
Dina menatap serius ke arah arahku. “Lu pernah lihat dia pake barang haram itu?” tanya Dina penuh selidik kepadaku.
Aku pun mengangguk menjawabnya.
“Tapi itu secara diam-diam, itu pun karena gue ngikutin dia ke toilet. Gue curiga dengan sikapnya yang tidak biasa.”
“Berarti mulai ke depannya lu harus jauhi Farrel, Ra!” Larang Dina. “Gue gak mau lu ikut terjerumus kayak dia!” ucap Dina tegas kepadaku.
“Farrel tidak pernah ngajak gue memakai barang itu, Din!” tangkasku.
“Tapi bisa saja, makin lu dekat sama dia, lu bisa terbawa sesat. Ingat, Ra! Kita di sini buat cari buang. Memperbaiki nasib, lu juga sayang kalau sampai kuliah lu harus berhenti di tengah jalan karena lu terjerumus dalam barang haram itu.” Dina memperingatiku.
Aku menggeleng lemah. “Farrel masih menyembunyikannya dari gue, Din! Gue harus bantu dia terbebas dari barang haram itu.”
“Gue gak setuju, lebih cepat berakhir lebih baik. Sorry! Gue tahu lu cinta banget sama Farrel, tapi hubungan kalian berdasar dari kasta yang berbeda. Orang tua dia juga tidak setuju ‘kan Farrel menjalin kasih untuk saat ini. Meskipun lu bilang dia tertekan oleh orang tuanya tapi kalau dia sudah salah memilih jalan. Gue hanya takut lu bakal jadi imbasnya, Ra! Gue peduli sama lu, gue gak mau lu kenapa-napa!” Dina berucap serius dengan wajah yang begitu khawatir ia tunjukkan.
“Makasih, Din! Lu udah baik banget sama gue. Tapi gue mau Farrel jujur sama gue. Kalaupun memang gue dan dia tidak bisa sama-sama gue ikhlas. Yang pasti kita mengawali hubungan secara baik-baik. Gue juga mau berakhir baik-baik. Dia butuh gue buat saat ini. Gue mau dengar apa reaksinya setelah gue tau kebiasaannya. Kalau Farrel mau stop dari barang haram itu, gue bakal bantu dan terus berada di samping dia. Kalau dia tetap tidak bisa berubah, gue mundur!” balasku sambil membuang napas berat.
“Lu mau masih mau kasih kesempatan buat Farrel?”
Aku mengangguk pelan.
“Gue tahu dia melakukan ini karena tekanan. Rasanya jika gue berpaling dari dia saat ini, keadaannya akan semakin hancur, Din!” Aku menjeda ucapanku.
“Gue adalah alasannya kenapa dia bertahan dengan semua keinginan orang tuanya. Dia ingin mendapatkan kehidupan lebih baik buat gue dan dia nanti, tapi sayangnya cara Farrel salah. Kenikmatan sesaat dari barang haram itu mungkin membuat Farrel lupa akan tekanan batinnya. Gue harus tolong dia, Din!"
Dina menggelengkan kepala dengan keputusanku.
“Kisah lu sama kaya film yang kemarin kita tonton, Ra!”
Aku mengerutkan alis tak mengerti maksudnya.
"Maksud lu?" tanyaku tak mengerti.
“Itu loh, pecandu insyaf karena wanita bercadar! Sayangnya lu gak pakai cadar,” ledek Dina mencairkan suasana.
Perasaan sedih dan kalut yang kurasakan seketika tertawa kecil mendengar ucapan Dina.
“Lu bisa aja!” elakku. “Tapi kalau dipikir-pikir, gue bisa ambil pelajaran dari itu film, Din!” Tiba-tiba saja ide muncul di benakku. Sebab kisah dalam film itu sama dengan kisahku dengan Farrel.
__ADS_1
“Hahaha... Ada gunanya juga lihat film begituan ya, Ra. Bisa lu pakai buat pelajaran.” Dina ikut terkekeh.
Aku menghela napas yang tersengal akibat tertawa bersama Dina.
Sesaat kemudian Dina kembali menatapku serius.
“Saran gue hanya satu, jangan pernah ikut terhanyut dalam kenikmatan yang dirasakan sesaat, Ra! Lu harus pintar membawa diri. Kita di sini buat cari duit supaya bisa nyambung hidup cari kehidupan yang lebih baik.” Dina memberi nasihat terbaiknya padaku ucapannya itu mengingatkanku akan nasihat yang Bu Rahma berikan. Ucapan yang sama seperti dengan apa yang diucapkan Dina.
