Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Salah Paham


__ADS_3

Hancur rasanya hati Farrel saat mendengar ucapan ibunya. Pemuda yang saat ini masih ada di panti rehabilitasi itu diam bergeming dengan berita itu.


"Maafkan aku, Ay! Pasti kamu sangat membenciku. Aku akan mencarimu setelah keluar dari tempat ini. Aku janji," gumam Farrel.


Sudah hampir empat bulan Farrel berada di sana. Keadaannya sudah semakin membaik. Farrel benar-benar menyesali perbuatannya. Terlebih kepada Lura, wanita yang sangat ia cintai. Setiap hari ia selalu memikirkan wanita itu, bayangan senyum ceria dari Lura jelas terbayang diingatannya.


Hari-hari nya begitu berat, rasa penasaran apakah Lura sudah di tebus dari Mamih Rosa semakin menjadi. Kedua orang tuanya tidak pernah menemuinya. Hanya menyuruh seseorang untuk mengecek kondisinya saja.


Semenjak terpilihnya Ayah Farrel menjadi orang nomer satu di kota besar itu, Pak Antoni menjadi sangat sibuk dengan kegiatan barunya. Begitu juga dengan Bu Prita, ia langsung memegang kendali atas beberapa komunitas perempuan di kota itu.


"Rel, makan dulu! Setelah ini kita ke aula ada Ustad Madji," ucap seseorang membuyarkan lamunannya Farrel.


Hanya senyum tipis dan anggukan yang Farrel berikan. Semenjak berada di panti rehabilitasi itu, banyak yang Farrel lakukan. Kegiatan pemulihan secara terpadu, mulai dari konseling, terapi kelompok, hingga pembinaan spiritual atau keagamaan.


Farrel lebih mendekatkan dirinya pada agama. Sehingga saat ini hatinya merasa Damai dan tenang. Meskipun rasa bersalah begitu besar ia rasakan.


Satu bulan lagi, Farrel harus benar-benar bersabar. Setelah keluar dari panti rehabilitasi ini. Ia akan mencari Lura sampai ketemu. ia akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan pada Lura.


Di tempat lain, Putri begitu senang melihat Lura sudah sadar. Gadis itu langsung menyuapi Lura dengan sabar dan telaten.


"Sudah cukup, terima kasih!" tolak Lura saat Putri akan memberi suapan selanjutnya padanya.


"Ok, ini obat yang harus kamu minum. Dokter menyarankan agar kamu beristirahat. Kondisi kamu masih lemah, tekanan darahmu kurang!" ucap Putri sambil menyimpan piring yang masih tersisa makanan di atas nakas.


Lura bangkit dari tidurnya. Ia merasa tubuhnya sudah kembali bertenaga.


"Aku dimana?" tanya Lura sambil mengedarkan pandangannya.


"Di rumahku!"


Sontak membuat Lura menatap Putri. "Kamu membawaku ke rumah mu?"


Putri mengangguk pelan. "Ya, Kamu akan lebih aman di sini. Orang-orang itu tidak akan bisa mengejar dan menangkapmu di sini!"


Mendengar ucapan Putri membuat Lura ingat tentang dirinya. Ia kembali merasa takut, bukan tidak mungkin kapan saja Mamih Rosa akan kembali mencarinya dan menangkapnya.

__ADS_1


"Aku mohon, ijinkan aku menumpang di sini beberapa hari. Aku tidak mau jika harus kembali pada mereka." Lura memohon dengan wajah mengiba dan penuh ketakutan.


Putri meraih tangan Lura sambil mengangguk pelan. "Aku akan menginginkan kamu tinggal bersamaku, asal kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu!" Putri memberi penawaran pada Lura.


Lura sempat terdiam sesaat. Ia berpikir, akankan Putri akan menerima dirinya setelah tahu ia berasal dari tempat hina yang sudah menjerumuskannya.


"Kenapa? Apa kamu keberatan menceritakannya kepadaku?" Putri menatap Lura dengan rasa penasaran.


"Apa setelah aku menceritakan tentang diriku, kamu akan mengijinkan ku tinggal di sini. Atau malah menyuruhku pergi?" Lura terlihat ragu.


"Kamu tahu, pertama kita ketemu, perasaanku berbeda. Entah mengapa ada rasa kedekatan yang kurasakan. Dan saat kita bertemu lagi untuk yang kedua kalinya. Ada perasaan lega, aku harap kita bisa jadi teman baik kedepannya," ucap Putri tulus dari lubuk hatinya.


