Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Anggap Kami Sebagai Orang Tuamu


__ADS_3

Dua hari sudah Lura ikut bersama dengan keluarga Putri. Pak Antoni semakin bersikap baik kepadanya begitu juga dengan Mama Mariana. Lura seperti mempunyai keluarga baru.


Lura berpikir hanya Putri orang terdekatnya saat ini. Selagi dia belum menikah dengan pria yang sudah melamarnya. Lura akan terus bersama gadis itu.


Seperti sekarang ini. Lura sedang menemani Putri kontrol ke rumah sakit yang ada di luar negeri. Pak Antoni dan Mama Mariana juga ikut ke sana. keberadaan mereka berempat terlihat sangat bahagia. Orang lain pasti mengira kalau mereka adalah keluarga.


Usai melakukan pengobatan pada Putri, Mereka bersantai sejenak di taman yang ada di halaman rumah sakit. Mama Mariana, Putri dan Lura ada di taman itu.


Tak lama Lura meminta ijin pada Mama Marina untuk ke toilet sebentar. Alasannya sudah tidak tahan ingin buang air kecil, padahal tidak. Pikiran Lura tak lepas dari Catra dan Mama Liona. Bagaimana keadaan Catra sekarang. Lura juga ingin sekali mendengar penjelasan dari Mama Liona.


Sejenak ia terdiam. Bagaimana rasanya dimanja oleh ibu kandungnya sendiri. Lura bisa melihat berapa lembutnya Mama Liona kepada Catra. Sangat tulus dan begitu menyayangi.


'Apa Tante Liona akan bersikap lembut dan tulus juga padaku? Apakah dia sudah tahu kalau aku adalah putrinya? Atau... kehadiranku memang tak diharapkan olehnya? Lalu siapa ayahku?' pikir Lura saat ia memandangi tampilan wajahnya di cermin.


"Apa Catra sudah sadar?" gumam Lura sambil memejamkan mata, selintas bayangan Catra yang jahil padanya sambil tertawa hadir dalam benaknya.


"Aku rindu kamu, Catra. Pemilik kehormatanku!" Ucap Lura pelan sambil memegangi gelang silver berukiran bunga pemberian dari Catra.


Setelah membasuh muka agar menyegarkan wajahnya. Lura hendak kembali ke taman. Langkahnya terhenti saat mendengar suara Pak Antoni sedang berbicara serius dengan Dokter Renaldi, dokter yang menangani perawatan Putri selama ini.


Lura bersembunyi di balik tembok, tidak ada niat untuk menguping. Tapi Lura penasaran dengan keadaan Putri saat ini.


Pak Antoni terlihat begitu serius berbicara dengan Dokter Renaldi.


Lura mendengar pembicaraan mereka soal upaya apa yang harus dilakukan untuk Putri selanjutnya.


"Apa tidak ada cara lain selain pencangkokan sumsum tulang belakang pada Putri, Dok?" Tanya Pal Antoni serius.


"Sampai saat ini tidak ada, Pak! Memang sulit mendapatkan pendonor. Sebab sangat jarang bahkan perbandingan ya bisa 100 banding 1, itupun jika ada. Kalaupun ada itu sebuah keajaiban. Jika dari Anda dan istri tidak bisa melakukannya, ya salah satunya dengan mencari saudara sedarah dengan Putri," Dokter Renaldi menjelaskan.


Pak Antoni menghela napas berat lagi-lagi cara itulah yang paling baik untuk Putri.


"Baiklah dokter, terima kasih. Do'akan semoga ada keajaiban untuk Putri," Ucap Pak Antoni sambil berjabat tangan dengan Dokter Renaldi. Kedua pria berumur itupun berpisah. Dokter Renaldi kembali ke dalam ruangannya sedangkan Pak Antoni berjalan menuju taman.


"Om," panggil Lura.


Seketika Pak Antoni menoleh ke sisi. "Lura..."

__ADS_1


Di bangku besi tak jauh dari ruangan Dokter Renaldi, Pak Antoni mengajak Lura duduk sebentar. Lura pun menuruti ucapan beliau.


"Kamu pasti sudah mendengar semua pembicaraan kami." Pak Antoni menoleh ke arah Lura.


"Maaf, Om. Aku tidak bermaksud menguping obrolan kalian." Lura menundukkan kepala. Ia takut Pak Antoni marah padanya.


Melihat itu, Pak Antoni mengerti jika Lura masih merasa segan kepadanya.


"Tidak usah segan atau takut padaku. Anggaplah kami sebagai orang tuamu! Aku dan istriku harus mengucapkan terima kasih padamu. Beberapa bulan ini keceriaan Putri nyata terlihat oleh kami. Semua karena kehadiran dirimu."


