
Dalam waktu hitungan minggu, satu persatu bisnis Mamih Rosa terciduk pihak berwajib. Wanita itu tidak bisa berkutik. Rumah bordil berkedok cafe itu ditutup sementara. pembersihan tempat yang disinyalir sebagai tempat pijat plus plus itu diamankan pihak berwajib. Semua penghuni tempat itu dipindahkan ke dinas sosial.
Mamih Rosa masih belum diketahui keberadaannya saat ini. Wanita itu masih bersembunyi entah dimana. Para kupu-kupu malam banyak yang mengeluh. Tiga hari mereka berada di dinas sosial tak ada pendapatan yang mereka hasilkan. Biasanya tiga malam saja, mereka bisa menghasilkan sekitar lima sampai sepuluh juta rupiah. Jauh sekali dengan saat ini.
"Mamih kemana sih? Kenapa gak nongol-nongol ke sini! Lama-lama di tempat ini miskin gue!" Oceh seorang wanita bernama Ocha. Ia melempar asal sapu yang ada di tangannya.
Para wanita malam imendapat bimbingan di dinas sosial. Mereka diberi pengarahan agar tidak kembali melakukan hal yang tidak pantas untuk seorang wanita. Selagi masih bisa bekerja mereka diarahkan pada kegiatan positif.
Jika berada disana menjadi musibah bagi beberapa wanita malam. Tapi tidak bagi Mely, wanita itu merasa bersyukur berada di sana. Meskipun ia tidak lagi mendapatkan penghasilan besar seperti yang dikeluhkan yang lain. Setidaknya ia merasa lega bisa terbebas dari Mamih Rosa.
Mely tetap melanjutkan pekerjaannya. Tidak peduli dengan ocehan Ocha yang kesal harus tinggal di sana. Mely membersihkan kaca yang kotor dari debu dengan serius tanpa banyak bicara. Ia seakan menikmati aktivitas barunya. Tetap tenang dan terus memperbaiki diri saat berada di Dinas Sosial.
"Melyana Azizah," panggil seseorang sambil berjalan mendekati kerumunan wanita yang sedang bekerja bakti membersihkan aula.
Mely yang berada di ujung ruangan tidak mendengar panggilan atas namanya.
"Siapa yang namanya Melyana Azizah?" teriak Petugas Dinas Sosial. Ia kembali memanggil nama Mely Azizah dengan lantang.
"Mel, nama lu dipanggil tuh!" Ucap Rere, seorang wanita malam yang juga ada di sana bersama Mely dan yang lainnya.
"Gue?" Mely menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, noh! Dengarin deh!"
Mely menghentikan pekerjaannya. Ia lekas menajamkan pendengarannya.
"Sekali lagi yang namanya Melyana Azizah, maju ke depan!" Petugas Dinas Sosial kembali berteriak.
"Saya, Pak!" Mely langsung mengangkat tangannya. Ia berjalan mendekati petugas itu.
"Huh ... Makanya punya kuping tuh dipake bukan cuma jadi pajangan aja!" Sindir Ocha pada Mely sinis. Mereka berdua memang tidak pernah ada kata akur.
Mely malas berdebat kali ini. ia membiarkan saja Ocha mengoceh sesuai keinginannya. Mely lantas mengikuti petugas yang tadi memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa ya, Mely dipanggil. Apa dia mau dibebaskan dari sini. Enak banget sih dia, tapi kok bisa ya?" ucap Rere membuat Ocha panas mendengarnya.
"Mana mungkin dia bebas! Siapa yang mau ngejamin dia! Palingan mau disuruh bersihin tempat lain? Atau ajak maen sama tuh petugas?" celetuk Ocha.
Beberapa diantara mereka hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sinis Ocha pada Mely. Ocha wanita malam yang pandai bicara, jutek dan bermulut pedas kepada sesama penghuni rumah bordil. Jadi tak sedikit yang enggan bersama dengan Ocha. Mereka lebih memilih menghindar daripada harus dekat dengan wanita seperti itu.
Mely begitu terkejut saat melihat Bagas sedang duduk di dalam ruangan sendirian.
"Apakah ini orang yang Anda cari, Pak?" tanya petugas itu kepada Bagas.
