
Makanan yang dicari sudah didapat. Farrel kembali melajukan kendaraan roda duanya melesat cepat melewati jalanan ibu kota yang begitu ramai malam ini.
Sebab malam ini adalah malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran dan berkencan.
“Terima kasih sudah mengantarkanku,” ucapku saat Farrel hendak pergi.
“Jangan berterima kasih, itu sudah tugasku!” Elak Farrel.
“Rel!”
“Hm...”
“Apa kamu akan menemui orang tuamu malam ini?” Tanyaku.
“Ya, aku akan ke rumahku dulu,” Jawabnya.
“Oh....” Desisku.
“Kenapa, Ay!”
“Ah, tidak pa-pa!” Aku terdiam sesaat.
Farrel tahu apa yang aku pikirkan. Dia meraih tangan ini lalu menggenggamnya.
“Aku akan mengenalkanmu pada mereka nanti! Aku janji hanya kamu yang akan aku bawa sebagai calon istriku,” ucapnya tegas padaku.
Seulas senyum aku berikan.
“Masuklah sudah malam!” lanjutnya. Farrel perlahan melepaskan genggamannya.
“Rel!” panggilku lagi untuk yang kedua kalinya.
“Apa, Ay?”
“Kamu tidak lupa akan janjimu untuk lepas dari---,” ucapanku terpotong takut ada yang mendengar kelanjutannya.
“Aku janji, Ay!”
Senyum mengembang kuberikan padanya saat dia berbicara, berharap dia memenuhi janji dan ucapannya padaku.
Lambaian tangan ini terhenti ketika kulihat Farrel hilang dalam pandangan.
‘Semoga kamu bisa melewati semua ini, Rel. Aku janji akan melewati semua ini bersamamu.’
Batinku.
Sadar dengan barang yang kubawa, aku segera masuk. Ingin segera menikmati makanan kesukaan kami. Mantap sekali jika makan sambil di temani susu jahe hangat malam ini. Secara baru hujan turun dengan derasnya di sini.
***
__ADS_1
Beberapa hari berlalu setiap hari aku jalani kegiatanku seperti biasanya. Tak ada yang berbeda. Perasaan ini terus memikirkan dia, bagaimana keadaannya. Tapi aku merasa bersyukur, Farrel lebih terbuka dan jujur kepadaku saat ini. Ia selalu meminta maaf kepadaku jika dia masih belum mampu lepas dari jeratan obat terlarang itu.
Hari ini aku bertekad untuk menghubungi Ibu dari kekasihku itu, berharap kami bisa bertemu.
Kukirim pesan yang bertuliskan semua tentang Farrel. Ternyata benar, tak lama beliau menghubungiku. Meminta kami bertemu.
“Saya berbicara dengan siapa?” tanyanya kepadaku dari seberang telepon.
“Aku Lura, Bu!” jawabku gugup. Baru kali ini aku berbicara dengan wanita yang telah melahirkan Farrel.
Dari nada bicaranya terdengar lembut dan bijaksana. Semoga setelah bertemu nanti ada titik baik buat Farrel.
“Allura charya, apa itu namamu?”
“Betul, Bu!”
“Bisakah kita bertemu 2 jam lagi?” ucapnya dan aku lekas melirik jam di tanganku.
“Bisa, Bu! Kebetulan saya baru pulang kerja.”
“Di mana kita bisa bertemu?” lanjut Ibunya Farrel.
“Maaf, kalau Ibu tidak keberatan. Kita bertemu dekat tempat kerjaku,” pintaku padanya.
Dan beliau menyetujuinya.
D'Polaria, cafe yang ada di lantai satu tempatku bekerja kami bertemu.
Kulihat seorang wanita berpenampilan sosialita duduk dengan anggun di dalam sana.
Perlahan kudekati dia.
“Permisi,” ucapku dan dia lekas mengalihkan atensinya padaku.
