Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Gue, Pemilik Kehormatannya


__ADS_3

Brak...


Suara gebrakan meja yang begitu keras terdengar dari dalam ruangan.


"Kalian gimana sih, masa nangkap mucikari itu saja gak bisa!" Hardik Catra pada salah satu anak buahnya.


"Sorry bos! Wanita itu cukup pintar untuk bersembunyi sepertinya mereka memang sudah mengantisipasi tempat persembunyian jika hal ini terjadi," ujar anak buahnya.


"Saya tidak mau tahu. Cari dengan cepat wanita itu, tangkap dan hubungi aku jika sudah tertangkap. Kerahkan anak buah kita untuk mendapatkannya!" titah Catra tegas pasa anak buahnya.


"Siap, bos!" Beberapa anak buah itu pun berlalu dari hadapan Catra.


Catra lekas duduk di kursi kebesarannya. Saat ini Ia harus bekerja extra dengan permasalahan yang ada. Ternyata tidak semudah itu mengusik kehidupan sang mucikari. Catra harus mengorbankan banyak waktu, tenaga dan uang hanya untuk menjebloskan wanita itu kepenjara. Masalahnya hanya satu, wanita itu telah menjerat adik kesayangannya dengan obat-obatan terlarang yang ia jual.


Catra tidak mau generasi selanjutnya semakin buruk.


"Gile, Ajib bener punya sahabat orang berkuasa kaya elu, Cat! Tinggal suruh ini, itu, selesai," oceh Pacho lalu mendapat lirikan tajam dari Catra.


Saat ini suasana hatinya sedang tidak menyenangkan. Catra memutar-mutar bolpoin yang ada ditangannya sambil berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini.


"Oh, iya, gue sampai lupa. Gue bawa informasi tentang wanita yang pernah tidur sama lu malam itu!" ucap Pacho sontak membuat Catra menghentikan gerakannya.


"Mana informasinya? Serahkan sama gue!"


"Sabar, Bro! Gak sabar banget. Kangen sama permainan dan goyangannya dia, Ya?"


Pletak...


"Aww, kira-kirra dong, Cat. Emangnya jidat gue tempat nyimpen bolpoin apa!" ringis Pacho sambil mengelus pelan jidatnya karena Catra melempar bolpoin yang ada di tangannya, dan tepat mengenai kening pria itu. Pacho merogoh ponsel di kantong celananya.


"Banyak bacot lu! Mana informasi?" Catra lekas merebut ponsel yang ada di tangan Pacho. "Mana fotonya?" Catra tidak sabar ingin melihat wajah Lura. Wanita yang telah membuat pikiran Catra tidak tenang. Bayangan dan ucapan permohonan yang lolos dari bibir Lura selalu terngiang di kepalanya.

__ADS_1


"Sini dulu ponselnya! Makanya sabar!" Pacho kembali merebut ponsel miliknya. ia menggulir layar pada ponselnya. "Mana ya, kemarin gue simpan di galeri! mana cuma ada satu foto, apa jangan-jangan kehapus?" cuman Pacho. Sesaat ia melirik ke arah Catra. Sahabatnya itu sudah berdiri di hadapan Pacho sambil melipat tangan di depan dada.


"Kayaknya keselip diantara gambar lain? Banyak banget foto cewe jadi gue lupa yang mana wanita malam yang udah ngeluluhin hati sobat gue ini!" Elak Pacho sambil menghindari tatapan Catra.


'Anjir gue simpen dimana foto tuh cewek!Foto di galeri gue cewek semua. Semuanya hampir mirip."' Batin Pacho. Ia bingung dan takut dengan tatapan Catra yang terus mengintimidasinya.


"Akhirnya ... Ketemu juga loh! Lima puluh juta terselamatkan," celetuk Pacho dengan perasaan lega. Kalau saja foto itu terhapus bisa mampus dia oleh Catra. Bayaran yang cukup besar bagi Pacho yang hanya mencari foto dan keberadaan dari wanita yang pernah ia BO dan berakhir tidur dengan Catra.


Pacho harus rela pergi ke Dinas Sosial untuk mencari foto Lura. Beruntung ada salah satu wanita malam yang berada di sana menyimpan fotonya.


Berbekal foto yang ia punya. Pacho mencari Lura ke sela kota besar ini. Ia juga tidak menyangka Catra bisa kepincut berat pada Lura. Pacho jadi penasaran, sebenarnya apa yang dilihat oleh Catra dari lacur itumi Bukankah semua wanita malam sama saja. Ia akan mencari jawabannya sendiri.