“Do’ain gue, Din!” Dina mengangguk pelan lalu membalas ucapanku. “Pasti!” ucapnya.
“Thanks banget, Din! Lu emang temen rasa saudara buat gue!” Aku menggeser tubuhku sedikit agar mendekat pada Dina.
Kami saling berpelukan. Saling memberi support dan saling mengingatkan. Di kota besar ini teman adalah saudara. Tempat kita berbagi di saat kita jauh dari keluarga.
“Gue dan Lu, kita teman rasa saudara, Ra! Kalau tidak saling mengingatkan apa jadinya kita di tempat orang. Di sini kita menumpang. Pandai-pandailah mencari teman,” ucap Dina membuat hati ini merasa bersyukur.
“Gue bersyukur banget bisa di sini sama lo!” ucapku.
“Tapi inget Ra! Lu harus tetep hati-hati sama Farrel. Lebih cepat lebih baik agar bisa memastikan semuanya. Barang kali lu bisa kasih tau ortunya Farrel soal ini.” Dina memberi ide padaku.
“Gue belum pernah ketemu orang tuanya, Din! Farrel anaknya saja susah buat ketemu apalagi gue!”
“Pusing deh gue sama hidup kalian berdua! Sudahlah! Jangan terlalu di pikirkan. Sayang banget liburan gini, malah galau kayak gini! Nih ...” Dina menyodorkan camilan kesukaannya kepadaku.
“Mendingan nonton film India kesukaan gue! ” Dina merubah posisinya. Rebahan di atas karpet bermotif macan tutul, dengan kepala beralaskan boneka beruang besar miliknya.
“Dih, film India! Film drakor dong sekali-kali,” tolakku tapi aku tidak bisa merubah tontonan film kali ini. Sebab hari ini adalah jatah Dina nonton sepuasnya. Kami memiliki jadwal sendiri untuk menonton film.
Aku dan Dina memilih memasang wifi di kontrakan kami. Sebab kami berdua pecinta nonton drama. Sehabis pulang kerja aku dan Dina menghabiskan waktu buat nonton lumayan kan mengurangi ongkos ke bioskop.
Aku dan Dina menghabiskan sisa liburan dengan menonton film-film favorit kesukaan kami. Meski tak bisa dipungkiri olehku, bayangan Farrel masih terus mengganggu pikiranku.
Ingin rasanya kembali bertemu untuk memastikan keadaannya.
Rasanya sangat kejam jika aku harus meninggalkan Farrel di saat keadaannya seperti ini.
Aku harus mencari cara agar bisa bertemu orang tua Farrel. Aku sangat yakin dia juga menyembunyikannya dari kedua orang tuanya itu. Sebab Farrel termasuk anak yang sangat menghormati dan menuruti apapun perintah mereka.
Ayah Farrel bukanlah orang sembarangan. Dia adalah pengusaha terkenal yang sedang mencalonkan diri menjadi gubernur. Aku sangat paham jika Farrel tidak mau orang tuanya tau tingkah lakunya. Tapi aku ingin kekasihku sembuh, tidak semakin terjerumus pada lembah hitam.
__ADS_1
Ragaku sedang bersama Dina saat ini. Tapi pikiranku terus memikirkan Farrel. Daripada terus penasaran aku mencoba menghubunginya.
Aku mengembuskan napas berat satu usaha menghubungi Farrel sia-sia.
Kucoba mengirimkan satu pesan chat kepadanya.
Lura
📩
[Farrel... Apa yang sebenarnya terjadi?]
Pesan terkirim dan menampilkan centang dua di sana, masih belum terbaca. Aku kembali mengirimkan chat padanya.
📩
[Aku sangat mengkhawatirkanmu!]
Lagi-lagi pesannya terkirim dan masih belum terbaca.
'Urusan apa yang membuat dia sesibuk ini!’ batinku.
Tidak menyerah aku mengirimkan lagi pesan terakhir untuk Farrel.
📩
[Tolong hubungi aku jika urusanmu selesai. Banyak yang harus kita bicarakan!]
Dan itulah pesan terakhir yang aku kirimkan. Berharap Farrel segera membalasnya.
.
.
.
...Bersambung
...
__ADS_1