia besarlah salam ini dalam keadaan kacau seperti itu.
Pak Irawan hanya menatap sekilas istrinya yang kini sedang menangis tersedu.
“Kita tunggu di sini sampai Farrel membaik!” ucapnya datar.
Dan seperti ucapannya tadi kepada istrinya, Pak Irawan mendekati Farrel yang sudah di beri obat penenang oleh perawat.
Tubuhnya terbaring lemas di tempat tidur.
“Kamu harus sembuh! Jadilah pria yang kuat dan tangguh dalam menjalani hidup. Hanya orang bodoh yang mau bertahan dalam kecanduan ini. Buktikan kepada kami, kalau kamu patut untuk dibanggakan. Kamu satu-satunya penerusku. Bagaimana kamu bisa merebut kembali kekasihmu kalau kamu tidak ada keinginan untuk sembuh?” ucap Pak Irawan sembari duduk di kursi kartu tanpa melihat lawan bicaranya.
Tak ada tanggapan dari Farrel. Pandangannya menatap kosong ke langit kamar. Bu Prita yang berada di samping Farrel hanya memberikan usapan lembut di kepala putranya. Sesekali memberikan ciuman lembut di pucuk kepala.
“Cukup, Yah! Biarkan putraku beristirahat,” serobot Bu Prita mencegah suaminya yang terus berbicara tidak mengenakan kepada Farrel. Bukan ucapan lembut untuk membangkitkan semangatnya.
Dari tadi ia mendengar suaminya berbicara keras kepada Farrel.
Pak Irawan berdiri. “Ya, urus putramu jangan sampai ia bertindak bodoh lagi,” lanjut Pak Irawan kemudian berlalu dari ruangan itu.
“Jangan dengarkan ayahmu! Dia hanya sedang banyak pikiran.” Bu Prita mengusap kepala Farrel dengan lembut.
“Dengarkan ibu, Nak! Ayah dan Ibu akan kembali lagi ke Kota. Kamu harus berusaha sembuh di sini. Ibu akan berusaha mencari tahu soal kekasihmu. Kamu tenang saja. Yang terpenting kamu harus sembuh. Buktikan kembali kepada ayahmu kalau kamu putra yang memang patut untuk kami banggakan!” ucap Bu Prita lembut.
Farrel hanya menoleh sekilas ke arah Bu Prita. Tatapan sedih dengan air mata yang masih membasahi pipi ia lihat dari ibunya. Ia paham, ibunya tidak mungkin bisa membantah ucapan ayahnya.
Sekeras dan sekejam apapun Pak Irawan, Bu Prita akan selalu ada di sampingnya. Di adalah wanita yang setia kepada suami.
“Bersabarlah waktu yang kamu lewati di sini tidak lama. Umumnya, gejala sakaw narkoba jenis shabu dimulai dalam 1-2 hari setelah dosis terakhir, dan bertahan hingga tiga bulan. Lamanya proses gejala putus obat akan bervariasi tergantung seberapa banyak dan sering mereka menggunakan obat. Kamu harus berjuang untuk lepas dari obat-obatan itu ‘kan?” tanya Bu Prita.
__ADS_1
Farrel mengangguk lemah. Saat ini dalam keadaan sadar dengan tubuh yang begitu lemas ia hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi padanya. Farrel juga tahu betul sikap ayahnya.
Penyesalan yang begitu besar Farrel rasakan. Ia tidak bisa berharap banyak pada ayahnya agar mau menebus Lura.
Apalagi pemilihan gubernur akan berlangsung dua hari lagi tidak mungkin ayahnya akan mengurusi urusannya.
Selama satu hari penuh Bu Prita menemani Farrel. Wanita itu kembali menangis ketika melihat kondisi putranya lagi-lagi mengalami sakaw.
Saat ini Farrel kembali berada dalam satu ruangan. Sendiri tidak ada penghuni lain.
Ucapan dan kekesalan yang ada di hati Farrel seakan terungkap begitu saja dari bibirnya ketika kondisinya seperti itu.
Bu Prita mendengar semua kekesalan putranya.
“Maafkan Ibu, Nak! Maafkan Ibu!” ucap Bu Prita seraya memegangi dadanya yang begitu sakit dan perih.
Hanya kata itu yang bisa wanita itu ucapkan saat mendengar ucapan putranya.
Bu Prita menangis seorang diri di depan ruangan itu. Ia tidak mau beranjak dari sana karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Kota. Wanita itu menunggu sampai kondisi Farrel sedikit membaik baru mereka akan bergegas pergi dari sana. Sedangkan Pak Antoni entah di mana dia berada.
Pria tua itu lebih memilih bersama pengurus panti rehabilitasi, memberikan pengarahan kepadanya agar tidak memberikan informasi apapun tentang putranya.
Pak Irawan berdalih kepada media bahwa putra yang ia banggakan berada di luar negeri. Jadi sebisa mungkin keberadaan dan kondisi Farrel saat ini ia tutup rapat-rapat.
Setelah semuanya membaik. Bu Prita dan Pak Irawan bergegas kembali ke kota. Tadi pagi mereka tiba di panti rehabilitasi ini pukul 5 pagi. Dan kembali ke kota malam hari. Pak Irawan sengaja datang dan pulang di waktu gelap ia tidak mau aktivitas terciduk oleh para pemburu berita.
Farrel merasa terasingkan oleh keluarganya di Panti Rehabilitasi, seandainya ada Lura pasti dukungan semangat akan gadis itu berikan. Sayang hanya penyesalan. Penyemangatnya telah ia korbankan karena keegoisannya.
Bersambung....
like,
komentar
favorit
hadiah
__ADS_1
vote..
Jangan lupa Bestie... 😍😘😘😘