Berhasil menemukan Lura Pacho tak langsung memberitahu Catra. Ia ingin tahu apa istimewanya wanita itu. Pacho mendapati Lura bekerja di toko bunga. Ia bekerja sebagai pelayan dan perangkat bunga di sana. Bahkan Pacho juga tahu tempat tinggal Lura saat ini. Setelah seharian penuh mengintai aktivitas wanita itu.


Pacho menyodorkan ponsel pada Catra. "Dia bekerja di toko bunga saat ini. Putri Flowers shop nama toko itu. Gue heran cewek kayak dia bisa berasa di rumah bordil. Gue perhatian cewek itu sama sekali tidak keluar toko selama ia bekerja. Ia masuk dan pulang bersama wanita cantik, mungkin dia pemilik toko bunga itu. Lacur itu tinggal di rumah mewah, dia juga---,"


"Jangan sebut dia lacur lagi! Dia bukan pelacur seperti yang lu pikirin selama ini." Catra menyela ucapan Pacho.


"Gue yang telah menyentuh kesuciannya untuk pertama kali. Meskipun pernah mendapatkan sentuhan beberapa pria, tapi gue adalah pemilik kehormatannya. Gue pernah menghubungi nomer yang ada di ponselnya. Dia adalah cewek yang biasa menggantikan posisi Lura saat melayani pelanggannya. Dia juga menceritakan semuanya tentang Lura." Catra berucap sambil memandangi foto Lura.


Pacho melongo tidak percaya mendengar pengakuan Catra. 'Gile mana ada perawan di tengah para lacur. Beruntung banget lu, Cat, dapet orisinal. Gue aja dapetin bini gue bekas orang.' pikir Pacho sambil tersenyum sendiri.


'Kita akan segera bertemu, Lura! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat perasaan ini tak menentu!' Batin Catra dengan seulas senyum di bibirnya. Tatapan matanya terus memandangi wajah manis wanita itu.


Pacho menggelengkan kepala melihat Catra yang senyum sendiri memandangi foto Lura. "Ajegile ... kepincut apem basah tuh cewe lu mah!" celetuk Pacho.


Catra tidak peduli dengan ocehan Pacho. Pemuda itu lekas bergegas mengambil jas miliknya yang tersangkut di sandaran bangku. "Gue mau ke sana sekarang. Lu ikut gue!" titah Catra yang berjalan beberapa langkah hendak keluar dari ruangannya.


"Tunggu, Bro! Lu yakin Lura mau ketemu sama lu? Lu mungkin gak inget sama wajah dia karena saat itu lu lagi mabok. Tapi Lura, dia pasti kenal sama wajah lu! Menurut gue lu harus merubah penampilan lu, biar tuh cewek agak pangling."


Langkah Catra terhenti. Ia membenarkan apa yang Pacho ucapkan. "Apa yang harus gue lakuin?" tanyanya bingung sembari membanting tubuhnya sendiri ke sofa empuk yang ada di sisinya.

__ADS_1


"Sobat gue jadi orang bego kalau masalah Cewek," cetus Pacho kemudian berdiri mendekati Catra.


"Potong rambut lu, buka nih anting. botakin kalau bisa jadi lu kelihatan beda!" usul Pacho dengan idenya.


"Lu, benar! Sekarang ikut gue ke barbershop." Catra kembali berdiri ia menyetujui usulan dari Pacho. Pria itu berjalan cepat meninggalkan ruangan.


Pacho kembali melongo dibuatnya. Rambut panjang yang diikat asal adalah ciri khas dari sahabatnya. Sulit sekali untuk menyuruhnya potong rambut, itu yang pernah dikatakan Mama Liona. Bahkan Mama Liona pernah meminta bantuan pada Pacho agar menyuruh Catra mencukur rambutnya. Tapi tak pernah didengarkan.


"Ajaib, gue harus kasih tau Tante Liona soal ini," ujar Pacho sambil berjalan cepat menyusul langkah Catra.


.


.


.


Bersambung.


Maaf, kemarin sebenarnya Author update. Entah mengapa tersendat sama aplikasinya. Dan baru tadi lolos.


sekarang author up lagi 1 bab...


Selamat membaca....


Mampir ke karya teman otor ya. kisahnya seru dan gak ngebosenin.


ini karyanya.



Mampir yak!!!

__ADS_1


__ADS_2