Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Pulang Ke Panti Asuhan


__ADS_3

Seminggu sudah Lura diam tak banyak bicara pada Mama Liona yang dengan telaten dan setia mendampinginya di rumah sakit.


Lura menutup diri dari orang-orang yang sudah membuatnya kecewa. termasuk pada Mama Liona. Hanya Catra menemani dan mendengar keluh kesah Lura.


Mama kandungnya itu tidak pernah menyerah demi mendapatkan maaf dari Lura. Mama Liona menerima semua balasan dari putrinya karena memang ia salah dalam hal ini.


Seperti saat ini, Mama Liona baru saja selesai membantu Lura berganti pakaian.


"Kamu mau makan dulu atau mau jalan-jalan ke taman?" Tanya Mama Liona pada Lura.


"Aku mau di sini aja nunggu Catra!" jawabnya singkat.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Tapi makan dulu, ya?" Mama Liona menawarkan makanan yang sudah ia sediakan buat Lura. Tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda penolakan halus dari tawaran yang diberikan Mama Liona.


Mama Liona tidak tahu harus berbuat apalagi demi mendapat maaf dari Lura, putrinya. Hanya sabar, satu-satunya cara agar wanita itu bisa melewatinya.


"Mama simpan makanannya di sini, ya! Jangan lupa dimakan biar cepat sembuh. Ingat kata dokter kamu boleh pulang lusa." Mama Liona meletakkan piring berisi makanan di atas nakas tak jauh dari tempat tidur pasien. "Mama keluar sebentar!" pamit Mama Liona sambil mendekat ke arah Lura. Tak lupa wanita itu mengecup singkat pucuk kepala Lura sebagai tanda sayangnya.


Tidak ada balasan ucapan hanya anggukan pelan yang Mama Liona dapat dari Lura.


Saat Mama Liona berjalan meninggalkannya sendiri di ruangan itu. Lura tak bisa menahan sedih dan sakit hatinya. Meski bagaimanapun Lura tersiksa dengan sikapnya sendiri. Marah dan kecewa sedang menguasai dirinya saat ini.


Lura menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Aku ingin memelukmu, Mah" Lirih Lura disertai dengan tangis yang tumpah saat itu. Rasanya sesak ia tahan saat bersikap diam dan acuh di depan Mama Liona.


Kesabaran wanita yang telah meninggalkannya di panti asuhan tidak mampu membuat Lura memaafkan kesalahannya. Wajar saja selama puluhan tahun ini, Lura merindukan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri yang sejak kecil ia kira telah menjadi yatim piatu. Kenyataan semakin membuatnya sakit hati saat mendapatkan pengakuan bahwa ibunya masih hidup.


Berbagai pikiran buruk selalu ada dalam benak Lura. Apakah ia anak haram, atau anak tidak diinginkan.


Disaat Lura mengikhlaskan untuk tidak menginginkan bertemu dengan kedua orang tuanya. Takdir malah kembali mengungkapkan kebenaran padanya.


Satu persatu kenyataan pahit Lura terima. Cobaan beruntun ditambah kenyataan pahit semakin membuat jiwa dan hati Lura marah dan kecewa. Ingin rasanya hidup berakhir saat itu juga.


Pernah sekali Lura mencoba mengakhiri hidup dengan cara meloncat dari gedung tingkat itu, tapi Catra masih bisa menyelamatkannya. Semenjak saat itu Mama Liona begitu ketat menjaga Lura.

__ADS_1


Begitu juga dengan Pak Antoni. Meskipun bukan pasangan suami istri tapi mereka berusaha memberikan yang terbaik buat Lura. Demi Lura mereka rela berdamai meski hati Mama Liona masih dipenuhi rasa amarah pada Pak Antoni.


Tak beda jauh dengan Lura. Mama Liona menghamburkan diri dalam pelukan suaminya, Papa Wira.


"Putriku masih membenciku, Pah!" Ucap Mama Liona dalam pelukan Papa Wira.


"Sabar, Mah. Kamu harus mengerti perasaan Lura. Dia masih menata hatinya. Lura masih merasakan kekecewaan yang selama puluhan tahun ini ia rasakan. Papa yakin, dia sama sepertimu. Dia pasti rindu sama kamu, Mah!" Ujar Papa Wira berusaha menenangkan istirnya.


"Tapi mama tidak kuat, Pah. Rasanya ingin sekali memeluk dia. Kau ingin sekali menumpahkan rasa sayangku padanya. Gadis kecil yang aku tinggalkan dulu." Mama Liona berucap sambil terisak sedih. Bahunya naik turun seiring isak tangis yang ia keluarkan.


