Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Aku Harus Mencarinya


__ADS_3

Mendengar suara ponsel berdering beberapa kali tidak membuat Catra terbangun dari tidurnya. Sebab nada dering yang ia dengar bukan dari ponsel miliknya.


Ponsel pria itu dalam keadaan mode getar sehingga ketika seseorang menghubungi Catra, ponselnya hanya bergetar saja.


Pria yang saat ini tidur tengkurap dengan tubuh polosnya mengerjapkan manik matanya perlahan.


Catra langsung membalikkan tubuhnya menjadi terlentang sambil meregangkan tangan seperti biasa ia bangun dari tidur paginya. Seluruh tubuhnya terasa pegal.


“Apa ini?” Pikir Catra ketika merasa menggenggam sesuatu. Sambil memicingkan mata dan memperhatikan lebih dekat benda yang ada di tangannya.


“Kalung? Punya siapa?” Catra langsung diam sambil berpikir milik siapa kalung yang saat ini ada di tangannya.


Pemuda itu langsung bangun dari tidurnya mengedarkan pandangan mencari seseorang.


Bayangan samar seorang wanita yang memohon kepadanya terlintas dalam benak Catra. Ia mengerutkan alis sambil memejamkan mata mengingat kejadian tadi malam.


Meskipun dalam keadaan mabuk tapi Catra sadar apa yang ia lakukan. Tadi malam ia merasakan puncak kenikmatan yang tidak biasa. Bahkan jeritan saat dirinya menerobos masuk ke dalam kesucian gadis itu begitu jelas ia ingat.


'Tolong lepaskan aku, Tuan! Aku akan ganti apapun asal tuan mau melepaskanku.'


Ucapan wanita itu begitu jelas ia ingat.


Catra langsung menarik selimut berniat ingin membersihkan tubuh terlebih dulu. Sebab Mama Liona pasti sangat mengkhawatirkannya.


Matanya langsung tertuju pada noda merah di sprei.


Catra menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin dia seorang gadis, lagi-lagi gue udah merenggut kehormatan seseorang. Heh, pasti wanita itu sama seperti Alice, akan datang padaku dan mempermainkanku!” ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi.


Catra meletakkan kalung yang ia genggam di atas nakas tak jauh dari tempat tidur itu.


Tak lama setelah membersihkan diri. Catra segera mengambil ponselnya. Dan benar saja beberapa panggilan dari Mama Liona muncul di layar ponselnya.


Segera Catra menghubunginya.


Tak butuh waktu lama. Panggilan telepon pun tersambung.


“Kamu ada di mana! Kenapa tidak pulang semalam? Kamu benar-benar membuat ibumu khawatir. Kamu tahu dia sampai tidak tidur semalaman karena menunggumu! Dasar anak nakal!” Suara Papa Wira terdengar dari seberang telepon.


Suara bariton pertanyaan dari ayahnya itu membuat Catra sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


‘Gue tuh anaknya siapa sih, kenapa bokap kandung gue galak banget beda sama Mama Liona yang nyatanya memang mama sambung gue!’

__ADS_1


Batin Catra sambil menggelengkan kepalanya mendengar ocehan sang papa.


“Catra habis kumpul sama teman, Pah! Dari semalam ponselku dalam mode getar saja,” jawab Catra sembari memijit kepalanya. Ia merasa sedikit pusing akibat mabuk semalam.


Tidak pulang saja Mama Liona khawatir apalagi jika Catra pulang dalam keadaan mabuk. Tidak bisa dibayangkan berapa sedihnya Mama Liona melihat kondisinya.


“Pasti mabuk! Cepat pulang sebelum mama-mu bangun!” titah Papa Wira tegas.


“Ya!” sambungan telepon langsung ditutup oleh Catra sambil mengerutkan kening. Belum ada dua hari di negara kelahirannya, Catra sudah mengawalimya dengan kesalahan.


Padahal janjinya di Inggris kemarin. ia ingin memulai hidup baru. Ingin. menemukan wanita baik dan penyayang sepertinya Mama Liona. Wanita yang penuh kelembutan dan ketulusan yang jarang ia temukan.


Seulas senyum terukir di bibir Catra. Papa Wira selalu bersikap seperti orang yang sedang cemburu jika Mama Liona selalu memanjakan anak-anaknya. Padahal harusnya dia bersyukur, istri sambungnya itu bersikap layaknya Ibu kandung buat anak-anaknya. Tapi wajar menurut Catra, dirinya juga pasti akan bersikap seperti Papanya jika wanita itu seperti Mama Liona.


“Anak itu, kenapa langsing di matikan teleponnya!” Omel Papa Wira tapi amarahnya langsung surut saat melihat wanita yang saat ini berbaring di atas tempat tidurnya.


Mama Liona, istri yang sangat di cintai oleh Papa Wira. Wanita yang telah menggantikan posisi Greece Amilson, istri pertama Wira. Wanita yang memberi kasih sayang kepada kedua anaknya dengan tulus.


***


Masih di kamar hotel yang sama. Catra hendak pergi dari kamar hotel itu usai merapikan diri. Ia meraih dompet yang ada di atas nakas. Saat membukanya, pria itu terkejut melihat uang yang ada di dalam dompetnya tidak tersisa sama sekali.


Saat melangkah, kakinya tidak sengaja mendendangkan benda persegi yang tergeletak di lantai marmer itu.


