
Farel berubah pikiran saat melihat wajah orang yang ia cintai menjadi korban kebodohannya. Ia bergegas bangun dari duduknya kemudian dengan cepat mendekati Lura, berusaha membangunkannya kekasihnya itu. Agar segera pergi dari sana.
Farrel berniat untuk kabur membawa Lura dari tempat itu sebelum Mamih Rosa mengetahuinya.
Ia terlambat karena kedua bodyguard dan Mamih Rosa menghadangnya. Saat Lura berada dalam rangkulan Farrel.
Dari tadi Farrel dalam pengawasan Mamih Rosa, jadi ia tidak bisa kabur.
“Mau kemana kamu anak muda? Berniat ingin kabur?” tegur Mamih Rosa dengan senyum sinisnya saat melihat Farrel tergesa ingin membawa Lura.
“Kalau kamu ingin membatalkan ini semua, bayar hutangmu saat ini juga! 70 juga!” Ucap Mamih Rosa sambil menatap tajam ke arah Farrel.
Farrel terkejut dengan nominal yang Mamih Rosa sebutkan kepadanya.
“Hutangku tidak sebesar itu, kemarin!” Sergah Farrel.
Mamih Rosa tersenyum sinis. “Heh, kamu pikir bunganya tidak berjalan? Setiap hari bunganya berjalan, anak muda!” Mamih Rosa mendekati Farrel, ia melirik bodyguard nya agar merebut Lura yang berada dalam rangkulan Farrel.
“Jangan bawa dia! Saya janji akan membayar hutang kepada Anda. Atau bada saja motor sport di depan. Jika kurang saya akan mencicilnya!” ujar Farrel sambil memberontak sebab ia berusaha mempertahankan Rosa, sedangkan tubuhnya di tahan oleh bodyguard Mamih Rosa yang lain.
Farrel tidak bisa berkutik. Ingin terus memberontak. Tapi lawan di hadapannya bukanlah tandingannya saat ini.
“Bawa wanita itu! Kita pergi sekarang! Beri dia sedikit pelajaran karena sudah mempermainkan Mamih!” Perintahnya kepada para bodyguard-nya.
Brugh....
Bruhh....
Pukulan keras di perut dan wajah Farrel mendarat sempurna. Ia hanya bisa meringis kesakitan saat itu.
Mamih Rosa mendekat ke arah Farrel dengan senyuman kemenangannya.
“Hutangmu lunas, anak muda!” ucap Mamih Rosa pelan seraya mengetuk dada Farrel menggunakan kipas lipatnya.
“Jangan pernah Anda sakiti dia! Saya akan menebusnya kembali.” Seru Farrel dengan suara terbata sambil memegangi perutnya yang sakit.
“Hahaha ... Mamih tunggu kedatanganmu untuk menebusnya! Saat kamu datang, mungkin dia sudah jadi primadona Rumah Bordil Dan banyak pelanggan Mamih mencarinya. Dia tidak akan mau kembali padamu, setelah itu,” ucap Mamih Rosa dengan nada suara mengejeknya.
Salah satu bodyguard Mamih Rosa menggendong Lura ala bridal style menunggu perintah selanjutnya dari Mamih Rosa. Dan bodyguard yang satunya mendendang Farrel sambil berlalu meninggalkannya yang meringkuk di lantai.
“Bawa dia ke rumah bordil!” perintah Mamih Rosa. Mereka pun berlalu dari restoran itu.
Beberapa pengunjung yang melihat kejadian itu hanya bisa berbisik tanpa bisa menolong sebab mereka pun merasakan takut.
__ADS_1
“Tunggu, nyonya. Apa barang-barang gadis itu harus saya bawa” tanya salah satu bodyguard.
“Tinggalkan saja, dia tidak membutuhkan itu semua!”
Mamih Rosa meninggalkan Farrel tanpa iba. Mucikari itu merasa menang banyak. Ia akan membuka harga tinggi untuk Lura. Wanita cantik dengan umur yang masih muda. Sudah dipastikan kalau dia masih bersegel perawan. Pasti banyak pelanggan yang ingin membeli keperawanannya dengan harga yang lumayan.
“Arghh ... Kenapa bisa jadi begini?” Farrel menjambak rambutnya sendiri. Menyesali tindakan yang ia ambil, telah mengorbankan kehidupan Lura yang sangat ia cintai.
Farrel menatap kepergian Lura.
Ia harus memberitahu orang tuanya secepat mungkin supaya mereka mau menebus Lura yang tidak ada hubungannya dengan masalahnya ini.
Tidak mau menyia-nyiakan waktu Farrel bergegas pulang ke rumah. Ia tahu orang tuanya akan singgah ke rumah yang biasa Farrel tempati. Sepertinya mereka akan meminta penjelasan soal uang kuliah yang tidak dibayarkan olehnya.
