Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Terbebas Dari Mamih Rosa


__ADS_3

Perasaan takut tertangkap oleh bodyguard Lura rasakan. Beberapa kali ia melihat ke belakang mobil, takut bodyguard Mamih Rosa kembali menangkapnya.


“Tenang saja, kita sudah jauh dari pria botak itu, Neng!” ucap pak supir menenangkan Lura.


Lura memegangi dadanya yang berpacu hebat. Merasa lega dan bersyukur bisa lari dari sana. Ingin menghubungi Mely tetapi ia baru sadar ponsel miliknya tertinggal di kamar hotel itu.


Lura kembali terkejut saat tangannya meraba leher. Sesuatu telah hilang, kalung satu-satunya petunjuk agar bisa bertemu dengan orang tuanya hilang. “Kalungku,” ucap Lura sambil berpikir di mana jatuhnya kalung tersebut.


Lura mendesah berat sambil memejamkan mata. Ia ingat kejadian tadi malam, kalung pemberian orang tuanya tertarik oleh pria yang merenggut kehormatannya. Saat pria itu dipenuhi gelora ketika menikmati tubuhnya.


‘Aku telah kehilangan kesucian yang selama ini aku jaga. Kali ini bukan hanya kehilangan kehormatan tapi petunjuk untuk bertemu orang tuaku juga tertinggal di sana. Kenapa nasibku seperti ini, ya Tuhan!’


Batin Lura sambil memejamkan mata, tak terasa butiran bening menetes di pipinya.


Merasa sedih dan pilu dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya.


Saat ini Lura tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa berpikir jernih. Rasa putus asa menguasai diri. Ingin rasanya mengakhiri hidupnya saat ini.


Terbayang orang-orang yang menyayanginya. Rindu kepada Bu Rahma dan adik-adik panti asuhan kembali memenuhi perasaan.


Ingin kembali ke sana tapi rasanya malu. Mengetahui keadaan dirinya yang sekarang ini.


Lura lebih memilih diam dan menatap kosong ke luar jendela.


‘Semua ini karena kamu, Rel! Hidupku menjadi hancur seperti ini. Apa salahku padamu, hingga kamu tega mengorbankan diri ini.’


Batin Lura sambil mengeratkan kepalan tangannya.


Tidak ada cinta lagi di hatinya untuk Farrel. Mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya saat ini bermula dari pria itu yang tega menjadikan dirinya penukar hutang.


Supir yang sedang fokus mengemudi melirik Lura dari spion tengah di dalam mobil. Dia juga tidak mau mengganggu penumpangnya saat sedang menangis pilu saat ini.


Pak supir lebih memilih berputar di tempat yang sama dan Lura tidak menyadari itu sama sesekali. pandangannya mengarah ke jalanan tapi pikirannya entah kemana. Saat pak supir lelah, ia akhirnya bertanya dan taksi itupun berhenti di depan sebuah toko pakaian.


“Maaf! Sebenarnya tujuan si Neng ke mana, ya?” tanya Pak supir membuyarkan lamunan Lura.


“Neng!” panggil Pak supir beberapa kali kepada Lura.


“Ah, i-iya, pak?” Lura terkejut saat kesekian kalinya dipanggil oleh supir tersebut.


Pak Supir menggelengkan kepala melihat tingkah Lura.


“Tujuan Neng sebenarnya mau ke mana? Bapak sudah hampir tiga kali melewati tempat ini, tapi si Neng tetap bergeming ketika bapak bertanya bahkan memandang keluar jendela tidak menyadari kalau kita sudah beberapa kali melewati tempat ini!” ujarnya.


Lura tertunduk lesu. Dia juga bingung harus ke mana. Di Kota besar ini, Lura sama sekali tidak mempunyai teman selain Dina.

__ADS_1


“Ah, iya. Bapak bisa antar saya ke pusat perbelanjaan JCM?” Lura memilih untuk kembali ke tempat Dina. Ia tidak tahu saat ini berada di mana. Tapi yang dia ingat nama mall tempatnya bekerja dulu.


Supir taksi itu lekas mencatat nama tempat itu di aplikasi pencari tempat di ponselnya.


“Jauh sekali tempatnya!”


Lura mengerutkan alis. “Bukan ‘lah kita sama-sama di kota Jakarta, Pak?” tanya Lura.


“Jakarta itu luas, Neng!”


“Lalu bagaimana? Apa bisa mengantarkan aku ke sana?”


“Bisa tapi tarifnya tambah besar?” ucap pak supir.


Mendengar tarif bayaran yang bertambah, Lura merasa takut jika tidak bisa membayarnya. Sebab uang yang ia ambil dari dompet Catra tidak banyak.


“Berapa jumlah tarif seluruhnya, Pak?” tanya Lura Ragu.


“Totalnya jadi lima ratus ribu!”


Lura merasa lega sebab uang yang ada di tangannya lebih dari itu.


