Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Kehilangan Kehormatan


__ADS_3

“Sayang!” Panggil seseorang dari arah belakang.


Pacho yang sedang memapah tubuh Carta langsung menoleh ke sumber suara. Pacho langusng melepaskan Catra yang tengah dipapah olehnya.


“E-eh, honey!” Jawab Pacho sambil menyengir kuda. Pria itu tidak menyangka istrinya itu berada di tempat yang sama dengannya.


Ya, wanita yang memanggil Pacho adalah istrinya. Seorang wanita highclass yang baru saja selesai acara reuni bersama anggota sosialita nya.


Pacho terpaksa melepaskan Catra di depan kamar hotel miliknya. Padahal kamar yang seharusnya ditempati Catra berada di sebelah kamar milik Pacho.


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Melinda sambil memicingkan matanya ke arah Pacho kemudian beralih menatap Catra.


Merasa curiga kepada suaminya.


“Aku hanya mengantarkan dia ke kamarnya, Sayang! Dia mabuk!” elak Pacho sambil mendekati Melinda tidak mau ketahuan kalau dia sudah memesan kamar di hotel tersebut.


“Benar tidak ada yang lain?” Melinda memastikan dengan tatapan penuh selidik.


Pacho menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah kita pulang!” ajak Melinda. Istri dari Pacho tidak menyapa Catra sama sekali. Wanita itu lekas berbalik arah kemudian berjalan pelan meninggalkan Pacho.


Melinda sengaja menghindari Catra.


Catra yang mabuk melirik ke arah istrinya Pacho. Ia menarik sudut bibirnya, ia tahu sifat dan kelakuan istri dari temannya itu. Semua kelakuan dan kenakalan Istri dari sahabatnya itu berada di tangan Catra. Sebab Melinda pernah menggoda Catra, dulu. Padahal waktu itu Pacho dan Melinda belum lama menikah.


Melinda sengaja menggoda Catra demi mendapatkan uang lebih. Pada saat itulah Catra tidak percaya yang namanya wanita baik-baik, semua wanita yang berusaha mendekatinya hanya demi uang.


Catra tidak ingin melihat interaksi pasangan suami istri itu. Ia bergegas masuk ke kamar hotel. Kamar yang berada tepat di sisi nya.


“E-eh kamar lu yang---“ ucapan Pacho terlambat sudah, sebab Catra sudah masuk ke dalam kamar tersebut.


‘Ah ... Sialan! Harusnya gue yang menikmati malam bersama kupu-kupu malam itu. Awas gue bakal minta ganti rugi sama Catra,’ ucapnya dalam hati.


“Yang!” panggil Melinda kembali.


"Iya, Beb!" Pacho langsung mengikuti langkah Melinda.


“Dasar bucin, heran sama tuh cewek kasih si Pacho apaan sampai dia nurut begitu!” oceh Catra sambil menggelengkan kepala kemudian ia masuk ke dalam kamar.


Langkahnya terhuyung dan hampir saja terjatuh saat seorang wanita dan dirinya bersamaan membuka pintu. Catra hampir saja terjatuh jika saja wanita itu tidak menyangga tubuhnya.


Kejadian itu sontak saja membuat Catra langsung menoleh ke arah wanita yang menolongnya. Catra bergeming sesaat. Dirinya yang mabuk melihat wajah Alice dalam diri wanita itu.

__ADS_1


Wanita yang berniat kabur tapi terhalang oleh kedatangan Catra. Ya, dia adalah Lura.


Lura yang begitu takut dan gelisah karena tak ada kabar dari Mely. Gadis itu berniat kabur. Meskipun akan sulit baginya. Tetapi cara itu adalah cara satu-satunya saat ini yang bisa dilakukan.


“Alice, kenapa kamu ada di sini?” racau Catra yang langsung merangkul Lura.


“Anda salah, Tuan! Saya bukan Alice!” balas Lura sambil mengibaskan tangan Catra yang melingkar di pinggang Lura.


“Heh, aku tahu kamu sampai menyusul ke sini untuk mengejar cintaku bukan? Untuk melayani ku? Sekarang lakukan tugasmu! Balas semua kemewahan yang telah aku berikan padamu!” Tanpa banyak berkata lari, Catra langsung membungkam mulut Lura dengan ciumannya.


Lura memberontak untuk di lepaskan tapi tenaga Catra lebih besar dari nya.


Ponsel yang di pegang Lura pun terjatuh ke lantai saat tubuh gadis itu di dorong paksa ke tempat tidur.


Tanpa melepaskan ciumannya, Catra langsung merobek gaun yang menutupi tubuh Lura. Hingga tubuh bagian atas itu terbuka sempurna. Memperlihatkan bagian mulu sama dan menggoda.


Tangan lura berusaha mencegah dan menutupi. Tapi gerakan Catra lebih cepat daripada dirinya.


“Jangan di tutupi, Sayang! Biarkan aku menikmatinya.” Catra terus menyerang Lura, ia lekas menelusuri leher putih itu.