Catra yang baru saja datang segera menghampiri mereka berdua.


"Apa yang terjadi?" Tanya Catra tiba-tiba.


Mama Liona yang mengetahui kedatangan putranya segera melepaskan pelukannya. Wanita itu berusaha menghentikan tangisnya. Dan bersikap biasa saja.


"Tidak pa-pa, Nak. Mama hanya sedang tidak enak badan saja." Mama Liona menjawab agar Catra tidak khawatir padanya.


"Mama yakin?"


"Sebaiknya periksakan diri ke dokter, Mah. Mumpung di rumah sakit juga. Apa mau aku antar?" Catra terlihat khawatir. Ia tidak mau wanita yang selama ini merawatnya dari kecil kenapa-napa.


"Gak perlu, Nak! Mungkin mama hanya banyak pikiran saja, jadi pengaruh sama kondisi tubuh," seru Mama Liona dengan berusaha menenangkan diri. Tapi percuma, Catra bisa menebak kalau wanita itu habis menangis. Hanya saja dia tidak mau bertanya lebih jauh. Catra sangat mengenal sifat Mama Liona. Yang tidak mau menunjukkan kesedihan di mata anak-anaknya.


"Ya sudah ... Kalau begitu ajak mama keluar sebentar, Pah. Sepertinya wanita ini, butuh udara segar di luar rumah sakit. Atau mau ke pusat perbelanjaan terkenal di negara ini," ledek Catra samb membelai lembut pundak mamanya dan berhasil membuat Mama Liona mengembangkan sedikit senyum.


"Kamu bisa saja," elak Mama Liona. "Mama tidak ingin belanja, mama hanya ingin di sini menemani Lura," sanggahnya.


"Ada aku, sekarang tugasku menjaganya. Mama tenang saja!" Ucap Catra kemudian dibenarkan oleh Papa Wira.


"Bener kata Catra, kamu juga butuh udara segar, Sayang!"


"Tapi, Pah---"


"Tidak ada kata tapi, harus mau!" Papa Wira lekas melingkarkan tangan di pinggang Mama Liona kemudian menarik wanita itu agar mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Mama Liona tidak bisa menolak suaminya kali ini. Memang benar kata dua pria yang ia sayangi itu. Dirinya memang butuh udara segar.


Catra tersenyum sambil melambaikan tangan pada Mama Liona dan Papa Wira. Kemudian perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan Lura. sesampainya di dalam ruangan, Catra melihat Lura sedang membaringkan tidurnya dengan posisi miring.


Awalnya Catra mengira, Lura benar-benar tertidur. Tapi melihat tubuh wanita itu bergetar, Catra bergegas menghampirinya.


"Ra," panggil Catra saat posisi mereka sudah dekat.


Lura yang tadinya memejamkan mata sambil terisak tanpa air mata. Lekas bangun dari tidurannya.


"Catra." Lura lekas menghamburkan diri dalam pelukan pria itu. Catra menyambutnya dengan baik.


Kemudian sedikit mengulas senyum. Ternyata apa yang ia pikirkan tadi benar adanya. Lura pasti sedang menangis sama seperti mamanya di luar ruangan tadi.


"Kenapa?" tanya Catra lembut sambil mengusap punggung Lura pelan. Seakan memberikan ketenangan pada wanita yang amat ia cintai itu.


"Aku mau pulang!" celetuk Lura.


Catra tersenyum menanggapinya. "Bukannya lusa memang sudah diperbolehkan pulang? Mau pulang ke mana? "Tanya Catra sambil meregangkan pelukannya pelan. Kemudian merangkul bahu Lura dan menatap wajah cantik wanita itu dengan jarak wajah yang dekat.


"Ke rumah Mama Liona?" Tanya Catra kemudian Lura menggelengkan kepalanya. Catra malah mengerutkan alis melihat balasan dari Lura.


"Kalau tidak mau ke rumah Mama Liona, kemana? Ke rumah, Putri?" Lagi-lagi Lura menggelengkan kepalanya.


"Terus mau pulang kemana, Sayang?" Catra mengusap sisa buliran bening yang tersisa di sudut mata Lura.


"Aku mau pulang ke panti asuhan tempat aku dibesarkan!" Ucap Lura dengan wajah yang mengiba, matanya kembali berkaca-kaca. Berharap agar Catra mau mengantarkannya pulang ke sana.


.


.


.


Alhamdulillah akhirnya bisa juga up malam ini. meskipun mepet.

__ADS_1


Maafkan ya reader tercinta Author lagi kurang fit banget. jadi nggak bisa apa berapa hari kemarin, doakan Author sehat-sehat ya....


__ADS_2