
"Kerja bagus, tidak sia-sia gue minta bantuan sama lo," ujar Carta pada seorang yang mempunyai pangkat tinggi di ketahanan negara.
Dia adalah Faizal, salah satu teman Catra. Awalnya Catra tidak sengaja bertemu beliau. ia menceritakan apa yang terjadi pada adiknya, Citra. Catra juga menceritakan rencana yang telah ia lakukan. Gayung bersambut. ternyata Faizal juga sedang bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengungkapkan kejahatan yang selama ini meresahkan dan sulit diberantas pihak berwajib.
"Kita lihat setelah Brigjen A disembunyikan apa yang bisa wanita itu lakukan. Semua gerak-geriknya sedang dicurigai petugas. Wanita itu tidak bisa bergerak bebas. Beberapa pengiriman barang haram sudah tercyduk, anak buah mereka juga sudah banyak yang tertangkap."
"Gue juga mau rumah bordil berkedok cafe dan diskotik itu segera ditutup. Tempat itu benar-benar tidak bermanfaat sama sekali," ujar Catra dengan nada kesal.
"Tidak bermanfaat tapi lu sering ke tempat itu!" ujar Faizal dengan senyum mengejek.
"Itu karena gue sedang mengumpulkan bukti-bukti. Kalau tidak turun tangan langsung, lu gak akan punya banyak bukti buat menjerat penjahat berpangkat itu!"
"Hahaha... Tapi lu pernah 'kan icip-icip dikit tuh para kupu-kupu di sana? Gimana dapat free pastinya? Atau ada diantara mereka yang jadi candu buat lu?" tanya Faizal penuh selidik.
Mendengar ucapan Faizal, Catra kembali teringat dengan wanita yang pernah berbagi malam dengannya.Catra tersenyum sendiri mengenang malam itu.
"Lah, dia malah senyum-senyum sendiri!" Faizal menggelengkan kepala melihatnya.
"Ya, benar. Wanita itu telah menjadi candu buat gue!" Celetuk Catra sambil mengingat kejadian malam itu yang ia sesalkan. "Meskipun ... Gue gak pernah ingat wajahnya!"
Catra menyesal tidak mengingat wajah wanita yang menghabiskan malam dengannya. Dia adalah Lura, Catra hanya mengingat suara Lura yang memohon kepadanya. Dan satu hal yang paling Catra ingat adalah kesucian wanita malam yang ia renggut.
Faizal mengerutkan alis mendengar ucapan Catra. Pria yang berpengaruh dalam pertahanan negara itu tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kok bisa? Lu 'kan bisa BO dia!" Faizal melanjutkan.
"Dia kabur!"
"Lu bisa cari!"
"Gimana mau nyari ingat wajahnya aja nggak!"
"Payah!"
"Makanya bantu gue cari dia!"
"Sorry, tugas gue bukan nyari wanita malam yang hilang!"
__ADS_1
Catra melirik Faizal. "Gue bayar!"
"Malas! Tugas gue banyak bukan hanya nurutin perintah lu!"
Obrolan panjang kembali mereka bicarakan. Rencana matang untuk membekuk Mamih Rosa sudah disiapkan. Hanya tinggal menunggu waktu.
***
Di tempat lain, Farrel tidak bisa berbuat apapun. Rencana ingin mencari Lura setelah ia keluar dari panti rehabilitasi ternyata hanyalah isap jempol belaka.
Keluarga Farrel berduka. Sang ayah meninggal dunia saat dalam perjalanan Jakarta - Malang. Pesawat yang ia tumpangi mengalami mengalami kecelakaan.
Bu Prita tidak menemani beliau saat itu. Sebab ia tidak mau meninggalkan Farrel yang baru saja pulang dari panti rehabilitasi.
Sebagai penerus dari keluarganya. Farrel dituntut untuk melanjutkan bisnis milik keluarga mereka. Jabatan ayah Farrel telah berlalu pada wakil gubernur yang terpilih. Sebab memang itu yang seharusnya dilakukan.
Di usia mudanya saat ini, Farrel dipaksa keadaan. Ia harus meneruskan semua bisnis milik almarhum ayahnya. Beruntung ada Pak Edward, asisten ayahnya yang bersedia membantu Farrel.
Beberapa bulan berlalu. Kesibukannya mengelola bisnis keluarga membuat Farrel lupa akan niat awalnya.
Farrel menjadi pengusaha termuda saat ini. Kepintarannya memang tidak bisa dianggap biasa saja. Saat masih sekola pun keahlian dan kepintarannya tidak bisa dianggap remeh. Bahkan ia sudah menggeluti beberapa bidang usaha saat masih sekolah.
