
Setengah jam kemudian
Tiba saatnya aku beristirahat. Dina kembali menghampiriku.
“Yok, makan!” ajaknya padaku.
Kami berdua berjalan menuju loker tempat para karyawan SPG wanita menyimpan barang-barang mereka.
Beruntung aku dan Dina sudah membeli makanan untuk bekal istirahat. Kalau tidak, malas sekali harus turun naik gedung. Harus keluar gedung pula, sebab jarak warung makan yang sesuai kantong karyawan biasa seperti aku dan Dina lumayan jauh dari pusat perbelanjaan ini. Letaknya ada di belakang gedung.
Di sana kebanyakan para pegawai pria yang menghabiskan waktunya hanya untuk merokok dan ngopi saja. Sebab di dalam gedung tidak ada area bebas rokok.
“Gimana hari pertama bekerja?” tanya Dina. Ia membuka karet pada bungkusan nasi yang kami beli tadi pagi.
Isinya hanya nasi putih, orek tempe dan ikan kembung bumbu cabe saja, harganya murah satu bungkus seharga 12 ribu. Bekal yang kami beli di warung tak jauh dari kontrakan Dina. Lumayan ‘kan sedikit menghemat. Sebab harga seporsi makan siang di kantin Mall terbesar itu bisa menghabiskan harga sampai tiga puluh ribu satu porsinya. Sehingga Dina lebih memilih membeli bekal dari luar saja.
“Lumayan capek! Pegel aja sih, harus berdiri terus. Tapi gak kerasa, Din. Soalnya dibawa jalan terus!” Jawabku seraya membuka bungkusan bekal seperti Dina dengan menu yang sama.
Sengaja Dina menyamakan menu bekal kami supaya ibu warteg bisa lebih cepat melayani kami.
“Lama-lama biasa kok!” ucap Dina sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Satu suapan nasi kembali dimasukkan. Aku tersenyum geli melihatnya. Dina seperti orang yang tidak makan satu minggu.
Aku makan dengan nikmat. Ada rasa rindu yang aku rasakan saat makan. Bayangan adik-adik panti terlintas dalam benakku.
‘Apa yang sedang mereka lakukan ya saat ini! Aku kangen bercanda sama mereka.’
Batinku membayangkan makan bersama dengan adik-adik panti.
“Eh... Malah bengong cepetan makan!” tegur Dina padaku.
Aku hanya menyengir kepada Dina. Kemudian segera makan dengan lahapnya.
Dalam hitungan menit bekal yang mereka makan habis tak bersisa. Kemudian aku dan Dina saling bergantian untuk solat. Sebab ruangan itu hanya memiliki tempat solat yang sempit.
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti cinta yang terucap
__ADS_1
Dalam janji kita.
Lagu yang terdengar begitu nyaring dari ponsel milikku.
Awalnya ingin aku abaikan tapi Dina menegurku.
“Ada yang telpon tuh, angkat dulu, siapa tau penting,” ucap Dina saat ia hendak beranjak solat.
Aku terdiam sesaat ketika melihat nama yang muncul pada ponselku.
Nama seseorang yang aku cintai. Orang yang hampir sebulan ini tanpa kabar kepadaku.
Padahal hati ini sudah bersiap jika ia akan meninggalkanku.
“Siapa?” tanya Dina penasaran sebab melihatmu terpaku menatap ponselku sendiri.
“Farrel!” Aku menunjukkan layar ponselku ke arah Dina.
“Sudah, angkat saja! Bukannya memang kamu menunggu kabar darinya?” ucap Dina.
Aku kembali terdiam.
“Jangan kebanyakan diem! Barangkali satu bulan ini dia sibuk dengan kuliahnya. Coba ngobrol dulu baik-baik sama dia!” Dina memberi solusi kepadaku.
“Gue ke depan salat dulu! Nanti gue langsung balik lagi ke tempat kerja, banyak barang baru datang. Jadi harus segera dirapikan,” ucap Dina sekalian pamit padaku.
Aku masih terpaku memandangi layar ponsel milikku. Bingung harus berbuat apa. Setelah hampir sebulan lebih tak pernah menyapa meski lewat sambungan telepon.
Panggilan yang sempat terputus pun kembali berdering. Masih dengan nama yang sama di sana.
Akhirnya kugeser tombol hijau tersebut. Ada perasaan senang di hati ini, ternyata Farrel masih mengingatku dan mungkin saja benar apa kata Dina. Kekasihku itu memang sedang sibuk dengan kuliahnya.
