Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Pertemuan Lura Dengan Mamih Rosa


__ADS_3

Kedua orang yang bertanya kepada Mamih Rosa pun pergi setelah mendapat penjelasan darinya.


“Kamu harus berhati-hati lagi jika ada lagi yang bertanya!” perintah Mamih Rosa kepada penjaga club’.


“Siap, Mih!”


Mamih Rosa lekas masuk ke dalam club tersebut, sedikit menyapa kepada para pengunjung di sana.


“Selamat malam Tuan Gonjales, apa kabar?” sapa Mamih Rosa kepada seorang pria berumur yang sedang minum dilayani para wanita cantik disampingnya.


Mendengar sapaan itu tertuju padanya. Pria itu lekas melepaskan rangkulannya kepada salah satu wanita di sampingnya itu kemudian berbisik.


“Punyamu padat berisi, saya ingin merasakan kedua gunung kembar itu menghimpit pusaka-ku, Diam di sini aku memilihmu untuk menemaniku malam ini!” ucap tuan Gonzales kemudian berdiri dari duduknya.


Wanita terpilih itu lekas tersenyum kepada temannya yang lain. “Kali ini giliran gue!” ucapnya penuh kemenangan.


“Selamat menikmati permainan Tuna Gonzales, Cha!” ucap Mely, wanita yang tadi bersama Ocha menemani Tuan Gonzales.


“Tumben pak tua itu gak milih li, Mel?” tanya salah satu teman Mely yang bernama Rere.


“Bosen kali dia sama layanan gue, biarin ‘lah lagian gue bosen. Permainan kasurnya kurang hot. Cepet banget buyar. Gue belum apa-apa dia leles duluan,” ujar Mely membuat Rere terkekeh mendengarnya.


“Tapi bayarannya gede ‘kan Mel?”


“Gede kalau kita bisa buat dia puas. Pinter-pinter lu aja, ngerayu tua bangka itu.” Ucap Milly sambil berlalu keluar club’.


“Lu mau kemana Mel?”


“Balik ke kamar, ah! Sepi banget gak ada kakap malam ini!”


“Dih, ngincer kakap doang! Teri juga banyak nih, mayan *****.. *****... dikit dapet gope!” celetuk Rere.


“Males ..., mending gue goyang tapi dapet lima juta,” sahut Mely terdengar samar.


“Dasar, Mely!” cebik Rere.


Rere pun kembali mencari pengunjung club yang memerlukan jasa pelayanannya.


Mamih Rosa terliat serius berbicara dengan Tuan Gonzales.


Suara bising dari musik ngbitz begitu nyaring terdengar. Sampai Mamih Rosa harus berbisik untuk berbicara.


“Bagaimana pelayanan kupu-kupu Mamih, puas ‘kan?” bisik Mamih Rosa di telinga Tuan Gonzales.


Mamih Rosa sering menyebutkan para pelacur dengan sebutan kupu-kupu. Sebab para wanita itu club’ malam yang multifungsi. Tempat hiburan malam yang yang juga menyediakan kepuasan batin untuk para pengunjungnya.


“Selalu merasa puas! Tapi saya ingin yang lebih fresh, kalau ada yang masih sempit menggigit belum terjamah alias perawan,” sahutnya dengan suara menggoda.

__ADS_1


Mamih Rosa tertawa mendengarnya.


“Berani bayar mahal tidak?” Mamih Rosa menimpali.


“Asalkan perawan, saya sanggup bayar berapa yang mamih minta!” tuturnya.


“Anda memang pelanggan emas ku! Mamih ada satu wanita yang masih fresh, masih gadis dan lugu. Dia baru datang belum tahu cara memuaskan pelanggan. Mamih akan mengasahnya dulu, agar tidak membuatmu kecewa. Benar mau bayar mahal barang baru Mamih!” Mamih Rosa menggoda dengan mengulurkan kipas lipatnya ke wajah Tuan Gonzales terus menurun ke bawah, sampai di inti pusaka pria itu. “Siapakan pusakamu agar lebih lama bermain sebab pasti akan butuh tenaga extra untuk membobol gawang barang baruku!”ucap Mamih Rosa dengan sedikit senyum mengejek, ia tahu dengan reaksi pusaka Tuan Gonzales dari anak-anak yang cepat tertidur hanya dengan durasi cepat.


“Mamih punya obat agar dia tegang lebih lama!” bisik Mamih Rosa seraya menatap inti bagian tengah dari Tuan Gonzales si pria kaya yang berani menghamburkan banyak uang untuk para wanita yang mau melayaninya.


“Jangan banyak bicara cepat antarkan obat itu ke kamar biasa!” balas Tuan Gonzales seraya meninggalkan Mamih Rosa. Pria tua itu kembali mendekati Ocha. Kupu-kupu yang dipilih untuk menemaninya malam ini.


“Berikan saya pelayanan terbaikmu!” bisik Tuan Gonzales di telinga Ocha.


