
Ingin menghabiskan malam bersama keluarga. Nyatanya tidak bisa bagi seorang Catra. Usai makan malam bersamanya keluarga, Catra langsung pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang.
Di sebuah hotel bintang lima. Catra bersama Pacho serta dua orang yang akan membantu mereka berbincang serius soal sebuah rencana besar yang sudah di siapkan sebelumnya.
Catra akan menjadi pelanggan baru bagi wanita yang namanya banyak di kenal di dunia gelap itu. Dunia yang biasa disebut oleh para pelaku usaha bisnis haram, dunia yang sudah lama diselami oleh Mamih Rosa.
Kedua orang yang akan membantu Cara membongkar sindikat bandar narkoba dan perdagangan manusia hendak memberikan beberapa informasi akurat soal serpak terjang Mamih Rosa dalam berbisnis.
“Kami akan terus mengawasi pergerakan wanita itu, Tuan! Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk membongkar semuanya. Hanya kita perlu bukti kuat untuk itu semua!” ujar salah satu orang suruhan Catra.
“Ya, saya akan turun tangan langsung! Biar saya yang akan menjadi mangsanya saat ini!” balas Catra.
“Ya lebih baik seperti itu agar Kita bisa menentukan tindakan apa selanjutnya, karna wanita ini selalu lolos dalam penggerebekan. Bahkan barang haram yang nilainya fantastis itupun selalu lolos dalam incaran polisi diduga ada orang yang melindunginya.”
Catra dan Pacho mengangguk pelan membenarkan setiap ucapan orang suruhan Catra itu.
Selama satu jam mereka terus membicarakan rencana yang akan diambil untuk langkah selanjutnya. Ternyata tidak hanya Catra yang akan turun tangan sendiri sebagai pelanggan baru tapi ada beberapa orang suruhan Catra yang akan ikut peran di dalamnya.
Tak lama kedua orang suruhan terpercayanya itu, pamit undur diri.
“Untuk informasi selanjutnya saya akan mengabari Anda, Tuan! Kami permisi” ucap pria tersebut.
“Terima kasih atas kerja samanya,” ucap Cara sambil mengulurkan tahan kepada dua orang yang bertugas mengawasi Mamih Rosa beberapa minggu terakhir ini.
Setelah kedua orang suruhannya pergi, Catra masih memegang berkas hasil penyelidikan kedua orang itu.
“Shitt... Ternyata benar, tersangka bunuh diri itu adalah anak buah wanita itu! Bisa jadi ia mati karena ancaman,” ucap Catra setelah meneliti beberapa hasil penyelidikan tentang wanita itu.
Pacho sedikit menoleh melihat berkas di tangan Catra.
“Bandar narkoba sekaligus seorang mucikari! Wah ... Lu bisa manfaatin sambil senang-senang, Bro! Banyak wanita malam di sana,” celetuk Pacho sambil kerlingan matanya kemudian tersenyum jahil. “Lu bisa coba pilih banyak wanita di tempat itu!”
“Dipikiran lu hanya wanita saja, silakan lu pilih kalau lu mau!”
“Telat, gue sudah minta Mamih Rosa mengirimkan salah satu wanita ke hotel ini buat menemani gue!” balas Pacho.
“Berapa wanita?” tanya Catra.
“Satu”
“Ckk ... Kenapa hanya satu?” tanya Catra kesal.
Pacho menyeringai tipis. “Bukannya lu udah punya partner ranjang yang aduhai itu?”
Catra mengerutkan Alis tak mengerti.
“Jangan pura-pura tidak mengerti! Alice, partner ranjang lu!... Bukankah akan ada bau-bau pernikahan antara kalian?”
__ADS_1
Catra tersenyum ketus. “Tidak akan pernah! Meskipun gue sering bersama dia. Tapi Perasaan gue sama dia hilang begitu saja, saat mengetahui kalau Alice tidak hanya bermain dengan satu pria. Bahkan sama teman gue dia berani menjual tubuhnya. Awalnya gue memang ingin bertanggung jawab tapi saat gue tahu dia hanya menjebak gue. Semuanya berubah, gue balik memanfaatkan dia!”
“Menjadikannya pelampiasan napsu saja!” lanjut Pacho.
Catra tersenyum kecut. “ Karena itu gue tidak akan percaya pada wanita. Mereka tidak pernah ada yang tulus! Sudahlah, lagian malam ini gue mau balik ke rumah! Gak ada waktu bermain wanita.”
Pacho membalasnya dengan tatapan jengkel.
“Tidak peraya? Tapi lu nyari pelampiasan sama wanita, dasar aja lu doyan!” sendirinya.
“Sorry sudah buat kalian menunggu, Mamih!” ucap seorang wanita yang datang tiba-tiba.
Catra lekas menutup berkas dan menyembunyikan berkas itu. Ketika mendengar seseorang berbicara.