"Ya, dia orangnya!" jawab Bagas singkat sambil berdiri kemudian mendekatk Mely.
"Kamu baik-baik saja?" Bagas membelai pipi Mely pelan dan lembut.
Usapan hangat dari telapak tangan pria itu begitu membuat Mely merasa aman dan nyaman. Mely memejamkan mata sambil menganggukan kepala. Meresapi kehangatan yang tersalur dari sentuhan Bagas.
"Ya, Mas! Aku baik-baik saja!"
"Sekarang ikut aku keluar dari tempat ini!" Mely langsung mendongak menatap Bagas.
"Aku serius! Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu! Sesuai dengan janji yang aku ucapkan. Tinggal lah bersamaku, aku akan menanggung semua hidupku dan keluargamu!"
Mely begitu bahagia mendengarnya. Tapi wajahnya langsung berubah sendu saat ia teringat sesuatu. "Bagaimana dengan istrimu, Mas!" tanya Mely.
"Dia masih dalam pengobatan. Istriku masih ada di luar negeri! Tenang saja, Aku tidak membawamu ke rumahku. Tapi ke rumah yang aku belikan khusus untuk kamu!" Bagas menatap Mely dalam berharap Mely mau ikut dengannya.
Mely lekas memeluk pria berumur itu. Tak peduli dengan petugas yang ada di hadapan mereka. Bagi Mely ia sudah merasa lega ada yang mau bertanggung jawab dengan kehidupannya. Usia tak ia pikirkan yang terpenting hidupnya terjamin.
Mely meminta Bagas untuk menunggunya sebentar. Ia meminta waktu untuk pamit kepada teman seperjuangannya di rumah bordil dulu.
"Mel, bilangin sama sugar dady lu, bisa gak bawa teman buat keluar dari sini? Keluarin gue, Mel!" pinta Rere saat Mely sedang bersiap-siap merapikan barang miliknya.
"Sorry, Re! Itu bukan kehendak gue. gue juga gak enak ngomongnya sama Bagas," ucap Mely.
__ADS_1
Rere terlihat tak bersemangat dengan kepergian Mely dari sana, kemudian duduk di sini tempat tidur.
"Lu pergi, gue sama siapa, Mel?" keluh Rere.
Mely tersenyum kemudian ikut duduk di samping Rere. "Gue yakin setelah ini kehidupan kalian akan lebih baik. Saran gue sama lu, Re. selagi masih bisa mencari pekerjaan halal, lakukan! Jangan mau jatuh ke lubang yang sama. Kita harus bisa lebih baik kedepannya." Mely memberi nasehat pada Rere.
"Lu si enak ada yang nebus lu dari sini. Lah gue, siapa yang mau nolong gue!" celetuk Rere.
"Re, yakin deh. Di sini banyak pelajaran dan arahan yang bisa lu pelajari. Kembali menata hidup Re! Jangan lu pikir, hidup gue akan enak karena ada yang nebus gue dari sini. Gue gak yakin hidup gue kedepannya bisa berjalan mulus sama dia. Dia suami orang, saat ini gue hanya bisa bergantung sama dia. Sebab dia mau menanggung beban hidup dan pengobatan ibu gue, Re! Gue terima, meskipun menjadi yang kedua dan jadi pemuas napsunya saja. Gue terima, Itu sesuai dengan apa yang akan dia berikan buat gue dan keluarga. Gue gak pernah mikir perasaan gue sendiri. Gue cape, Re jadi wanita yang dijamah banyak pria." panjang lebar Mely mengungkapkan isi hatinya.
Mely dan Rere akhirnya berpelukan. "Semoga lu bahagia dengan jalan hidup yang lu ambil, Mel!" ucap Rere.
"Thank's, Re! Lu juga semoga kita bisa hidup lebih baik."
Rere mengangguk pelan. Kemudian Mely keluar dari kamar tidur yang disediakan oleh pihak Dinas Sosial. Satu ruangan yang dihuni oleh sepuluh orang. Mereka harus berdesakan dan berbagi tempat di ruangan itu. Akhirnya Mely bisa terbebas dari Dinas Sosial dan Mamih Rosa.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Promo deui..
Mampir ke karya temanku ya! Pasti seru ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa, mampir, gak bakal nyesel deh!