
“Gue Mely, kamar gue sebelahan sama kamar ini. Gue enggak tau apa masalah lu dengan Mamih, tapi gue cuman kasih saran lebih baik lu nurut deh sama dia, dari pada tiap hari lu diperlakukan kaya gini! Mamih Rosa tuh enggak bakalan kasih ampun sampai lu nurut sama dia!" Mira menempelkan pelan handuk yang sudah di asuh air hangat dan mengompres luka di pipi Lura.
“Sssshh ...” desis Lura meringis menahan sakit. Merasakan perih saat lukanya di kompres oleh Mely, tak lupa diberi salep pada sudut bibirnya.
“Perih, ya?” Mely melirik Lura. Hanya seulas senyum simpul yang ia dapat. “Tahan aja biar lu cepat sembuh! Nah ... Selesai!” Mely menatap wajah Lura. “Lu harus makan terus minum obat biar cepet pulih, nama lu siapa?” tanya Mely seraya membereskan barang yang ia pakai untuk mengompres pipi Lura, kemudian meletakkannya di atas meja. Tepat di samping tempat tidur yang mereka duduki saat ini.
Mely membantu membersihkan kamar yang sedikit berantakan karena kemurkaan Mamih Rosa. Lura hanya memperhatikannya. Ingin membantu tapi tubuhnya tak berdaya.
Setelah selesai dan kamar itu menjadi sedikit terlihat rapi. Mely kembali duduk di sisi Lura.
Meski pun di pipi putih Lura terlihat luka lebam tapi tidak menutupi kecantikan alaminya. Bulu mata lentik dengan manik mata berwarna cokelat membuat orang yang melihatnya secara dekat akan terkesima. Wajah Lura tak bosan saat dipandang. Itu menurut Mely yang sebagai seorang wanita apalagi jika yang memandangnya adalah sorang pria bisa jadi rebutan mereka apalagi jika Lura sedikit berpoles diri.
“Lu tuh punya wajah cantik, kenapa ada di sini?” tanya Mely mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gadis yang ada di hadapannya ini.
Lura memaksakan diri untuk tersenyum. ingin menjawab tapi ia kembali meringis saat sudut bibirnya sedikit tertarik.
"Tidak usah di jawab dulu kalau bibir lu masih sakit!" Mely mengambil piring yang berisi makanan bekas semalam yang masih utuh, agar menggantinya dengan yang baru.
“Gue ambilin makanan yang baru! Nanti gue balik lagi, abis itu lu harus ceritain sama gue semuanya! Lu istirahat dulu aja sambil tiduran!” titahnya seraya membuang air bekas mengompres ke kamar mandi lalu menumpuk piring bekas di atasnya kemudian berlalu meninggalkan Lura menuju dapur yang letaknya di ujung kamar.
Tak ada satu kata pun yang terucap dari Lura. Ia lekas merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi tidur menyamping dengan kaki yang di tekuk. Kedua tangan yang menjadi alas kepala sejenak membuatnya terlena untuk memejamkan mata. Lelah hati dan pikiran karena kekecewaan membuatnya seakan tak berdaya menghadapi takdir yang ia alami saat ini.
Inikah takdir hidupku?
Kapankah aku merasakan kebahagiaan, Tuhan.
Mengapa Engkau terus menerus memberiku kepahitan hidup?
Apa tidak ada sedikit saja kebahagiaan untukku?
Aku ingin merasakan kasih sayang orang tua kandungku.
Apa tidak bisa? Apa memang menjadi wanita malam adalah takdir yang Engkau tuliskan untukku?
__ADS_1
Batin Lura sedih. Ingin menjerit tapi rasanya sudah tak kuasa lagi ia teriakkan.
Lura menangis tanpa suara. Hanya isakkan tangis yang menyayat hatinya saat ini. Ingin menyerah menghadapi hidup ini. Tapi apa daya raganya masih tetap bernapas sampai detik ini.
Lura merasa bersyukur di saat kondisinya seperti ini, masih ada orang berhati baik kepadanya.
Saat Mely berada di dapur, Bik Wati yang kerap membantu di Rumah bordil itu belum terlihat kehadirannya.
Mely pun memasak makanan seadanya. Karena belum ada lauk atau sayur yang bisa di masak, hanya tersedia telur dan nasi putih saja. Akhirnya Mely memasak nasi goreng sederhana pagi ini, meski ia sendiri belum sempat tidur karena tadi malam ia mendapat pelanggan yang memintanya untuk melayani beberapa orang untuk minum bersama sampai menjelang pagi.
