
"Aku akan segera memilikimu, Lura," gumam Catra yang terus memandangi Lura.
Beberapa saat pria itu menunggu. Terdengar suara pintu toko yang terbuka. Seorang gadis dengan penampilan yang anggun memasuki toko tersebut. Kemudian mendekati Catra. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Putri sopan kepada Catra.
"Saya sedang memesan bunga. Tapi sedang menunggu wanita tadi mengambil stok bunga dulu di belakang!" balas Catra sambil duduk di depan meja kasir.
"Oh, mohon di tunggu sebentar ya, Tuan!"
Tak lam Lura kembali. "Maaf, stok bunga lily nya kosong. Tapi jika Anda mau, bunga Lily ini bisa saya buat buket. Bunga ini masih segar dan bagus ko." Lura memberi solusi.
Terlihat Catra sedikit berpikir. Putri kemudian mendekatk Lura dan berbisik padanya.
"Bunga itu 'kan milikmu, kenapa mau dijual?"
"Tuan ini butuh untuk orang yang spesial untuknya. Gak pa-pa, kalau bunga lily datang lagi bisa diganti 'kan?" aliran tersenyum manis kepada Putri.
"Ya terserah kamu sih, kalau kamunya gak pa-pa."
Obrolan pelan Lura dan Putri terdengar oleh Catra. "Kalau bunga itu sudah ada yang memiliki, tak perlu. Biar nanti saya balik lagi!" Ujar Catra sambil berdiri.
"Eh, gak pa-pa Tuan. Bunga itu memang milik saya, tapi jika tuan memerlukannya sekarang. Bisa ko!" Sela Lura takut jika Catra tak jadi membeli di toko bunga itu.
Seulas senyum terbesit di wajah Catra.Setelah keduanya setuju, Lura langsung membuat buket bunga lily miliknya.
"Kalau begitu saya permisi ya, Tuan. Sudah ada pegawai saja, jika anda memerlukan sesuatu tinggal bilang saja sama dia!" Ucap Putri sambil menatap Lura. Terlihat raut sedih dan bingung di wajah Putri.
Catra mengangguk pelan membalasnya.
Saat hendak berjalan melewati Lura, gadis itu sengaja mencekal tangan Putri. Ia merasa khawatir sesuatu terjadi pada Putri.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lura khawatir.
"Aku baik-baik saja, teruskan saja pekerjaanmu!" jawab Putri meyakinkan Lura agar tidak perlu mengkhawatirkannya. Kemudian melangkah meninggalkan Lura bersama Catra menuju lantai dua di toko bunga itu. Tempat yang biasa di pakai Putri untuk beristirahat.
Selama bersama dengan Putri sedikit banyak Lura mengerti akan kondisi dan keadaannya. Lura tahu, saat ini Putri sedang tidak baik-baik saja. Lura berpikir akan menghampirinya nanti. Setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Catra hanya bisa diam memperhatikan keduanya. Sambil menunggu buket pesanannya selesai Catra mencoba berbicara dengan Lura.
"Dia saudara kamu?" tanya Catra saat Lura dengan lincah dan lihainya merangkai satu persatu bunga lily yang ia pasukan dengan bunga kecil lainnya agar menjadi satu buket yang cantik.
"Dia sahabatku, dia juga pemilik toko bunga ini," jawab Lura tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sepertinya kamu kenal dekat dengannya?" Lagi-lagi Catra berusaha mengajak Lura terus berbicara denganya. Pandangannya pun tak lepas dari wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku tinggal dengannya, aku berhutang banyak pada bosku itu karena dia adalah penyelamatku. Maaf, bisa minta tolong ambilkan gunting itu!" pinta Lura pada Catra. Dengan cepat Catra segera meraih gunting yang ada di dekat tangannya lalu menyerahkannya pada Lura.
__ADS_1
"Terima kasih." Senyuman manis Lura berikan pada Catra membuat hatinya berdebar.
'Senyumannya mampu membuat hatiku nyaman. Hati ini juga makin berdebar saat dekat dengannya. Aku tak pernah merasakan perasaan ini saat bersama Alice dulu. Apa ini namanya cinta. Hati ini sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada kamu Lura.'
Batin Catra. Ia tidak ingin kebersamaannya ini cepat berlalu.
"Kamu suka bunga lily juga?" tanya Catra sembari terus memperhatikan gerakan Lura yang lincah merangkai bunga.
"Iya," jawabnya singkat.
"Mamaku juga sangat menyukainya. Dia adalah orang Istimewa buatku."
Lura melirik ke arah Catra. Kedua manik mata itu bertemu.