“Allura?” tanyanya.
aku mengangguk pelan membenarkannya. “Iya, Bu, panggil saja saya, Lura!” pintaku
Wanita di hadapanku mengangguk pelan.
“Silakan duduk ! Saya Prita Rahmadi Ishaq, Ibu dari Farrel. Maaf saya tidak bisa bicara panjang lebar dengan kamu. Saya harus menemani ayahnya Farrel dalam pertemuan antar partai malam ini.” Wanita di depanku langsung meminta aku bicara pada intinya.
Aku merasa heran, padahal aku sudah menjelaskan kepadanya perihal permintaanku bertemu dengannya saat ini. Aku merasa wanita ini juga seakan tidak peduli dengan anaknya.
“Baik, Bu. Maaf sudah mengganggu waktu Anda. Sya juga meminta maaf telah lancang mencuri nomer ponsel Anda dari Farrel. Saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi,” ucapku.
Tak mau melewatkan waktu aku segera berbicara inti dari pertemuanku. Wanita di depanku terlihat mengerutkan alisnya tanpa menyela setiap perkataan yang aku ucapkan padanya.
Semua yang aku ketahui tentang Farrel aku ucapkan. Dia bertanya padaku, kapan aku mengetahuinya. Tak ada yang aku lewati sedikit pun tentang Farrel padanya.
__ADS_1
Termasuk perasaan anaknya terhadap semua sikap orang tuanya termasuk dirinya.
“Maaf, Bu jika saya apa yang saya ucapkan menyinggung perasaan Anda.” Aku tertunduk setelah mengungkapkan semuanya.
Ada perasaan lega saat mengungkapkan ini semua. Aku tahu ini salah. Farrel pasti kecewa padaku, tapi jika tidak memberitahu mereka akan sulit buat Farrel untuk sembuh.
“Kenapa kamu begitu simpati dengan putra saya, apa kalian ada hubungan selain berteman?” tanyanya kepadaku.
Mendengar itu aku bingung harus menjawab apa. Sebab seingatku Farrel pernah bilang orang tuanya melarang dia berpacaran sebelum kuliahnya selesai.
Akhirnya kuungkapkan semua. Hubungan yang telah terjalin hampir satu tahun ini. Mendengar itu, Bu Prita lekas bertanya kepadaku.
“Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliah?”
“Aku tidak punya biaya, Bu!”
Bu Prita semakin menatap heran kepadaku.
“Memangnya siapa orang tuamu? Dan di mana tempat tinggalmu?” Bu Prita semakin mendesak dengan berbagai pertanyaan kepadaku.
“Aku anak Panti Asuhan Cahaya Abadi, Bu! Aku tinggal dan di besarkan di sana,” Jawabku gugup. Aku merasa ada yang berbeda dari raut wajah Bu Prita setelah mendengar penuturanku barusan.
Aku takut mereka mengira karena bersamaku, Farrel berubah seperti ini. Tak peduli, sekarang ini, aku butuh bantuan mereka untuk menyelamatkan kekasihku itu. Sebab mereka harus tahu dan ikut andil untuk penyembuhan Farrel, mereka tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja karena mereka adalah orang tuanya.
“Sebelumnya saya berterima kasih kepada kamu Lura karena telah memberitahu keadaan putra saya selama ini. Memang saya merasakan ada perbedaan pada fisik dia. Tapi karena kesibukan kami, saya mengabaikannya. Saya memilih terus berasa di samping suami saya sebab saat ini.”
“Lalu bagaimana dengan Farrel, Bu! Dia harus segera di selamatkan. Saya tidak tega melihat dia kesakitan.”
Kulihat wanita itu tersenyum tipis melihat wajah kekhawatiranku.
“Kami akan membawa dia pergi secepatnya untuk pengobatan. Kamu tidak perlu khawatir!” Bu Prita menjeda ucapannya lalu menatapku serius.
Perasaan ini mulai tidak tenang. Aku merasa ada sesuatu aneh dari tatapan matanya.
.
.
.
...--Bersambung--...
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘
__ADS_1