Lura mendongak menatap Pak Antoni. Katanya terlihat berkaca-kaca, ada kebahagiaan datang di saat kesedihan melanda hatinya.


Setetes buliran bening mengalir di pipinya. "Terima kasih, Om. Kalian sudah mengijinkanku tinggal bersama kalian dan memberikan rasanya tinggal bersama orang tua yang utuh." Lura berbicara sambil menatap Pak Antoni.


Ucapan Lura mampu membuat hati Pak Antoni terenyuh, Ia mengusap air mata yang menetes di pipi Lura.


"Mulai saat ini anggap kami sebagai orang tuamu!"


"Benarkah? Apa boleh?" Lura merasa tidak percaya. Mendengar ucapan Pak Antoni seakan menghilangkan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Anggukan dari Pak Antoni membuat Lura menggenggam tangannya sendiri. Ia ingin memeluk raga pria yang ada di hadapannya tapi merasa canggung. Pak Antoni memahami itu. Tanpa Lura duga Pak Antoni merentangkan tangannya, Lura melihatnya. Anggukan dari Pak Antoni berhasil membuat Lura berhambur pada pelukan pria tua itu. Mereka saling memeluk erat.


Lura mengangguk cepat. "Mau, Om!" Lura mengangguk pelan. Tapi bayangan Mama Liona sejenak terbesit dalam pikirannya. Segera Lura melepaskan pelukannya.


"Kenapa?"


"Aku sudah tahu siapa mama-ku, Om!"


Pak Antoni menatap serius pada Lura. "Benarkah? Siapa?"


"Dia---," ucapan Lura terpotong saat Mama Mariana datang bersama beberapa perawat sambil mendorong brankar dan Putri 'lah yang sedang mereka bawa.


"Putri," pekik Lura saat ia melihat Putri berbaring di atas brankar.


Pak Antoni segera berdiri dan mendekati istrinya.


"Apa yang terjadi, Mah?" Tanya Pak Antoni.

__ADS_1


"Putri mimisan dan tiba-tiba pingsan, Pah!" seru Mama mariana.


"Hal ini pasti terjadi, tubuhnya semakin lemah."


"Lakukan apapun, Pah! Selamatkan Putri, dia baru akan merasakan kebahagiaan bersama orang yang menerima kekurangannya," pinta Mama Mariana dengan sedih sambil memeluk suaminya. Ia menumpahkan rasa sedih pada pria yang selama ini sudah berusaha kerasa atas kesembuhan Putri.


Lura hanya bisa diam. Ia ikut mengikuti suster yang mendorong brankar ke ruangan UGD.


Saat ini, Pak Antoni, Mama Mariana dan Lura sedang menunggu di luar ruangan. Menunggu tindakan yang sedang dilakukan tim medis pada Putri.


 


Di rumah sakit lain. Seorang pria bertubuh kekar berbaring tengkurap di atas brankar. Pria itu sudah sadar dari koma nya. Kehilangan banyak darah membuat Catra harus berjuang untuk hidupnya.


"Ra," panggil Catra dengan suara paraunya.


"Ini, mama, Sayang!" Mama Liona meraih jemari Catra dan menggenggamnya.


Catra berusaha mengumpulkan tenaga agar bangun dari tengkurapnya.


"Kamu masih sakit, Nak!" Mama Liona berusaha mencegah. Tapi Catra tetap keras kepala. Ia masih berusaha bangkit. Akhirnya Mama Lion terpaksa mengikuti kemauan Catra.


"Pelan-pelan, luka di bahu dan pinggang bagian bawahmu masih basah. Beruntung peluru itu tidak mengenai ginjalmu!" Mama Liona membantu Catra agar bersandar di bantal. Wanita itu sengaja mengubah posisi brankar agar Catra lebih leluasa dengan posisinya saat ini.


"Lura ... Mana, Mah?" tanya Catra sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cintai.


Mendengar pertanyaan Catra, Mama Liona kembali teringat dengan Allura.


"Apa Lura yang kamu ajak ke rumah adalah pemilik kalung ini, Nak?" Mama Liona malah balik bertanya kepada Catra.


Semenjak mendapati kalung itu, Mama Liona tidak bisa tenang. Hatinya dan pikirannya terus terpaut pada seorang gadis yang datang bersama Catra ke rumahnya, beberapa hari lalu. Entah mengapa perasaan Mama Liona yakin jika dia adalah putrinya yang hilang.


.


.


.

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya. baca terus ceritanya ya, maaf jika slow update karena author adalah seorang ibu rumah tangga, penjual soto sekaligus jaga toko. Jadi mencuri waktu menulis itu di saat pelanggan sepi. Harap maklumi..


Jangan lupa like komen kalian ya......


__ADS_2