Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Catra Akan Kembali


__ADS_3

“Faster baby ... Aahh ...” Racau kenikmatan dari pria yang saat ini berada di bawah kendali Mely.


“Arghh ...,” Mely pun terkulai tak berdaya dia tas tubuh pria yang umurnya jauh dengannya.


Beruntung pria yang ada di bawah tubuhnya itu tidak menyadari perbedaan Lura dan Mely, bentuk tubuh yang sama tapi wajah sedikit berbeda. Lura memiliki bola mata yang sipit sedangkan Mely memiliki bola mata bulat.


Awalnya pria tersebut kecewa sebab ia merasakan pusakanya lolos begitu saja ketika memasuki **** ***** Mely. Ia bisa merasakan perbedaan wanita yang masih tersegel dengan wanita yang sudah terbobol.


Mely merasakan tubuhnya lemas setelah berpacu beberapa kali di atas tubuh pria tersebut. Dirinya memegang kendali atas permainan panasnya malam ini. Sebab Pria berumur yang memenangkan pelelangan itu memaafkan dirinya karena Mely ketahuan sudah tidak perawan lagi.


Mely mengaku melakukan itu demi mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya.


“Permainanmu begitu memuaskanku!” ucap Pria berumur bernama Bagas.


Seorang pria sukses yang baru pertama kali datang ke pelelangan itu bersama temannya yang sudah menjadi pelanggan tetap di rumah bordil itu.


Pria itu langsung menyukai Mely, sebab beberapa wanita yang pernah berkencan dengannya tidak ada yang membuatnya puas pelayanan Mely. Ia merasakan sensasi yang luar biasa saat Mely bergoyang dengan lincah membuat tubuh pria itu bergetar hebat.


“Baru kali ini aku merasa puas berhubungan intim dengan wanita!” lanjutnya.


Pria itu menurunkan tubuh Mely yang berada di atasnya karena kelelahan. Ia mengusap peluh keringat yang ada di kening Mely.


Mely mengerjapkan matanya seraya tersenyum manis kepada pria itu.


“Benarkah? Tapi Tuan janji tidak mengungkit masalah ini kepada Mamih Roda?” tanya Mely pelan dengan suara lemas dan terbata akibat kelelahan.


Hendarto hanya mengangguk pelan. “Saya tidak peduli dengan mucikari itu! Yang pasti saya merasa puas dengan pelayananmu. Saya malah merasa rugi jika kamu masih perawan dan belum bisa apapun ketika pertama kali kita melakukannya. Pasti pasif tidak menyenangkan.”


Mely kembali mengerjapkan mata. Rasanya begitu lelah dan ingin memejamkan mata.


Saat ini Mely tidur dengan kepala beralaskan lengan Bagas.


Matanya masih berusaha terjaga ketika ia mendengar pria yang saat ini memeluknya erat itu sedang berbicara begitu serius.


“Aku tidak pernah mendapatkan servis memuaskan seperti tadi dari istriku! Dia sakit parah sudah hampir sepuluh tahun terakhir ini!” ucapnya membuat Mely terjaga.

__ADS_1


Ia merasa tertarik mendengarkan partner ranjangnya bercerita.


“Kamu mau mendengarkan kisahku?” tanya Bagas.


Mely mengangguk pelan kemudian ia tertidur miring sambil memainkan jemarinya di dada bidang pria berumur itu.


Bagas tersenyum melihat tingkah Mely. Ia merasa senang dengan wanita itu. Baru kali ini Bagas merasa cocok dengan wanita malam. Biasanya dia akan segera pergi setelah berhubungan intim pastinya dengan tips untuk gadis panggilan itu.


Di tempat lain.


Lura tidak bisa memejamkan mata. Gadis itu begitu takut terjadi sesuatu kepada Mely. Ingin mencari tahu tapi dirinya ingat dengan pesan Mely yang berucap jangan pernah keluar kamar sebelum dia kembali.


“Apa Mely baik-baik saja? Bagaimana pria tua itu tahu kalau bukan aku yang berada di sana. Bagaimana kalau dia menyiksa Mely?” gumam Lura sambil bolak balik seperti setrikaan memikirkan keadaan Mely yang menggantikan dirinya.


