Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Tolong Aku! Aku Mohon!


__ADS_3

Sampai hujan mereda. Lura tak kunjung pergi dari taman. Hingga baju yang ia kenakan pun kering di badan.


Tangan yang berasa kebas dan dingin rasa lapar melilit perut sama sekali tak oa hiraukan.


Lura baru menyadari pengujung taman satu persatu meninggalkan tempat itu.


Cahaya matahari mulai meredup. Awan masih terlihat mendung. Sebentar lagi waktu siang pun agan berganti malam.


Tak punya tempat tujuan Lura kembali melangkahkan kaki. Keadaan dan kondisi tubuhnya terlihat kacau. Orang-orang yang melihatnya dengan rasa kasihan. Bahkan saat duduk di halte bisa tak satu dua orang yang memberinya uang.


Lura tidak menolak karena memang dia membutuhkannya.


Seulas senyuman terpancar di wajah Lura saat pedagang baso lewat di depannya. Perut yang melilit minta diisi tak lagi bisa ia tahan.


Semalam tenaganya habis terkuras saat melawan Carta pria yang telah merenggut kehormatannya. Hingga saat ini sama sekali belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Wajar saja jika tubuh gemetar dan pusing ia rasakan.


“Mang, bakso!” panggil Lura sambil berdiri hendak mendekati pedagang baso.


“Di sana ya, Neng!” balas pedagang baso sambil menunjuk ujung jalan.


Lura mengikuti pedagang baso yang mendorong gerobaknya di ujung jalan. Jika berhenti di dekat halte takut mengganggu penumpang dan bus yang akan berhenti.


Tukang baso menurunkan bangku plastik dari atas gerobaknya.


“Duduk, Neng! Basonya pake apa?” tanya si tukang baso.


Lura duduk di kursi plastik yang disodorkan kepadanya.


“Campur, Bang!”


Si tukang baso segera membuat baso pesanan Lura.


“Basonya, Neng!”


Satu mangkuk baso yang masih panas dengan asap yang mengepul begitu menggugah selera. Apalagi Lura yang sudah merasakan lapar dari pagi. Rasanya tak sabar ingin menikmatinya.


Dari kejauhan dua orang bertubuh besar berjalan berkeliling sambil memperhatikan para pejalan kaki dan bertanya kepada mereka tentang sesuatu.

__ADS_1


Lura bisa menangkap jelas siapa mereka. Para bodyguard Mamih Rosa sedang mencarinya.


Lura terkejut melihatnya. Ia panik dan takut jika tertangkap lagi oleh mereka.


Tak peduli dengan perut yang sudah lapar dan hampir saja terisi. Lura lekas menaruh semangkuk baso di gerobak.


“Pak, Maaf tidak jadi basonya, tapi aku bayar!” Lura meletakkan semangkuk baso tak lupa juga membayarnya. Tatapannya melirik ke arah dua orang bertubuh besar yang jaraknya masih jauh darinya.


“Loh, kenapa, Neng! Belum juga di makan basonya?” si tukang baso terlihat heran melihat raut wajah gelisah dari Lura.


“Saya buru-buru. Bang! Sekali lagi, Maaf!” Lura bergegas pergi menghindari dua orang itu.


Tapi sial bagi wanita itu salah satu bodyguard Mamih Rosa melihatnya.


“Hei... Mau lari ke mana, Lu!” teriak salah satu bodyguard itu.


Lura semakin panik mendengarnya. Dengan sisa tenaga yang masih ada, Lura berlari kencang menghindarinya. Tak peduli rasa perih yang masih terasa pada bagian tangannya. Kakinya juga sedikit terpincang-pincang.


“Ya Tuhan, aku selamatkan aku dari mereka. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu,” gumam Lura sambil terus berlari. Ia merasa lelah, rasanya tubuhnya tidak mampu lagi berlari. Kakinya terasa sakit.


“Aku harus bersembunyi!”


Banyak mobil yang berhenti di persimpangan lampu merah tak jauh darinya.


Kedua bodyguard itu semakin mendekat. Lura menerobos barisan mobil yang berjajar menunggu lampu lalu lintas berubah warna hijau.


Suara klakson mobil terdengar karena Lura menghalangi jalan pengguna jalur kiri yang bebas Lampu merah. Lampu lalu lintas tersisia 20 detik lagi terlihat dari layar mini yang terpampang di bawah deretan lampu lalu lintas.


“Jangan kabur, woi!” teriakan bodyguard itu kembali terdengar jarak mereka semakin dekat.


Tak ada cara lain. Lura langsung membuka pintu mobil yang ada di sampingnya kebetulan baru saja penumpang yang ada di belakangnya masuk ke dalam mobilnya.


“Eh, kamu siapa main masuk aja!” teriak seorang gadis yang baru saja masuk itu.


Gadis itu tidak bisa melihat wajah Lura sebab Lura masuk sambil menunduk.


“Aku mohon, ijinkan aku ikut kalian! Jangan biarkan mereka menangkap ku!” Lura memohon tanpa memperlihatkan wajahnya.

__ADS_1


“Hei, keluar! Atau saya laporkan polisi,” sambung seorang pria yang duduk di bangku kemudi dengan nada tinggi.


Mendengar perkataan pria itu sontak membuat Lura mendongak menatap gadis yang duduk di hadapannya.


“Aku hanya ikut bersembunyi sebentar, aku mohon!” pinta Lura.


“E-eh, kamu ‘kan gadis yang tadi pagi bukan?” Putri baru melihat jelas wajah Lura. Dia juga ingat betul pakaian yang dipakai Lura.


Lura pun mengangguk pelan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada meminta agar Putri menolongnya. Sebab para bodyguard memeriksa satu persatu mobil yang berhenti.


“Baiklah, aku akan menolongmu!” balas Putri tidak tega melihat wakah ketakutan Lura.


“Jangan percaya, Non! Bagaimana jika dia akan merampok kita, bisa saja dia modus. Sudah dua kali kita bertemu dia, bisa saja memang kita sudah di intai olehnya!” ujar Pak Warto supir pribadi Putri.


“Jangan su’udzon dulu, Pak!” tegur Putri. Gadis itu sedikit tidak suka dengan sikap supir pribadinya, tidak bersimpati pada orang lain.


Di saat yang bersamaan salah satu bodyguard mengetuk pintu kaca mobil yang ditumpangi Lura.


“Bro dia ada di dalam sini!” teriak pria berotot itu kepada temannya sambil menunjuk mobil Putri.


Lura semakin ketakutan di buatnya. Ia takut Putri memilih membuka pintu mobil dan menyerahkan lura kepada para bodyguard itu daripada menolongnya.


“Aku mohon jangan biarkan mereka membawaku lagi!”


Bersambung


Dukung terus karyaku ini ya!


Ramaikan kolom komentar jangan lupa like nya juga.


Mampir ke karya temanku yuk.


SEKUEL DARI : Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil.


Zahira dan Shaka berteman sejak kecil bahkan orang tua mereka berencana menjodohkan keduanya. Namun, ternyata Shaka telah melabuhkan hatinya kepada wanita lain. Melihat kenyataan itu, hati Zahira hancur berkeping-keping karena tanpa diketahui oleh siapa pun rupanya dia mencintai Shaka sejak masih duduk di bangku SMP.


Lantas, apa yang membuat Zahira bersedia menjadi pengantin pengganti untuk Shaka? Lalu, bagaimana lika liku kehidupan rumah tangga mereka? Akankah berakhir bahagia?

__ADS_1



__ADS_2