Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Seganas Apa Dia Di Ranjang


__ADS_3

Mamih Rosa meninggalkan Mely di kamarnya. Beberapa orang anak asuh yang biasa disebut kupu-kupu saling mengintip penasaran dengan apa yang terjadi di kamar itu.


"Kenapa lu, Mel? Ketahuan sama Mamih suka kerja dobel layanan," sindir Ocha sambil tersenyum puas melihat penderitaan Mely. Salah satu kupu-kupu malam yang selalu berdebat dengan Mely. "Kenapa gak sekalian kabur aja kaya si Lura! Kalah pintar lu sama anak baru! Tapi gue gak nyakin tuh bocah tenang di luar sama secara anak buah Mamih Rosa lagi ngejar-ngejar dia! Bakalan mampus tuh bocah," ucap Ocha sembari melipat tangan di dadanya. Berdiri di ambang pintu kamar Mely menarap puas keadaan Mely saat ini.


Mendengar ocehan Ocha, Mely berjalan mendekati wanita itu. "Udah puas? Apa masih mau berkoar, lu rugi gitu sama apa yang gue lakuin sama Lura? Apa mau ambil jatah kaya Mamih? Meskipun gue double layanan tapi pelanggan gue puas, enggak banyak komen dan komplain dari pelanggan soal pelayanan gue. Bahkan bonus yang mereka kasih gede, gak harus nyuri bayaran di dompet pelanggan." Mely menatap kesal dengan tatapan meremehkan kepada Ocha. Mulut perasaan harus di balas pedas.


"Eh, maksud lu apa ngomong kaya gitu?" Icha tersulit emosi mendengar ucapan Mely yang sewakan meledeknya. Ocha siap menerang Mely.


"Apa, emang bener 'kan apa yang gue bilang? modus ngelayanin, tapi tangan lu nyolong!" balas Mely sambil melotot dan berkacak pinggang menantang Ocha.


"Mulut lu, gue sobek juga," hardik Ocha sambil masuk ke dalam kamar Mely.


Perdebatan sengit pun terjadi. Ocha tidak mau kalah dari Mely. Mereka kembali berdebat. Saat Ocha akan menyerang Mely, ia di hadang oleh salah seorang anak buah Mamih Rosa yang datang menghampiri mereka berdua.


"Hentikan," Pria bertubuh kekar itu menarik Ocha agar keluar dari kamar Mely.


"Apaan sih? lepasin tangan gue, biar gue sobek tuh mulut si Mely!" Ocha memberontak berusaha melepaskan tangannya yang ditarik oleh pria bertubuh kekar itu.


"Kalau kalian bikin kegaduahan, saya masukan ke kamar penyekapan!" sarkas pria itu.


Ocha kembali memberontak, menarik tangannya paksa dari cekalan anak buah Mamih Rosa.


"Awas gue bakal bikin perhitungan sama lu!" sungut Ocha seraya menunjuk Mely dengan geram kemudian berlalu meninggalkan kamar Mely.


"Gue gak takut sama lu!" balas Mely tak mau kalah.


"Udah Mel, gak usah diladenin orang macam Ocha," ucap Misca teman sebelah kamar Mely. "Mau gue bantu obatin lukanya?"


"Gak perlu ... Terima kasih! Gue bisa obatin sendiri lukanya. Sorry ya, Mis! gue mau istirahat dulu!" Mely hendak menutup pintu kamarnya merasa lelah melewati hari ini.


***


"Lepasin gue!" teriak Pacho berusaha melepaskan diri dari anak buah Mamih Rosa yang membekuk dirinya.


"Cat, tolongin gue!" Tak ada balasan dari Catra. Pria tampan nanti gagah itu terus melenggang meninggalkan Pacho terus berjalan menuju ruanagn Mamih Rosa.


"Shitt, kurang asem, lu!" gerutu Pacho. "Lepaskan! Gue ke sini mau bayar ganti rugi sama bos lu!" Mendengar ucapan Pacho anak buah Mamih Rosa langsung melepaskannya.


Mereka mengenali Pacho sebab pria itu sempat beberapa kali datang ke Butterfly Club. Dan terakhir kali saat membooking Lura, saat ini Pacho juga menjadi incaran anak buah Mamih Rosa karena mereka tahu kalau Lura menghabiskan malam itu bersama Pacho.

__ADS_1


"Kalian datang juga!" ucap Mamih Rosa sembari menghisap sebarang roko di tangannya kemudian bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. Berjalan anggun mendekati Catra yang berdiri gagah dan tegak di hadapannya.


"Bagaimana kabarmu, Sayang!" Tangan Mamih Rosa bergerak membelai wajah tampan Catra terus menuruni dada bidangnya.


