
"Kamu sudah bangun?" Tanya Pak Antoni lekas bangkit sambil berusaha membuka mata saat merasakan pergerakan dari Lura.
Lura hanya tersenyum membalasnya.
"Apa yang kamu rasakan? pusing, mual atau apa?" Pak Antoni terlihat mengkhawatirkan Lura.
"Aku baik-baik saja, Om!" Sahut Lura.
Pak Antoni tersenyum sambik menggelengkan kepalanya. "Papa, ingat kamu sudah jadi anakku!" Pak Antoni mengingatkan Lura.
"I-iya, Pah!" Ucap Lura ragu-ragu.
Pak Antoni menarik sudut bibirnya kemudian mengusap pucuk kepala Lura pelan. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja! Kalau merasakan sesuatu tolong bilang. Jangan dipendam sendiri, ok!"
Lura mengangguk pelan menanggapinya.
Di ruangan lain, Mama Mariana sedang merasa cemas dan khawatir sebab sudah hampir 9 jam, belum ada tanda-tanda Putri pulih usai operasi.
"Bagaimana ini, kenapa Putri masih belum sadar?" Mama Mariana terlihat bingung dan cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada Putri. "Lebih baik aku tanyakan pada dokter," ucapnya kemudian berjalan pelan meninggalkan Putri seorang diri di dalam ruangan itu.
Baru saja berjalan beberapa langkah, Mama Mariana dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang ia kenal.
"Mar," panggil Bu Prita yang berjalan tergesa menghampiri Mama Mariana.
"Oh, Prita." Mama Mariana menyambut senang kedatangan sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan Putri?" Tanya Bu Prita langsung pada intinya sambil memeluk Mama Mariana.
"Putri belum sadar sampai saat ini, Dokter bilang paling lama hanya sekitar 6 jam tapi ini sudah masuk hampir 9 jam. Tidak ada perkembangan. Aku akan menemui Dokter Renaldi lebih dulu," ucap Mama Mariana dengan raut wajahnya cemasnya sambil melepas pelukannya.
"Kamu harus tenang, jangan cemas. Mudah-mudahan ini hanya reaksi usai operasi. Jangan khawatir." Bu Prita mencoba menenangkan Mama Mariana.
"Tante," sapa Farrel sambil menunduk sopan sambil bersalaman.
"Farrel, Tante minta tolong bisa?" pinta Mama Mariana.
"Tante minta tolong temani Putri. Ajak Mama mu ke dalam. Tante mau ke ruangan dokter sebentar," ucap Mama Mariana.
"Biar aku temani, Mar!" sahut Bu Prita.
"Kamu dan Farrel pasti lelah selama perjalanan. Biar aku yang ke sana sendiri!"
"Kami sudah beristirahat tadi di hotel, Mar! Biar aku temani, ok!" paksa Bu Prita.
__ADS_1
Akhirnya Mama Mariana menyetujuinya.
Mereka berdua pergi ke ruangan dokter Renaldi. Berjalan bersama dengan langkah biasa.
Mama Mariana merasa tenang karena sudah ada Farrel yang akan menunggu Putri.
"Dimana suamimu?" Tanya Bu Prita.
"Mas anton ada di ruangan lain," jawab Mama Mariana sambil berjalan ber-iringan.
"Ruangan lain?" Bu Prita mengerutkan alisnya mendengar jawaban dari Mama Mariana.
"Mas Anton sedang menemani---,"
"Bu Mariana," panggil dokter Renaldi dari arah belakang membuat Mama Mariana tidak jadi meneruskan ucapannya.
Kedua wanita itu lekas memutar tubuhnya bersamaan menghadap Pak Renaldi.
"Kebetulan sekali bertemu dokter di sini!" Ucap Mama Mariana.
"Ada apa, Bu?"
"Saya mau menanyakan kondisi Putri. Kenapa sampai saat ini dia masih belum sadar?"
Sesampainya di ruangannya. Dokter Renaldi menjelaskan beberapa hal usai operasi. Dokter tersbeut menjelaskan secara detail agar Mama Mariana bisa mengerti proses yang seslsang dilalui itu.
Farrel terus memperhatikan wajah pucat Putri. Ia tersenyum saat mengingat kebersamaan dengan wanita itu selama beberapa bulan terakhir ini.
Farrel mengetahui sakit yang dideritanya dari ibunya sebelum ia berkenalan dengan Putri. Namun saat dekat dengan Putri, Farrel tidak menemukan kelemahan yang Putri alami. Wanita itu seakan berusaha baik-baik saja di hadapan orang lain.
