
“Cepat jalankan mobilnya, Pak!” titah Putri Pada Pak Warto.
Mobil yang Luar tumpangi pun melesat pergi saat lampu lalu lintas berubah hijau.
“Woi, berhenti!” teriak salah satu bodyguard Mamih Rosa.
“Gimana sih, lu! Bukanya di hadang dulu mobilnya,” gerutu bodyguard yang satu lagi.
Tin ... Tin ...
Suara klakson beruntun dari beberapa mobil yang jalannya terhalangi oleh kedua bodyguard itu terdengar saling bersahutan.
“Jangan menghalangi jalan pengendara, dong!” omel salah satu pengendara mobil yang hendak melakukan mobilnya.
Terlihat wajah marah dari salah satu bodyguard. Ia merasa tidak terima di marahi oleh pengemudi yang hendak melajukan mobilnya itu. dia hendak memberi pelajaran kepadanya. Tapi di cegah oleh temannya.
“Polisi Bro! Jangan bikin masalah di sini! Mamih Rosa pasti marah.”
Bodyguard itu malah menggebrak mobil kemudian meninggalkan jalan.
Di dalam mobil Lura merasa lega. Bisa terbebas dari anak buah Mamih Rosa,
“Terima kasih telah membantuku,” ucap Lura sopan kepada Putri.
“Sama-sama,” balas Putri sambil tersenyum manis.
Gadis berkulit pucat itu merasa senang bertemu lagi dengan Lura. Entah mengapa ada perasaan yang lain pada wanita yang ia temui dia kali hari ini.
“Sebenarnya kamu mau kemana? Siapa mereka? Dan kenapa mereka mengejarmu?” cecar Putri dengan beberapa pertanyaan. Membuat Lura bingung hendak menjawab yang mana lebih dulu.
Baru saja mau menjawab pertanyaan, Lura merasa kepalanya pusing. Pandangannya langsung gelap. Tubuh Lura limbung dan Putri berhasil merangkulnya.
“Pak Warto, dia pingsan!” ucap Putri membuat Pak Warto melirik ke arah belakang.
“Ah, merepotkan sekali gadis ini. Sudah menumpang segala pingsan,” decak Pak Warto.
Putri kembali menggelengkan kepala dengan sikap judes Pak Warto.
“Kita pulang saja, Pak! Aku akan membawa dia pulang sepertinya gadis ini tidak punya tempat tinggal? Aku akan menanyakannya setelah dia sadar. Saat ini kita harus menolongnya dulu, badannya demam, Pak!”
Pak Warto pun mengikuti perintah Putri. Meskipun judes dan jutek tapi Pak Warto begitu penurut . Dia adalah orang suruhan Pak Antoni yang bekerja mendampingi Putri jika gadis itu pergi ke luar rumah untuk melakukan kegiatan.
Tak banyak kegiatan Putri. Sebab gadis cantik berkulit pucat itu tidak bisa banyak gerak dan beraktivitas berat karena penyakit bawaan dari kecil. Penyakit yang ia derita mengharuskannya banyak beristirahat.
__ADS_1
Merasa bosan di rumah terus. Putri membuka toko bunga untuk mengisi kegiatannya. Pak Antoni pun mengijinkannya. Asalkan tidak membuat putri kelelahan.
***
Tap tap tap
Suara hentakan dari sepatu terdengar di lantai marmer rumah mewah milik keluarga Pak Antoni
Pria berumur itu merasa khawatir saat melihat keberadaan mobil dokter Vania. Dokter yang menangani kesehatan Putri dari kecil.
“Ma ... Mama!” suara Pak Antoni menggema di dalam rumahnya.
Seorang wanita anggun melangkah mendekatinya.
“Tumben pulang cepat, Pah?” tanya Mariana, istri dari Pak Antoni
“Kenapa ada Dokter Vania disini?”
“Oh, itu. Putri pulang bersama seorang wanita, kata Putri sih, wanita itu pingsan saat ia tolong dan sekarang ada di kamar Putri sedang diperiksa Dokter Vania.”
Pak Antoni mengerutkan alis mendengarnya. “Seorang wanita? Siapa?” tanyanya penasaran.
Mariana mengangkat bahu pelan. “Mama juga tidak tahu, pah?”
“Permisi, Pak, Bu!” ucap Bik Eti sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya.
“Makanannya mau dibawa ke mana, Bik?” tanya Pak Antoni.
“Ke kamar aku, Pah!” Putri yang menjawab pertanyaan dari papanya sembari berjalan mendekati kedua orang tuanya.
“Sayang, kamu bawa siapa ke rumah ini? Jangan terlalu baik dan percaya sama seseorang!” ujar Pak Antoni lembut sambil meraih rambut Putri dan menyelipkan ke belakang telinganya.