Beruntung menurutnya. Mendapatkan bayaran besar cuman menemani minum. Ya sesekali tangan pria yang ia layani menjalar ke sana- sini. Menjelajah tubuh Mely sambil bermain gemas di gunung kembarnya. Hal biasa baginya.
Beberapa anak asuh Mamih Rosa yang biasa di sebut kupu-kupu itu banyak yang sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Hanya beberapa yang masih berada di luar karena pelanggan membawa mereka bermalam di tempat lain.
Malam mereka gunakan untuk beraktivitas seperti siang hari dan malam waktunya mereka beristirahat setelah semalaman bekerja melayani dan menghibur para pengunjung club’ dan para pria hidung belang yang haus akan belaian.
Angan yang sangat sulit digapai oleh mereka. Siapa yang mau berkorban banyak uang demi seorang pecun ****** itu. Para lelaki hidung belang hanya membutuhkan sentuhan mereka tanpa ingin memilikinya.
Para gadis itu hanya dijadikan partner ranjang saja.
Di dapur, makanan pun siap untuk di bawa ke kamar. Saat keluar dari dapur Mely berpapasan dengan Ocha. Temannya yang baru pulang dari hotel. Ternyata pelanggan kelas kakap sudah membooking-nya malam tadi. Ocha memasang wajah yang berseri sambil menunjukkan amplop cokelat segepok ke hadapan Mira.
“Mel, nih liat satu malem aja sama si kakek tua itu bisa istirahat satu minggu, Gue!” Ocha memamerkan amplop cokelat berisi uang segepok yang ia keluarkan dari dalam tas selempangnya.
“Heh, gitu aja bangga. Ditungguin Mamih , Noh!” balas Mira acuh. Ia hendak melewatinya. Tapi Ocha menyenggol bahu Mely sampai membuat Mely hendak terjatuh beruntung dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
“Rese banget, lu!” ucap Mely kesal.
Berhadapan dengan Ocha memang tidak pernah ada kata Damai bagi mereka berdua. Selalu ada persaingan dalam mendapat pelanggan kelas kakap.
Ocha hanya tersenyum sinis ke arah Mely. “Bilang aja, Lu ngiri sama gue!” ucapnya sambil berlalu ke arah dapur, wanita itu hendak mengambil air minum di sana.
__ADS_1
“Lu, masak, Mir? Buat siapa?” tanya Ocha saat melihat keadaan dapur dan peralatan masak yang masih berada di atas kompor kemudian beralih menatap Mely yang baru saja keluar dari dapur.
“Buat Lura, penghuni kamar sebelah! Kasian gue, Mamih masih belum kasih ampun sama dia.” Mira berlalu meninggalkan Ocha.
“Manja banget si tuh, anak! Kerja enak juga enggak mau, tinggal bikin puas pelanggan aja susah banget. Bayaran gede, fasilitas di jamin!” Ocha kembali dari dapur dan membawa air mineral dingin di tangannya lalu melangkah mendahului Mely.
“Berisik banget si, lu! Udah sana, setor dulu deh ke Mamih!” usir Mely ketus lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar Lura.
“Ckk ... Coba ni duit, buat gue semua! Cepet bengkak deh, tabungan gue!” decak Ocha seraya berjalan menuju ruangan Mamih Rosa. Setor pendapatan dari pelanggan kakapnya.
“Hoam ... Ngantuk banget gue! Gila tuh aki-aki udah tua doyan juga sama begituan. Tapi setara lah sama bayarannya yang lumayan. Untung udah gue tarik duit dia juta dari dompet si tua bangka itu.” Ocha terlihat senang denagn bayarannya malam tadi. Ia terus berjalan seraya memijat pundak karena merasa lelah dan pegal akibat ulah aki-aki tua berduit itu.
.
.
.
Bersambung.
Akhirnya otor bisa up dua bab malam ini. menggantikan kemarin.
Sambil nunggu karya ini up lagimampir ke karya otor yang sudah tamat yok..
Kalian bisa maraton bacanya....
Jangan lupa like komen dan rating bintang pada karya ini.
Terima kasih
Salam kenal buat readers semua. 🥰🥰
__ADS_1