“Uang saya cukup, Pak! Tapi tunggu, Pak!” sela Lura setelah menoleh ke sisi kirinya.


Lura merasa perlu berganti pakaiannya saat ini.


“Saya mau ke toko pakaian itu dulu!” ucap Lura sambil menoleh ke arah toko pakaian di sisi kirinya. “Bapak bisa tunggu sebentar!”


“Oh, Bisa!”


Tanpa menunggu lama Lura bergegas turun dari taksi itu. Ada rasa nyeri di bagian pangkal ketika ia berjalan.


Kejadian semalam masih menyisakan sakit di bagian inti tubuhnya. Beruntung Lura tidak lupa membawa pil pencegah kehamilan dalam tas yang ia bawa. Mely sering mengingatkannya takut sewaktu-waktu kejadian seperti malam ini terjadi.


Lura segera masuk ke dalam toko pakaian dan memilih beberapa baju ganti untuk dirinya. Setelah mendapatkan semuanya, Lura kembali masuk ke dalam tak SIM pak supir yang menunggunya tersenyum melihat perubahan dari penumpangnya ini. Lebih terlihat segar dan manis dengan pakaian yang ia pakai saat ini.


Mobil taksi itu pun melesat pergi menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh ponsel pintar supir tersebut.


Adab perasan lega dalam hati Lura. Meskipun kehilangan dua hal yang berarti dalam hidupnya tapi ia merasa bersyukur bisa terbebas dari Mamih Rosa. Lura berharap wanita itu tidak bisa menemukan keberadaannya.


Di hotel.


Mely langsung mengambil ponsel di atas nakas di dekat tempat tidur. Wanita itu baru saja selesai membersihkan diri. Saat ibu Mely hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh polosnya.


“Kenapa tidak diangkat? Lura lu di mana sih? Maafkan gue, Ra!” gerutu Mely sambil tersontak kaget saat tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. "Mas ... Lepas dulu!" pintanya.

__ADS_1


“Kamu terlihat cemas sekali?” tanya Bagas sambil menempelkan dagu di bahu putih Mely.


“Aku khawatir sama Lura, Mas!” jawab Mely sambil terus mencoba menghubungi Lura. “Seharusnya aku menggantikan posisinya tadi malam. Tapi, aku malah berakhir dengan kamu, di sini!” Mely melirik ke sisi kiri di mana Bagas masih bermanja menghirup aroma wangi dari tubuh Mely yang baru saja membersihkan diri dari pergulatan panas mereka.


Mely bertemu Bagas saat akan mencari kamar hotel yang Lura tempati. Tapi di sana Mely malah bertemu Bagas, pria yang pernah memenangkan pelelangan atas Lura. Pria yang pernah menjanjikan kebebasan pada Mely.


“Dengar mulai saat ini, kamu tidak perlu lagi menjual tubuh ini untuk orang lain! Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu!”


Mely menepuk pelan pipi Bagas kemudian berbalik badan menghadap pria berumur itu.


“Kamu lupa, Mas! Kamu pernah berbicara seperti itu, tapi dirimu malah hilang kabar bahkan tidak menghubungiku!” Mely menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut kemudian beranjak dari hadapan Bagas untuk mengambil pakaian.


Mely ingin segera pergi dari sana untuk mencari Lura. Sebab mereka berada di hotel yang sama. Hotel bintang lima tempat kalangan orang-orang berkuasa.


“Maaf, Sayang! Saat itu aku harus mengantarkan istriku berobat keluar negeri dan saat ini dia masih berada di sana!”


Mely tersenyum kecut. “Buktikan saja jika memang Mas sungguh-sungguh mau bersamaku!” Mely selesai memakai baju.


“Aku sungguh-sungguh, Sayang!” Bagas menarik Mely dalam pelukannya.


Mely tidak bisa menolak. Ia membalas pelukannya.


Meskipun umur mereka berbeda jauh tapi kenyamanan Mely dapatkan dari sosok Bagas. Sosok yang menghangatkan dan memanjakannya. Memperlakukan nya begitu manis saat di atas peraduan. Tidak ada cinta dalam hati Mely tapi keberadaan Bagas mampu membuatnya terlindungi, Bagas juga bisa membantunya untuk membiayai pengobatan ibunya.


Saat ini saja, Bagas sudah mentransfer uang sebesar lima puluh juta kepada Mely. Sungguh keberuntungan buat wanita itu.


Mely tidak mau melepaskan Bagas. Ia ingin pria itu bisa membebaskannya dari jeratan Mamih Rosa. Mely juga merasa lelah dengan pekerjaan yang selama ini ia kerjakan. Mely sampai terlupa niatnya mencari Lura.


.


.


.


.


Bersambung.


Dukung terus karya otor ya gaesss....


Jangan lupa


like


komen

__ADS_1


hadiahnya juga.


Salam hangat dari author Mayya_zha


__ADS_2