“Putri juga belum kenal, Pah! Tapi wanita itu kasian sekali. Sepertinya dia ada masalah dan tidak punya tempat tinggal di kota ini. Biarkan dia tinggal di sini,ya, Pah? Aku merasa dia orang baik!” pinta Putri dengan penuh harap pada papanya sambil menggoyangkan tangan Pak Antoni.
“Tapi kita tidak kenal siapa dia, Sayang! Bisa jadi, dia akan berbuat jahat pada kamu!”
“Pah, Putri mohon jangan selalu berpikiran buruk pada orang lain,” pinta Putri lagi.
“Bagaimana Papa tidak khawatir. Beberapa kali orang yang mendekatimu hanya memanfaatkan keadaanmu saja, Nak. Memanfaatkan kebaikanmu. Papa tidak mau itu kembali terjadi,” ucap Pak Antoni kepada Putri.
“Tapi Putri yakin. Dia berbeda, Pah! Putri merasa begitu dekat dengan dia,” ungkap Putri bersikeras menginginkan Lura tinggal bersamanya.
Pak Irawan tidak bisa berbuat apapun. Keinginan Putri menjadi prioritas nya selama ini.
__ADS_1
Helaan napas berat, Pak Irawan berikan. “Baiklah, apapun itu asal kamu senang, Papa akan mengijinkannya.”
Mendengar jawaban dari Papanya. Wajah Putri begitu berbinar senang. “Terima kasih, Pah! Putri akhirnya punya teman. Putri akan buktikan sama Papa kalau dia orang baik,” ucap Putri sambil memeluk erat sang Papa kemudian berlalu kembali ke kamarnya.
Wajah ceria terpancar dari wajah Putri itu membuat kelegaan tersendiri buat kedua orang tuanya.
“Andai saja, anak itu tidak meninggal. Dia pasti bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Putri, Mah! Anak kita bisa berbaur seperti gadis lainnya yang bisa pergi main bareng sama teman-temannya. Dia begitu menginginkan seorang teman, bahkan saudara.”
“Maafkan Mama yang tidak bisa memberikan Papa keturunan lagi!” Mariana berucap lirih.
Mariana dinyatakan sulit setelah melahirkan Putri karena itulah dia menyetujui suaminya menanam benih pada wanita yang bekerja sebagai asisten pribadi Mariana tanpa dinikahi. Sebab Mariana tidak ingin dimadu. Ia rela membayar wanita yang rela mengandung benih suaminya agar anak yang ia lahirkan bisa menyelamatkan nyawa Putri nantinya.
Tapi sayang, wanita yang berhasil mengandung benih suaminya kabur setelah melahirkan, wanita itu adalah Liona. Ia membawa kabur bayi tersebut.
Liona tidak tega melihat anaknya hanya akan dijadikan alat pengobatan untuk Kakak berbeda ibu itu. Perlakuan yang berbeda pasti akan di dapat oleh putrinya nanti karena itulah Liona membawa kabur bayinya dan menyembunyikannya di suatu tempat aman.
"Sudahlah, Papa akan mencari cara lain agar Putri terus bisa bertahan hidup. Buktinya dia masih bisa bertahan
hingga saat ini. Asalkan pengobatan terbaik ia jalani," ujar Pak Antoni.
Mariana memeluk suaminya erar. "Papa harus melakukan apapun. Mama ridak mau kehilangan Putri."
"Pasti, pasti Papa lakukan itu! Mama tenang saja!" Pak Antoni membalas pelukan istrinya dan memberikan balasan yang menenangkan.
.
.
Bersambung.
Blurb..
Elin selama ini dituduh oleh Lucas anak dari pelakor. Lucas yang terbawa dendam meminta temanya Lexi menghancurkan masa depan gadis itu. Elin diculik dan dijadikan pelampiasan duniawi oleh Lexi, dengan tujuan menghancurkan masa depannya, sehingga gadis itu menginginkan kematian menjemputnya. Tujuannya tentu membuat Elin depresi, sama seperti ibunya. Lalu ayahnya menderita dengan melihat anak kesayangannya bernasib na'as.
Namun, siapa sangka Elin yang telah Lucas buat hidupnya hina, menderita dan bahkan mengalami cacat fisik, karena percobaan pembunuhan dari dirinya. Ternyata ia adalah saudara kembarnya. Bagaimana bisa Lucas tidak tahu bahwa Elin adalah saudara kembarnya? Adakah maaf dari Elin untuk Lucas yang sudah menghancurkan masa depannya? Ada rahasia apa sehingga Lucas bisa termakan fitnah yang mengerikan itu?
Penasaran sama ceritanya.
Mampir ke ceritanya yuk.
Jangan lupa, ya!!
__ADS_1