
...Sebelum baca jangan lupa tinggalkan komentar setelahnya ya. bantu ramaikan ceritaku.....
...🥰🥰🥰...
Jarak tempat tinggal Farrel dengan tempatku bekerja ternyata dekat. Tapi tak pernah sekalipun aku di ajak berkunjung ke rumahnya. Ataupun kenal dengan orang tuanya. Ada rasa sedih di hati ini padahal aku ingin dekat dan mengenal lebih jauh siapa orang tua Farrel.
Farrel menjelaskan padaku bahwa orang tuanya tidak mengizinkannya untuk berpacaran terlebih dulu sebelum kekasihku itu lulus kuliah kemudian melanjutkan usaha orang tuanya. Hubungan yang kami jalani saat ini tak di ketahui orang tua Farrel.
Istilah lainnya backstreet, hubungan sembunyi-sembunyi. Untuk kuliah pun Farrel harus mengikuti kemauan orang tuanya. Mereka terlalu mengatur, Farrel pun dituntut menjadi anak yang berprestasi dan harus membanggakan ke dua orang tuanya.
Awalnya aku tidak mau menjalani hubungan seperti itu, tapi mengetahui apa yang terjadi pada Farrel aku mencoba memahami keadaannya. Kekasihku itu butuh sandaran untuk berkeluh kesah. Dan aku berusaha selalu ada untuknya.
Ternyata sikap orang tua Farel yang selalu mengatur kehidupannya membuat Farrel salah dalam melangkah. Salah berteman membuatnya makin terjerumus ke dalam kehidupan kelam.
Minuman keras dan obat terlarang menjadi candu untuk keseharian Farrel yang penuh dengan tekanan.
Aku bukanlah anak kecil yang tidak tahu bau minuman beralkohol. Pernah sekali waktu kami bertemu dengan kondisi Farrel yang bau alkohol saat ia berbicara. Dia memintaku untuk menemuinya di depan gerbang kontrakanku dan Dina. Hanya untuk melihat wajahku saja, dan memelukku sebentar itu sudah membuat dirinya tenang.
“Kenapa seperti ini lagi, Rel? Kamu mabuk? Tolong jangan seperti ini, aku tidak suka!” Aku memintanya untuk tidak mabuk lagi.
“Ya, ini yang terakhir, Ay! Tapi kamu janji akan selalu ada buat aku. Tanpa kamu tidak akan aku bisa bertahan sampai saat ini menghadapi orang tuaku!” ucap Farrel setelah melepas pelukannya dariku.
Beruntung saat ini jalan gang terlihat sepi jadi tak ada yang melihat Farrel memelukku.
Aku terenyuh mendengar penjelasannya, diriku menjadi penenang untuk dirinya yang tengah gelisah. Perasaan ini jadi lebih iba kepadanya. Sebab banyak perubahan yang aku lihat dalam diri Farrel.
Kondisi tubuh yang semakin kurus, wajah yang tidak sesegar biasanya dengan mata yang kadang sayu terlihat.
Aku melambaikan tangan saat Farrel berlalu dari hadapanku. Meskipun dalam keadaan sedikit mabuk tapi Farrel masih bersikap sopan kepadaku.
Aku melepas kepergiannya dengan hati yang tidak menentu.
‘Kenapa jadi seperti ini, Rel! Mana semangat yang selalu kamu tunjukkan padaku! Semangat untuk sukses dan cepat membawaku dalam bahagiamu. Seberat apa beban yang kamu tanggung dari keinginan orang tuamu, Rel.’
Batinku seraya menatap Farrel yang menghilang di ujung jalan.
Hari terus berganti. Kegiatanku pun semakin sibuk terlebih saat ini aku sudah mulai kuliah. Jatah libur yang terus bergilir dengan yang lain sehingga membuat jadwal kuliahku mengikuti jadwal liburku.
__ADS_1
Itulah untungnya sekolah di tingkat swasta. Tidak terlalu berpatokan pada jadwal dan waktu yang pasti.
“Din, hari ini setelah kuliah,gue mau pergi! Mungkin pulang ke kontrakan agak malam!” ucapku pada Dina yang bersiap berangkat kerja. Kami harus saling bertukar kabar sebab hanya Dina teman satu-satunya yang aku punya di kota ini. Bersama yang lain hanya sekedar kenal di toko saja. Tidak sedekat seperti kepada Dina.
Kami berbeda waktu libur karena berbeda toko. Hanya satu gedung dan toko yang kami layani saling berseberangan.
“Memangnya mau ke mana?” tanya Dina.
“Farrel ngajak ketemuan usai kuliah!”
