
"Bagaimana penampilan gue?" Catra menaikkan alisnya sebelah ke arah Pacho yang sedang duduk di kursi belakang.
Satu unjukan jempol Catra dapat dari sahabatnya itu. "Keren, pangling gue! Gue yakin Lura pasti gak ngenalin lu lalu kayak gini! Tapi coba anting yang lu pake copot," titah Pacho. Catra pun mengikutinya.
Catra saat belum cukur rambut.
Catra sesudah cukur rambut demi siapa coba.
"Nah, gitu! Anjirr, beda banget lu. Kalau gue gak ikut lu sekarang ke sini mungkin gak bakal ngenalin lu, Cat. Dan sepertinya Mama Liona harus selametan nasi kuning, deh," tutur Pacho lagi.
"Buat apa?" tanya Catra.
"Tanda syukur soalnya lu mau cukur rambut," celetuk Pacho.
Catra memutar bola matanya malas mendengar celetukan Pacho. Pria itu bersiap meluncur ke tempat kerja Lura.
"Pindah ke depan! Lu pikir gue supir, lu," sentak Catra membuat Pacho menyengir.
"Sekali-kali gak pa-pa klau, Cat. Gue ngerasain jadi bos di sini, gak rela banget lihat sobatnya seneng," keluh Pacho kemudian segera berpindah duduk ke depan.
Tak mau menunda lama lagi, Mobil yang dikemudian Catra melaju pesarean menuju Toko bunga Putri Flowers. Dimana Lura bekerja.
***
"Lu yakin, Lura gak bakal ngenalin gue?" Catra tampak ragu saat akan turun dari mobil.
"Gue yakin percaya deh!"
__ADS_1
Perlahan Catra mengikuti saran Pacho. Pria yang pintar dalam segala hal itu menjadi bodoh saat berhadapan dengan wanita yang selama ini selalu membayanginya. Berbeda dengan Alice dulu, meskipun Catra orang yang pernah menyentuhnya pertama kali, Tapi tak ada perasaan seperti yang ia rasakan pada Lura saat ini. Terlebih Catra langsung mengetahui niat busuk Alice tak lama setelah mereka melakukan hubungan badan.
Catra menghirup napas panjang kemudian membuangnya perlahan. Ada rasa berdebar saat akan memasuki toko bunga itu.
'Semoga dia gak ngenalin gue! Kalau dia langsung sadar kalau gue adalah orang yang sudah merenggut kehormatannya, gue harus pikirin cara lain. Gue sudah bertekad akan mempertanggung jawabkan semuanya, Apa bisa jadi dia sedang hamil sekarang ini?'
Pikir Catra kemudian hendak berbalik ke mobil menemui Pacho. Catra membulatkan matanya saat Pacho sudah mendahuluinya memasuki toko bunga tersebut.
"Shitt, kenapa lu duluan yang masuk? Harusnya gue!" oceh Catra kesal kemudian berjalan cepat menyusulnya.
"Siang, cantik," sapa Pacho pada Lura yang sedang duduk membuat buket bunga pesanan pelanggan.
Lura menoleh ke sumber suara.
"Siang juga, Mas Pacho," jawab Lura. wanita itu sudah bisa dengan kehadiran Pacho. Beberapa kali sahabat dari Catra itu datang ke toko bunga itu. Selain demi misi pekerjaan yang diberikan Catra. Pacho juga mencari tahu soal Lura.
"Kurang ajar, ternyata Pacho udah dekat duluan sama Lura. Awas aja kalau makin dekat. Gue gak bakal bayar sisa uang misi lu?" uang Pacho dalam hatinya.
Lura menoleh dan menatap Catra. Ia memicingkan matanya. 'Kayak pernah lihat, orang ini? Tapi dimana ya?' pikir Lura.
"Jangan-jangan dia kenal sama gue," Catra merasa takut belum apa-paa sudah ketahuan.
"Ah, mungkin perasaan aku saja. Bayangan Pria itu selalu membayangiku. Tapi kecupan hangat itu, aku sangat menikmatinya saat akhir pelepasannya padaku. Ah..., apa sih yang kamu pikirkan, Lura," ucapnya dalam hati kemudian menggelengkan kepalanya sendiri untuk menyadarkan dirinya sendiri.
"Kenapa Lur, lu pusing? Trus gimana, lu bisa gak?" tanya Pacho. "Coba lu tanyain sendiri deh sama orangnya mau bunga kayak gimana?" titah Pacho pada Lura dan mendapat anggukan dari wanita itu.
Pacho menatap jam di tangannya. Ia berpura-pura sedang dalam urusan penting. "Sorry, gue gak bisa lama, Cat. Lu langsung minta sama ahlinya aja buat buket bunga. gue harus pergi dulu sebentar , ada urusan penting!" Pacho bicara basa-basi sambil mengedipkan matanya sebelah, memberi kode pada Catra agar ia mengerti.
"Ok. Thanks udah anter gue," balas Catra.
Perginya Pacho dari toko itu ada rasa canggung yang Catra rasakan. Ia tidak bisa berucap sedikitpun. Hanya bisa memandangi rangkaian buket bunga yang sudah jadi berjejer di meja pesanan.
__ADS_1
"Jenis bunga apa yang mau dipakai buat buket? Buat pacar?" tanya Lura memecah keheningan.
"Bunga itu!" Catra menunjuk rangkaian bunga lily putih yang ada di atas meja. Lura sengaja memisahkannya. Sebab ia berencana membawa pulang bunga tersebut. Lura ingin mengganti pajangan bunga di kamarnya karena bunga lily adalah bunga kesukaan Lura.
"Pacarnya suka bunga Lily putih?" Lagi-lagi Lura mengajak bicara pada Catra.
"Bukan pacar tapi seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku!"
Lura mengangguk paham. "Oh, sebentar ya. Aku lihat stok bunganya dulu, ya." Lura berlalu dari hadapan Catra.
Catra terus memandangi Lura sampai wanita itu menghilang masuk ke dalam gudang penyimpanan bunga.
"Aku akan segera memilikimu, Lura!"
.
.
.
Bersambung....
Wah sudah mulai pendekatan nih Catra. semoga berhasil ya....
Seperti biasa promosi lagi...
karya author ipah
__ADS_1
Mampir ya!