Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Murkanya Pak Antoni


__ADS_3

Farrel memejamkan mata sejenak, mampukah ia berterus terang kepada ayah dan ibunya tentang Lura. Melihat peringai kejam dan keras ayahnya yang sangat sulit untuk ia tembus.


Melihat Farrel yang akan berbicara Pak Irawan segera mencecarnya dengan banyak perkataan. Tak sedikitpun Farrel diberi celah untuk berbicara.


Bu Prita berjalan mendekati putranya. Ia merangkul tangan Farrel kemudian mengelus nya pelan sambil berbisik.


“Dengar dulu ayahmu bicara jangan berbicara apapun,” bisik Bu Prita dan Farrel lagi-lagi hanya bisa menghela napas.


Tuduhan sudah di peralat sorang wanita hingga mengajaknya terjerumus pada barang haram pun di ucapkan Pak Antoni.


Farrel sempat tidak terima. Meskipun nama Lura tidak di sebut tapi Farrel merasa arah pembicaraan ayahnya menunjuk pada Lura.


“Kamu tahu karena ulahmu, ayah harus membayar double pembayaran ke tempat kuliahmu! Untung saja ibumu tidak jadi mengirimkan uang itu kepadamu! Kalau sudah terlanjur pasti uang itu akan kamu pakai untuk membeli obat terlarang !” Pak Irawan tersenyum ketus dan sebal ke arah Farrel. Ucapan ayahnya begitu menyakitkan nya. Tapi berbeda nada dan setiap katanya jika berhadapan dengan masyarakat. Wibawa dan bijaksana 'lah yang Pak Irawan ucapkan. Atau itu hanya sekedar kebohongan sikap saja.


Mendengar semua ucapan ayahnya, Farrel mengepalkan tangan.


Bu Prita masih berusaha menahan Farrel. Ia tahu sikap suaminya yang tidak mau dibantah dan keras kepala.


“Dasar anak tidak bisa diatur, kamu pikir kehidupan itu mudah. Aku bersikap keras untuk membangun dirimu agar jadi lebih kuat dalam memimpin nantinya. Kalau dalam hal ini saja kamu terjerumus pada barang haram bagaimana nantinya!”


“Cukup, ayah! Kalian sangat egois! Ayah terlalu menekan diriku. Dan Ibu tidak pernah membelaku. Apa aku dilahirkan hanya untuk jadi boneka pemuas keinginan kalian?” tanya Farrel dengan suara lirih.


“Farrel!” panggil Bu Prita pelan.


“Apa kamu pikir tanpa ayahmu ini, hidupmu bisa enak dan nyaman seperti sekarang ini?”


Farrel menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku malah merasa tertekan dengan aturan ayah!” celetuk Farrel.


Plak....


Brugh....


Tamparan keras ia terima dari Pak Irawan Hingga tubuh Farrel tersungkur ke lantai.


Tak sampai di situ, Pak Antoni menendang Farrel, putranya itu sampai meringkuk melindungi tubuhnya.

__ADS_1


“Cukup, Yah! Cukup!” Bu Prita mencoba menghalangi suaminya yang murka mendengar ucapan Farrel agar tidak memberikan tendangan lagi pada putranya.


“Kamu liat anak ini! Aku sudah bilang jangan terlalu membebaskan dia. Kamu tidak pernah dengar ucapanku. percuma dia memberikan kita prestasi banyak tapi akhirnya akan membuat kita malu seperti ini!” ucap Pak Irawan dengan nada emosi kepada Bu Prita.


Senyuman miris Farrel berikan. Ia tatap keduanya bergantian. Bu Prita mendekati Farrel ingin segera membantu putranya.


Tapi Farrel menepis bantuan Bu Prita.


“Apa ibu tahu, karena ibu telat mengirimkan uang padaku. Satu-satunya orang yang peduli padaku menjadi penukar hutangku. Wanita yang tidak tahu apapun tentang semua ini. Dia baru tahu aku seorang pemakai belum lama dan hanya dia yang menginginkan kesembuhanku!” lirih Farrel seraya mencoba berdiri.


“Biarkan dia, Bu! Jangan sekali-kali membantunya!” sarkas Pak Irawan


“Kenapa ayah tidak membunuhku saja!” cetus Farrel.


“Tolong jangan katakan itu, Nak!” Bu Prita berbicara dengan nada sedih. “Apa kamu tidak sayang sama Ibu?” Bu Prita mencoba meraih tubuh Farrel yang sedikit limbung.


“Kenapa kamu tidak mati saja saat mengonsumsi obat terlarang itu!” sambung Pak Irawan dengan tatapan kesal ke arah Farrel.