Catra berjongkok untuk mengambilnya. Dirinya tersenyum melihat wallpaper yang ada di layar ponsel itu.


Foto seorang wanita yang membelakangi layar sedang mengangkat tinggi seekor kucing persis di tangannya.


“Apa ponsel ini milik wanita yang semalam? Ah ... Kenapa aku tidak ingat sama sekali wajahnya?” Catra mengabaikan niatnya untuk segera pergi dari kamar itu. Pria itu malah berjalan mendekati ranjang kemudian duduk di sisinya. Ia penasaran dengan wanita yang semalam bersamanya.


Catra tidak menyangka, bahwa wanita itu bukanlah Alice. Ia ingat semalam dia menyebut nama wanita itu. Wanita yang selalu jadi pelampiasan hasratnya.


Catra tidak merasa bersalah kepada Alice sekarang ini. Sebab menurutnya, Alice sudah lebih banyak mendapatkan berbagai kemewahan darinya. Jadi, Catra hanya menganggap Alice sebagai wanita bayaran. Bukan lagi seorang kekasih setelah tahu, Alice tidak hanya bermain ranjang dengannya saja. Tapi dengan pria lain juga. Catra hanya menjadi pembuka jalan untuknya saja.


Melihat semua isi dalam ponsel Lura. Catra tidak menemukan satu pun foto gadis itu di sana. Hanya berbagai fose kucing persia berwarna oranye saja yang ia temukan. Dan beberapa video kebersamaan wanita itu saat asik bermain dengan kucing orange tersebut.


“Sepertinya wanita ini suka dengan hewan berbulu ini, sama seperti Mama Liona!” ucap Catra sambil mengembangkan senyumnya.


Catra kembali memeriksa panggilan dan chat di ponsel itu. Matanya begitu fokus membaca beberapa pesan yang di kirim dari ponsel itu. Setelah beberapa saat mencerna setiap pesan yang ada. Catra paham apa yang terjadi.


“Kenapa wanita itu ada di rumah bordil itu? Apa benar, dia wanita baik-baik? Tapi gue yang sudah merenggut kehormatannya.” pikir Catra, ia tidak menyangka wanita yang selama bersamaanya bisa mempertahankan kehormatannya selama itu di sana. "Hah, lebih baik aku pikirkan ini lagi, nanti!" Catra lekas berdiri teringat dengan pesan Papa Wira. Ia harus kembali sebelum Mama Liona terbangun.

__ADS_1


Catra meraih kalung yang sempat ia acuhkan serta ponsel yang sudah ada di tangannya juga ia bawa. Catra akan mencari tahu tentang wanita ini nanti. Jika urusannya sudah selesai.


****


“Kamu ke mana saja, Lura? Dina sudah menikah dengan Beno sebulan yang lalu. Mereka belum lama ini pindah dari sini!” ucap Ibu pemilik kontrakan.


“Beno? Mas Beno yang ngontrak di sini, Bu?” tanya Lura tidak percaya sambil menunjuk pintu kontrakan yang bersisian satu pintu dengan kontrakan yang pernah ia tempati dulu.


“Ya, benar! Ibu juga tidak menyangka sama sekali. Ibu liat mereka suka sekali bertengkar. Mirip tom and Jerry. Eh, malah jodoh! Memang kalau sudah jodoh tidak akan ke mana ya!”


Lura ikut tersenyum mendengar penuturan ibu pemilik kontrakan. Benar sekali, Dina dan Beno tidak pernah akur dan Lura sangat hapa itu. Ternyata dia sudah ketinggalan cerita Dina dan Beno. Padahal jika Lura tahu, mereka bisa dekat dan sampai bisa berjodoh seperti sekarang ini secara tidak langsung karena dirinya.


Beberapa kali bersama ketika mencari Lura membuat kedua makhluk yang sering sekali berdebat itu malah menjadi dekat.


Beno yang sudah matang dalam umur dan pekerjaan yang terbilang cukup tidak ingin bermain dalam mencari perempuan. Sama seperti Dina, temannya itu anti dengan laki-laki. Jika ada lelaki yang mendekati dan berani melamarnya sebelum berpacaran ia akan langsung menerima sebab Dina ingin merasakan pacaran secara halal. Itu yang pernah Lura dengar dari Dina.


Lura kembali melangkahkan kaki dari rumah kontrakan itu. Harus ke mana ia saat ini, sedangkan di kota besar ini tidak ada siapa pun yang ia kenal.


“Kamu beruntung sekali, Din! Dengan waktu singkat bisa menemukan jodohmu! Sedangkan aku ... Saat impian dan harapan sudah di janjikan, yang aku dapatkan hanya kepahitan.” Lura tersenyum miris dengan kehidupannya sendiri.


Sambil berjalan pelan Lura kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


“Farrel! Ya, aku harus mencarinya.” Pikiran Lura langsung tertuju pada pria yang sudah tega menyerahkan dirinya kepada Mamih Rosa.


Bersambung


Hai guys, cuaca setiap hari semakin tidak menentu ya. Jangan kesehatan.


Jangan lupa, like, komen, rating 5 bintang juga ya..


BESOK SENIN CERIA....


WAKTUNYA VOTE DATANG...


JANGAN LUPA VOTE NYA YA.....


BUAT KARYAKU INI.


TENGKYU... READERS...🤩🤩🥰😍😍


Salam hangat dari Author Mayya_zha

__ADS_1


__ADS_2