Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Perlakuan Kasar Mamih Rosa


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Lura masih tidak menyangka jika Farrel kekasih yang sangat ia cintai tega berbuat sejahat ini kepadanya.


Penyesalan ia rasakan saat ini. Ucapan Dina teman satu kampungnya tidak ia dengarkan. Harapan bisa melihat Farrel sembuh malah berakhir seperti ini.


Hidup seakan tidak berarti lagi. Ingin rasanya saat itu Lura mengakhiri hidup dari pada harus menjadi santapan para lelaki hidung belang nantinya.


Mamih Rosa beberapa kali datang ke kamar itu untuk memperingatinya agar bersiap melayani para tamunya. Sebab nilai jual tinggi perawan di sana sangat di pertaruhkan.


Dan beberapa kali juga Lura mencoba bunuh diri tapi selalu saja tertolong.


Terakhir Lura mencoba memutus urat nadi di pergelangan tangannya. Berharap kehidupannya berakhir saat itu juga. Tapi Sang Pencipta kembali menolongnya.


Mamih Rosa begitu marah dan kesal. Mendapati Lura tidak bisa apa-apa dan belum menghasilkan uang sama sekali membuat Mamih Risa murka.


Brakk....


Pintu kamar terbuka dengan paksa.


“BANGUN!” teriak Mamih Rosa saat wanita itu memasuki sebuah kamar.


Saat ini Lura tidak lagi berada di lantai atas club’ tapi gadis itu tinggal bersama para kupu-kupu. Letak kamar itu tak jauh dari gedung Butterfly Club'.


“Heh, sampai kapan kamu akan seperti ini, belum ada penghasilan yang kamu berikan untukku, kamu membuat Mamih merugi, kamu dengar itu!” sarkas Mamih Rosa, tangannya mencekik kuat leher LLura Hingga gadis itu merasa kesakitan yang luar biasa.


Tak sampai di situ, Mamih Rosa memaksa Lura bangun dari tidurnya. Padahal tubuhnya masih sangat lemah karena beberapa hari sakit, Luka di tangan kirinya pun masih belum pulih akibat percobaan bunuh diri yang ia lakukan sendiri.


“Ampun, Mih!” ucap Lura dengan suara yang lemah. Tubuhnya serasa tak bertenaga sebab Lura menolak makanan yang ia suguhkan. Tak ada gairah untuk hidup rasanya ia ingin segera mati saja.


“Ampun katamu! Heh, dengar kamu itu harus segera bekerja. Jangan jadi wanita tidak berguna. Makan dan tidurmu tidak gratis di sini, Sayang!” bisik Mamih Risa seraya menarik dagu Lura agar mendongak ke arahnya.


Lura meringis kesakitan. Setelah lehernya terasa sakit akibat cekikkan dari Mamaih Rosa kini dengan kasarnya wanita itu mencengkeram dagunya.


“Jangan buat saya rugi karena terlalu lama membiarkanmu dalam penyesalan. Nikmati hidupmu saat ini! Kamu akan mendapat uang banyak dari pekerjaanmu nanti!” ucap Mamih Rosa kemudian melepaskan tangannya dari dagu Lura dengan kasar.


“Saya tidak minta untuk di tampung di tempat seperti ini! Saya tidak ada sangkut pautnya dengan Farrel. Anda tidak bisa memaksa saya melakukan pekerjaan hina itu!” balas Lura seraya menatap benci pada Mamih Rosa.


Plakk ...


Tamparan keras mendarat di pipi Lura yang mulus.


Rasa panas dan perih akibat tamparan itu membuat pipi Lura memerah dan berbekas tak hanya itu, sudut bibir Lura pun sedikit sobek karenanya.

__ADS_1


Suasana di dalam kamar itu pun menjadi panas akibat Mamih Rosa yang murka kepada Lura.


Gadis yang terlihat lemah itu berusaha memberanikan diri melawan Mamih Rosa.


Meski mendapat perlakuan kasar dan menyakitkan tak sebanding dengan rasa kecewa dan sakit hatinya kepada Farrel.


Lelaki yang sangat ia cintai begitu tega melakukan semua ini kepadanya. Lura kembali diam tak bersuara saat Mamih Rosa kembali memperlakukannya dengan kasar.


Tubuh Lura merosot kembali di lantai, seakan tak ada lagi tenaga yang bisa menopang tubuhnya.