“Ayah...!” pekik Bu Prita. “Kenapa berbicara seperti itu. Kalau memang ayah menginginkan itu, Ibu lebih memilih mati bersama putraku daripada aku harus kehilangannya. Silakan ayah berjuang sendiri dengan keinginan ayah!” ucap Bu Prita dengan air mata yang meluncur keluar dari pelupuk matanya.


Farrel menatap ibunya. Ternyata Ibunya masih mau membelanya. Farrel pikir ia bisa meminta tolong pada beliau.


“Kamu bilang siapa tadi? Mamih Rosa,” serobot Pak Antoni saat mendengar ucapan Farrel. “Kamu sampai harus berurusan dengan orang itu?”


“Ayah tau siapa dia?” tanya Farrel sambil merangkak mendekati ayahnya. “Tolong selamatkan Lura. Dia tidak bersalah, aku mengorbankan dirinya demi menjaga nama baik ayah. Mamih rosa mengancam ku akan menggagalkan pencalonannya dan menghancurkan nama baikmu, Yah! Aku memilih untuk mengorbankannya demi nama baik keluarga ini! Aku mohon selamatkan Lura, tebus dia dari Mamih Rosa!” Farrel Bersimpuh di hadapan ayahnya.


“Bagus kalau kamu masih memikirkan nama baik keluarga ini!” ucap Pak Irawan masih dengan sikap angkuhnya.


“Ayah aku mohon!” Pinta Farrel sambil bersimpuh dihadapan papa-nya.


“Aku akan memikirkan itu tapi kamu harus ikut ke panti rehabilitasi, tutup mulutmu dan jangan berkata apapun tentang masalah ini. Ikuti apa yang akan ayah lakukan padamu,” ucap Pak Irawan tegas.


Sepertinya ia memikirkan masalah ini dengan serius akan ada sandiwara demi menyelamatkan nama baiknya di depan banyak orang.


“Ya, aku akan lakukan itu, asal Lura terbebas dari Mamih Rosa!” lirih Farrel. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


Bu Prita kembali mendekati putranya. Ia berusaha membimbing Farrel agar bangkit berdiri.

__ADS_1


“Bangunlah! Kita ke kamar! Ibu bantu obati lukamu sekalian ada yang mau ibu bicarakan padamu, ini tentang Lura!” Bu Prita berusaha membujuk Farrel. “Ibu janji akan membicarakan ini dengan ayahmu, tapi tolong untuk saat ini ikuti perintahnya, Nak!” Farrel perlahan bangkit berdiri dan mengikuti langkah ibunya yang menuntunnya menuju kamar.


Di rumah kontrakkan.


Dina terlihat mondar mandir di depan pintu kamar kontrakannya sudah pukul sepuluh malam, Lura belum juga kembali.


Temannya sudah berjanji akan mengabari jika terjadi sesuatu. Tapi sampai saat ini belum ada kabar kepada Dina.


“Kemana sih lu? Bikin gue khawatir aja. Mana di telepon gak diangkat lagi!” Dina mencoba menghubungi lagi nomer telepon Lura. Lagi-lagi tidak diangkat.


“Kenapa perasaan gue gak enak banget ya! Sumpah gue kepikiran banget sama tu, bocah! Dibilangin ngeyel sih gue suruh tinggalin dari dulu malah gak mau, alasan kasihan. Lah kalau sudah begini siapa nanti yang kasihan sama dia. Mending si Farrel masih ada orang tua yang bisa kasihan sama dia. ‘Lah lu, Ra. Siapa yang mau kasihan sama lu, kalau bukan diri sendiri sama gue yang udah anggep lu adek gue!” gerutu Dina sambil berjalan mondar mandir di depan gerbang.


“Gue telepon lagi deh. Kali aja tersambung.” Dina kembali mengubungi nomer Lura.


Ponselnya masih aktif hanya saja tidak ada yang mengangkat. Tapi saat Dina akan mematikannya terdengar sapaan dari seberang telepon.


“Halo,” sapa seseorang dari seberang telepon.


“Halo, ini siapa ya? Kenapa hape temen gue bisa sama lu?” cecar Dina tanpa basa basi.


“Maaf, pemilik ponsel ini tadi tak sadarkan diri dia di bawa pergi sama seorang wanita berpenampilan glamor!”


Dina mengerutkan alisnya tidak paham dengan maksud yang di ucapkan orang di seberang telepon itu.


“Siapa orangnya?” tanya Dina kemudian.


.


.


.


Bersambung


Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.


kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu dinantikan loh.

__ADS_1


Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.


Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘


__ADS_2