Perasaan yang Putri rasakan begitu erat. Dan mengalir begitu saja. Seperti ada aliran darah yang sama antara dirinya dan Lura. Atau bisa jadi Putri memang berkaitan darah dengan Lura. Satu darah meskipun lama tidak bersama, tapi ikatan batin akan begitu kuat.


Perasaan Lura menghangat mendengar ucapan Putri.


"Aku seorang wanita malam yang kabur sart bekerja," celetuk Lura sontak membuat Putri menatapnya.


"Rasanya tidak mungkin," elak Putri.


"Memang kenyataannya seperti itu." Lura mendesah berat.


Lura mulai menceritakan kisahnya. Awal ia berada di Jakarta sampai berakhirnya ia di rumah bordil. Sesak dan sedih, itu yang Lura rasakan saat kembali menceritakan kisah kelamnya.


"Dan malam itu adalah malam pahit untukku. Selama ini aku bersikeras mempertahankan kehormatanku. Tapi pria itu berhasil merenggutnya." Lura menceritakan hal yang paling membuatnya hancur. Tanpa ada air mata kali ini. Rasanya air mata Lura sudah kering menangisi nasibnya sendiri.


Lura menoleh ke arah Putri. Ia menyipitkan mata melihat Putri menangis.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Lura heran. Seharusnya dia 'lah yang bersedih tapi Putri terisak mendengar semua cerita Lura.


"Aku tidak bisa membayangkan jika aku jadi kamu, perjuangan hidup yang sangat berat." Putri masih saja terisak.


Isak tangisnya sampai terdengar ke luar kamar. Dan di saat yang bersamaan Pak Irawan melewati kamrar Putri. Baliak langsung membuka pintu kamar Putri dengan cepat. ia takut terjadi sesuatu pada Putri.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Pak Irawan datang tiba-tiba. "Ma ... Mama, Kemari!" teriak Pak Irawan memanggil istrinya. Tanpa memandang Lura yanga da di dekat Putri.

__ADS_1


Mariana berjalan tergesa memasuki kamar. "Ada apa, Pah? Kenapa harus teriak?" oceh Mariana saat tiba di kamar Putri.


"Loh, kenapa Putri Pah?" Mariana langsung duduk di samping Putri membuat Lura lekas berdiri menghindar dari sisi Putri.


"Apa yang kamu rasakan? Sakit, pusing atau mual? Tadi bagaimana hasil cek up nya? Mama bilang apa, biar mama antar tapi kamu keras kepala tidak mau di temani." Mariana terlihat sangat khawatir sama seperti Pak Irawan.


Lura bisa melihat kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tua Putri. mereka begitu menyayangi gadis itu.Tapi Lura heran apa sebenarnya yang Putri alami hingga mendapat kekhawatiran yang lebih dari kedua orang tuanya.


"Putri gak pa-pa, Mah, Pah! Putri hanya sedih mendengar kisah hidup Lura." Putri menghapus air mata yang ada di pipinya.


Mariana dan Pak Irawan lekas menatap Lura bersamaan.


Deg....


Pak Irawan terkejut melihat Lura. Wajah gadis itu mengingatkannya pada seseorang. lekas ia menggelengkan kepala lemah, Pak Irawan ingat betul ucapan Liona jika anak mereka sudah meninggal dunia.


"Apa yang kamu lakukan pada Putri? Kamu tidak tahu diri sudah ditolong malah membuat dia menangis!" Bentak Pak Irawan dengan tatapan tidak sukanya pada Lura.


"Saya tidak melakukan apapun pada Putri, Pak!" Lura mencoba membela diri.


Ucapan Lura sama sekali tidak didengar oleh Pak Irawan. Beliau salah paham dan tidak mendengarkan penjelasan Putri lebih dulu. Pak Irawan sudah ketakutan jika melihat Putri menangis. Lekas ia menyeret Lura keluar dari kamar Putri.


"Keluar dari rumah ini! Kamu sama saja seperti yang lain. Dekat dengan Putri hanya ingin memanfaatkan kebaikannya saja!" sarkas Pak Irawan seraya menarik Lura yang baru saja pulih.


"Papa, tunggu!"


.


.


Bersambung....


Maaf beberapa hari ini selalu belang bentong up nya....


Promosi karya lagi gaesss.... Mampir ke ceritanya ya. Tak kalah seru loh!

__ADS_1



Mampir yak!!


__ADS_2