"Aku kira Anda membeli bunga ini untuk kekasih atau istri Anda?"
Catra tersenyum simpul mendengar ucapan Lura. "Apa aku terlihat seperti orang yang sudah menikah?"
Lura mengangkat bahu membalasnya. Kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Aku belum menikah dan masih sendiri. Kenapa kamu menyukai bunga ini, apa kalian para wanita memiliki kesukaan yang sama?"
"Siapa?" tanya Lura.
"Benarkah?" tanya Lura lagi
"Benar, Mama ku sangat menyukai bunga ini!" balas Catra yakin.
"Banyak yang menyukai bunga lily putih ini. Sebab bunga ini melambangkan kesucian dan kemurnian layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bunga ini juga dianggap sebagai lambang keindahan. Para pecinta bunga lily pasti merasakan ketenangan saat melihatnya apalagi saat merengkainya seperti ini." Ucap Lura tak sadar kalau dia sudah mulai terbawa kenyamanan berbicara dengan Catra.
"Berarti dirimu sangat menjaga arti dari kesucian seperti bunga lily ini?" Catra menyentuh bunga lily yang sedang dirangkai Lura. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan.
Lura dengan cepat menarik tangannya agar menjauh dari Catra kemudian tersentuh getir mendengarnya. "Aku bukanlah wanita yang pantas berbicara kesucian di sini! Buket bunganya sudah selesai," ucap Lura yang berhasil menyelesaikan pekerjaannya merangkai bunga kemudian menyerahkan buket bunga lily itu kepada Catra.
Lura menghindari Catra sebab wajahnya berubah sendu. Lura teringat akan dirinya yang sudah tidak suci lagi. Kesucian yang ia jaga untuk suaminya nanti tidak ada lagi, karena itu Lura sedikit ragu untuk dekat dengan pria lain.
"Terima kasih, boleh kita berkenalan?" Catra mengulurkan tangannya ke arah Lura. Lura sempat terdiam bingung harus membalas apa. "Aku akan jadi pelanggan setia di sini."
"Bukankah kita sudah kenal dari tadi juga udah ngobrol bareng." Luar tersenyum kecil sembari merapikan benda yang tadi ia pakai untuk merangkai bunga.
"Tapi kita belum kenalan. Aku belum tahu siapa namamu?" Ujar Catra.
"Bukankah tadi Mas Pacho sudah menyebut namaku?" Sanggah Lura.
__ADS_1
Tak sabar Catra menarik tangan Lura mengarahkan tangan itu agar berjabat tangan dengannya. "Kelamaan cuma kenalan saja harus nungguin Pacho."
Mendengar itu Lura terkekeh kecil. Catra berhasil membuatnya tertawa.
"Carta, aku akan sering memesan bunga lily di sini!" Ucap Catra sambil mengembangkan senyum lega pada Lura. Lega karena Lura tidak menyadari bahwa dirinya adalah pria yang telah merenggut kesuciannya malam itu.
"Lura," jawab Lura pelan kemudian sambil tersenyum geli pada Catra.
"Kenapa apa ada yang lucu?"
Lura menggelengkan kepalanya pelan. "Harganya tiga ratus ribu, lebih baik simpan di vas bunga dan beri sedikit air jika ingin bunganya lebih awet. Terima kasih sudah memesan buket bunga di toko kami!" Ucap Lura seakan mengusir Catra secara tidak langsung.
"Kamu mengusirku?" Catra merasa tidak terima dengan pengusiran halus dari Lura.
Lura menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi sepertinya orang di luar sana tak sabar menunggumu!" Lura menunjuk ke luar toko dengan dagunya.
Catra mengikuti arah pandang dari Lura.
"Pacho... Ah... Shittt!" Catra bergegas hendak keluar dari toko bunga itu.
"Tunggu!" panggil Lura seketika membuat Catra menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Lura.
"Kenapa? Kamu masih ingin ngobrol denganku 'kan?" Celetuk Catra sontak membuat Lura menggelengkan kepalanya.
"Ih, pede banget! Kamu belum bayar buket bunganya, malah pergi gitu aja." Lura menyodorkan tangannya, menagih bayaran atas buket bunga yang dipegang Catra.
"Oh, ya, Maaf, aku lupa." Catra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kesan yang tidak indah dipertemuan pertamanya.
.
.
.
Bersambung.
Dukung terus karya ini ya. komen yang banyak juga like dan hadiah juga boleh banget.
Promosi lagi. Mampir di cerita temanku.
kisahnya seru juga loh.
Mampir yah....
__ADS_1