Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Pelukan Hangat Mama Liona


__ADS_3

“Bisakah, Tante bicara dengan Lura sebentar saja?” Ucap Bu Prita pada yang Catra dan Lura saat keduanya hendak masuk kembali ke rumah sakit usai menikmati pagi indah bersama di taman.


Catra sedikit menoleh kepada Lura. Sebab tidak mengenali wanita berumur yang usinya tak jauh dari usia mamanya. Lura pun mengangguk memberi kode pada Catra, kalau Lura bersedia berbicara dengan Bu Prita.


“Silahkan! Tapi saya harap tidak lama. Sebab kami harus segera kembali ke ruangan.


“Saya janji tidak akan lama!” Balas Bu Prita.


Catra meninggalkan Lura dan Bu Prita di sisi taman. Mereka duduk berdua di sana.


“Tante minta maaf atas kesalahan yang tante lakukan padamu, Lura!” ucap Bu Prita mengawali obrolannya.


Lura tersenyum miris mendengarnya. “Tante meminta maaf, apa karena tahu kalau aku anak dari Pak Antoni, besan tante?” Balas Lura. “ Setelah tante tahu aku adalah anak dari Liona Trihapsari dan Antoni Wijaya. Aku juga adik dari menantu tante, menantu yang tante idamakan , menantu yang berasal dari kalangan yang sederajat dengan tante,” sindir Lura.


“Tidak ... Tidak seperti itu, Ra! Saya meminta maaf bukan karena telah mengetahui jati dirimu. Tapi ini tulis dalam hatiku. Kamu tahu, saya tidak bisa membantah setiap ucapan yang terlontar dari mulut almarhum suami saya, ayahnnya Farrel. Tante meminta maaf, andai saja wantu itu kami segera menebus kamu dari mucikari itu, mungkin kamu tidak akan terjerembab ke dalam dunia malam itu. Tante benar-benar minta maaf!”


Lura membuang napas berat, sebenarnya dia sudah tidak mau membahas lagi masalah ini. Tapi sepertinya, kali ini harus benar-benar selesai. Setelah ini Lura tidak ingin membahas masa kelamnya lagi. Sesuai dengan keputusan yang sudah ia putuskan dalam hatinya.


“Saya sudah memaafkan Tante, jadi tante tidak perlu merasa bersalah lagi,” ucap Lura sontak membuat Bu prita langsung menoleh kepada Lura.


“Kamu tidak membenciku?” Tanya Bu Prita,


“Aku sudah memutuskan untuk menerima takdir yang sudah terjadi. Aku tidak akan pernah bertemu dengan Catra dan mempunyai banyak pelajaran kalau tidak masuk ke sana. Secara tidak langsung tante sudah memberikan jalan itu.” Lura berusaha tersenyum. Meski kenyataannya hati wanita itu masih terasa perih dan terluka mengingat semuanya.

__ADS_1


“Ternyata benar, apa yang diucapkan Farrel. Tante belum mengenal kamu. Ternyata kamu wanita baik.”


Lura tersenyum menanggapinya. “Aku tidak sebaik itu, Tan. Aku masih belum bisa memaafkan sepenuhnya kesalahan putra tante, Farrel. Yang dengan egois menukar kehidupanku demi keluarganya. Ah, sudahlah. Aku berjanji tidak ingin membahas lagi masa lalu. Tapi aku berharap Tanta bisa belajar dari masa lalu. Tidak memandang seseorang dari derajat dan kedudukannya,” ucap Lura. Kemudian ia lekas berdiri dari duduknya. “ Maaf ... Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Mungkin hari ini aku akan kembali ke Indonesia,” ujar Lura.


Mendengar ucapan Lura. Bu Prita merasa tersinggung. Bu Prita memang memandang Lura dari segi derajat dan kedudukannya saat pertama kali bertemu.


“Aku permisi, Tante. Dan selamat sudah mendapatkan menantu idaman seperti yang Tante inginkan.”


Usai berbicara, Lura segera menghampiri Catra. Mereka berdua sudah mendapat kabar bahwa dokter sudah menunggunya di kamar. Bu Ptita hanya menatap kepergian Lura dengan perasaan bersalah.


“Duduk!” Titah Catra pada Lura sambil menunjuk kursi roda yang sedang ia pegang. Catra tidak ingin Lura berjalan sampai ke kamarnya.


“Aku bisa jalan!” Tolak Lura.


Akhirnya Lura mengikuti apa yang diperintahkan oleh Catra. Sepanjang perjalanannya ke kamar, Catra dan Lura terus berbincang seru. Sampai akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di depan ruang perawatan Lura.


“Kamu bawa Lura kemana?” Mama Liona terlihat khawatir saat Catra baru saja datang bersama Lura.


“Aku hanya bawa dia ke taman, Mah!” jawab Catra.


“Wah... Sudah sehat ya, tau saja kalau hari ini sudah diperbolehkan pulang!” Ucap Dokter Renaldi yang menangani Lura.


Setelah itu, Lura diperiksa Dokter Renaldi. Melihat hasil pemeriksaan yang bagus. Lura diperbolehkan pulang oleh beliau. Lama mereka berbincang perihal apa saja yang harus dilakukan diperbolehkan oleh Lura ketika dalam masa pemulihan.

__ADS_1


Hal yang paling mengejutkan pun terjadi. Mama Liona sangat bahagia saat mendengar Lura setuju untuk pulang ke rumahnya. Mama Liona tidak sabar ingin memeperlihatkan kamar yang memang sengaja disiapkan Mama Liona dari dulu.


“Mama senang sekali kamu mau pulang ke rumah bersama kami,” ucap Mama Liona kemudian memeluk Lura dengan hangat. Lura terdiam sesaat kemudian menatap Catra. Pria yang ada dihadapannya itu mengangguk pelan seakan memberi kode kalau Lura bebas membalas pelukan itu.


Perlahan Lura membalas pelukan dari Mama Liona.


“Mama ...,” ucap Lura pelan. Kemudian pelukan yang Lura berikan semakin erat, seakan menyambut baik sikap Mama Liona kali ini.


Mama Liona pun merasakannya. Wanita berumur yang masih terlihat cantik itu tersenyum bahagia mendengarnya.


“Allura Charya ... Putriku!”


“Mama ..., Maafkan sikap Lura!” ucap Lura pelan disela pelukannya. Tangisnya semakin tak bisa ia tahan. Lura menumpahkan tangis dalam pelukan Mama Liona.


“Mama yang seharusnya meminta maaf padamu, Sayang!” Mama Liona mengusap pelan pucuk kepala putrinya itu. “Kita mulai dari awal, Kali ini mama tidak akan melewatkan satu hari pun tanpa kamu. Mama akan selalu bersama Lura, Kita akan menghabiskan hari-hari yang terlewati. Kamu mau ‘kan?” Tanya Mama Liona saat pelukan itu meregang.


Lura mengangguk setuju dengan ucapan Mama Liona.


Kebahagiaan terpancar dari mereka berdua. Begitu juga dengan Papa Wira dan Catra yang melihat pemandangan mengharukan itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2