
"Bagaimana keadaan dia, Dok?" tanya Putri saat gadis itu baru saja masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Dokter Vania baru saja selesai memeriksa Lura.
"Biarkan dia beristirahat! Setelah sadar, berikan obat dan vitamin ini!" Dokter Vania memberikan beberapa bungkus obat dan vitamin kepada Putri. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada temanmu ini," lanjut Dokter Vania, ia paham raut wajah Putri yang begitu khawatir.
"Terima kasih, Dokter!"
"Sama-sama, kamu juga jangan terlalu lelah. Ingat kesehatanmu!" Dokter Vania menepuk pelan bahu Putri.
Usai kepergian Dokter Vania. Putri duduk di sisi tempat tidur. memandangi wajah lura yang dengan seksama.
"Kenapa hati ini merasa dekat dengan kamu. Sebenarnya siapa dirimu?"
Tak mau menganggu istirahat Lura, Putri kembali keluar dari kamarnya. Ia ikut bergabung dengan Papa nya di ruang keluarga.
***
"Lu yakin gak tau perginya tuh cewek?" tanya Pacho penuh selidik ke arah Catra.
"Eh, lu udah berapa kali nanya itu sama gue! Gue bilang gak tahu, masa iya gue umpetin tuh cewek," elak Catra dengan wajah kesal. Sebab semenjak bertemu dengan sahabatnya sore ini tak ada pembahasan lain selain wanita bayaran itu.
"Tapi lu ngerasain permainan dia 'kan semalam. Jadi lu harus ganti rugi sama Mamih Rosa! Gue diminta bayar ganti rugi, njirrr!" decak Pacho kesal. "Gue yang bayar lu yang ngerasain enaknya! lu harus tangung jawab." Pacho terus saja memaksa Catra agar mau membayar ganti rugi soal Lura yang kabur usai melayaninya.
"Iya, gue bayar! Berisik Lu!" Catra memijat kepalanya yang terasa pening. Bukan hanya menikmati bahkan Catra 'lah orang goyang pertama kali membobol gawang milik wanita bayaran semalam.
Senyuman lega terpancar dari wajah Pacho mendengarkan ucapan Catra.
Berurusan dengan Mamih Rosa pasti akan mengeluarkan banyak biaya. dan menyita waktunya.
"Lu yakin dia sering dipake banyak orang?" Catra mulai penasaran dengan wanita bayaran yang semalam tidur dengannya.
"Lah buktinya , dia bekas wanita lelangan. Kenapa masih keset ya?" Pacho memainkan alisnya jahil. "Lebih asik mana sama cewek lu, Alice?"
"Jangan sebut nama dia, di sini!" Catra menatap Pacho tajam.
"Opss, sorry!" Pacho mngembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Kapan kita bisa membekuk mucikari plus bandar itu!" Catra mulai menyalakan pemantik api lalu mengarahkan kepada sebatang rokok di tangannya.
__ADS_1
"Sulit, harusnya yang pertama kita bekuk adalah pelindung wanita itu! Dia berlindung di balik seseorang yang berpengaruh di ketahanan negara," ujar Pacho yang mulai berbicara tenang setelah mendengar Catra akan bertanggung jawab. Ia matikan sebarang roko yang tinggal sedikit di tangannya.
Catra kembali menghisap sebarang roko kemudian membuang asapnya pelan. Catra mulai berpikir bagaiman caranya membongkar bisnis haram Mamih Rosa yang sudah merugikan banyak pihak itu.
Catra mendengar keluhan itu dari banyak kalangan. Di samping ingin membalas dendam atas meninggalnya Citra, adik kesayangan Catra. Ia juga ingin memutus rantai bisnis yang lama berkembang dan banyak merugikan banyak pihak itu.
"Aku akan turun tangan sendiri dalam masalah ini!" ucap Carta kembali meneguk segelas kopi yang ada di hadapannya.
Sore itu juga sebuah rencana besar telah ia susun dengan rapi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya.
Catra bahkan rela mengeluarkan banyak biaya hanya untuk masalah ini.
"Lu harus hati-hati, Bro. Mereka bukan lawan yang mudah untuk kita hancurkan!" Pacho kembali mengingatkan sahabatnya.
"Gue pernah melawan orang yang lebih kejam dari mereka. Lu gak perlu khawatir, gue akan baik-baik saja, mereka pasti bisa gue atasi!"
"Gue bukan khawatir sama Lu, tapi gue khawatir sama bisnis lu, kalau Lu kenapa-napa gue belum siap buat gantiin lu, Cat!"
Pletak...
Korek api mewah berlapis besi tepar mendarat di kepala Pacho membuat pria itu mengelus kepala yang terkena lemparan benda keras itu.