Tanpa di suruh Mamih Rosa langsung duduk di antara mereka.
Catra menatap Pacho tajam. Bisa-bisanya temannya itu menyuruh wanita yang menyebutnya mamih itu untuk bertemu di tempat yang sama dengan orang suruhan Catra.
Tatapan tajam dari Catra mewakili bibirnya berbicara seakan mempertanyakan kenapa wanita itu datang ke sana.
“Gue malas cari tempat lagi jadi sekalian aja disini, lagian tetapi ini privat ko!” bisik Pacho menjelaskan maksudnya.
Catra menoleh ke arah Mamih Rosa. Tetap wajah datar dan dingin ia berikan.
“Apa Anda bawa pesananku?” tanya Catra tanpa basa basi.
Tanpa banyak bicara Catra mengeluarkan uang segepok ke hadapan Mamih Rosa.
“Totalnya 50 juta!”ucap Catra menyodorkan uang tersebut.
Melihat uang di depan antanya Mamih Rosa tersenyum senang kemudian lekas mengambilnya lalu dimasukkan ke dalam tasnya.
Mamih Rosa melambaikan tangan ke salah satu bodyguard nya. Menyuruhnya untuk mendekat dan mengeluarkan barang yang sudah terbayar lunas oleh Catra.
“Ini barang yang sudah kamu, Beli! Mamih suka berbisnis denganmu,” ucap Mamih Rosa bangga.
“Saya akan menghubungi Anda lagi. Kita jalin kerja sama lain yang lebih menjanjikan,” balas Catra.
Ia rela mengeluarkan uang banyak hanya demi menjerat Mamih Rosa.
Kehilangan adik tersayang membuat Catra ingin menangkap bandar narkoba sesungguhnya.
Ia masih ingin tahu mengapa wanita di hadapannya ini bisa selalu lolos dari jeratan hukum dan sidak tempat hiburan malam.
“Mamih senang sekali mendengarnya. Pasti! Kita akan jalin kerja sama yang lebih menguntungkan dari ini. Bisnis wanita malam tak kalah menguntungkan dari bisnis obat terlarang,” bisik Mamih Rosa.
Mamih Rosa melihat jam di tangannya. Saat ini ia tidak bisa terlalu lama berasa di sana. Sebab wanita itu harus kembali ke Butterfly club.
__ADS_1
“Sayang sekali, Mamih harus kembali. Berkunjung lah ke rumah bordil, akan Mamih berikan wanita terbaik yang ada di sana.”
Pacho yang mendengar ajakan Mamih Rosa langsung menjawabnya.
“Oh ... Pasti itu, pasti kita ke sana!”
Catra menatap tajam Pacho.
“Sayang bro!” sanggah Pacho membalas tatapan Catra.
“Mamih pulang dulu!” Mamih Rosa berdiri kemudian mendekati Catra. “Mamih tunggu kedatanganmu di sana!”
Hanya anggukan yang Catra berikan.
Mamih Rosa berlalu dari hadapan kedua pria itu.
Sebelum melangkah pergi Mamih Rosa berbisik pada Pacho.
“Kupu-kupu yang kamu pesan sudah siap dikamar?”
Senyuman merekah di wajah Pacho malam ini dirinya akan bermain panas. Beruntung malam ini ia mendapatkan diskon sebab telah menjadi pelanggan baru untuk Mamih Rosa.
***
“Hancurkan barang haram itu!” titah Catra pada Pacho usai meneguk beberapa sloki minuman beralkohol.
“Sayang sekali barang semahal ini tidak bisa dinikmati sama sekali! Gue jual lagi aja ya, Bro pasti untuk banyak gue!” ucap Pacho.
“Kalau lu tidak sayang sama nyawa sediri, silakan! Biar gue yang tembak mati lu sekarang juga!” balas Catra.
Pacho bergidik ngeri. Temannya itu kalau sudah kejam tidak tanggung-tanggung. Tidak pandang teman dekat ataupun jauh. Pasti langsung ia terkam habis. “Gak jadi deh! Kejam banget gue punya temen gak ngasih temennya merasakan nikmat sesaat.”
Ucapan Pacho sama sekali tidak di dengar. Catra terus saja menikmati minuman beralkohol itu. Hingga akhirnya Catra mabuk berat.
“Shitt ... Malam ini gue mau senang-senang bukan menemani lu mabuk, anjirrr!” omel Pacho yang masih visa menguasai diri dari minuman beralkohol. Pacho lekas memapah tubuh Catra ke kamar hotel. Sebab temannya itu muali meracau tidak jelas.
Bersambung
Maaf dua hari kemarin Author tidak bisa up. Real Life benar-benar menyita waktu.
Jangan lupa readers
like
favorit
komen yang banyak biar otor semangat. 💪💪💪
__ADS_1
Tengku buat kalian semua.🥰🥰😘😘