Ocha dan Tuan Gonzales kembali melewati Mamih Rosa menuju kamar yang sudah dibooking nya.


“Pintar-pintar ‘lah memuaskan nya, tarik tips besar darinya!” bisik Mamih Rosa pada Ocha.


Ocha langsung mengacungkan jempolnya seraya berjalan beriringan dengan Tuan Gonzales. Begitu jelas terlihat ketidaksabaran Tuan Gonzales terhadap Ocha. Tangannya sudah menggerayangi gundukan yang menonjol di dada Ocha. Pria tua itu sudah tidak sabar ingin segera dihimpit oleh kedua gunung menonjol itu.


“Sabar, Sayang! Janji akan beri tips yang banyak jika bisa memanjakan dia!” Ocha memegang gemas pusaka yang tertutup kain celana itu.


“Argh ...,” seketika gelenyar aneh di rasakan oelha Tuan Gonzales.


Mereka berdua berjalan cepat menuju kamar booking nya. Ingin segera memainkan permainan panas mereka.


Di tempat yang sama.


Dan saat terbangun Lura merasakan pusing yang luar biasa. Ia tidak jadi membuka mata segera ia memijat sedikit kening yang terasa berputar di kepalanya. Dirinya masih tak menyadari keadaan sekitar.


Setelah beberapa saat memijat keningnya dan rasa pusing berangsur menghilang. Lura membuka matanya perlahan. Dirinya begitu terkejut saat mengedarkan pandangan yang pada sekitar.


“Di mana ini?” Lura mengedarkan pandangannya. Ia merasa asing berada itu.


“Kamar siapa ini? Di mana Farrel?”


tanyanya pada diri sendiri.


Lura mulai panik. Ia lekas berdiri dari tidurnya. Meski rasa pusing masih sangat terasa. Lurah berusaha bangkit untuk mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


'Bukannya aku ada di restoran bersama Farrel, kenapa sekarang ada di sini. Apa sebenarnya yang terjadi?' Pikirnya.


Lura mendekati pintu yang ada di depannya.


Lura hendak membuka pintu tersebut tapi terkunci.


“Kenapa dikunci? Sebenarnya aku berada di mana, sih?” Lura mulai kesal. Ia berjalan mendekati jendela. Jendela itu pun sama terkunci.

__ADS_1


“Aku seperti dikurung di sini?” Lura mencari tas miliknya.


“Di mana tasku? Farrel ada apa ini?” Lura semakin panik. Ia kembali meraih gagang pintu, lalu beberapa kali menarik turunkannya tapi tetap saja pintu itu tak terbuka.


“Buka ... Tolong buka pintunya? Ada orang ‘kah di luar. Tolong ... Saya!” Lura merasa ketakutan, tak ada yang mendengarnya. Ia terus menggedor pintu dengan keras.


Ia berbalik mencari celah jalan untuk keluar dari kamar itu. Tetap saja tak ada jalan untuknya.


Setengah jam berlalu, tak kenal lelah, Lura kembali menggedor pintu sambil berteriak.


“Farrel ... Tolong Aku! Kamu di mana? Aku mau pulang? Kenapa Aku bisa berada di ini. Rel ... Farrel ... Tolong Aku!” teriak Lura tak terasa ia menangis karena ketakutan.


“Kamu di mana Rel, tolong Aku!” ucap Lura dengan suara pilu dan sedih. Dadanya naik turun seiring tangisnya.


Lura berbalik dan menempelkan tubuhnya di pintu. Tubuh itu merosot begitu saja. Lura duduk di lantai , menekuk kedua kaki hingga menempel ke dada lalu memeluknya erat.


Lama ia berada di posisi itu.


“Farrel apa yang terjadi, kenapa aku berada di sini?” gumam Lura sedih.


Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


“Dina ... Tolong aku!” usai bergumam Lura menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.


Klek... Klek.


Seseorang di luar sana membuka pintu yang terkunci. Lura lekas berdiri dari duduknya.


Wajah gadis berusia 20 tahun itu terlihat kusut dan menyedihkan.


Lura memundurkan langkahnya saat seseorang mendorong pintu.


Pintu itu terbuka seiring dengan langkah Mamih Rosa masuk ke dalam kamar itu.


Lura diam mematung. Ia mengernyitkan dahi tak mengenali wanita yang masuk ke dalam kamar itu. Sebab ini adalah pertemuannya pertama kali dengan Mamih Rosa.


.


.


.


Bersambung


Terima kasih para readers yang sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa setelah membaca ini tinggalkan like dan komentar kalian. otoriter tuh berasa sepi kalau ada yang baca tapi gak ninggalin jejak. jadi Syedihhh..... Ayok.... bikin otoriter semangat buat up bab baru. 😁😁

__ADS_1


Mampir juga ke karya temanku yuk. seru loh cerita dia



__ADS_2