“Assalamualaikum,” sapaku kepada Farrel di seberang telepon.
“Waalaikumsalam,” Farel menjawab salamku.
Kuukir senyum di wajah ini saat mendengar suara orang yang aku rindukan.
“Apa kabar, Ay? Maaf aku baru hubungi kamu!” ucap Farrel dengan panggilan kesayangannya padaku. Hati ini berbunga-bunga mendengarnya.
“Baik!” Jawabku malu-malu. “Aku kira kamu sudah lupa sama aku. Sebulan lebih tak ada kabar darimu, Rel!” ucapku.
“Maaf! Aku sangat sibuk belakangan ini. Kegiatan kuliah membuat jadwalku padat, Ay! Bagaimana? apa kamu di terima kerja?” Farrel kembali bertanya.
__ADS_1
Pasti dia sudah membaca tahu kabar dari pesan yang dikirim olehku saat keberangkatanku ke Jakarta kemarin.
“Ya, hari ini pertamaku bekerja. Tak usah meminta maaf, aku mengerti kegiatan sebagai mahasiswa pasti sangat sibuk. Semoga sukses untuk masa depanmu,” ucapku dengan tersenyum. Merasa bersyukur sudah bisa kemabli berkomunikasi dengan Farrel.
“Aku akan usahakan agar kita segera bertemu. Tempatmu bekerja tak jauh dari tempat tinggalku. Sekali lagi maaf ya, Ay!”
“Ya, Aku tunggu kabar darimu , Rel! Maaf waktu istirahatku sudah hampir habis. Aku tutup teleponnya, ya?”
“Ay,” panggil Farrel saat aku hendak menutup sambungan teleponnya.
“Apa?”
“Love you, Ay! Sampai bertemu nanti,” ucap Farrel membuat wajahku merona, tidak ada yang bisa melihat sebagaimana merahnya pipi ini ketika Farrel kembali mengucapkan kata cinta itu.
“Love you to, Rel!” aku menjawab dengan suara pelan.
Sambungan telepon pun terputus saat aku mengucapkan salam dan Farrel membalas salam dariku.
Hari demi hari kulewati dengan penuh rasa bahagia. Setiap minggu aku bisa bertemu dengan Farrel. Kami sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.
Menjelajah kota besar dengan penuh rasa suka cita.
Aku bersyukur dan merasa lega bekerja di kota besar ini. Aku bisa menyisihkan penghasilanku untuk Bu Rahma dan adik-adik meski jumlahnya tidak begitu besar.
“Terima kasih, Nak! Lebih baik kamu tabung uang hasil kerja kerasmu ini. InsyaAllah kami di sini bahagia mendengar kamu baik-baik saja di sana!” ucap Bu Rahma saat aku mengabari kalau uang sudah kukirimkan ke rekening miliknya.
“Aku sudah simpan untuk kebutuhanku sendiri, Bu! InsyaAllah bulan depan aku daftar kuliah di Fakultas swasta, Bu! Aku ambil waktu saat libur bekerja. Semoga dengan ini ke depannya aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik jika aku melanjutkan sekolahku,” ucapku pada Bu Rahma.
“Apalagi kalau kamu mau kuliah, sudah tidak perlu mengirimkan uang lagi, Nak! InsyaAllah Ibu dan adik-adik bisa hidup di sini!” Bu Rahma masih bersikeras melarangku untuk mengirim uang kembali.
“Itu sudah rejeki buat Ibu dan adik-adik! Do’akan aku berhasil di sini, Bu!”
“Amin, ibu akan selalu mendoakan kamu, Nak!”
Saling bertukar kabar dengan ibu panti pun berakhir. Lega rasanya sudah bisa mengirim uang kepada Bu Rahma. Aku tahu jika itu tidak diharapkan oleh beliau tapi setidaknya aku bisa memberi bantuan walau hanya sedikit.
Hubunganku dengan Farrel pun semakin dekat. Tapi aku merasa ada yang berbeda dengan kekasihku itu. Tapi kutepis semua prasangka buruk yang ada dalam benakku. Yang pasti sikapnya tetap tidak berubah kepadaku. aku merasakan kasih sayangnya tulus untuk diri ini.
Aku pun akan selalu ada untuk dirinya.
...Bersambung...
Jangan lupa like dan favorit nya ya...
__ADS_1