Perlahan tapi pasti semua mulai membaik. Farrel mulai terbiasa menjalani aktivitasnya. Kuliah kembali ia lanjutkan sambil memegang semua kendali perusahaan. Begitu hebat bukan, di usianya yang masih muda sudah menjadi pengusaha sukses.
"Rel," panggil Bu Prita padanya saat Farrel sedang meneruskan pekerjaan yang tertunda di kantor tadi. Ibu dari Farrel itu masih terlihat awet muda dan cantik, tapi saat ini wanita itu terlihat gelisah.
Farrel lekas menghentikan pekerjaannya. "Ya, bu!" Kemudian Bu Prita duduk di depan Farrel.
"Ada apa, Bu?"
Bu Prita menarik napas panjang kemudian membuangnya perlahan. "Apa kamu sayang sama ibu, Nak?"
"Kenapa Ibu tanya seperti itu, sekarang hanya ibu yang aku punya, aku berada dan bertahan di sini karena mu, Bu!"
Bu Prita diam sesaat ia berpikir, saat ini adalah hal yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada Farrel.
"Ibu dan ayahmu memiliki perjanjian dengan seseorang. Kami telah bersepakat untuk menjodohkanmu pada seorang wanita. Dan itu wajib kami ikuti, kalau tidak apa yang kita punya tersita olehnya." Bu Prita berbicara sambil tertunduk sedih sontak membuat Farrel menoleh cepat.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu, Bu? Kenapa kalian kembali mengorbankan aku?" tanya Farel tidak terima.
"Kami berhutang banyak sekali pada mereka, saat itu Papa mu sedang masa pencalonan. Kondisi perusahaan sedang tidak stabil. Perusahaan membutuhkan dana besar. Kami harus menyelamatkan bisnis yang dibangun Papa mu ini."
Farrel menarik napas panjang, sungguh berat untuknya. Ia tidak bisa menyetujui semua ini.
"Bahkan aku belum bisa menebus kesalahanku pada Lura, Bu! Aku yang sudah menjerumuskannya ke dalam dunia malam. Aku sudah berjanji dalam diri ini, akan menerima semua yang ada dalam diri Lura, setelah aku menemukannya."
Bu Prita menggelengkan kepalanya. "Kamu jangan gila, Rel! Apa kata orang jika kamu bersama wanita malam. Ibu tidak akan ijinkan itu!" Bu Prita tidak setuju dengan keputusan Farrel, Ia melirik ke samping tubuhnya. Dilihatnya pisau buah yang ada di atas nakas. Terlintas sebuah tindakan dalam benaknya. Ia lebih baik mati daripada harus menerima Lura.
"Tapi aku yang sudah membuatnya menjadi wanita malam, Bu! Aku yang sudah menukarkannya dengan hutangku pada Mamih Rosa. Kalian sengaja mengulur waktu, dulu. Aku hanya meminta kalian menebus Lura karena dia tidak bersalah. Tapi Ibu dan ayah sama sekali tidak melakukannya. Dan saat ini aku akan mencarinya dan menikahinya, apapun yang terjadi padanya."
"Jadi kamu lebih mementingkan Lura daripada kehidupan kita, nama baik keluarga kita, Rel.!" sentak Bu Prita seraya meraih pisau tersebut di samping nakas. Kebetulan pisau itu baru saja ia gunakan untuk memotong buah apel.
Bu Prita mengarahkan pisau ke tangannya kemudian menunjukannya pada Farrel.
"Apa yang mama lakukan! jauhkan pisau itu dari tangan, Mama!" titah Farrel.
Bu Prita menggelengkan kepala. "Tidak akan, Mama lebih baik mati jika kamu tidak memenuhi keinginan Mama, Kalau kamu tetap bersikeras dengan keinginanmu. Mama lebih baik mati!" Dengan cepat Bu Prita menggores pergelangan tangannya.
"Mama," teriak Farrel saat melihat Bu Prita tiba-tiba ambruk. Darah segar sudah menetes dari pergelangan tangannya.
Farrel dengan cepat mengangkat tubuh ibunya sambil berteriak memanggil supir.
"Pak Win! Siapkan mobil!" teriak Farrel.
Bersambung.
Mohon maaf kepada semua readers. Author jarang up beberapa hari kemarin. Kesibukan dunia nyata benar-benar tidak bisa baut mikir. Musibah gempa di Cianjur sempat membuat khawatir karena semua keluarga suami ada di sana. Author juga sedang mengumpulkan dana untuk warga di sana.
Alhamdulillah keluarga suami selamat..
Mohon maaf atas keterlambatan up bab baru nya. Author berusaha up karna ada kewajiban untuk promo tugas.
Mampir ke karyanya ya..
ceritanya tak kalah seru!
__ADS_1
Baca ya!