Salah satu sikap yang membuat Farrel menyukai Putri adalah kebaikan hatinya. Putri seorang anak orang kaya raya yang tidak memandang derajat. Ia mau berbaur dengan warga kumuh dan kalangan bawah. Farrel bisa menilai semuanya saat mereka bersama. Ketulusan dari Putri bisa Farrel rasakan. Mungkin sifat dan sikap itulah yang membuat Farrel berani dan menyanggupi keinginan ibunya.
"Kamu baru terlihat lemah di saat seperti ini, Put!" Ucap Farrel sambil meraih tangan Putri untuk ia genggam. Dingin, telapak tangan itu terasa dingin saat kulit mereka bersentuhan.
"Kamu wanita unik yang aku temui. Berusaha menutupi kelemahan meksipun pada akhirnya harus seperti ini. Tapi Sang Pencipta tidak ingin kamu cepat pergi dari dunia ini, karena itulah Dia mengirimkan seseorang yang bisa membantumu untuk sembuh," Farrel merangkul jemari Putri dengan kedua tangannya seakan memberi kehangatan pada tangannya.
"Sadarlah, kamu masih punya hutang jawaban atas lamaran yang aku ucapkan." Farel kembali berbicara dengan Putri seakan wanita itu tengah tersadar. Meskipun menutup mata dan tak bisa bergerak. Farrel yakin Putri akan mendengar apa yang sedang ia ucapkan saat ini.
Farrel menghembuskan napas panjang saat iru. Farrel telah mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Dirinya tidak ingin menjadi pria yang tidak bisa menepati ucapannya lagi.
Farrel berjanji pada ibunya akan menikahi Putri. Dan ucapannya itu akan ia tepati saat ini. "Sadarlah jika saat sadar nanti kamu memberikan jawaban atas lamaranku. Jika kamu kamu menjawab setuju, saat itu juga aku akan menikahimu. Tetapi jika kamu menolak. Aku akan menjauh darimu." Farrel kembali menggengam erat tangan Putri.
__ADS_1
Farrel berusaha menyangkal jika ia mempunyai rasa pada Putri. Tapi Farrel akan berusaha untuk memahami hatinya. Berusaha membuka diri untuk orang lain selain Lura.
Farrel begitu terkejut saat Putri merespon genggaman tangannya.
"Farrel," Nama Farrel lolos begitu saja dari bibir Putri. Matanya masih tertutup rapat. Tapi gadis iri terus beberapa kali menyebut nama itu.
"Aku ada di sini, Put! Cobalah membuka mata.!" Sahut Farrel. Tapi kali ini tidak ada lagi gurauan dari Putri.
Farrel segera menekan tombol hijau yang ada di sisi tempat tidur. Sambil menunggu kedatangan petugas medis Farrel hendak melepaskan tangannya dari Putri.
"Farrel," gumam Putri sambil membuka matanya perlahan.
"Putri kamu sadar?" Farrel semakin mendekat ke arah Putri memberikan senyum kelegaan. Melihat itu Putri membalas dengan senyum yang masih berat.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, Mama Mariana adalah orang yang pertama yang masuk ke dalam ruangan.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga!" Mama Mariana terlihat senang dan bahagia dengan kesadaran Putri. Wanita itu lekas mendekati brankar. Diciumnya kening Putri dengan penuh rasa syukur. "Mama bersyukur kamu sudah sadar."
Dokter Renaldi dan Bu Prita masuk belakangan.
Putri kembali tersenyum meski masih berat.
"Alhamdulillah, Putri juga sudah sadar," Pak Antoni tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan.
"Kita periksa dulu, Putrinya!" Dokter Renaldi mendekati tempat tidur. Ia melakukan tugasnya, memeriksa Putri karena takut ada sesuatu yang terjadi.
"Semuanya stabil, tinggal banyak istirahat saja! Ingat penerima donor tidak boleh lelah dan harus banyak istirahat!" titah Dokter.
"Syukurlah keadaan kalian berdua baik-baik saja."
"Lura sudah sadar, Pah?" Tanya Putri masih dengan suara lemahnya.
Mendengar nama itu, Farrel lekas menatap Putri dan Bu Prita langsung berbisik pada Farrel.
"Nama Lura itu banyak bukan hanya Lura yang kamu kenal!" Bu Prita mengingatkan. Ia tidak mau Farrel kembali mengingat Lura. Sebab wanita itu tidak ingin Farrel membatalkan niatnya untuk menikahi Putri.
.
.
.
__ADS_1