"Kamu tidak menyembunyikan kupu-kupu Mamih, bukan? Jangan bilang Lura hanya kabur padahal kamu kurung dia untuk kepuasanmu sendiri."


Catra tersenyum miring mendengar ocehan Mamih Rosa.


"Apa saya terlihat kekurangan uang untuk membayar wanita bayaran milik Anda, Nyonya!" celetuk Catra dengan wajah dinginnya menatap Mamih Rosa.


"Hahaha... Mamih percaya padamu!" Mamih Rosa menepuk pelan dada bidang Catra.


Wanita dengan erpenampilan seksi serta gaya glamornya itu kembali duduk. Dia juga mempersilakan Catra dan Pacho untuk duduk.


"Silakan duduk!"


Pacho langsung mengikuti perintah Mamih Rosa tidak dengan Catra.


Brak...


Segepok uang bernilai puluhan juta Catra gebrakkan di atas meja. Membuat Pacho tersentak kaget dibuatnya.


Hari ini, dua kupu-kupu miliknya dibayar para pelanggannya. Mereka terpesona oleh kedua anak asuh miliknya. Mamih Rosa tidak bisa melewati kesempatan ini begitu saja.


"Kamu terpikat dengan anak asuh, Mamih!" Mamih Rosa terkekeh pelan. "Sorry, mamih tidak bisa melepaskannya begitu saja. Dia berhutang besar sama Mamih, bahkan hutang kekasihnya belum lunas ia bayar. Jadi, Mamih belum bisa melepaskannya." Mamih Rosa kembali memasang wajah tegas kemudian menyalakan pematik api lalu menyalakan roko di tangannya.


"Uang yang saya berikan jumlahnya besar, bahkan saya melebihi uang yang Anda minta!" Catra mulai tersulut emosi. Ia merasa Mamih Rosa mulai mempermainkannya.


"Terserah, kalau tidak sanggup ya tidak usah! Mamih pasti mendapatkan Lura kembali. Dia harus melanjutkan sisa hutangnya kepadaku." Mamih Rosa berbicara santai sambil menghisao sebatang roko di tangannya.


'Wanita licik, gue paham dia sedang mempermainkan gue! Silakan nikmati permainan kami sekarang. Tak lama lagi aku akan meringkus bisnis harammu ini berserta pria kebanggaan yang selalu melindingimu itu.'


Batin Catra sambil tersenyum miring menatap Mamih Rosa.


"Anda pintar sekali memanfaatkan keadaan Nyonya!"


"Bukankah itu bagus" lanjut Mamih Rosa.


Pacho hanya memandang Catra dan Mamih Rosa bergantian.

__ADS_1


Catra terdiam sejenak. Pacho pun tidak mau melewatkannya. "Cat, lu beneran mau nebus tuh lacur?" bisik Pacho. "Mantep banget ya, layanannya? Ah ... Rugi banget gue gak ikut nyicipin," oceh Pacho membiar Catra meliriknua dan memberika tatapan tajam pada sahabatnya itu.


"Ok... ok... Gue diem!" Tanpa berbicara pun Pacho mengerti arti tatapan Catra.


"Saya akan tetap menebus wanita itu. Dengan syarat anak buah Anda harus mencarinya dan menyerahkan dia pada saya!"


Senyum merekah di wajah Mamih Rosa. Mendengar penuturan Catra. Mucikari itu lekas mengambil segepok uang yang ada di hadapannya.


"Mamih tunggu kekurangannya, segera!"


Catra hanya menatap Mamih Rosa dengan penuh amarah. Ia sudah tidak sabar ingin membekuk wanita itu. Benar-benar pintar memeras orang lain. Pantas saja banyak yang menderita karena ulahnya. Sebab tidak hanya menjadi seorang mucikari dan bandar narkoba. Tapi dia juga seorang lintah darat yang tidak kenal ampun pada setiap mangsanya.


Sedangkan Pacho, pria itu menatap heran sahabatnya. 'Gila, Catra. Dikasih apa dia sama lacur itu, sampai rela ngeluarin banyak duit demi dia. Jadi penasaran seganas apa tuh lacur di ranjang.'


Pikir Pacho sambil menatap Catra penuh selidik.


.


.


Bersambung


Mudah mudahan masih ada yang setia baca karya ini.


Dan tidak lupa meninggalkan jejaknya di kolom komentar.


Semangat Senin....


Vote... Vote....


Yang punya banyak Vote, jangan lupa kirim ke sini 😁😁


Promosi maning.....


Mampir ya ke karya ini. Seru deh ceritanya..



Jangan lupa mampir yak!

__ADS_1


__ADS_2