Tangan Mamih Rosa kembali menarik dagu Lura agar menatap wajahnya


“Mamih beri waktu kamu untuk mengobati tubumu dan wajahmu. Kalau kamu masih ingin hidup turuti apa kata Mamih, atau hidupmu akan berakhir mengenaskan,” Ucap Mamih murka. Ia berlalu meninggalkan kamar Lura.


“Kenapa tidak Anda bunuh saja Aku! Lebih baik aku mati daripada hidup di sini! Bunuh aku saja!” teriak Lura di iringi isak tangisnya yang terdengar begitu sedih dan menyakitkan.


Mely yang mendengar kegaduhan dari kamar sebelahnya hanya bisa mendengarkan amarah dari Mamih Rosa tanpa berani mendekat.


Para pengawal Mamih Rosa hanya memperhatikan tingkah majikannya. Lalu mengikuti langkah Mamih Rosa keluar dari kamar yang terlihat berantakan karena kegaduhan yang terjadi.


Saat Mamih Rosa keluar dari kamar. Mely mundur satu langkah, hingga tubuhnya menempel di dinding yang ada di belakangnya.


Mely mengangguk pelan. “Siap, Mih!”


“Kalau dia masih tetap tidak mau menuruti apa kata Mamih, sudah di pastikan esok hari dia tak kan bisa menikmati indahnya dunia lag!” ancam Mamih Rosa.


“Dan kamu juga, kalo kerja yang benar jangan kebanyakan bolos. Ingat hutangmu masih banyak sama Mamih, cepat lunasi!” sentak Mamih Rosa pada Mely.


“Iya, Mih! Pasti kulunasi, tenang saja!”


“Mamih tidak mau tahu, kamu harus lunasi dalam waktu sebulan ini. Kalau tidak tarif 30 % bunga akan Mamih terapkan padamu!” Mamih Rosa berlalu begitu saja dari rumah kupu-kupu, tempat tinggal para pekerja pemuas napsu itu.


“Jadi gue kena sasaran!” celoteh Mely.


Semua yang ada di sekitar wanita itu menjadi sasaran karena kemarahannya.


Mamih Rosa terus melangkah di ikuti para bodyguard menuju halaman parkir di mana mobil hitam mewah sudah menunggunya.


Melihat Mamih Rosa sudah pergi dari lingkungan tempat tinggal para kupu-kupu. Mely mencoba masuk ke dalam kamar Lura. Di lihatnya keadaan kamar yang berantakan. Makanan yang di berikan semalam pun masih utuh tak tersentuh.


Lura masih duduk bersimpuh di lantai dengan Isak tangis yang masih terdengar lirih.

__ADS_1


Mely berjalan mendekatinya kemudian berjongkok di hadapan Lura. Diraihnya bahu yang masih naik turun karena menangis itu.


“Bangunlah!” Mely membantu Lura bangun dari duduknya.


Tanpa melihat siapa yang membantunya dengan sekuat tenaga Lura mencoba berdiri tentu saja dengan bantuan Mely.


Mely membantu memapah Lura sampai gadis itu duduk di tepi ranjangnya.


“Pasti sakit, ya?” tanya Mely saat ia memegang wajah Lura yang lebam dan bibir yang sedikit sobek karena mendapat perlakuan tak baik dari Mamih Rosa. Butiran air mata masih terlihat menetes di wajah Lura.


Lura masih bergeming tak bersuara. Ia seperti kehilangan semangat untuk hidup. Hanya anggukan pelan yang ia berikan.


“Gue ambil air hangat dan handuk dulu, ya! Gue bantu obati luka lu ini!” Mely meninggalkan Lura dengan kebisuannya.


Tak lama Mely kembali dengan handuk dan baskom kecil berisi air hangat di tangannya. Mely pun duduk di selamping Lura.


“Sini, gue kompres dulu lebamnya ya, biar enggak tambah bengkak!” Mely menaruh barang yang ia bawa kemudian kembali menatap Lura. “Tapi rambut lu berantakan, sini gue rapihin dulu!” Mely merapikan ikatan rambut yang berantakan. Di ikat dan di gulung rambut yang panjangnya sebahu itu.


Mely menyentuh wajah Lura lalu menghadapkan ke arahnya agar lebih leluasa untuk mengobati lukanya.


Kondisi wajah yang lebam dengan mata yang bengkak akibat terus menangis. Mely tidak tega melihatnya. Ia jadi teringat adiknya di kampung. Mely merasa ingin melindungi gadis ini


.


.


Bersambung


Maaf kemarin tidak up.


Dukung terus karya otor ya.


like


komen


kasih rating 🌟🌟🌟🌟🌟


pada karya ini


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2