Ia sangat takut jika pelanggan yang memenangkan pelelangan atas dirinya itu menyiksa Mely. Seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Mely pernah kembali ke kamar dalam kondisi babak belur karena pelanggannya yang ganas dan kasar kepadanya.


Menurut Mely itu biasa tapi bagi Lura itu hal menakutkan. Begitu keraskan kehidupan di Kota besar ini hingga kehormatan tidak ada harganya. Kesenangan dan kepuasan lebih berharga di sini. Hingga pukul 4 pagi, Lura baru bisa memejamkan matanya setelah semalaman suntuk cemas memikirkan Mely.


 


“Apa anak itu belum kembali ke kamarnya?” tanya Mamih Rosa kepada salah satu bodyguard nya


Terlihat kekhawatiran pada wajah Mamih Rosa.


“Waduh, apa jangan-jangan gadis itu tidak bisa bangun karena ini yang pertama untuknya?” gumam Mamih Rosa dengan kekhawatirannya.


“Coba kamu lihat apa Tuan Bagas sudah pergi dari kamar itu!” titah Mamih Rosa seraya menatap jam di tangannya.


“Siap, Mih!” Bodyguard itu pun segera mengecek ke kamar bookingan yang digunakan Pak Hendarto dan Mely.


Mamih Rosa tidak mengizinkan beliau membawa pergi Lura sebab wanita itu tahu jika Lura sering mencoba untuk kabur dari tempat itu.


Sambil menunggu kabar dari bodyguard nya Mamih Rosa menerima telepon dari seseorang.


“Persidangan pertama Randi sebentar lagi akan dimulai, jika kamu ingin melihatnya sebaiknya datang ketika persidangan sedang berlangsung,” ucap seseorang di seberang telepon. Dia adalah Brigjen A. Orang yang selalu memberi kabar perihal kasus Randi, pemuda yang tertangkap satu minggu setelah kematian seorang wanita muda di sebuah hotel.

__ADS_1


“Oke. Terima kasih, Sayang, informasinya! Kamu tidak lupa untuk mengamankan tempat itu khusus buatku ‘kan?”


“Seperti biasa akan ada beberapa orang yang akan menunggumu! Ingat jangan sampai ada yang curiga.”


“Kamu memang bisa diandalkan suamiku!” Mamih Rosa berucap dengan nada menggoda.


“Setelah itu, jangan lupa aku tunggu di tempat biasa. Jatahku selama kamu pergi harus kamu berikan!


Mamih Rosa tertawa mendengarnya. Suami simpanan nya itu muali merajuk setelah dua minggu ditinggalkan.


“Tenang saja, aku akan berikan servis terbaik untukmu!” Mamih Rosa lekas menutup sambungan teleponnya ketika meliaht bodyguard yang ia perintah untuk melihat keberadaan Tuan Bagas telah kembali.


"Permisi, Mamih! sepertinya Tuan bagas maish berada di dalam kamar. Dan gadis itu juga belum kembali ke kamarnya!" Bodyguard itu menjelaskan.


Mamih Rosa terlihat berpikir.


"Kalau begitu biarkan saja! Sekarang antar aku! kita akan pergi ke persidangan!" Mamih Rosa lekas mengambil tas mewahnya kemudian berjalan meninggalkan paviliun kecil yang biasa ia tempati itu. Diikuti dua orang bodyguard


yang selalu setia mengikuti


langkah kaki dari wanita yang berprofesi sebagai mucikari itu.


 


"Pemuda yang bersama adik lu sudah berhasil di tangkap polisi. kapan ku balik ke sini!" ucap seseorang dari seberang telepon kepada pria yang baru saja naik dari kolam renang.


Pria tampan dengan tubuh kelarnya. Tato yang ada di tubuh Catra begitu jelas terlihat.


"Cie akan secepatnya kembali ke negara temapt kelahiran gue! gue gak sabar buat memberantas semua yang terlibat atas kematian adik gue Citra!" jawab Catra seraya mengepalkan tangannya.


"Gue tunggu kedatangan lu kembali ke sini!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2