“Hati-hati, Ra! Kabari gue kalau lu udah sampai rumah!” Dina pamit berangkat kerja.
Semenjak kedatanganku, Dina tidak lagi membeli bekal di warteg. Aku dan Dina sepakat untuk masak setiap hari. Lumayan menghemat pengeluaran untuk makan.
Sore ini, setelah selesai kuliah. Aku menunggu Farrel di tempat biasa. Aku melambaikan tangan saat melihat Farrel dari kejauhan.
Farrel yang mengendarai motor sport miliknya langsung mendekatiku. Dia hanya membuka setengah helm dan menyuruhku untuk langsung membonceng di belakang.
Kami berdua langsung meluncur menuju taman kota tempat yang biasa kami kunjungi di akhir pekan. Tempat di mana aku dan Farrel menghabiskan waktu berbeda, saling menceritakan kesibukan masing-masing.
Sore itu ada yang berbeda yang kulihat dari Farrel. Wajahnya sedikit pucat, aku mencoba meraih tangannya. Terasa dingin saat kulit tangan ini menyentuh tangannya.
Farrel menggelengkan kepalanya tangannya terlihat gemetar.
“Aku baik-baik saja, Ay!” ucapnya tanpa berani memandang wajahku. Farrel selalu menghindar ketika aku menatap penuh selidik kepadanya.
Aku tidak percaya dengan ucapannya. Aku terus mengamati apa yang terjadi pada kekasihku itu. Cukup lama kami hanya berdiam dengan pemikiran masing-masing kemudian Farrel pamit kepadaku tanpa menunggu balasan dariku.
“Aku pergi dulu, Ay! Sorry! Kamu bisa pulang sendiri 'kan? Mendadak aku ada keperluan penting!” Farrel langsung mengecup pucuk kepalaku tanpa mau menunggu aku berbicara.
Aku menatap kepergian Farel dengan hati kecewa dan sedih.
Padahal sore ini dia yang memintaku untuk menemaninya. Menghabiskan libur bersama di taman tengah kota. Tapi malah aku yang di tinggal sendiri di sini.
“Farrel, tunggu!” teriakku. Pria itu mengacuhkanku.
“Kenapa ini bisa terjadi padamu? Kenapa kamu tidak berterus terang kalau kamu memakai obat terlarang itu. Rel! Aku tidak ingin kamu semakin terjerumus semakin jauh, rel! Kamu harus lepas dari itu semua. Aku akan membantumu," ucapku dengan surat pelan. Sedih dengan kondisi pria yang aku sayang saat ini.
__ADS_1
Beberapa kali aku memergoki Farrel mengisap sebuk haram itu. Aku menyaksikan sendiri apa yang Farrel lakukan. Efek yang didapat memang langsung terlihat. Aku melihat sikap yang sangat berbeda dari diri Farrel.
“Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, Rel?” gumamku seraya terdiam memandangi Farrel yang hilang dalam pandangan ini. Meninggalkan aku seorang diri. Aku tahu Farrel tengah menghindariku. Dia tidak mau aku tahu kondisinya.
Aku melangkah pelan dan gelisah, dalam benak ini masih tentang Farrel. Aku berjalan keluar dari taman, menunggu ojek online pesananku datang, kembali ke kontrakan dengan wajah sedih.
“Assalamu’alaikum,” ucapku saat masuk ke rumah kontrakan.
Dina mengerutkan alisnya melihat kedatanganku.
“Tumben! Katanya pulang malam! Kok jam segini udah balik? Terus kenapa lagi tuh muka? Balik kencan malah kusut, bukannya happy?” ejek Dina sambil yang sedang asik menonton acara di televisi sambil memakan camilan kesukaannya.
“Farel pergi ninggalin gue!”
“Kok bisa?” Dina sampai terperanjat mendengar ucapanku. “Terus lu pulang sama siapa?” tanyanya.
Aku mendaratkan pantatku di lantai keramik kontrakan kemudian menyandarkan tubuh ini pada tembok menghadap TV. Kurebut camilan yang ada di tangan Dina, memasukkan makanan itu ke dalam mulutku. Rasa sedih membuatku lapar.
“Farrel pergi begitu saja, tanpa pamit. Sikapnya pun beda sekali, Din! Sepertinya kecurigaan gue kali ini benar, deh!”
“Maksud lu?” tanya Dina kurang paham apa maksudku seraya merebut kembali camilan miliknya.
“Farrel seorang pemakai sekarang!” ucapku lirih.
"Pemakai narkoba!" Dina memperjelas ucapanku.
Aku mengangguk pelan dengan wajah yang tertunduk sedih.
.
.
.
.
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa buat karya baru ini beri like, rating bintang dan tambahkan ke favorit....