“Lepaskan, Tuan! Tolong aku bukan Alice, tolong Tuan!” pinta Lura sambil berlinang air mata. Sangat sulit untuk gadis itu melepaskan diri. Karena kedua tangan Lura diangkat ke atas kepala dan di tahan nya oleh tangan kekar Catra. dia tidak sadar wanita yang berada di bawah kukungannya itu bukanlah Alice.


Mendapat reaksi penolakan dari Lura. Catra menghentikan aksinya setelah meninggalkan beberapa jejek kepemilikan di leher dan di bagian tubuh yang menyembul itu.


“Kenapa kamu menolak ku! Bukankan kamu selalu menginginkan saat seperti ini!” Catra terlihat geram dan di penuhi emosi.


“Kamu memberikan tubuh mu untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, mendapatkan semua kemewahan dariku? Tapi mengapa kamu berikan juga tubuhmu kepada orang lain! Kamu sudah mempermainkan perasaanku. Aku tahu aku berniat menikahimu tapi setelah aku tahu apa yang kamu lakukan di belakangku, aku membencimu! Membenci wanita yang rela membiarkan tubuh nya dinikmati oleh pria lain demi uang! Kamu dengar itu!” oceh Catra tanpa sadar wanita itu bukanlah Alice.


“Tapi aku bukan wanita yang Anda maksud, Tuan!” Lura memalingkan wajahnya sambil menangis ketika Catra berbicara.


Lura hanya pasrah. Sudah lelah ia memberontak. Lura terus terisak saat Catra terus menjamah tubuhnya. Pria itu seakan tidak mendengar keluhan dan rintihan permohonan Lura.


Pagi itu, Lura terdiam sedih. Ingin menangis rasanya percuma. Seluruh tubuhnya sakit. Dengan menarik selimut sambil memeluk kedua lututnya Lura menelungkupkan kepala di sela lutut. Bayangan pria yang ada di sampingnya begitu jelas teringat dalam ingatannya saat Catra begitu bergairah menikmati tubuhnya.


Lura tersadar saat dengan rencananya yang ingin pergi dari tempat itu. Rasa sakit yang masih terasa di bagian bawah tubuhnya harus ia tahan demi kebebasannya.


Lura mendongak. “Aku harus segera pergi dari tempat ini!” gumam Lura sambil melirik ke arah pria yang tidur tengkurap di sampingnya.


Tubuh kekar yang hanya tertutup selimut sampai batas pinggang itu memperlihatkan bagian punggung di penuhi tato bergambar elang yang tengah mengepakkan sayapnya.


Pria itu terlelap setelah melewati malam panas itu.


Sambil menahan nyeri, Lura berhati-hati beranjak dari tempat tidur. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari pakaian miliknya yang di buang asal oleh Catra.

__ADS_1


Pakaian itu tidak mungkin bisa dipakai lagi beruntung ada piyama tidur yang mengandung di pintu kamar mandi. Lura segera memakainya.


Dengan gerakan cepat namun pasti gadis itu hendak beranjak dari kamar tersebut. Melihat celana yang terjatuh asal dan hampir terinjak olehnya. Lura lekas meraihnya. Di kantung celana itu terdapat sebuah dompet.


Di ambilnya dompet tersebut lalu di bukanya perlahan.


Terdapat banyak uang di salam sana. Lura mengambil beberapa lembar untuk dirinya sendiri.


“Aku pasti membutuhkan uang setelah pergi dari ini, anggap saja ini bayaran karena kamu telah merenggut kehormatanku, brengsek!” umpat Lura kesal.


Sebab dirinya dibuat lelah tak berdaya karena perbuatan Catra.


Berjalan pelan sambil mengendap Lura berhasil keluar dari hotel itu.


Bodyguard yang bertugas menjaganya tidak berada di tempat. Entah kemana dirinya.


Keluar dari hotel Lura sedikit berlari saat bodyguard Mamih Rosa berteriak memanggilnya. Gadis itu melambaikan tangan pada taksi yang menuju ke arahnya.


“Berhenti, Pak!” teriak Lura.


Mobil taksi berhenti tepat di hadapannya. Segera Lura masuk ke dalamnya.


“Jalan pak, cepat!” titah Lura saat melihat bodyguard itu hampir saja menangkapnya.


“Jalan lebih cepat, Pak!” titahnya lagi.


Supir yang mengendarai taksi tersebut mengikuti perintah Lura. Mobil taksi itu melesat meninggalkan hotel. Tempat di mana Lura harus kehilangan kehormatannya....


Bersambung.


Mohon Maaf gaes oror keenakan libur lama. Ternyata Real life lebih menyita perhatian.


Terima kasih kalian masih bisa jadi dan baca cerita ini. Tinggalkan jejak kalian juga. ok.


like


komen


hadiah juga tabur bunga gitu biar otoriter yang melempem ini kembali bersemangat.


.


.

__ADS_1


__ADS_2