Selama ini uang tersebut Farrel pakai untuk membeli serbuk kokain. Mungkin ada pemberitahuan dari pihak kampus yang menegur orang tua dari mahasiswanya. Sebab itulah Bu Prita menunda mengirimkan uang bulanan kepada Farrel. Nominal yang cukup besar setiap bulannya.
Tidak peduli dengan keadaan jalanan yang cukup ramai malam ini Farrel menembus jalanan dengan kecepatan tinggi, hingga ada beberapa orang berteriak kepadanya.
“Woy! Bawa motor hati-hati! Mabok lu, ya?” teriak seorang pria yang hampir saja terserempet olehnya berhasil peria itu menghindar.
“Sorry, Bang! Gue buru-buru!”
“Kira-kira dong lu, kalau bawa motor. Bisa mati di jalan ku kalau begitu!”
“Gak sopan banget tuh bocah! Pantas saja bawa motornya gak bener, orang beler gitu kelihatannya?” ucap seseorang yang berada bersama pria yang hampir terserempet tadi.
Mereka yang ada di tempat itu menatap heran kepada Farrel.
Di tempat lain.
“Cepat cari anak itu, seret dia! kalau anak itu menolak. Kurung dia sampai anak itu kita bawa ke panti rehabilitasi!” tutur Antoni Wijaya dengan suara kejamnya.
“Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Yah! Salah kita juga terlalu menekan Farrel. Anak itu mungkin bisa menyanggupi sebagai anak berprestasi tapi kebebasannya seakan terkurung oleh aturan yang kamu buat!” ucap Bu Prita mencoba berbicara baik-baik kepada Suaminya.
“Aku membuat aturan seperti itu untuk dia juga, Bu! Kalau tidak di disiplinkan dari sekarang dia tidak akan menjadi pria sukses dan bertanggung jawab,” elak Pak Antoni Wijaya.
Beberapa saat terjadi perdebatan antara suami istri itu. Bu Prita membela anaknya sebab apa yang ia dengar dari Lura benar adanya. Tapi tidak serta merta ia menyetujui hubungan Farrel dengan Lura meskipun gadis itu telah memberitahukan semua kebenaran kepadanya.
“Aku tidak peduli! Sekarang kita harus menemukan anak itu. Jangan sampai kelakuannya tercium oleh media! Usaha kita selama ini akan sia-sia. Apalagi salah satu misi dariku adalah memberantas penyalahgunaan narkoba yang membuat generasi bangsa menjadi tidak berkembang. Apa kata mereka jika perilaku Farrel tercium dan tersebar sebelum pencalonan gubernur berlangsung, Bu? Pikirkan itu!” Pak Antoni berbicara tegas sambil menunjuk ke arah Bu Prita.
Hanya helaan napas berat yang diberikan Bu Prita. Suaminya itu memang mempunyai sikap keras kepala yang tinggi.
“Tuan, permisi!” ucap salah satu anak buah dari Pak Antoni.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Den, Farrel baru saja pulang!” jawabnya sambil tertunduk sopan.
Pak Irawan tersenyum miring mendengarnya. “Anak itu pulang juga!” gumamnya. “Biarkan saja dia masuk! Jangan ada memberitahu kalau aku sedang mencarinya.”
“Siap, Tuan!” Anak buah pun kembali bertugas berjaga di luar rumah.
Bu Prita dan Pak Irawan sengaja mendatangi rumah singgahnya di sini. Rumah yang biasa di tempati Farrel. Keluarga Rahmadi, keluarga dari pihak Bu Prita mempunyai banyak investasi di kota besar ini. Tidak salah jika Farrel termasuk dari keluarga terpandang di desa dan di kota ini.
Terdengar langkah kaki dari luar rumah megah itu. Farrel sudah mengetahui keberadaan kedua orang tuanya. Keberadaan anak buah yang berjaga di depan rumah menjadi buktinya.
“Di mana selama ini kamu tinggal? Anak tidak tahu berterima kasih!” Sarkas Pak Antoni dengan keras kepada Farrel yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu.
Suara Pak Irawan seakan menggema di ruangan itu.
Bi mimin yang berada di sisi Bu Prita tertunduk takut mendengarnya. Sebab dialah yang memberitahu Pak Antoni dan Bu Prita kalau Farrel jarang pulang ke rumah dia bulan belakangan ini.
Bahkan kondisi Farrel pun disampaikan kepada majikannya itu.
Farrel lekas menatap Bik Mimin, tanpa sengaja Bik Mimin mendongak, tatapan mereka bertemu.
“Maafkan, Bibi, Den!” ucapnya sambil tertunduk.
Farrel memejamkan mata sejenak, mampukah ia berterus terang kepada ayah dan ibunya tentang Lura. Melihat peringai kejam dan keras ayahnya yang sangat sulit untuk ia tembus.
.
.
.
.
.
Bersambung--
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu dinantikan loh.
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
__ADS_1
Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