Catra sama skolah tidak peduli dengan kesakitan itu.
***
Penolakan dari Mamih Rosa membuat Mely merasa sedih.
Kepulangannya bersama dengan Bagas malah membuat gadis itu semakin sulit untuk terbebas dari Mamih Rosa.
Mamih Rosa memasang harga tinggi untuk penebusan Mely. Bagas bahkan harus menelan ludah mendengar nominal yang di ajukan. Sangat aneh jika dipikir, harga seorang wanita malam bisa mahal bahkan bisa lebih dari harga perawan biasa di luaran sana. tapi jika sudah terpikat apapun akan di lakukan untuk seorang pria.
"Kasian sekali, kamu, Sayang! itu artinya dia belum sepenuhnya ingin memilikimu!" sindir Mamih Rosa kepada Mely yang menatap kepergian Bagas.
"Aku merasa terlalu mahal dengan harga yang Mamih ajukan. Siapa aku, Mih! barang bekas ingin dijual dengan harga perawan. Mamih jangan terlalu berharap?" Mely menggelengkan kepala dengan sikap Mamih Rosa yang melecehkan harga tinggi dirinya kepada Bagas.
Mamih Rosa meraih dagu Mely lalu memaksa kuat agar wanita itu menatapnya. "Mamih memang mengharapkan agar kami tidak pergi dari tempat ini. Sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menembusmu, Kamu terikat selamanya bersama Mamih! Jangan harap bisa lepas Mamih, Sayang!" Mamih Rosa mencengkram kuat kedua pipih Mely dengan tangannya.
__ADS_1
Musnah sudah harapan Mely, ketika secercah harapan hampir saja ia dapatkan. Semua harus terkubur tanpa angan.
Mamih Rosa elepas kasar tangannya dari Wajah Mely, hingga tubuh Mely sedikit terhuyung karenanya.
"Kamu, sudah berani bermain api di belakangku! Untuk apa kamu mengendap masuk ke dalam bagasi mobil. Apa kepergian Lura atas bantuan dari mu!" bentak Mamih Rosa membuat Mely terkejut aksinya tadi malam terciduk Mamih Rosa.
"Kamu harus bertangung jawab atas perginya Lura, hah. Kamu mengerti!" Sarkas Mamih Rosa.
"Tapi itu bukan kesalahan saya, Mih!"
Plak...
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Mely. "Jangan kamu pikir selama ini, Mamih tidak tahu apa yang kalian lakukan. kalian sering bergantian tugas hanya karena kamu membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ibumu!" Ucapan Mamih Rosa sontak membat Mely menatapnya.
"Kenapa kamu terkejut? Heh, Mamih tahu semuanya. Mamih diam karena itu sama sekali tidak merugiakan Mamih. Asal bayaran yang seharusnya masuk ke dalam setoran tidak terganggu. Mamih akan diam, tapi buat kali ini Kamu telah membuat salah satu sumber dana Mamih kabur! Jangan harap kamu juga bisa lepas dari sini! Ingat itu!" Mamih Rosa menepis wajah Mely.
Darah segar keluar dari sudut bibir Mely akibat tamparan keras yang ia terima dari Mamih Rosa. Ingin rasanya pergi seperti apa yang Lura lakukan. Tapi Mely ingat dengan Mama dan adiknya di kampung. Mamih Rosa pasti langsung melakukan sesuatu kepada keluarga Mely jika dia berani kabur dari rumah bordil.
Bersambung.
Jangan bosen sama ceritaku ya Say.
Like dan komen jangan lupa.
Seperti biasa otor mau promo karya milik teman seperjuangan.
Blurb
SEMUA ORANG BISA BERUBAH SEIRING PERJALANAN WAKTU.
Olivia Rosemary harus menelan pil pahit karena kekasihnya, Kenneth Jonathan terbukti selingkuh di depan matanya. Keputusan untuk mengakhiri hubungan nampaknya membuat perubahan besar pada diri Olivia.
Kenric Miguel Cotto harus menceraikan istrinya, Yoluta Zaylee karena ketahuan selingkuh dengan pria lain. Rasa kecewa dan pengkhianatan sang istri membuat Kenric hilang kepercayaan.
Rasa kecewa dan amarah yang tiada henti membuat Kenric dan Olivia memutuskan untuk menjalin hubungan. Hubungan terlarang karena Olivia adalah keponakan Kenric. Hubungan yang didasari atas rasa kecewa, kebencian, dan berakhir di tempat yang salah.
Bagaimana akhir hubungan percintaan yang tidak seharusnya itu? Mampukah mereka mengarungi bahtera kehidupan setelah mendapatkan penolakan dari berbagai pihak?
__ADS_1
Yuk ikuti kisahnya 🙏